Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 167 : Pelatihan Ksatria


__ADS_3

Jam pasir telah menunjukkan bahwa waktu mengajar Anryzel akan segera berakhir. Anryzel yang sedang memberikan penjelasan menyadari hal itu kemudian memutuskan untuk segera mengakhiri kelas.


"Cukup sampai di sini. Besok adalah bagian uji coba pertempuran. Aku berharap kalian mempersiapkan diri dengan baik."


Bel kelas kemudian berdentang. Sebuah tanda yang dibuat akademi sebagai pembatas dari satu pelajaran ke pelajaran yang lain. Semua murid kelas pahlawan dengan serentak berdiri, lalu mereka membungkuk dan berkata bersama-sama.


"Terima kasih untuk bimbingannya hari ini, Profesor!"


Anryzel menggunakan isyarat tangan untuk menanggapi mereka. Sebagian karena dirinya terlalu sibuk untuk membalas ucapan mereka secara resmi, dan sebagian lagi karena dirinya sedang terburu-buru.


Para murid tidak mempermasalahkannya, mereka telah menerima pelajaran yang sangat baik hari ini. Hal kecil semacam itu tidak akan membuat mereka menjadi marah terhadap perilaku Anryzel.


"Sampai jumpa besok, Profesor."


"Hm."


"Sampai jumpa, Profesor."


"Ya."


"Profesor, aku tidak sabar untuk menunggu besok!"


"Maka jangan kau tunggu."


Anryzel membalas secara asal ucapan para murid yang berjalan keluar kelas. Sebanyak dua puluh tujuh murid telah keluar, dan kini hanya tiga orang murid yang tersisa di sana.


Anryzel merasa sedikit terganggu dengan keberadaan mereka bertiga yang terus memperhatikannya. Alih-alih meninggalkan ruangan dengan cepat, mereka malah diam sambil menatapnya bekerja.


"Mengapa kalian masih berdiam diri?"


Tiga orang murid yang tak lain adalah Etharez, Laishena, dan Ferlin itu kemudian mendekati Anryzel setelah ditanya mengapa mereka belum juga meninggalkan kelas.


"Ahh ... itu. Profesor, Anda membutuhkan bantuan? Tidak enak rasanya melihat seseorang seperti Anda mengerjakan semua ini sendirian."


Pangeran Etharez tampak canggung dan tertekan. Rasa tidak enak secara alami muncul dalam dirinya ketika melihat seseorang yang dihormati oleh raja harus melakukan pekerjaan semacam ini seorang diri.


Melihat Anryzel sangat tekun dalam pekerjaannya hampir saja membuat Etharez lupa, bahwa sosok itu adalah seorang yang bisa mengguncang seluruh kerajaan dalam sekali gerakan. Pria yang dingin dan cenderung kejam itu sekarang berpura-pura menjadi seorang profesor biasa, siapa yang tidak akan merasa aneh ketika melihatnya?


Namun Etharez tidak mengetahui fakta mengenai diri Anryzel yang sebenarnya. Ketika Anryzel memutuskan untuk melakukan suatu pekerjaan, maka dia akan serius dalam melakukannya.


Apalagi pekerjaan ini merupakan kesepakatan yang telah dia buat bersama dengan raja dan para bangsawan. Meski terlihat sepele, Anryzel tetap harus menepati kesepakatan itu sebagai orang yang bermartabat.


"Tidak usah. Jangan meremehkanku hanya karena pekerjaan kecil. Sebaiknya kalian pulang dan belajarlah lebih baik lagi."


Pangeran Etharez semakin merasa tidak enak hati. Akan tetapi, memaksakan dirinya untuk membantu Anryzel pun tidak akan membuat suasana menjadi lebih baik, karena itu dia memilih untuk berpamitan dan segera meninggalkan ruangan.


Sekarang setelah Etharez pergi, yang tersisa adalah Laishena dan Ferlin. Mereka berdua tidak berbicara, atau menyebabkan kegaduhan, tetapi keberadaan mereka sendiri cukup mengganggu pekerjaan Anryzel.


Anryzel mendecak kecil sambil memegang dahi lalu bertanya pada mereka berdua, "Jadi mengapa kalian masih di sini?"


Lalu dengan tiba-tiba Laishena balik bertanya, "Profesor, apakah Anda itu adalah inkarnasi dari seorang dewa?"


Sebuah pertanyaan mengejutkan baru saja terucap dari mulut Laishena. Baik Anryzel maupun Ferlin yang berada di samping Laishena mengerutkan dahi atas pertanyaan yang aneh dan tidak jelas ini.


"Bukan. Mengapa kau bertanya hal seperti itu?"


Laishena menghela napas kemudian berargumen, "Karena hanya Profesor-lah satu-satunya manusia yang bisa menciptakan sihir. Jadi saya pikir, Anda pasti adalah jelmaan dari seorang dewa."


Anryzel menggelengkan kepala, menaruh dokumen yang sedang dia baca, lalu menyilangkan kedua lengan dan membantah perkataan Laishena yang mempercayai bahwa dia adalah inkarnasi dari seorang dewa.


"Jika aku adalah seorang dewa, maka tidak perlu repot-repot mengajari kalian. Aku hanya perlu memberikan berkah, dan kalian akan menjadi seseorang yang hebat."


Laishena yang mendengar bantahan itu tampak tidak puas, tetapi dia tidak bisa berkata lebih banyak karena Anryzel sudah menahan perkataannya menggunakan tangan yang terangkat.


"Sudah. Biarkan orang lain mendapatkan gilirannya."


Laishena melihat ke arah Ferlin sampai akhirnya sadar bahwa ada satu orang lagi yang sedang menunggu. Meskipun merasa tidak puas, tetapi Laishena dengan patuh membiarkan orang lain mendapat giliran lalu berpamitan dan berjalan ke luar ruangan.


Anryzel memastikan Laishena telah pergi. Setelah itu dia tersenyum kepada Ferlin karena merasa sudah cukup lama sejak terakhir kali mereka bertemu. Mungkin di antara murid yang lain di kelas pahlawan, Ferlin adalah yang pertama sehingga menimbulkan perasaan nostalgia?


"Lama tidak berjumpa, bagaimana keadaanmu?"


Ferlin tampak canggung dalam berbicara. Pada kenyataannya, meski mereka sudah cukup lama saling mengenal tetapi kedekatan mereka tidak sampai pada tingkat yang tinggi sehingga membutuhkan keberanian besar bagi Ferlin untuk berbicara lagi dengan Anryzel.


"I-itu ... terima kasih karena telah berpura-pura tidak mengenaliku, dan maaf juga atas semuanya, Guru Ren."


Ferlin merasa bersalah karena tidak menyapa Anryzel lebih cepat. Ferlin khawatir jika murid-murid lain tahu dirinya mengenal sosok Anryzel, maka akan terjadi beberapa hal yang tidak diinginkan.


Anryzel pun mengetahui maksud perkataan Ferlin, tapi mari kesampingkan masalah itu karena ada satu hal yang paling penting untuk dia katakan kepada Ferlin.


"Tolong panggil aku dengan "Anryzel" mulai dari sekarang. Karena beberapa hal, panggilan itu sudah tidak menyenangkan lagi."


Ferlin hanya memiringkan kepala karena merasa sedikit bingung, terutama pada kata "Tidak menyenangkan" yang baru saja Anryzel sebutkan.


"A-ah, baik." Ferlin memberikan persetujuan.

__ADS_1


Anryzel tersenyum puas. Sekarang hanya ada sedikit orang yang mungkin memanggilnya dengan panggilan lama. Namun itu tidaklah mengapa, masih ada kesempatan agar mereka merubah panggilannya terhadap Anryzel.


Kemudian mengenai Ferlin, mungkin dia sengaja menunggu murid lain keluar terlebih dahulu karena ada sesuatu hal yang ingin dikatakan? Dalam hal ini, kemungkinan besar berkaitan dengan pelajaran sihir sebelumnya.


"Menurutmu, bagaimana dengan kelasnya hari ini? Aku memang percaya diri telah melakukan semuanya dengan baik, tetapi untuk referensi pendapat seorang murid masih diperlukan."


Anryzel mengarahkan topik pada kelas sebelumnya dengan tujuan agar Ferlin lebih dapat berterus terang. Hal ini dia lakukan karena mencurigai Ferlin memiliki masalah tertentu terhadap kemampuan sihirnya.


Namun ternyata, Ferlin tampak berpikir susah payah hanya untuk menjawabnya. Respon ini berbanding terbalik dengan harapan Anryzel yang saat itu membayangkan Ferlin akan membicarakan semua masalahnya dengan lancar dan tanpa rasa ragu.


"Ada apa? Kelasku seburuk itu 'kah?"


Ferlin tersentak, lalu dengan cepat menggelengkan kepala.


"Tidak, tidak! Hanya saja ... aku tidak pernah menyangka bahwa Guru Anryzel adalah sosok yang jauh lebih hebat dari yang aku pikirkan. Pelajaran tadi juga sangat menyenangkan, kami sebagai murid kelas sihir benar-benar belajar banyak hal!"


Melihat antusiasme yang begitu tinggi dari Ferlin membuat Anryzel merasa lega. Memang tidak salah lagi, kelasnya telah berlangsung sangat baik sehingga para murid pun mendapatkan banyak pelajaran yang berharga.


"Aku senang mendengarnya," ucap Anryzel dengan tulus.


Kesenangan Anryzel merambat pada Ferlin yang seketika merasa bahagia dan penuh akan motivasi. Ferlin saat itu bertekad untuk berusaha lebih keras lagi, dan tidak mengecewakan harapan Anryzel yang ingin kelas pahlawan agar menjadi titik balik perkembangan Akademi Aulzania di masa depan.


"Um!" Angguk Ferlin dengan semangat. "Oh iya ... Guru Anryzel, b-bisakah Anda memberikan beberapa nasihat untuk menyempurnakan kemampuanku?"


Anryzel berpikir sesaat, lalu berkata dengan ragu. "Bukankah keahlianmu adalah element api?"


Ferlin memberi anggukan sebagai konfirmasi.


"Hm ... nasihat ya? Sebenarnya aku cukup sulit dalam hal seperti ini. Apa kau memiliki petunjuk yang spesifik bagian mana yang ingin disempurnakan?"


Ferlin tampak menaruh jari di antara bibirnya, dan menatap ke atas langit ruangan. Bahkan jika Anryzel memintanya untuk menunjukkan hal yang lebih spesifik, dia bingung harus memulai dari mana!


"Aku, aku sendiri tidak yakin, Guru."


"Hah ...?" Anryzel tampak heran dengan ketidakyakinan Ferlin atas kekurangannya sendiri.


Ketika Anryzel ingin menanyakan hal itu lebih jauh, seseorang masuk ke dalam ruangan dengan langkah yang tergesa-gesa. Itu adalah Nivania masih mempertahankan wajahnya yang merah merona.


"A-Anryzel, sudah saat- ... eh, mengapa masih ada murid di sini?" Nivania terkejut, sekaligus tidak menyangka bahwa akan ada murid yang tersisa di dalam kelas.


Berpikir bahwa murid itu juga menyaksikan hal memalukan tadi, Nivania sangat ingin melarikan diri untuk yang kedua kalinya, tetapi perasaan itu dia tahan untuk melindungi kehormatannya sebagai Asisten Profesor.


Sementara Anryzel tampaknya tidak terlalu memperhatikan ekspresi Nivania yang menahan malu. Anryzel lebih berfokus untuk menjelaskan kepada Nivania mengapa Ferlin masih tetap di ruangan padahal yang lain sudah membubarkan diri.


"Oh, hanya meminta beberapa nasihat untuk kemampuan sihir. Mengapa kau begitu tergesa-gesa, apakah ini sudah waktunya?"


"Ya, para ksatria sudah menunggumu."


Anryzel memejamkan mata, memikirkan solusi yang terbaik agar masalah Ferlin dapat diatasi tanpa membuatnya terlambat datang ke pelatihan para ksatria. Selang beberapa saat berpikir, Anryzel tidak memikirkan solusi yang tepat selain menunda masalah Ferlin hingga lain waktu.


"Murid Ferlin, maafkan aku. Hanya saja ada beberapa kewajiban yang tidak bisa ditinggalkan. Dimohon agar murid mengerti, maka lain kali aku akan berdiskusi mengenai sihir itu denganmu."


Ferlin membulatkan mata dan mengingat bahwa Nivania tidak mengetahui mereka berdua sudah saling mengenal cukup lama. Oleh karena itulah, Ferlin bersikap seperti seorang murid yang memang benar-benar meminta nasihat pada gurunya.


"Tidak masalah, Profesor. Saya bisa mengambil kesempatan di lain waktu."


Mereka bertiga lalu pergi dari ruangan itu, meninggalkan sebuah kelas yang sepi dan kosong. Anryzel dan Nivania bergerak menuju tempat pelatihan ksatria, di saat yang sama juga, Ferlin memutuskan untuk kembali ke kelasnya yang biasa.


.............


Tempat pelatihan para Ksatria Aulzania tidak lebih daripada sebuah barak yang mewah, dan sebuah lapangan yang luas. Beberapa fasilitas yang memadai untuk melakukan latihan tempur tersedia di sana, seperti berbagai macam senjata dari berbagai ukuran, hingga peralatan yang memungkinkan para ksatria tetap aman ketika melakukan latihan.


Barak bisa menampung hingga lebih dari seratus orang sekaligus. Setiap orang memiliki kamar mereka masing-masing yang dilengkapi oleh fasilitas paling nyaman di antara pasukan kerajaan lainnya.


Dengan konfigurasi semacam ini, sudah dapat dibayangkan bukan bagaimana luasnya lahan yang dibutuhkan, dan memakan biaya berapa banyak hanya untuk mengelola barak dan menjamin kehidupan para ksatria.


Sebagai ganti dari perlakuan istimewa dan reputasi yang tinggi, para Ksatria Aulzania diharuskan memiliki kemampuan yang cukup untuk menjamin keselamatan kerajaan. Mereka dituntut untuk menjadi lebih kuat, menjadi lebih gesit, menjadi lebih cepat tanggap, dan menjadi panutan pasukan kerajaan lain dalam memberantas masalah yang ada di masyarakat.


Oleh karena hak dan kewajiban yang dipikul itu sangat besar, maka tidak heran seseorang harus memiliki kualifikasi yang cukup untuk dapat diterima di jajaran para ksatria.


Namun akhir-akhir ini, kualifikasi mereka sebagai ksatria mulai diragukan oleh masyarakat. Protes demi protes dikeluhkan oleh masyarakat, baik itu secara langsung kepada keluarga kerajaan maupun melalui perantara para bangsawan. Masyarakat dengan tegas mengeluhkan kinerja ksatria yang semakin memburuk.


Para ksatria selalu datang terlambat ketika masalah terjadi. Bahkan saat mereka datang di saat yang tepat, terkadang kemampuan mereka tidak cukup untuk menangani masalah tersebut. Hal itulah yang menjadi permasalahan utama dari keberadaan ksatria yang semakin menurun reputasinya.


Dikarenakan para ksatria merupakan pasukan yang berada langsung di bawah komando sang raja dan para bangsawan yang setia, maka kinerja ksatria yang semakin memburuk ini bisa dijadikan sebuah alasan bagi para pengkhianat kerajaan untuk memulai pemberontakan.


Raja Esdagius tidak menginginkan hal itu terjadi, begitupun dengan para bangsawan yang tetap setia pada kerajaan. Bagi mereka, kedamaian dan kemakmuran kerajaan itu lebih penting daripada diri mereka sendiri.


Keadaan yang mengkhawatirkan itulah, yang membuat Anryzel turun tangan langsung ke lapangan atas permintaan kerajaan. Anryzel diminta untuk mengembalikan kualifikasi ksatria yang semakin hari semakin menurun kinerjanya.


Tidak hanya itu, Anryzel juga diberikan pangkat tertinggi dalam kemiliteran kerajaan, yang menandakan bahwa Ksatria Aulzania akan berada dalam bimbingannya. Setiap ksatria diharuskan mematuhi perintah Anryzel selama itu tidak melanggar peraturan, moral, dan etika yang berlaku.


Mereka harus menghormati Anryzel dengan baik, menganggapnya sebagai pelatih yang kompeten, dan diharapkan untuk tidak menyebabkan masalah yang tidak perlu.


Raja Esdagius dengan tegas menyatakan bahwa siapapun yang menyebabkan masalah terlebih dahulu kepada Anryzel, maka hukuman yang diberikan tidak akan lebih buruk dari kematian. Perintah ini memberi indikasi betapa pentingnya bagi para ksatria untuk tetap hormat, dan mematuhi perintah Anryzel dengan beberapa pengecualian.

__ADS_1


Sesampainya Anryzel di lapangan, semua ksatria yang telah bersiap sedia langsung berbaris rapi membentuk garis lurus. Mereka bersikap tegap, layaknya seorang prajurit yang sedang kedatangan seorang atasan paling penting dalam sebuah pasukan.


Selama masa pelatihan, para ksatria tidak diperbolehkan berbicara kecuali untuk Derrian yang merupakan wakil dari semua ksatria yang ada, atau diberi izin secara langsung oleh Anryzel untuk berbicara. Perintah ini dilakukan untuk meminimalisir perdebatan yang memang tidak diperlukan.


Dan juga, Derrian masih memiliki batasan untuk berbicara. Hal-hal yang harus dibicarakan oleh Derrian merupakan yang paling penting, di antara yang terpenting. Maka jika tidak termasuk ke dalam hal penting, dan Derrian berbicara, itu akan dianggap melanggar peraturan.


"Derrian. Berapa jumlah ksatria yang hadir saat ini?" tanya Anryzel dengan tegas.


Derrian maju satu langkah, memberi hormat sambil membungkuk lalu berbicara dengan tegas. "Siap. Seratus dua puluh lima orang hadir dari seratus lima puluh orang secara keseluruhan!"


Gaya berbicara, dan gerak-gerik yang dilakukan oleh Derrian tampak sangat mirip dengan gaya pelatihan militer yang ada di Bumi. Hanya ada beberapa bagian aneh yang disebabkan oleh gabungan antara dua kebiasaaan, dari dua dunia yang berbeda, yang terlalu dipaksakan untuk menyatu.


Ya, benar sekali.


Anryzel adalah orang yang mengusulkan gaya pelatihan semacam ini. Anryzel juga memberikan dirinya sendiri gelar kemiliteran tertinggi, dan memberikan perintah kepada semua pasukan agar memanggilnya sebagai seorang jenderal.


Memang tidak bisa ditolong, jika keinginan aneh Anryzel muncul secara tiba-tiba, maka saat itulah keabsurdan akan muncul bersama dengannya.


"Mengapa dua puluh lima orang lagi tidak hadir? Jawab!"


Derrian menjawab lagi dengan tegas, "Siap. Mereka yang tersisa memiliki urusan yang tidak bisa ditinggalkan, Jenderal!"


Anryzel lalu memandangi beberapa orang yang berbaris. Mereka tampak sangat tegang dengan muka yang pucat karena pelatihan semacam ini sangat asing di mata mereka. Apalagi ketegangan itu semakin menjadi, ketika seorang Anryzel yang menjadi pelatihnya.


"Baiklah, kembali ke barisanmu! Sekarang adalah pelatihan dasar dari dasar. Kita akan memulai semuanya dari awal, membangun pondasi fisik yang kokoh agar cukup memadai untuk menahan beban pertempuran yang mungkin akan datang! Apa kalian siap? Jawab aku dengan lantang!"


Seratus dua puluh lima orang menjawab serentak, "Siap, Jenderal!"


Anryzel mengangguk sekali, lalu memberikan perintah untuk melakukan pemanasan. "Sebagai pemanasan, mulailah berlari mengelilingi lapangan sebanyak seratus kali dalam waktu tiga puluh menit! Kalian mendengar itu? Lakukan sekarang!"


Para ksatria membulatkan mata tidak percaya, tetapi tampang dan tatapan Anryzel yang begitu kejam dan sinis membuat mereka ketakutan sehingga tidak ingin menentang perintah lebih lama.


Mereka mulai berlari secara berurutan dengan kecepatan penuh untuk mengelilingi lapangan yang sangat luas itu. Tidak ada yang berusaha protes karena hukuman melanggar perintah adalah hukuman yang sangat berat dan tidak ada keringanan di dalamnya.


Tiga puluh menit kemudian, ksatria yang berada di posisi terakhir berhasil melakukan seratus putaran penuh dengan usaha yang keras. Meski begitu, Anryzel tidak memberikan keringanan sama sekali karena ini hanya sebatas pemanasan saja.


"Cukupkan istirahatnya! Sekarang lakukan push up seribu kali, **** up seribu kali, dan squat seribu kali!"


Semua ksatria meneguk ludah mereka, membayangkan bahwa pelatihan pertama sudah keras seperti ini, lalu bagaimana dengan pelatihan-pelatihan berikutnya? Beberapa ksatria wanita yang memiliki kondisi fisik lebih lemah daripada laki-laki mengeluarkan air mata karena kelelahan.


Ini adalah salah satu kekurangan yang dimiliki oleh para ksartia menurut pengamatan Anryzel. Meski mereka memiliki kemampuan yang baik dalam hal fisik, sihir, penggunaan senjata, dan kemampuan bertarung, tetapi tidak ada satupun dari aspek itu yang ditingkatkan ke tahap yang lebih tinggi.


Kekurangan fisik mereka sudah terbiasa ditutupi oleh sihir penguatan. Kelelahan mereka sudah terbiasa ditutupi oleh sihir pemulihan stamina. Hal itu membuat mereka lemah ketika tidak ada seorangpun yang bisa menggunakan sihir pemulihan.


Jika suatu saat mereka dalam keadaan terdesak, lantas apa yang bisa diharapkan dari mereka yang bahkan tidak bisa bertahan lama tanpa sihir pemulihan?


Namun Derrian yang melihat tanda-tanda kesehatan mental yang memburuk di antara para ksatria itu mulai mengangkat bicara. Dia sepertinya belum menyadari bahwa kekurangan mereka sedang diperbaiki oleh pelatihan fisik yang diberikan oleh Anryzel.


"Maaf menyela, Jenderal! Beberapa ksatria akan mengalami sakit jika terlalu memaksakan diri dalam perubahan latihan yang ekstrim secara tiba-tiba!"


Anryzel menanggapi Derrian dengan tatapan dingin. "Begitu? Seharusnya aku sebagai pelatih lebih tahu kondisi kalian. Tenang saja, jika ada seseorang di antara kalian yang mencapai batasnya, aku akan menjamin keselamatan orang itu dan langsung menolongnya."


Para ksatria meneguk ludah mereka sendiri, sekali lagi. Tekanan yang diberikan oleh tatapan Anryzel begitu mengintimidasi, bahkan jika mereka ingin melawan dan melanggar perintah, maka itu tidak bisa dilakukan sama sekali!


Semua ksatria pun memaksakan diri untuk melalukan perintah. Kebanyakan dari para pria hanya bisa menahan rasa lelah, dan sakit yang ada di sekujur tubuh mereka dalam keadaan diam. Sementara para perempuan, semuanya berlatih dalam keadaan meneteskan air mata kesakitan.


Satu per satu dari mereka berjatuhan, dan mencapai batas yang bisa dicapai oleh tubuh mereka. Ketika hal itu terjadi, Anryzel memanggil Nivania untuk merawat dan menyelamatkan mereka.


Tentu saja Nivania melakukan ini bukan karena keinginannya sendiri, melainkan atas dasar permintaan Anryzel yang menekankan kata "Saint" dalam permintaannya.


Sekarang dari seratus dua puluh lima ksartia yang berlatih, hanya menyisakan dua puluh orang yang masih bertahan dalam keadaan berdiri. Meski bertahan, sebenarnya mereka memaksakan diri untuk menunjukkan kualifikasi yang lebih layak daripada yang lain.


Pada saat itu, mereka berpikir bahwa pelatihan fisik hari ini akan segera berakhir karena mereka bisa bertahan sampai akhir. Akan tetapi, harapan mereka terbukti dikhianati oleh senyum mengerikan dari Anryzel yang langsung memberikan mereka perintah yang membuat putus asa.


"Sekarang, lakukan perintahku tadi sekali lagi sampai tubuh kalian mencapai batasnya!"


Mereka akhirnya sadar bahwa sejak dari awal, Anryzel memang berniat membuat mereka tersiksa hingga tidak sadarkan diri. Dengan dalih untuk memberikan pelatihan hidup dan mati, Anryzel untuk sementara menghapus rasa kasihan dalam dirinya.


Tidak peduli apakah ksatria itu perempuan, saudara, atau bahkan kekasihnya sendiri, dia tidak akan memberi keringanan!


Begitulah bagaimana pelatihan neraka itu terus berjalan.


..._____...


Catatan Author :


Bagi kalian yang sempat memberikan komentar berupa "Tolong upnya jangan terlalu lama" atau sejenisnya. Saya mengucapkan terima kasih karena masih menunggu cerita ini walaupun update-nya tak menentu, dan cenderung lama bahkan sampai beberapa bulan.


Update lama ini bukan tanpa sebab. Banyak faktor yang membuat saya tidak bisa menulis atau mengetik seperti faktor kesibukkan di dunia nyata. Hampir lima puluh persen alasan saya tidak update itu karena dunia nyata, tetapi lima puluh persen lagi bisa karena alasan lain, dan yang paling kuat adalah kurangnya motivasi buat nulis.


Kadang saya berencana untuk update. Misalkan hari ini, tetapi karena gak ada motivasi sama sekali, akhirnya update itu diurungkan. Atau saat saya ada motivasi, malah gak ada inspirasi, akhirnya batal lagi deh.


Yah intinya, saat ada semua faktor pendukung buat nulis, saya pasti update kok.


Maka saya persembahkan sebuah kalimat bijak tapi tidak bijak, kalimat mutiara tapi tidak berharga, dan kalimat indah tapi boong ini untuk siapapun yang gabut dan tak sengaja membacanya:

__ADS_1


"Imajinasi terkadang membuat kita bahagia, dan akhirnya melupakan dunia nyata. Namun dunia nyata, tak akan pernah sesuai dengan imajinasi kita."


Sampai jumpa lagiii :3


__ADS_2