
Dalam Ruang Kosong berwarna Putih yang tidak memiliki batas. Dua sosok sedang berdiri saling berhadapan. Keduanya bagaikan sebuah sosok yang sedang bercermin. Rambut mereka yang sama Hitamnya, Kedua Mata mereka yang berwarna merah, lalu Postur tubuh mereka yang hampir tidak dapat dibedakan.
Jika sosok yang menampakan wajahnya dengan jelas adalah Ren. Maka, sosok yang mempunyai wajah bagaikan diblur adalah Entitas yang menyeret Ren kesini.
Pria yang tidak menyebutkan siapa dirinya itu kini masih berbicara. Mengenai kehidupannya dulu, mengenai apa yang dia alami dan mengenai kebenaran yang terjadi. Begitulah apa yang diharapkan oleh Ren ... Namun Kenyataan nya semua berbeda.
Pada ... Masa ... Jauh ... Diantara ... Kehidupan ... Memiliki ...
Sosok Pria Bermata Merah itu berbicara terputus - putus layaknya sebuah Rekaman yang telah Rusak. Mulutnya yang masih tetap bergerak namun tidak mengeluarkan suara meyakinkan Ren yang sedang mendengarkan. Kasus ini adalah suatu hal yang sama dengan apa yang dia alami saat menginterogasi Reynalue.
"Ada apa ini? kau mempermainkanku?" Ren menyipitkan Matanya.
Ada sedikit kekesalan dalam Nada bicara yang Ren lontarkan. Sebuah Hal yang wajar, Ren sudah diseret ke tempat yang tidak diketahui ini dan orang yang menyeretnya bahkan tidak dapat memberitahu apapun.
Tidak ... Seperti ... Belum ... Aku ... Tidak ... Dapat ... Membantumu ... Jauh ... Kita ... Kepingan ... Sama ...
"Maksudnya, meski kau berbicara sekarang tapi itu semua belum saatnya?"
Meski Suara dari Pria itu terputus - putus dan tidak jelas, tetapi mulutnya masih menampakan sedikit Gerakan. Membuat Ren dapat sedikit membaca apa yang dia katakan.
Benar sekali, kau lihat? Ada sesuatu yang menghalau aku untuk bercerita.
"Ya ampun, lalu bagaimana kau bisa berbicara dengan jelas sekarang?!" Ren sedikit membentak.
Hahahahah! Kau tahu? Bahkan aku juga tidak tahu.
Jawaban dari Pria itu malah menambahkan kekesalan yang ada pada diri Ren. Mungkin, andai saja kekuatan dia bisa digunakan dengan bebas disini. Dia sudah membakar Pria yang telah mengatakan sesuatu yang mengesalkan seraya tertawa itu.
"Sudah cukup, aku ingin kembali ... Bisakah kau melepaskanku dari sini?"
Mungkin ... Aku bisa.
"Baiklah, aku mengerti. Seharusnya aku bisa jika itu hanya memukulmu kan?"
Urat - Urat wajah Ren dengan cepat menegang, sambil mengepalkan Tangan nya, dia tersenyum menakutkan.
T-Tunggu! Apa kau ingin melukai seorang yang menjadi sa ... ehm! Seseorang yang baru kau kenal?
'Katakan padaku, siapa di Dunia ini yang tidak akan menaruh kekesalan pada orang menyebalkan seperti dirimu?' Ren menggerutu dalam Hati.
Sayang sekali, Ren melupakan satu hal yang sangat penting dari Pria dihadapan nya. Pria itu, dengan cara yang tak diketahui dapat membaca pikiran.
Orang seperti itu masih banyak di Dunia, hanya saja kau belum pernah bertemu dengan mereka.
"Jawaban darimu sama sekali tidak aku butuhkan, serius."
Hahaha! Jangan seperti itu, kau ingin kembali bukan? Nah ... Berjalanlah ke arah sana.
Dibalik tubuh Ren dan diantara Ruang Putih yang kosong. Muncul sesuatu yang dapat dikatakan berwarna Hitam dan berbentuk seperti Lubang Hitam. Dilihat dari arah manapun, ini merupakan sesuatu yang mencurigakan. Sekali lagi, Ren merasa tidak percaya pada perkataan Pria itu.
"Hei ... Jangan mencoba menipu dengan sesuatu yang mencurigakan seperti itu."
Siapa yang menipu?! aku benar - benar memberi jalan padamu.
"Mustahil ...."
Ada apa dengan tatapan menghinamu itu? Cobalah terlebih dahulu.
"Akan aku coba ...."
__ADS_1
Ren merentangkan lengannya untuk memasuki Lubang Hitam. Sedikit demi sedikit perasaan diserap yang aneh mulai memenuhi lengannya. Dengan Ekspresi yang Rumit, Ren berbalik kembali kepada Pria itu hanya untuk memastikan sesuatu.
"Kau yakin tidak menipu?"
Ayolah, memangnya wajahku semeragukan itu? Kau akan kembali setelah seluruh tubuhmu tertelan oleh Benda Gelap itu.
"Mhm ...." Ren menatap Ragu - Ragu.
Tatapan Ren tak berlangsung lama, perlahan dia menggerakan sedikit tubuhnya untuk memasuki Lubang Hitam itu. Perasaan yang tadi dia Rasakan pada lengannya kini mulai menyebar ke bagian tubuh yang lain.
Jangan lupakan Nasehatku tadi, aku harap kau tidak mengalami apa yang aku alami. Aku yakin, kau tidak akan mengalaminya, karena ... adalah ... kepingan ... ingat itu.
Semakin banyak bagian tubuh Ren yang tertelan dalam Lubang Hitam, Suara dari Pria itu semakin tidak terdengar jelas. Hanya sebuah potongan - potongan kata yang sulit dimengerti yang berhasil Ren dengar. Pada akhirnya suara itu benar - benar menghilang bersamaan dengan Kesadaran Ren yang telah berpindah tempat.
Hanya dalam sekejap mata, Ren sudah kembali. Pemandangan Pos Penjaga Gerbang Akademi kembali memasuki Kedua Mata Ren.
"Hei, Master Fraudlin sendiri yang menghampiri ...."
"Kau benar, siapa pria itu sebenarnya?"
Dua orang Murid yang sebelumnya bersama dengan Ren kini tengah berbisik satu sama lain.
'Aku kembali? Tapi ini ....'
Ren merasa Ragu - Ragu, penyebabnya adalah Kondisi dia saat ini. Dengan Kedua kaki menyilang dan Dagu yang ditopang, Ren masih menggenggam Koin Emas yang tadinya ia jatuhkan. Seharusnya posisi dia saat ini adalah tergeletak dilantai.
'Tidak mungkin jika Kedua murid itu memperbaiki posisi ku kan? Yang berarti hanya ada satu jawabannya ....'
Hanya satu Jawaban yang dapat Ren pikirkan untuk saat ini. Pria Misterius yang dia temui dalam Dunia Putih Kosong itu dapat menggunakan ....
'Pengendalian Waktu.'
Tring!
Ren menggelengkan kepalanya dan memutuskan untuk melupakan itu semua terlebih dahulu. Pada saat ini, ada seorang Fraudlin yang semakin mendekat ke arah dimana Ren berada.
'Satu, dua, dan ....'
"Master!"
Suara Fraudlin langsung memenuhi seisi Ruangan.
*
*
*
*
Dua buah Kereta Kuda Barang memasuki Halaman Istana Kerajaan Aulzania. Dengan segera para Prajurit mengawal Kereta Kuda dari Kedua sisi dengan ketat. Para Prajurit ini memang telah disiapkan sebelumnya oleh Sang Raja untuk menyambut kedatangan Dua Kereta Kuda ini.
Rakuza dan Kanza yang mengendarai Kedua Kereta Kuda itu disambut oleh Raja Esdagius bersama dengan para pengawalnya.
"Selamat Datang, Terima Kasih atas kerja kerasnya!" Raja menyambut dengan antusias.
Begitu turun dari Kereta Kuda, Rakuza dan Kanza langsung menghampiri dimana Sang Raja berdiam diri. Mereka berlutut, untuk memberikan sebuah Penghormatan pada Sang Raja, Esdagius.
"Ah ... Iya, sama - sama, Yang Mulia." Balas Rakuza kaku.
__ADS_1
"Tidak perlu Berterima kasih pada kami Yang Mulia." Balas Kanza dengan terbiasa.
Jawaban Rakuza yang masih terbilang kaku dan Jawaban Kanza yang sudah terbiasa dalam hal semacam ini. Membuktikan bahwa kedua nya semula Hidup dalam lingkungan yang cukup berbeda. Beruntung, Raja Esdagius tidak mempermasalahkan Jawaban Rakuza.
Raja Esdagius melihat ke segala macam arah. Dia terlihat sedang mencari seseorang namun orang itu tidak ada. Lantas, Raja Esdagius bertanya ...
"Hm. Hm. Ngomong - Ngomong, dimana Tuan Dirvaren?"
Rakuza dan Kanza, keduanya mengetahui bahwa Ren sedang melaksanakan suatu pekerjaan. Namun, disini yang menjawab adalah Kanza, berhubung cara bicaranya dalam hal Formalitas lebih baik dari Rakuza.
"Ya, Tuan Dirvaren bilang harus melakukan beberapa hal terlebih dahulu, Yang Mulia." Jawab Kanza sambil berlutut.
"Hm ... Bagaimana Derrian, apakah kita akan memeriksa itu sekarang, atau nanti?" Raja Esdagius bertanya pada Derrian yang ada di samping nya.
Derrian yang dari awal hanya diam dengan sigap segera menanggapi pertanyaan dari Raja yang dia layani.
"Menurut saya Yang Mulia, jika itu hanya sekedar memeriksa. Tuan Dirvaren tidak akan mempermasalahkan nya."
"Mhm ...." Raja Esdagius berpikir sejenak.
"Baiklah Derrian, Lakukan." Raja Esdagius memberikan perintah.
"Laksanakan Yang Mulia." Jawab Derrian Tegas.
Derrian bersama dengan beberapa Ksatria Aulzania lainnya segera mengelilingi Kedua Kereta Kuda itu dengan Zirah lengkap. Mereka berpenampilan layaknya akan pergi ke medan perang yang sesungguhnya.
Kemudian, mereka membuka Pintu Kereta Kuda secara perlahan - lahan. Dengan Gerakan yang sama, mereka melakukannya dengan cara yang amat Hati - Hati. Wajah Raja Esdagius terlihat menegang dan dipenuhi oleh keringat.
Rakuza dan Kanza yang bahkan tidak mengetahui dengan pasti isi dari Kereta Kuda itu pun ikut menegang. Ditambah, sikap dari Derrian dan para Ksatria Aulzania yang sangat berhati - hati membuat Hati mereka semakin berdebar kencang.
Krieeeettt~
Pintu terbuka, Cahaya yang bersinar dari dalam Kereta Kuda mulai menampakan dirinya. Senyum merekah kembali memenuhi wajah Raja Esdagius. Sedangkan untuk Rakuza dan Kanza, mereka hanya bisa terperangah menyaksikan apa yang ada di dalam Kereta Kuda sebenarnya.
Jika itu dulu ketika mereka berdua masih berada dalam Game, mungkin pemandangan ini akan menjadi biasa saja. Namun sekarang, pemandangan ini menjadi aneh dan langka dimata mereka.
Segala macam Senjata Sihir yang dianggap begitu Langka di Kerajaan Aulzania kini terkumpul dalam Kereta Kuda. Bukan hanya itu, Senjata Sihir ini jelas dalam Kualitas yang bagus berdasarkan Cahaya yang mereka keluarkan.
"Tuan Dirvaren, benar - benar berkata dengan jujur!" Raja Esdagius berteriak kegirangan.
Sosok seorang Raja yang bermartabat kini telah menghilang untuk sementara waktu.
Shingg!
Derrian memecah keributan dengan menghunuskan salah satu Pedang Sihir yang dia ambil dari dalam Kereta Kuda. Pedang Sihir itu, tidak dapat dipungkiri memiliki Kualitas yang sama dengan Pedang Sihir yang Ren tunjukan ketika Konferensi.
"Tuan Dirvaren benar - benar mempunyai sebanyak ini ...." Derrian bergumam.
Para Ksatria Aulzania menatap kagum pada Pedang yang ada di tangan Derrian. Perasaan ingin mencoba mulai memenuhi seisi Hati mereka. Namun, tanpa seizin Raja, mereka tidak bisa menyentuh satu pun dari Senjata Sihir yang ada.
"Kanza, apa kau juga terkejut?" Rakuza bertanya.
"Tentu saja, aku sebelumnya memang merasakan adanya Mana dari Kereta Kuda. Namun, siapa sangka didalamnya ada banyak Senjata Sihir seperti ini." Kanza membalas.
Mereka semua kini memiliki berbagai macam Ekspresi di wajah mereka masing - masing. Sampai - sampai, mereka tidak menyadari akan kehadiran seseorang yang seharusnya menjadi bintang Utama kali ini.
"Apakah kalian menyukai Hadiah dariku ini?"
Ren tiba - tiba muncul dan mengejutkan semua orang. Kehadirannya sama sekali tidak dapat dideteksi sedikitpun. Menyadari kehadiran Ren, Raja Esdagius yang diliputi kesenangan segera menghapus semua Ekspresinya itu.
__ADS_1
"Tuan Dirvaren! akhirnya anda datang!"