Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 124 ~ Kekacauan Kerajaan Suci Sancteral VI


__ADS_3

Melihat tombak yang terbuat dari Blood Art tidak mampu menembus penghalang itu, Ren memegang dagu sambil berkomentar penuh ketertarikan.


"Multi-Barrier ya? Tidak hanya melindungi dari serangan fisik tapi juga serangan sihir. Bagaimanapun, orang yang membuatnya sangat hebat karena dapat menumpuk beberapa Multi-Barrier sekaligus."


Multi-Barrier terdiri dari dua lapisan penghalang (fisik dan sihir) yang saling dirangkapkan. Biasanya salah satu dari penghalang tersebut berada di bagian luar dan satunya lagi berada di bagian dalam.


Namun karena menggabungkan dua lapisan penghalang sekaligus, tingkat ketahanan dari lapisan itu sendiri cukup rendah.


Tingkat ketahanan antara penghalang fisik dan penghalang sihir harus bernilai sama agar tercapai keseimbangan. Oleh karena itu, seseorang yang memiliki kecacatan dalam salah satunya tidak akan pernah bisa membuat Multi-Barrier yang sempurna.


Ren telah menghancurkan satu lapisan penghalang fisik menggunakan tombaknya, maka sekarang yang tersisa hanya lapisan sihir dan beberapa Multi-Barrier lainnya. Mudah untuk menghancurkannya tapi ....


Panggung kekacauan ini tidak akan Ren habiskan seorang diri. Avrogan, Indacrus, Nirlayn, Arystina, Rakuza, Rusava, dan Raytsa harus ikut andil dalam panggung yang megah bernamakan Kota Zarisma ini.


"Kalau begitu, berikan mereka hadiah pertemuan yang megah, Avrogan," perintah Ren dengan memutar kepala sambil menunjukan mata merah menyala.


Avrogan tampak sedikit terkejut karena tidak menyangka akan diberi izin oleh tuannya. Tapi itu bukan masalah yang penting, sebuah perintah berarti kewajiban yang harus dia lakukan sepenuh hati tanpa sedikitpun menahan diri.


"Divine Thunder, Tuan?" tanya Avrogan. Dalam pertanyaan itu ada semangat yang terselip.


Kota Zarisma dilindungi oleh beberapa Multi-Barrier sekaligus. Maka dari itu, tidak ada alasan bagi Ren untuk menahan Avrogan mengeluarkan teknik terbaiknya.


"Ayo bertaruh, kalau kau bisa menghancurkan semua penghalang itu sekaligus maka kau yang menang, dan jika tidak bisa, tugas ini akan kuberikan pada Indacrus, bagaimana? Menarik bukan?"


Atas pernyataan menantang yang diberikan oleh Ren, Avrogan mendengus sekali. Berpikir bahwa tuannya terlalu meremehkan sosok [Beast Servant] Legendaris yang telah berevolusi.


"Baiklah, Tuan. Sepertinya Anda terlalu meremehkan kemampuan saya."


Avrogan melangkahkan empat kakinya untuk bergerak menjauh ke depan dari yang lain. Dia mendekati Kota Zarisma dengan kecepatan yang lambat sambil mengeluarkan Aura petir dan Aura merah darah dari seluruh tubuhnya.


Perlahan-lahan Armor yang dia dapatkan setelah resmi menjadi [Blood Servant] muncul dan membungkus tubuhnya. Penampilan Avrogan yang mengagumkan kini bertambah dengan sesuatu yang bisa disebut sebagai mengerikan.


Ren hanya bisa memijat keningnya, berpikir dirinya sendiri cukup ceroboh karena melupakan fakta bahwa Avrogan telah berevolusi menjadi [Blood Servant].


"E-eh ... Bagaimana bisa Avrogan jadi menyeramkan seperti itu???" tanya Arystina yang bersembunyi di belakang tubuh Nirlayn.


"Heee ... Arystina, kau seperti anak kecil," goda Nirlayn mencoba melepaskan Arystina yang bersembunyi di belakangnya.


Arystina tersentak oleh kata yang diucapkan Nirlayn dan secara spontan membuatnya melepaskan genggaman. Bola mata Arystina bergerak-gerak dengan malu sampai akhirnya pandangan itu terhenti pada sosok Ren yang menatapnya dengan senyuman kecil.


Ren memberikan isyarat tangan berupa ibu jari yang diangkat pada Arystina sambil menggerakan bibirnya untuk membuat ucapan tanpa suara, "Bagus, kau lucu, Arystina."


Ren kembali memperhatikan Avrogan setelah mengucapkan kata-kata yang tidak bertanggung jawab itu. Dia tidak menyadari bahwa Arystina hampir saja meledak karena malu.


Nirlayn yang menyaksikan tingkah lucu Arystina yang malu-malu tersenyum jahat, kemudian berbicara keras untuk menarik perhatian Ren lebih jauh.


"Ah, Ren-sama, lihatlah Arystina, sepertinya dia sedang malu?" ucapnya tanpa merasa bersalah.

__ADS_1


Alhasil perkataan Nirlayn membuat Ren memutar kepala kembali untuk melihat mereka berdua. Sadar akan kebenaran perkataan Nirlayn membuat Ren tersenyum tulus dengan sendirinya.


Namun, alih-alih keinginan agar Arystina bertingkah lebih lucu lagi terkabul, Nirlayn malah merasakan itu sendiri setelah melihat senyum tulus tanpa ternoda. Dia memerah malu dan sama-sama saling bersembunyi dengan Arystina.


"Haahaha, oh ya ampun. Aku pikir mereka sangat cocok untuk mencairkan suasana yang serius," batin Ren tertawa.


Pandangan Ren mengesampingkan dulu mereka berdua, kini matanya bergerak untuk melihat sosok Avrogan yang mulai melayang ke langit.


"Kekuatan ini ... apakah Avrogan benar-benar sekuat ini sebelumnya?" gumam Indacrus.


Telinga Ren berkedut mendengar gumaman tidak percaya dari Indacrus. Dia merasa sedikit bersalah karena telah mengganggu keseimbangan antara kekuatan Avrogan dan Indacrus dengan memberi Avrogan sebagian darahnya.


"Tidak, dia tidak sekuat itu sebelumnya. Kekuatan ini dia dapatkan setelah menerima ... um, berkah dari darahku, mungkin?" jelas Ren ragu-ragu.


Mata bulat yang tajam dari Indacrus semakin membulat, seolah tidak menduga asal-usul kekuatan Avrogan yang meningkat. Dia sedikit bergerak ke samping Ren hingga membuat Ren meliriknya sesaat dengan ekspresi tanda tanya.


"Tuan, aku akan mengabdikan seluruh hidupku. Maka dari itu, berikan saya berkah itu juga! Saya memohon dengan sangat!"


"Hah? Dari awal kau menerima kontrak ini maka hidup dan matimu berada di tanganku. Lagipula, aku akan memberikannya tapi tidak sekarang."


Indacrus mengangguk, seperti bagaimana seekor burung mengangguk. Tidak, apakah burung itu sendiri dapat mengangguk? Ini adalah sebuah misteri.


Pada saat mereka melakukan pembicaraan, awan hitam mulai menggumpal di atas langit Kota Zarisma. Begitu pekat awan ini sehingga membuat seluruh kota dilanda kegelapan bagaikan malam.


Aliran-aliran petir berwarna merah terlihat bermunculan dari dalam awan. Kemudian, awan hitam itu sendiri mulai mengumpulkan energi yang sangat besar sampai sebuah petir dahsyat berwarna merah menghantam ke daratan.


Dampaknya sendiri mencapai tempat dimana Ren berada. Kekuatan yang dahsyat ini jelas tidak mungkin dilakukan oleh Avrogan yang dulu.


"Luar biasa, serangan yang mengagumkan." Ren tidak bisa berbohong, dia mengakui bahwa serangan Avrogan itu begitu dahsyat dan luar biasa.


Namun sayang sekali ....


Penghalang yang melindungi Kota Zarisma pecah sampai dihitungan yang keenam, lalu setelah itu tidak ada lagi penghalang yang hancur dan Kota Zarisma masih utuh tanpa kerusakan apapun.


"Hooo ... Avrogan pun mengalami kegagalan ya? Sebenarnya, seberapa banyak penghalang yang diterapkan untuk melindungi kota ini?" pikir Ren dalam hati.


Avrogan yang menyaksikan serangannya tidak mampu menembus semua penghalang berakhir dengan kecewa. Dia menghentikan mode [Blood Servant] dan bergegas kembali ke sisi dimana Ren berada.


"Maafkan saya, Tuan. Sepertinya saya gagal untuk memenuhi harapan Anda," lirih Avrogan menyesal.


Ren yang sedang berpikir tersadarkan oleh permintaan maaf dari Avrogan. Menyadari bahwa Avrogan menganggap serius pertaruhan itu membuat Ren tertawa cukup keras.


"Hahaha! Tidak masalah, aku tidak berharap kau mampu menghancurkan semua penghalang itu," jelas Ren membenarkan kesalahpahaman Avrogan.


Jika satu serangan tunggal dari Avrogan mampu menghancurkan itu semua, lalu hal menarik apa yang menunggu Ren disana? Jelas tidak ada. Musuh yang tidak mampu menahan serangan seperti itu tidak layak untuk dinanti.


"Yah, setidaknya butuh lima sampai sepuluh kali serangan yang sama untuk menghancurkan seluruh penghalang itu, mungkin?" Ren sendiri tidak mampu memperkirakan dengan akurat tapi masih ada kemungkinannya.

__ADS_1


"P-penghalangnya, sekuat itu?" tanya Avrogan dengan mata yang bulat.


"Lebih tepatnya, penghalang itu terlalu banyak."


Ada satu cara dengan kemungkinan seratus persen untuk menghancurkan seluruh penghalang itu sekaligus. Nah, kalau bukan menggunakan Pedang Nuxuria dengan skill penebas dimensinya, apalagi? Tapi, Ren tidak berniat menggunakannya.


"Bagaimana, Indacrus? Mau mencoba untuk menghancurkan penghalang itu? Anggap saja ini adalah cara kita untuk menunggu sambutan yang hangat dari mereka."


Indacrus mengangguk, dia tidak berniat untuk kalah saing dari Avrogan meskipun tidak memiliki berkah darah dari tuannya. Benaknya berpikir, inilah saat yang tepat untuk menunjukan kegunaan di hadapan sang tuan.


"Saya akan mencobanya."


"Tunggu, saya juga ... akan mencoba kembali."


Semangat dari dua [Beast Servant] Legendaris untuk menghancurkan penghalang memang patut untuk di acungi jempol. Ren memberi konfirmasi kepada keduanya, kemudian sebelum mereka pergi, dia memberi sedikit pesan.


"Karena banyak manusia-manusia tidak bersalah disana, jangan lupa untuk tidak ... menahan diri, mengerti?"


____________________________________________


____________________________________________


Pada sebuah lorong yang cukup diterangi oleh cahaya, Rakuza dan Rusava dihadang oleh dua orang yang tidak dikenali oleh mereka. Satu adalah laki-laki yang bertandukkan lava, dan satu lagi adalah laki-laki bersayap emas.


"Hei kalian, tikus seharusnya mencoba untuk bersembunyi lebih baik," ucap lelaki bersayap emas.


"Beginilah antek-antek Blood Devil bertindak, sangat bodoh seperti tuannya," ucap lelaki bertanduk lava.


Rakuza terlihat menggemertakan giginya karena tidak menduga penyusupan mereka akan diketahui secepat ini. Sedangkan Rusava, hanya melihat pada dua orang itu dengan mata yang tenang dan diam.


"Siapa yang kalian sebut bodoh?"


Aura yang tidak mengenakan muncul dari Rusava, seperti sebuah kedinginan yang menusuk tulang hingga ke hati. Kemarahan dalam diam, memang sesuatu yang mengerikan.


"Kau tuli? Aku katakan, tuan kalian adalah orang yang bodoh!" teriak lelaki bertanduk lava.


Setelah itu, kemarahan Rusava begitu memuncak dalam bentuk Aura yang meledak hebat. Rakuza yang berada disisinya sangat terkejut dengan Rusava yang begitu marah secara tiba-tiba.


Namun seolah tidak gentar oleh kekuatan yang hebat, dua sosok itu sama sekali tidak bergeming. Mereka malah menampakan senyum buas seolah melihat mangsa dihadapan mereka.


"Blood Devil! Jadi kau akhirnya menampakan diri hah?!" teriak lantang lelaki bersayap emas.


"Aku mengerti, jadi dia orang yang sedang kita buru itu? Baguslah, aku akan membuktikan bahwa Blood Devil itu bukan apa-apa, melainkan hanya sampah!"


Dua sosok laki-laki itu sangat bersemangat karena menemukan target yang sedang mereka cari datang dengan sendirinya.


Namun, sosok lelaki bersayap emas telah salah mengira bahwa Rusava adalah Blood Devil yang mengalahkannya. Semua itu dikarenakan pada saat itu, Blood Devil yang mengalahkannya masih dalam bentuk penyamaran.

__ADS_1


__ADS_2