
Dragon God, sebuah Entitas yang memegang Gelar Dewa. Entitas yang begitu luar biasa dan dikenal oleh seluruh individu yang ada di Dunia. Harusnya seperti itu....
Namun, Informasi yang Ren dapatkan mengenai Dragon God berkebalikan dengan yang seharusnya. Reynalue, seorang Necromacer yang cukup kuat dimata Ren, menyebutkan bahwa dia tidak mengenal siapa yang Ren maksud sebagai Dragon God.
Pernyataan Reynalue membuat Ren berpikir dengan keras.
'Bagaimana dengan alasanku dikirim ke Dunia ini? jika Dragon God bahkan tidak ada.'
Ren bahkan sempat berpikir untuk memusnahkan Reynalue dan Nidgor karena sama sekali tidak berguna. Tetapi, Rakuza yang masih memiliki dendam dengan Reynalue membuat Ren tidak bisa melakukannya.
Dengan sebuah kebingungan dihatinya, Ren terbang diatas langit Hutan Loudeas. Hutan yang ditutupi oleh kabut itu kini dapat dilihat dengan jelas olehnya.
Berbagai macam Mana dari Monster terasa di berbagai tempat di Hutan Loudeas. Dalam perjalanan kembali ke Kota Aulzania ini, Ren menyempatkan diri untuk memperhatikan sebanyak mungkin bagian Hutan. Hal ini mungkin akan berguna bagi dia untuk ke depannya. Cepat atau lambat, Ren akan mengeksplorasi Hutan ini.
"[King Scorpion Corossive], [Lightning Blade Snake], [Twin Head Wyvern]."
Ada Tiga Jenis Monster terkuat yang Ren kenal berdasarkan Mana yang mereka miliki.
Pertama adalah [King Scorpion Corossive] dia adalah yang terjelas. Bukan hanya mana darinya yang Ren Rasakan, melainkan Tubuh Monster ini pun terlihat.
[King Scorpion Corossive] dengan megahnya berbaring diantara Hutan - Hutan yang Rimbun. Tubuhnya cukup besar, dengan tinggi kurang lebih 10 Meter. Untuk Panjang dan Lebarnya, Ren tidak dapat menyebutkan dengan pasti itu berapa.
Jika dibandingkan diantara ketiganya, mungkin [King Scorpion Corossive] lah yang terkuat. Sejauh yang Ren Rasakan sampai saat ini, ada sekitar Enam sampai Tujuh Ekor [King Scorpion Corossive] namun, jarak mereka berdiam diri cukup jauh.
Lalu yang Kedua adalah [Lightning Blade Snake], Monster ini adalah yang paling sulit untuk dilacak jika hanya dilihat oleh pandangan Mata. Mereka Tidur dengan cara mengubur Tubuh mereka sendiri dalam tanah. Membuat keberadaan mereka akan sangat sulit dideteksi oleh orang dengan persepsi mana Rendah.
Sejauh yang Ren tahu dari COTHENIC, Monster jenis [Lightning Blade Snake] ini memiliki Tubuh yang bisa mencapai 100 Meter panjang nya. Memiliki ciri fisik duri - duri Kristal di kulitnya yang mampu mengeluarkan dan menembakan aliran Listrik yang hebat.
Dan yang terakhir adalah [Twin Head Wyvern] ini adalah Monster yang hampir Mirip dengan Naga. Namun, ada perbedaan besar diantara mereka, [Twin Head Wyvern] sendiri merupakan Monster, sedangkan Naga diakui sebagai Ras.
Diantara Bukit - Bukit yang berada di Hutan Loudeas, beberapa [Twin Head Wyvern] mendiami Puncak dari Bukit tersebut. Monster ini memiliki dua kepala, yang mana kepala mereka dapat menyemburkan dua element yang berbeda pula. Inilah alasan mengapa mereka disebut cukup kuat, bahkan diantara Monster tingkat atas lainnya.
"Haahh...."
Ren beberapa kali menghela napas saat di udara. Selain karena informasi bahwa Dragon God ini tidak dikenali, Ren juga tidak mendapatkan sedikitpun Informasi tentang mengapa para Monster selalu menginvasi Kota Aulzania dalam waktu yang sama. Tidak ada keanehan yang Ren temukan di Hutan ini, selain hanya para Monster dari yang terlemah sampai Kuat berkeliaran dimana - mana.
"Hm...?"
Berhenti terbang dan berbalik, itulah yang Ren lakukan saat ini. Dia teringat akan sesuatu yang tidak dia perhatikan pada awalnya. Namun, dia sekarang mengingat hal itu dan memperhatikannya.
"Ya ampun, aku telah merusak... Alam."
Ren memunculkan sebuah senyum pahit, ketika menyadari bahwa dia telah merusak Gunung yang berada jauh di belakang nya.
Sebuah kerusakan yang terlihat seperti Sayatan muncul di Gunung itu dalam ukuran yang luar biasa besar.
"Ini tidak dapat dihindari, mari kita pergi.."
Dengan sebuah perasaan menyesal yang besar di hatinya. Ren kembali terbang menuju Kota Aulzania... Bersama dengan Kedua orang yang sedang tersiksa mengikutinya.
*
*
*
*
*
*
*
Colosseum Kota Aulzania.
Sekarang tempat itu terlihat cukup menyedihkan. Beberapa kerusakan yang besar terdapat disana - sini. Tetapi, yang paling mencolok adalah... Colosseum itu sendiri terbelah.
Di Arena itu sendiri, berbagai macam orang saat ini sedang berkumpul. Ada yang mengelilingi Sang Raja karena dia terkurung dalam Kubus Merah. Lalu ada beberapa orang yang sedang menengadah ke langit, seakan menunggu sesuatu muncul dari sana.
Para orang - orang yang menengadah ke langit adalah mereka yang menunggu kedatangan seorang pria.. Ren.
Tidak butuh waktu lama, sebuah bayangan seseorang yang bersayap muncul di tengah Arena. Membuat semua perhatian teralihkan ke langit, yang mana asal dari bayangan ini.
Saat itulah Langit senja yang telah mulai menjadi Gelap, dihiasi oleh seorang lelaki berambut Hitam. Sepasang Sayap Kabut berwarna merah darah terbentang di punggung nya. Dua Kubus merah transparan mengikuti dia di kedua sisi nya.
Sosok pria itu turun perlahan dari langit dengan sebuah Ekspresi tenang di wajahnya.
Ketika dia turun, semua orang yang hadir sempat berpikir bahwa dia adalah seorang Malaikat... Kematian.
Swosshh!
Kaki nya menapak pada tanah, sayap yang dia miliki perlahan menghilang ke dalam kegelapan. Beberapa orang yang telah menunggu kedatangan dia berlari menghampiri nya dengan langkah kecil.
"Saya Senang anda baik - baik saja, Ren-sama." Nirlayn langsung berlutut ketika mengatakan hal ini.
"Tuan Dirvaren, Selamat datang kembali." Kanza menyambut kedatangan Ren dengan sebuah senyuman. Namun, senyuman itu Ren abaikan sepenuhnya.
"Tuan Dirvaren, mereka adalah.....?"
Berbeda dengan Kanza dan Nirlayn, Rakuza menyambut kedatangan Ren dengan pertanyaan tentang kedua orang yang ada dalam Kubus Merah. Matanya dipenuhi oleh kebencian yang mendalam, ketika melihat seorang Wanita yang tersiksa di dalam Kubus Merah itu.
"Apa maksudmu, Raku-?!"
Kanza langsung terdiam, ketika melihat dengan Jelas apa yang terjadi di dalam Kubus itu. Keringat mengalir dengan deras di wajahnya, kemudian sebuah senyum yang terlihat dipaksakan muncul di wajahnya.
"T-Tuan Dirvaren, saya pamit undur diri se-sebentar.."
Tanpa memperhatikan balasan dari Ren, Kanza dengan cepat menghilang ke dalam bayangan. Saat Kanza menghilang, Ren dan semua orang yang disana mendengar sebuah suara 'Hoek' darinya.
Semua orang pun memandangi Kubus merah itu, dan sebuah Ekspresi Pucat memenuhi wajah mereka tiba - tiba.
"Oh, aku melupakan hal ini.." Ren berkata memecahkan kesunyian.
Tak!
Sebuah Siksaan amat mengerikan yang dialami oleh kedua orang di dalam Kubus merah berhenti. Mereka telah berhenti meleleh dan sembuh sepenuhnya.
"Rakuza, Yarth dan Cethy, kalian ingin membalaskan dendam kan?"
Tiga orang yang Ren panggil tiba - tiba tersentak. Mereka kemudian menampilkan sebuah senyum masam di wajah masing - masing.
"Ah.. Tuan Dirvaren, aku memang ingin melakukannya, tapi... setelah melihat itu, aku Rasa sudah cukup." Rakuza berkata.
"Ya.. Kami juga sama." Yarth dan Cethy mengangguk dengan wajah yang pucat.
"Apa yang kalian katakan?" Ren membalas dengan wajah keheranan.
Dendam yang membalut Hati Rakuza, Yarth dan Cethy memanglah besar. Mereka akan sangat senang jika orang yang mereka benci mati dengan mengenaskan. Tapi, setelah melihat siksaan yang Ren berikan, yang bahkan dapat dikatakan lebih buruk dari Kematian. Mereka hanya bisa puas dengan hal itu.
__ADS_1
"Apakah Dendam kalian hanya sebatas itu? Bukankah teman - teman kalian sudah dia bunuh dengan kejam?" Ren mengatakannya tanpa ampun.
Perkataan Ren membuat ketiga orang itu tak dapat berkata - kata. Mereka terlihat sedang merenungi apa yang Ren katakan.
Beberapa saat kemudian, mereka terlihat telah memutuskan sesuatu.
"Baiklah Tuan Ren, biarkan aku mencabiknya terlebih dahulu..." Rakuza mengatakan hal ini dengan Hati yang mantap.
"Aku juga, setidaknya biarkan aku memukul dia sampai puas terlebih dahulu..." Yarth mengatakan hal ini dengan tekad yang membara.
"B-Bisakah, aku mencongkel kedua matanya?" Cethy berkata dengan Nada lemah.
"Eh..?" Semua orang melirik pada Cethy.
Meski dikatakan dengan Nada yang lemah seakan Ragu - Ragu. Tetapi, diantara ketiga nya dialah yang mengatakan sesuatu yang paling mengerikan.
"Hm... Memang begitu seharusnya." Ren menampakan sebuah senyum mengerikan.
"Ugh..." Mereka yang hadir hanya bisa menelan ludah dan tersenyum masam mendengar apa yang dikatakan oleh Ren.
Tap Tap Tap
Ren berjalan mendekati salah satu dari Kubus merah, di dalam Kubus itu terdapat Wanita Necromancer, Reynalue. Ekspresi wajahnya terlihat kosong, namun itu tidak sepenuhnya kosong. Dari sorot matanya terlihat bahwa dia masih memiliki sedikit kesadaran yang tersisa.
"Apa kau merasakannya? Apa kau telah mengerti?"
Sebuah kata - kata yang dingin Ren lontarkan pada Reynalue yang sedang menatapnya. Perkataan itu mungkin terdengar biasa di telinga orang lain. Namun, di telinga Reynalue perkataan itu seakan menegaskan, bahwa Reynalue tidak dapat melakukan apapun, selain mengalami siksaan lebih jauh.
Seperti seorang yang telah kehilangan Cahaya Hidupnya, Reynalue mengangguk lemah.
"Ini hanya sebuah Contoh Kecil dari Keputusasaan. Akan kutanamkan ingatan tentang siksaan ini, bahkan jika Jiwamu hidup di tempat lain..."
Di bawah Gelap nya malam, mata Ren menyala dengan hebat. Sebuah Aura yang membuat Hati terasa putus asa keluar dari tubuhnya.
Trank!
Kubus merah itu pecah ketika di sentuh oleh tangan Ren, menciptakan kepingan - kepingan Cahaya yang indah di dalam kegelapan.
"Rakuza, Yarth dan Cethy, kemarilah..." Ren menginstruksikan ketiga orang itu untuk mendekat ke arahnya.
"Um.." Mereka membalas secara bersamaan.
Mereka mendekat kepada Ren yang berdiri di hadapan Reynalue. Mengelilingi seorang Reynalue yang duduk dengan tatapan Kosong. Bahkan dia tidak berusaha melarikan diri sedikitpun, Reynalue menyadari itu memang tidak mungkin dia lakukan.
"Baiklah, karena mungkin pemandangan ini akan sedikit tidak mengenakan bagi sebagian orang... Maka, aku akan meninggalkan kalian dengan ini [Earth Magic : Earth Wall]."
Durururu!
Sebuah Dinding yang terbuat dari Tanah mengelilingi ketiga orang itu bersama dengan Reynalue di dalamnya. Hanya menyisakan bagian atas lah yang terbuka dan tidak tertutupi.
"Baiklah, kalian sudah boleh melakukannya..." Ren mengatakan hal ini sambil berbalik ke arah orang lain yang hadir di Arena.
Tetapi, saat Ren berbalik, mereka semua menatapnya dengan Ekspresi ketakutan. Mungkin hanya orang - orang yang telah mengenal dia cukup lama, yang menatapnya tanpa merasa aneh.
"Nirlayn, ada apa dengan mereka?" Ren bertanya tanpa merasa berdosa sama sekali.
"Jangan pedulikan tatapan itu Ren-sama, mereka hanya iri akan keindahan dan keagungan anda.." Nirlayn berbicara seolah dia mengatakan yang sebenarnya.
"Aku tidak mengerti..." Ren menggelengkan kepalanya.
Memutuskan untuk tidak mempedulikan mereka yang menatapnya dengan ketakutan lebih jauh. Ren mengalihkan pandangan pada Keluarga Kerajaan yang masih tak sadarkan diri itu. Raja Esdagius bahkan tak sadarkan diri dengan keadaan yang cukup menyedihkan.
"Gyahhhh!"
Sebuah Teriakan yang sangat keras terdengar oleh seluruh orang yang hadir disana. Ren bahkan berbalik mendengar teriakan ini, saat memastikan bahwa ini berasal dari Reynalue yang ada di dalam Dinding tanah miliknya, Ren tidak mempedulikannya lebih jauh.
"Gyaaaaaahhhh!"
"Ah.. Berisik sekali." Ren menggerutu.
Belum sempat Ren berjalan satu langkah, suara teriakan itu terdengar kembali. Ketika dalam Kubus merah, Ren sama sekali tidak terganggu karena memang tidak ada suara teriakan seperti ini.
"Gyaahhhh!"
Teriakan itu terdengar kembali, entah mengapa Teriakan ini Justru membuat Ren kehilangan kesabaran. Ren menyiapkan tangan kanan nya yang mengarah pada Dinding Tanah, dia berniat menghancurkan segala sesuatu yang ada di dalam dinding tanah itu.
Duarr!
Namun, belum sempat Ren melancarkan aksinya, Dinding tanah itu Hancur lebih dulu. Menampakan seorang Rakuza yang terlihat baru saja melancarkan sebuah Pukulan pada Dinding Tanah. Dua orang lainnya pun terlihat memasang Ekspresi puas di wajah mereka.
Hanya... Reynalue seorang yang saat ini berada dalam keadaan yang mengenaskan.
"Tuan Dirvaren kami telah puas. Sekarang, terserah pada and-" Rakuza menghentikan perkataannya, seolah dia mengingat sesuatu yang penting.
Dengan wajah penuh kemarahan, Rakuza menghampiri kembali Reynalue yang sedang tergeletak tak berdaya. Dia lalu mencengkeram Reynalue dengan kuat ditambah sorot mata yang menakutkan.
"Katakan padaku! dimana Kinna?!" Rakuza berteriak marah.
Meski begitu, Reynalue telah kehilangan kesadarannya, tidak mungkin bagi dirinya menjawab pertanyaan dari Rakuza.
"Berhenti Rakuza, aku masih membutuhkannya. Lagipula, keberadaan Kinna sudah dia sebutkan padaku." Ren menghentikan Rakuza yang sedang berada dalam kemarahan.
Mendengar perkataan Ren, Rakuza segera melepaskan Cengkeraman nya dan berlari ke arah Ren dengan tergesa - gesa.
"Dimana Kinna Tuan Dirvaren?!"
"Menurut apa yang dia katakan, dia berada di Kerajaan Sanctu Funeral?" Ren menyatakan hal ini, ada sedikit keraguan saat dia mengatakan Nama kerajaan itu.
"Apakah Maksud anda, Kerajaan Sancteral?"
Sebuah Suara tiba - tiba menyela pembicaraan Rakuza dan Ren. Suara itu dapat dipastikan berasal dari sebuah Bayangan. Setelah suara itu terdengar, Kanza muncul secara tiba - tiba.
"Apakah anda ingin mendengar lebih jelas? Tuan Dirvaren?" Kanza berkata dengan bangga.
"Tidak perlu, aku bisa bertanya pada Esdagius nanti.." Ren mengacuhkan Kanza yang muncul secara tiba - tiba dan berbicara seenaknya secara tiba - tiba pula.
"Tunggu! Biarkan aku yang menjelaskan...!" Kanza menghentikan Ren yang akan berjalan ke arah Raja Esdagius.
"Hm.. Baiklah, tapi hilangkan Ekspresi Sombongmu itu."
"Ugh.. Apa boleh buat. Aku akan mulai berbicara segala sesuatu tentang Kerajaan itu.."
Kerajaan Sancteral merupakan Kerajaan yang berada di sebelah Utara Kerajaan Aulzania. Kerajaan ini menggunakan Sistem yang sama sekali berbeda dengan Kerajaan lainnya. Kerajaan Sancteral memiliki Lima Orang Great Bishop sebagai pemimpin tertinggi mereka.
Kerajaan Sancteral terbagi menjadi Lima bagian wilayah yang berbeda. Masing - masing dari Wilayah memiliki satu Great Bishop sebagai pemimpin. Setiap Wilayah juga mewakili Lima Element yang berbeda.
Wilayah Bagian Utara mewakili Element Air, Wilayah Bagian Barat mewakili Element Api, Wilayah Bagian Selatan mewakili Element Tanah, Wilayah Bagian Timur mewakili Element Angin dan Terakhir Wilayah Pusat yang mewakili Element Suci yaitu Cahaya.
Setiap Element memiliki Kuil Suci mereka tersendiri yaitu Temple of Earth, Temple of Water, Temple of Fire, Temple of Wind dan Temple of Light.
__ADS_1
Satu lagi, setiap Kuil Element ini menyembah Dewa mereka tersendiri. Membuat Kerajaan Sancteral menjadi sebagai Kerajaan yang paling Kental Keagamaan nya di Benua Zachen ini.
Berdasarkan Informasi yang kudapatkan Kerajaan Sancteral hanya menerima Ras - Ras Suci menurut mereka. Beberapa Ras tersebut tidak lain adalah, Malaikat, Elf, Roh, Peri dan Manusia.
Jika ada Ras lain yang mengunjungi Kerajaan tersebut. Maka besar kemungkinan mereka akan ditolak secara mentah - mentah bahkan diusir oleh penduduk asli Kerajaan Sancteral ini.
"Oh aku melupakan satu hal."
Para Great Bishop yang memimpin Kerajaan ini tidak suka menunjukan wajah mereka di hadapan umum. Ketika mereka menunjukan diri, mereka selalu mengenakan penutup wajah atau sesuatu hal yang lain.
Kali ini bagian yang mencurigakan dari Kerajaan ini. Meski dikatakan sebagai Negara Suci tempat dimana Ras berunsur kegelapan tidak ada. Pada kenyataan nya, Kanza menemukan beberapa orang yang mengunjungi Kuil Suci mereka dengan mencurigakan. Salah satu dari orang mencurigakan itu berasal dari Ras yang dikenal sebagai Ras iblis... Yaitu Vampire.
"Selesai, bagaimana dengan penjelasanku Tuan Dirvaren?" Kanza tersenyum percaya diri.
"Apa kau yakin, Kerajaan Sanctu Funeral merupakan Kerajaan yang sama dengan Sancteral?" Ren bertanya sambil mengangkat alisnya.
" Tidak ada Kerajaan lain yang lebih mencurigakan di Benua ini, anda juga menyadari hal ini kan?" Kanza tersenyum dengan penuh makna.
"Oi... Kanza, kau tidak memberitahu hal ini padaku kan!" Arnicko tiba - tiba berteriak protes pada Kanza.
"Bukankah Ketua adalah orang yang hebat?" Balas Kanza dengan wajah tanpa dosanya.
"Ge,hahaha! Ini menarik, aku tak menyangka kau bisa membaca pikiranku, walau sedikit..." Ren membalas ucapan Kanza dengan tawa penuh kesenangan.
"Bukan hanya itu, Tuan Dirvaren... Anda juga seorang yang merencanakan semua hal ini bukan?" Kanza menatap pada Ren seolah mencoba membongkar seluruh Rahasia yang dimiliki oleh Ren.
Seketika, wajah Ren menjadi serius kembali, apa yang dikatakan oleh Kanza sepertinya menyentuh sesuatu yang ada dalam Pikiran Ren.
"Apa maksudmu...?" Suara Ren menjadi dingin.
"Ugh... Maksudku, semua kejadian yang berawal dari Kota Rondelia telah anda Rencanakan. Tidak...." Kanza menghela napas kemudian melanjutkan perkataannya kembali.
"Mungkin semua ini sudah anda Rencanakan sejak pertama kali kesini (Dunia ini)." Kanza menjelaskan dengan lancar, namun wajahnya sedikit pucat melihat Ren yang menatapnya dingin.
"Hm.. Apa yang kau katakan? aku sama sekali tidak mengerti." Ren memasang Ekspresi kebingungan.
Perilaku Ren benar - benar mengatakan bahwa dia memang tidak mengerti apa yang dibicarakn oleh Kanza sedikitpun. Wajah nya terlihat sangat kebingungan dan keheranan.
Tidak pernah dia menunjukan sesuatu seperti ini sebelumnya.
"Kanza, meski kau mengikuti prinsip Assassin, jangan mengatakan sesuatu yang memalukan!" Arnicko berteriak kembali.
'Tch, Akting nya memang berada di level dewa.' < Gumaman Kanza.
Telinga Ren berkedut mendengar Gumaman dari seorang Kanza. Ren, dia terlihat sedang kesal saat ini....
"Hei, kau tidak menghinaku kan?" Tatapan Ren dipenuhi oleh ***** Membunuh.
"Tidak - Tidak, aku hanya bercanda tadi... Ha-Ha-Ha." Kanza tertawa canggung sambil memegang kepalanya.
"Ya ampun, aku lupa hampir saja dia mati.." Ren segera berbalik ke arah Reynalue.
Sebuah Bola Cahaya berwarna merah darah kembali dia bentuk di tangannya. Bola itu melayang ke arah Reynalue dan menyembuhkan semua lukanya seketika.
Semua orang sekali lagi benar - benar terkejut, tingkat Efektivitas nya dalam menyembuhkan bahkan melebihi Potion tingkat tinggi yang mereka tahu.
"M-Menakjubkan..."
"Sihir macam apa itu..."
"Apakah itu sejenis sihir penyembuhan?"
"Luar biasa.."
Mereka bergumam, mengekspresikan keterkejutannya masing - masing. Tetapi, Gumaman dan Tanggapan mereka tidak Ren hiraukan. Dia hanya fokus menghampiri Reynalue dan seorang yang ada di kubus lainnya.
"Rakuza, tidak apa jika aku membunuh mereka bukan?" Ren memastikan hal ini pada Rakuza.
"Jika keberadaan Kinna memang sudah dia sebutkan, tak masalah Tuan Dirvaren." Rakuza mengangguk.
"Um... Aku mengerti, jika dia berbohong aku bahkan akan mencari cara untuk memanggil jiwanya kembali dan menyiksa dia lagi..." Senyum menakutkan lagi - lagi memenuhi wajah Ren.
"Ah-ha, baiklah..." Rakuza menanggapi Ren dengan sebuah senyum canggnung.
"Kita lihat, apa yang akan aku dapatkan kali ini..."
Sebuah Aura yang luar biasa menyembur dari Ren. Di ikuti oleh mata merahnya yang menyala, suasana Arena menjadi hening kembali. Ada yang merasa takut, kebingungan, dan penasaran akan apa yang dilakukan oleh Ren.
"[Blood Ruler : Blood Transfer]."
Hanya sekejap mata, tubuh Reynalue dan Nidgor kehilangan warna. Seketika, mereka tergeletak tanpa daya. Membuktikan bahwa nyawa telah menghilang dari dalam tubuh mereka.
Lalu, sebuah Gumpalan darah membentuk bola yang mengambang muncul di dekat Ren.
Semua orang merasa ketakutan ketika melihat Gumpalan darah yang melayang ini. Mungkin, hanya Nirlayn yang mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Ren.
Dengan sebuah Suara dingin dan menakutkan Ren mengatakan....
"[Summon : Sacred Blood Beast]."
............
Catatan Author : Hallo ~ , beberapa koment masa lalu ada yang mengatakan bahwa dia ingin mengetahui segala sesuatu tentang Ren jika dibuat status seperti dalam Game. Nah saya akan menuliskannya saat ini...
Nama : Anryzel Dirvaren
Ras : True Blood Devil (Monarch)
Title : [The Blood Monarch] [Someone who has exceeded the limits] [The Divine Swordsman] [Six Elemental Magus]
Lv : 1001
HP : 5.700.000
MP : 4.300.000
STR : 350.356
INT : 100.900
DEX : 120.720
VIT : 175.600
Job : [Blood Ruler] [Divine Swordsman] [Six Elemental Magus] [Fighter] [Alchemist] [Blacksmith]
*Hmm~
Segitu saja untuk saat ini, tidak ada apapun yang spesial kan?
__ADS_1
Biar saya tegaskan!, status ini sama sekali tidak berhubungan dengan cerita utama. Lagipula, status ini adalah status yang dimiliki Ren setelah mengalahkan Dragon God Aszera, mungkin hanya Nama yang mengikuti situasi terkini... Dah*!