
**Bisa di skip √
Latar waktu antara Ch. 85 - 100**
_______________
"Mama, Selta ingin bertemu Ayah lagi."
Seorang gadis kecil yang dapat digambarkan dengan satu kata 'Es' merajuk pada wanita dewasa yang hampir serupa dengannya. Dia bersandar pada sosok wanita itu, seraya melihat pemandangan dari dalam ruangan.
"Bukankah sudah Mama katakan, seorang Ayah itu memang laki-laki, tapi bukan berarti semua laki-laki itu seorang Ayah, Selta," balas wanita itu dengan lembut seraya membelai rambut anaknya.
Mereka berdua bagaikan sebuah pinang yang dibelah dua, hanya ada sedikit perbedaan di antara keduanya. Jika gadis kecil itu adalah kecantikan yang imut, maka wanita itu adalah kecantikan yang menenangkan.
"Kalau begitu, dimana Ayah Selta sekarang?"
Wanita itu seketika terdiam, berpikir dia telah melakukan kesalahan karena memberitahu Laselta sesuatu yang belum saatnya.
Mereka para Roh tidak membutuhkan 'laki-laki' untuk bereproduksi, sehingga sulit untuk menjelaskan hal ini pada Laselta yang sudah terlanjur mengenal apa itu ayah yang merupakan laki-laki.
Semua berawal ketika Laselta masih sangat kecil, dia kesulitan tertidur saat itu dan meminta agar mamanya menceritakan sesuatu yang menarik. Wanita itu tentu bingung harus menceritakan apa karena jarang sekali ada cerita seperti itu di kalangan penghuni Shade of Spirits.
Alhasil dengan terpaksa dia menceritakan sebuah kisah yang ia dengar dari Nona Arystina. Mengenai keberadaan para laki-laki, mengenai luasnya dunia, dan mengenai apa itu makhluk yang disebut dengan Ayah.
"Um, begini Selta ..." Wanita itu menghirup napas dalam-dalam. "Kita para penghuni Shade of Spirits tidak memiliki Ayah, baik Selta maupun Mama tidak memiliki Ayah."
"Selta mengerti, Mama sudah menjelaskan itu beberapa kali 'kan?" sahut Laselta kemudian mengembungkan pipinya.
"Nah, kalau Selta sudah menger-"
"Tapi Selta ingin Ayah!" tegas Selta sambil beranjak dari sandaran mamanya.
Wanita itu terkejut melihat tingkah Laselta yang tidak pernah seperti ini sebelumnya. Bagaimana bisa Laselta menjadi keras kepala soal keinginannya memiliki Ayah?
__ADS_1
Sebagai seorang ibu, tentu dia merasa kebingungan. Di satu sisi dia merasa kasihan pada Laselta tapi di sisi lain sangat sulit untuknya mencari laki-laki dari dunia luar.
Namun daripada sisi kedua, wanita itu lebih memilih keinginan anaknya, meski itu hanya sebatas menenangkan.
"Hah ... Selta sudah besar ya? Berapa umur Selta sekarang, 50 tahun? 60 tahun?" Wanita itu menghela napas dan berkata lembut, " Baiklah, nanti Mama akan mencari seorang Ayah, mungkin ketika kita semua pindah?"
Arystina memang telah membicarakan perihal kepindahan tempat tinggal mereka dari Shade of Spirits ini. Dari apa yang ia bicarakan, mereka semua akan dipindahkan ke sebuah tempat di pedalaman hutan.
Pada awalnya, semua orang sedikit menolak dan menyuarakan protesnya. Bukan tanpa alasan mereka menolak, protes ini terlahir dari kekhawatiran mereka terhadap Arystina.
Sebagai satu-satunya Roh hutan di Shade of Spirits, Arystina merupakan orang yang paling membutuhkan Shade of Spirits. Baik itu kekuatan maupun kesehatan, Arystina sangat terikat oleh Shade of Spirits yang menyerap mana dari alam.
Wanita itu sangat mengingat dengan benar ekspresi khawatir penghuni Shade of Spirits ketika Arystina menyuarakan pendapat itu dengan kebahagiaan.
"Mengapa Nona sangat tertarik dengan laki-laki itu? Bukankah mereka baru beberapa saat bertemu? Bagaimana jika ... ah, semoga saja dia tidak memiliki niat buruk terhadap Nona Arystina," batin Wanita itu khawatir.
Wanita itu melamun, tidak menyadari bahwa Laselta sedang menatapnya kesal karena di abaikan. Lamunan itu tersadarkan saat Laselta memanggilnya dengan nada sedikit keras.
"Ma ... Mama!"
"Umu, Selta benci Mama," keluh Laselta.
Wanita itu hanya bisa tersenyum sambil mendekati Laselta dan mengusap kepalanya.
"Maafkan Mama, tadi Selta ingin apa?"
Bukan seorang ibu namanya jika tidak bisa membujuk anaknya, mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan mereka saat ini. Meskipun Laselta merasa kesal dengan kelakuan wanita itu tapi perasaan-nya luluh seketika oleh kelembutan dan bujukan dari seorang ibu.
"Selta tidak ingin laki-laki lain, Selta hanya ingin Ayah yang menjadi Ayah," lirih Selta.
Batin wanita itu meringis, dia mengerti siapa yang dimaksud oleh Laselta sebagai Ayah. Dia adalah laki-laki yang entah karena apa begitu di sukai oleh Arystina, pemimpin mereka semua.
"Itu tidak mungkin, Selta. Kamu tahu bukan laki-laki itu sudah dekat dengan Nona Arystina?" bujuknya seraya tersenyum.
__ADS_1
"Apa tidak bisa?" Laselta memelas.
"Bukan tidak bisa ...."
"Laki-laki itu sepertinya bukan orang biasa, dan Mama tidak mungkin mendekatinya karena itu sangat tidak sopan terhadap Nona Arystina. Terlebih lagi ... laki-laki itu belum sepenuhnya bisa dipercaya," batin wanita itu meneruskan perkataannya yang terhenti.
"Lalu apa?"
Sulit untuk menjelaskan hal rumit seperti ini pada Laselta yang masih kecil. Dari sudut pandang manapun, hubungan antara wanita dan laki-laki itu tidak cocok untuk anak seusia mereka.
Namun karena Laselta tidak mungkin puas dengan penjelasan biasa yang samar-samar, wanita itu memutuskan untuk mengalah. Meski setelah dia mengatakan ini, apakah dia akan melakukannya atau tidak itu belum pasti.
"Em." Wanita itu menggelengkan kepala lembut. "Jika itu keinginan Laselta, maka Mama akan melakukannya."
Laselta seketika tersenyum senang. Begitu mekar senyumnya hingga wanita itu pun ikut merasa bahagia. Terkadang hal sederhana memang membahagiakan, termasuk senyum anak untuk ibunya.
"Sebaiknya Selta membicarakan hal ini pada Nona Aurlin, siapa tahu Nona Aurlin bisa mempertemukan Selta dengan Ayah?"
Laselta mengangguk penuh semangat sambil tersenyum senang. Dia kemudian menuruti perintah ibunya, pergi menemui Aurlin untuk membicarakan sesuatu yang dia inginkan.
Selang beberapa waktu kemudian, Laselta kembali dengan senyum yang lebih mekar dari sebelumnya. Bahkan wanita itu belum pernah melihat Laselta yang sangat senang seperti ini.
Wanita itu, hanya bisa tersenyum masam dan berbicara sendiri dalam hatinya.
"Apa yang telah aku katakan? Menganggap laki-laki tidak dikenal sebagai Ayah Laselta? Bahkan aku belum pernah bicara dengannya."
Meski perasaan-nya begitu berat dan enggan, tapi ketika dia melihat Laselta yang tersenyum cerah bahagia, dia merasa perasaan itu bukanlah apa-apa.
Laselta yang merasa hatinya dipenuhi kesenangan tanpa sadar bersenandung. Tersenyum cerah seraya menanti-nanti orang yang dia anggap sebagai 'Ayah'.
"Hm~ Laselta ingin segera bertemu Ayah," gumamnya sambil tertawa kecil.
___________
__ADS_1
Catatan Author : Mungkin, saya ke depannya akan menyorot karakter yang kurang tersorot dalam Ch.Bonus seperti ini? Mungkin juga ada yang benar-benar tidak berguna (Tidak berpengaruh terhadap cerita utama) tapi mungkin juga ada yang berguna untuk dibaca.