
*Bisa Di Skip*
*Latar Waktu, Ch. Terbaru*
____________________________________________
-Desa Giru-
Wanita berambut pirang yang memiliki umur 20-an, dialah Nivania Zournac. Orang pertama yang memberikan pertolongan pada seorang laki-laki yang berada jauh disana.
"Ahhh ... meskipun kehidupan desa ini sudah lebih baik daripada sebelumnya berkat core dari monster Redwolf yang dikalahkan oleh Ren waktu itu, tapi ...."
Nivania merasa bosan. Sudah cukup lama semenjak dia pergi ke kota, mungkin terakhir kalinya adalah ketika dia menjual core waktu itu? Satu bulan lebih? Dia tidak mengingat dengan pasti.
Kehidupannya selama satu bulan dipenuhi dengan kesibukan. Mulai dari melakukan perbaikan semua bangunan yang ada di Desa Giru, sampai membangun sebuah benteng kayu yang membatasi desa dengan hutan.
Hanya Nivania yang memiliki pendidikan tentang kedua hal tersebut sehingga dia melewati hari-hari bersama dengan pekerjaan. Bagaimanapun, satu bulan telah berlalu dan semua pembangunan itu sudah diselesaikan.
Nivania saat ini berada di sebuah meja kerja, melihat dan memperhatikan satu per satu dokumen yang ada di atas meja miliknya. Semakin hari dokumen itu semakin menumpuk karena sebelumnya dia tidak memiliki waktu untuk membaca itu semua.
Kebanyakan dari dokumen itu adalah sebuah kertas yang berisikan informasi umum yang terjadi. Seperti halnya sebuah kertas berita yang disebarkan di seluruh Kerajaan Aulzania.
Mata Nivania bergerak dengan cepat untuk menyelesaikan dokumen yang pertama. Itu adalah informasi mengenai beberapa orang yang lulus seleksi Akademi Aulzania satu bulan yang lalu.
"Tahun ini seperti banyak peserta yang berbakat bukan?"
Menyelesaikan dokumen pertama, Nivania menggerakan tangan untuk mengambil dokumen yang kedua. Ekspresinya seketika berubah setelah mencermati dengan teliti dokumen yang kedua ini.
"Penyerangan Kota Rondelia?" gumam Nivania tak percaya.
Dia kembali bergerak dengan cepat untuk mengambil beberapa dokumen selanjutnya. Apa yang dia harapkan ternyata benar, beberapa dari dokumen itu masih membahas hal yang sama.
"Penyerang Kota Rondelia berhasil ditangkap dan dibawa ke pusat kota?"
"I-ini ... penyerang itu hampir mengalahkan semua Ksatria Aulzania, tapi akhirnya dia memilih untuk bunuh diri?"
Tidak mungkin, Nivania hampir tidak bisa mempercayai apa yang dilihatnya. Meski dokumen itu tidak lebih dari sekedar tulisan tapi dia mampu membayangkan situasi yang terjadi.
"A-apa! Kota Aulzania juga diserang?!"
__ADS_1
Pusat Kota Kerajaan Aulzania dimana orang-orang kuat berkumpul bahkan diserang? Nivania tak menyangka hal besar seperti ini terjadi ketika dia disibukkan dengan pekerjaan.
"Aku ... kebingungan, terlalu banyak informasi yang harus kucerna sekaligus."
Brakk!
Nivania membenamkan wajahnya pada meja kayu yang cukup keras. Dia belum bisa membaca dokumen yang tersisa lebih jauh, pikirannya masih dalam proses untuk mencerna semua informasi yang terjadi.
Beberapa saat setelahnya, Nivania bangkit kembali dan menyelesaikan semua dokumen yang tersisa sampai tuntas. Ketika lembaran kertas yang terakhir selesai dibaca, ia menyusun kembali semua kertas dan merapikannya.
Ekspresi Nivania setelah membaca itu semua adalah datar, sebagai perwujudan dari rasa terkejutnya yang berlebihan. Namun hal yang paling menarik perhatian Nivania adalah kemunculan sang pahlawan yang membantu Kerajaan Aulzania menghadapi krisisnya.
"Pahlawan Aulzania, seorang pria berambut hitam misterius yang memiliki kekuatan dahsyat. Dia menyelamatkan Kota Aulzania dari para penyerang dan invasi monster tahunan."
Ada satu kalimat yang paling mencurigakan dari informasi itu menurut Nivania. Kalimat itu mengatakan bahwa pahlawan ini muncul secara tiba-tiba dan tidak diketahui darimana asal-usulnya.
"Dilihat dari sudut manapun, aku yakin pahlawan ini adalah Ren. Semua kriteria di atas cocok dengannya!"
Sulit untuk Nivania menerima kenyataan jika Ren memang Pahlawan Aulzania. Seorang laki-laki yang pergi tanpa berpamitan malah jadi seorang pahlawan?
"Dia itu ... sudah kuputuskan!" seru Nivania seraya berdiri dengan semangat.
Nivania melangkahkan kaki untuk keluar dari ruangan sambil tersenyum senang. Setelah sekian lama, akhirnya dia memiliki alasan untuk pergi ke kota dan mengobati kelelahannya.
"Pertama, mari bicarakan ini dengan penduduk desa."
____________________________________________
____________________________________________
Keesokan Hari.
Penduduk Desa Giru berkumpul di gerbang masuk desa yang terbuat dari kayu. Mereka berkumpul disini hanya untuk melepaskan kepergian Nivania dan melakukan salam perpisahan sederhana.
"Ini terlalu berlebihan tahu?" ucap Nivania merasa tidak enak dengan ini semua.
Penduduk desa hanya tersenyum ramah ketika menanggapi perkataan Nivania. Sosok Nivania sudah seperti cahaya berkah yang membawa mereka semua pada kehidupan yang lebih baik. Bahkan acara perpisahan sederhana ini tidak cukup untuk melepas kepergiannya.
"Tidak apa-apa, semoga kamu selalu diberikan keselamatan disana, Nivania. Desa Giru akan selalu terbuka dan menyambut kehadiranmu," ucap kepala desa.
__ADS_1
"Kakak! Jangan lupakan kami ya!" teriak anak-anak yang sempat diajarkan cara menulis dan membaca oleh Nivania.
"Kamu pergi ke kota untuk mengejar cinta bukan, Nivania? Hem, kalau begitu bibi akan merasa kesepian tanpa dirimu." Bibi Rihya, seorang wanita paruh baya yang sangat dekat dengan Nivania mengatakan sedikit lelucon.
"Bibi bicara apa? Aku tidak mengejar cinta sama sekali, anggap saja ini hari libur untukku."
"Oh, benarkah?" sahut Bibi Rihya ragu.
"Sudah-sudah, aku akan segera pergi." Nivania mulai berjalan untuk meninggalkan gerbang desa. Setelah beberapa langkah, dia menoleh kembali pada penduduk desa dan melaimbaikan tangan sambil sedikit berteriak, "Jaga selalu keselamatan kalian ya! Dan jangan lupakan apa yang sudah aku ajarkan pada kalian!"
"Selamat tinggal!!" Semuanya mengucapkan salam perpisahan.
Kalimat perpisahan mereka terdengar terus-menerus di telinga Nivania. Dia merasa sedikit sedih, harus meninggalkan mereka untuk melakukan perjalanan yang tidak tahu kapan akhirnya.
Namun bukan berarti dia bisa tinggal selamanya di Desa Giru. Bahkan pada awalnya dia tidak berniat untuk menetap disana lebih dari satu bulan.
"Duh, mereka ini ... benar-benar baik," gumam Nivania sambil tersenyum kecil.
Nivania mengenakan zirah seorang ksatria wanita berwarna perak. Zirah ini tidak menutupi seluruh bagian tubuhnya melainkan hanya menutupi beberapa titik vital yang berbahaya apabila terkena serangan.
Lalu ada sebuah pedang kecil menggantung di pinggangnya. Benda ini tidak lebih dari alat pertahanan diri, karena pada dasarnya Nivania bukanlah seorang petarung jarak dekat.
Rambutnya yang pirang dan biasa terurai kini diikat ke belakang, hanya menyisakan sebagian poni yang dibiarkan melintas di antara wajahnya membentuk garis diagonal. Dengan ini, Nivania bisa digambarkan sebagai kecantikan dari seorang ksatria wanita.
"Ekspresi seperti apa yang ditunjukan oleh Ren nanti ya? Seharusnya dia terkejut 'kan? Aku akan memarahinya jika dia bersikap biasa saja."
Menuju Kota Ceeven, dan dilanjutkan ke Kota Rondelia lalu pergi ke Kota Aulzania. Itu adalah rute yang pasti dilalui oleh Nivania dalam perjalanannya. Ini adalah bagian Nivania yang memutuskan untuk kembali menjelajahi dunia sambil mencari seseorang yang tidak lain adalah Pahlawan Aulzania.
____________________________________________
____________________________________________
Sementara itu di sisi lain dari dunia ...
"Kamu merasakannya, Nirlayn?"
"Ya, perasaan tidak enak ini. Sepertinya akan ada saingan baru yang akan muncul, Arystina."
____________________________________________
__ADS_1
Tidak ada apapun •_• Ini hanya Ch. Selingan selagi saya memikirkan Ch utama.