Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 153 : Undangan Yang Tak Menyenangkan


__ADS_3

Armilein menegaskan pertanyaan ketiga seolah-olah pihak kekaisaran tidak memaksakan kehendak terhadap Kerajaan Aulzania. Alih-alih memutuskan segalanya sendiri, kekaisaran malah mengirimkan undangan kepada Raja Esdagius untuk berunding secara langsung.


Padahal seperti yang semua orang ketahui, kaisar dari Kekaisaran Agung Exousillia itu sangat menjaga rahasia. Beberapa orang penting di kekaisaran bahkan tidak diizinkan untuk bertemu langsung dengan sang kaisar.


Jelas perilaku itu mengisyaratkan kebanggaan seorang pemimpin dari wilayah terkuat di Benua Zachen. Andaikan kekaisaran itu ingin melakukan agresi terhadap wilayah lain, maka siapapun tidak akan berusaha untuk melawan daripada merasakan penderitaan.


Beruntung kepribadian sang kaisar hanya sebatas menjaga rahasia, dan tidak memiliki ambisi besar untuk merebut kekuasaan wilayah lain yang lebih lemah darinya.


Jadi dengan semua fakta tersebut, mengapa sang kaisar kini berinisiatif untuk bertemu langsung dengan Raja Esdagius yang merupakan pemimpin dari kerajaan biasa? Jika sebatas akses menuju Hutan Loudeas, Raja Esdagius akan menerimanya walaupun dikirim melalui surat formalitas atau utusan seperti Armilein.


"Akses menuju Hutan Loudeas? Baiklah, kapan Sang Kaisar ingin bertemu denganku?" Raja Esdagius bertanya dengan penuh ketertarikan.


"Saya tidak bisa menentukannya. Menurut perintah Yang Mulia Kaisar, keputusan berada di tangan Yang Mulia Raja, kapan kira-kira Anda memiliki waktu?"


Sementara Armilein dan Raja Esdagius berbicara, ada seseorang yang memperhatikan mereka berdua sambil sesekali ikut berkomentar dalam hati. Senyum aneh tak pernah berhenti keluar darinya setiap kali Armilein mengatakan sesuatu terhadap Raja Esdagius.


"Niat tersembunyi yang sangat jelas. Apa yang sebenarnya diinginkan oleh mereka?" Ren bertanya-tanya.


Tidak, mungkin lebih tepatnya apa yang ada di dalam Hutan Loudeas sehingga mereka terlihat begitu tertarik? Ada kemungkinan ketertarikan ini terlahir dari sumber kekuatan yang dibicarakan oleh Devaran, tapi tidak menutup kemungkinan pula bahwa itu berasal dari sesuatu yang lain.


"Apakah itu ... istanaku? Kalau memang benar begitu, mengapa istanaku menarik perhatian mereka?"


Ren tidak bisa berhenti untuk memikirkannya.


Apakah itu karena [Bloody Palace of the Monarch] mampu mengumpulkan Mana yang berasal dari alam untuk dijadikan sumber kekuatan?


Seharusnya itu sedikit mustahil karena Ren tidak pernah mendengar sebuah istana dijadikan sebagai sumber kekuatan. Kecuali ada kasus tertentu di mana istana itu memiliki fungsi yang sama seperti peralatan sihir yang mampu meningkatkan kekuatan untuk sementara waktu.


Nah, itu tidak sepenuhnya mustahil. Mungkin Ren menganggapnya tidak mungkin karena dia tidak mengetahuinya dengan baik. Bagaimanapun, sebelum kekaisaran itu dapat mencapai istana miliknya, dia harus benar-benar tahu perihal masalah ini ketika kembali nanti.


Perhatian Ren dialihkan kembali ke dunia nyata oleh perkataan Raja Esdagius yang telah menentukan waktunya kepada Armilein. Dan tidak heran saat melihat waktu hanya berlalu beberapa detik meski dia telah berpikir cukup banyak karena kemampuan berpikir cepat miliknya.


"Setelah aku pikirkan dengan baik, mungkin tiga minggu atau satu bulan dari sekarang," jelas Raja Esdagius dengan mantap.


Armilein merespon dengan anggukan pelan. Waktu yang dikatakan oleh Raja Esdagius memang waktu yang paling ideal setelah mempertimbangkan segala sesuatu termasuk kesibukkan sang kaisar.


"Baiklah, saya akan menyampaikan hal ini kepada Yang Mulia Kaisar. Mungkin dalam waktu yang telah Anda sebutkan, kendaraan yang kami kirim akan datang menjemput Anda, mohon untuk selalu bersiap-siap."

__ADS_1


Masalah utamapun telah diselesaikan. Armilein yang mencoba bertindak tenang dan anggun kini berhenti melakukan hal itu dan menatap sinis kepada Ren yang sedang duduk diam dalam damai.


"Permasalahan kami selesai di sini. Lalu, apa kau bisa menjelaskan kepada kami semua tentang apa yang terjadi sebelumnya?"


"Oh! Apakah itu berarti Nona Armilein menganggap ketiga pertanyaan dijawab dengan sempurna dan memuaskan?!" tanya Raja Esdagius girang.


Armilein menoleh, "Tentu saja, akan tetapi kedua masalah ini adalah hal yang berbeda. Yang Mulia Kaisar memang membebaskan Kerajaan Aulzania dari tuduhan, tapi tidak untuk pria ini."


"T-Tapi, bukankah pertanyaan itu sudah dijawab dengan baik?" Raja Esdagius terlihat enggan menerimanya.


"Yang Mulia, mohon berpikir bijaksana. Kami telah melepaskan Kerajaan Aulzania dari tuduhan, atau Anda memang bersekongkol dengannya dalam penghancuran Kerajaan Suci Sancteral?"


"I-Itu ...."


Raja Esdagius merasakan dilema yang besar antara memihak kekaisaran terbesar, atau Anryzel Dirvaren yang seorang Monarch? Keduanya sama-sama kuat dan belum ada kepastian mana yang lebih baik.


Namun saat ini dia berpikir bahwa Anryzel Dirvaren telah menyelamatkan seluruh penduduk Kota Aulzania, orang itu pasti memiliki alasan yang kuat mengapa Kerajaan Suci Sancteral dihancurkan.


Lagipula, bukankah tugas seorang Monarch itu menjaga benua yang dimilikinya? Mungkinkah Kerajaan Suci Sancteral melakukan sesuatu yang tidak termaafkan sehingga kehancuran adalah hasil perbuatan mereka sendiri?


"Sudah cukup," ucap Ren menyela.


"Raja Esdagius, jangan lupakan fakta bahwa dirimu masih seorang raja di sini. Meskipun perempuan ini seorang utusan besar tapi kedudukannya berada di bawahmu, jangan merendahkan diri dan mempermalukan dirimu sendiri."


Raja Esdagius seketika tersenyum pahit. Semenjak pertemuannya dengan Ren di masa lalu kini dia tidak merasa setinggi itu sebagai seorang raja yang membuatnya terkadang lupa untuk menjaga martabatnya.


"A-Anda benar, sepertinya aku merendahkan diri terlalu banyak."


Armilein melihat pembicaraan itu dengan tatapan kesal sebab laki-laki itu bahkan tidak menjawab perintahnya untuk menjelaskan situasi. Namun apa yang laki-laki itu katakan benar, kedudukan seorang raja masihlah tinggi sehingga seorang utusan besar pun tidak dibenarkan untuk bersikap seenaknya.


Secara tidak langsung Ren juga menyinggung soal aturan yang dibicarakan oleh Armilein. Saat seseorang yang memiliki kedudukan lebih rendah dari seorang raja menunjukan perilaku tidak sopan di hadapan raja maka hukuman terberat yang diberikan adalah kematian.


Menyadari fakta itu membuat Armilein tersentak, dan merenungkan apa yang telah dia perbuat. Pada faktanya, apa yang dilakukan oleh Ren adalah suatu hal yang benar, yaitu menghukum orang yang tidak tahu sopan santun di depan seorang raja


Namun tetap saja, sikap dan perilaku Ren juga tidak sopan di depan seorang raja sehingga Armilein memiliki alasan untuk menguatkan argumennya nanti. Armilein berpikir tidak ada cara bagi Ren untuk melarikan diri dari hukuman yang akan diberikan kepadanya.


"Heh, kau akan menerima hukuman karena telah menghinaku!" geram Armilein dalam hati.

__ADS_1


Ren melihat perubahan ekspresi yang tersembunyi di wajah Armilein. Dia menduga bahwa Armilein memikirkan sesuatu yang buruk tentangnya, tapi sayang sekali pemikiran Armilein sepertinya tidak akan terpenuhi.


"Dengarkan penjelasanku baik-baik karena aku tidak akan mengulanginya."


Ren mulai menjelaskan semua peristiwa yang terjadi ketika dia bertempur melawan Lorei sang utusan Kekaisaran Lodysna. Tidak ada hal apapun yang dia tutupi termasuk fakta bahwa kekuatannya berada di tingkat yang tidak bisa dibayangkan oleh mereka.


Sayang sekali Armilein dan beberapa orang yang tak percaya menganggap bagian kekuatan itu hanya omong kosong belaka, dan beberapa bagian cerita dilebih-lebihkan dengan sengaja.


Armilein lalu tersenyum sinis, dan menyindir cerita Ren seolah-olah dia hanya seorang pembual, "Hahaha, apakah kau sedang bermimpi? Menghancurkan sihir tingkat divine menggunakan pedang biasa? Tidak masuk akal!" seru Armilein tak percaya.


"Lalu, mengapa aku masih hidup?" balas Ren dingin.


Mereka berpikir, benar juga!


Semua orang memberikan respon yang sama dalam hati mereka. Jika Ren memang seorang pembual, lalu bagaimana dia bisa selamat dari seorang Lorei yang mampu menggunakan sihir tingkat divine?


Mereka semua juga melihat puluhan meteor yang membelah langit itu sehingga tidak dapat diragukan lagi bahwa Lorei memang mampu menggunakan sihir tingkat divine.


"Jadi kau ingin aku percaya perkataanmu yang tidak masuk akal?"


Armilein masih teguh dengan keyakinannya untuk membantah. Karena bantahan yang dilontarkan sudah memasuki ranah tidak masuk akal, Ren tidak berniat untuk menjelaskan dengan kata-kata lagi.


"[Blood Prison Cube]"


Armilein seketika terbungkus oleh kubus merah transparan. Hal ini membuat para pengawalnya panik dan memasuki mode pertempuran. Semua orang di sana terkejut bukan main, termasuk Nivania yang merasa asing dengan kubus merah tersebut.


"T-Tuan Dirvaren! Mohon jangan dimasukkan ke hati, bagaimanapun dia masih utusan yang perlu kuhargai!"


Raja Esdagius berteriak putus asa meminta pertimbangan karena dia tahu bahwa kubus merah ini bukanlah sesuatu yang baik. Dia masih ingat ketika Ren melakukan penyiksaan tidak manusiawi di dalam kubus merah yang mengerikan ini.


"Tidak ada yang perlu kukatakan lagi," ucap Ren tanpa ekspresi.


Lalu Ren melompat keluar kembali melalui jendela ruang pertemuan bersama Armilein yang berada dalam kubus merah mengikutinya. Mereka terbang dengan kecepatan tinggi menuju Hutan Loudeas tempat di mana Ren dan Lorei memulai pertarungan.


Sepanjang perjalanan Armilein berteriak memberi makian yang berisi kata-kata kasar dan ancaman agar Ren melepaskannya. Namun, seperti yang kita ketahui bahwa anjing yang menggonggong tidak begitu berharga sampai membuat raja mendengarkannya.


...__________________...

__ADS_1


**Catatan Author :


Sibuk seperti biasa. Tinggalkan** ....


__ADS_2