Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 170 : Turquoise Dragon


__ADS_3

Saat itu langit Kota Aulzania dipenuhi oleh kedamaian. Hamparan biru langit membentang dari cakrawala satu, ke cakrawala yang lain. Hanya sedikit daripada awan putih yang menjadi hiasan di atas sana dan membuktikan bahwa langit sedang dalam keadaan cerah.


Senyum orang-orang menjadi pemandangan di seluruh penjuru kota, menunjukkan bahwa mereka sedang merasa bahagia. Meski begitu, mungkin kebahagiaan dan senyuman itu tidak luput dari kesedihan dan tangisan.


Di balik kebahagiaan sebagian orang, akan selalu ada sebagian orang lagi yang merasakan kesedihan. Di balik senyuman sebagian orang, maka akan selalu ada pula tangisan yang terdengar dari sebagian orang.


Itulah kenyataan yang tak akan pernah terhapuskan dari dunia. Kedamaian sejati dan kebahagiaan sejati hanyalah angan-angan yang diimpikan oleh seseorang yang tak bisa berpikir realistis di dunia fana.


..........


Kemudian di hari yang damai dan cerah itu, sesosok makhluk besar melintas di langit Kota Aulzania. Makhluk itu berukuran sangat besar, dengan empat kaki yang menjuntai ke bawah, dua sayap yang mengepak, dan kulit yang berkilau nan bersisik berwarna Turquoise.


Sosoknya yang besar menghasilkan bayangan raksasa yang menutupi sebagian wilayah sehingga mata semua orang terpaku menuju ke arahnya. Semua orang lantas terdiam, senyum mereka menghilang, mata mereka bergetar, dan beberapa dari mereka merasa ketakutan.


Mereka mengetahui makhluk besar itu yang dikenal sebagai Ras Naga. Sebuah ras yang berasal dari benua terbesar dan terjauh di dunia, mereka dikenal sebagai ras yang menutup diri, dan hanya akan keluar ketika sesuatu yang besar telah atau akan terjadi.


Legenda mengatakan bahwa tidak ada hal baik yang datang ketika Ras Naga menampakan diri ke benua manusia. Mereka hanya akan membawa kehancuran oleh kekuatan yang besar dan ukurannya yang sangat masif.


Namun Naga Turquoise itu hanya melintasi kota dengan kecepatan yang konstan, dan bergerak dengan tidak terlalu cepat maupun tidak terlalu lambat seakan dia hanya bersantai dalam melakukan perjalanannya. Sosoknya yang besar kemudian menghilang menuju ke kedalaman hutan Loudeas; lenyap dan pergi tanpa menimbulkan kekacauan yang begitu berarti.


Meskipun tidak sepenuhnya aman, tetapi semua orang merasa sedikit lega. Setidaknya, mereka tidak perlu terlalu khawatir jika naga tersebut membuat kekacauan di hutan Loudeas karena hutan itu begitu misterius dan aneh.


Pemikiran sebagian orang biasa berjalan lagi dengan normal, tapi tidak dengan mereka yang menjadi pasukan pertahanan kerajaan. Derrian menduga bahwa kedatangan naga itu ke hutan Loudeas pasti tidak sederhana, ditambah kekhawatiran muncul karena mengetahui bahwa para murid yang diajar oleh Anryzel juga menuju hutan yang sama di waktu yang sama.


Belum lagi, pemikirannya yang selalu membayangkan situasi terburuk tidak bisa menerima kedamaian yang sesaat itu sehingga Derrian memerintahkan seluruh pasukan pertahanan kota untuk bersiap siaga andaikan situasi yang terburuk itu benar-benar terjadi.


Tindakan Derrian sedikit menimbulkan kepanikan di antara penduduk, tetapi ia menghiraukan hal itu. Menurutnya, mencegah situasi terburuk lebih penting daripada menghindari sedikit kepanikan dari penduduk.


Kemudian di tempat yang berbeda, Turquoise Dragon menampakkan sosoknya yang mengintimidasi. Mata bulat yang besar dan tajam itu menelaah setiap sudut dari hutan Loudeas yang sedikit demi sedikit ia jelajahi.


Matanya seketika terkunci pada satu gerombolan orang yang menurutnya sedikit mencurigakan. Dalam gerombolan orang itu pula, terdapat satu makhluk yang terasa sangat familiar karena aura yang makhluk itu pancarkan begitu berbeda dengan yang lain.


Turquoise Dragon yang awalnya berniat sekadar mengawasi hutan Loudeas memutuskan untuk melakukan tindakan karena satu makhluk tersebut. Bagaimanapun, keberadaan makhluk itu begitu tidak asing baginya sehingga dia mengeluarkan Dragon Breath khas naga yang tentu kualitasnya berada di bawah True Dragon Breath yang dimiliki oleh Dragon God.


Dragon Breath tercipta di sekitar mulut Turquoise Dragon yang sedang menganga. Energi panas yang begitu tinggi dikompresi, lalu ditembakkan dengan kecepatan yang amat tinggi menuju gerombolan orang yang sedang berjalan.


Tembakan Dragon Breath yang super cepat menguapkan udara di jalur yang terlewatinya. Ketika Dragon Breath tersebut hampir mengenai daratan yang dipijak oleh gerombolan orang, dengan tiba-tiba Dragon Breath tersebut menghilang seakan tidak pernah ada di dunia.


Turquoise Dragon menajamkan mata, dan berpikir bahwa keputusannya dalam menembakkan Dragon Breath tidak sepenuhnya salah. Makhluk yang terasa familiar itu telah menunjukan kemampuannya dalam menangkal Dragon Breath dengan mudah.


"Ditiadakan?"


Turquoise Dragon berbicara sendiri. Tidak lama setelahnya, siluet merah dengan cepat mendekati keberadaan Turquoise Dragon yang secara langsung menghadangnya. Seketika itu pula, Turquoise Dragon berhenti bergerak dan memerhatikan sosok itu dengan sungguh-sungguh.


"Ini ... kau, adalah Blood Devil?"


Tampang Turquoise Dragon yang menyeramkan tampak seperti seekor kadal yang merasa heran. Pengetahuan dan pengalaman hidupnya yang sudah sangat lama terkumpul bahkan tidak cukup untuk menjelaskan apa yang sedang ia saksikan.


Namun alih-alih peduli dengan tampang seorang naga yang aneh, Anryzel malah terlihat kesal dengan apa yang dia terima sebelumnya. Berpikir bahwa sebuah Dragon Breath tiba-tiba menyerang, wajar saja jika ia merasa kesal atas itu semua.


"Aku awalnya berniat mengabaikan-mu, Naga. Tetapi tidak disangka kau sendiri-lah yang mencari masalah."


Turquoise Dragon tidak mengindahkan kekesalan yang ditunjukkan oleh Anryzel, sebaliknya ia merasa sangat ingin tahu bagaimana bisa ras yang telah punah tiba-tiba muncul di tempat ini.


"Katakan padaku, apa kau benar-benar seorang Blood Devil?" tanya Turquoise Dragon dengan penasaran.


Anryzel mengernyitkan alis, dan menjawab dengan nada yang semakin geram, "Itu adalah aku, lalu mengapa? Apa keberadaanku begitu mengganggumu? Kalau begitu, mari selesaikan ini dengan cepat."


"Tidak, tidak. Aku tidak bermaksud untuk mencelakai dirimu. Hanya saja, aku merasakan keberadaan makhluk yang terasa akrab, seolah-olah darah dan jiwaku telah mengenalmu sebelumnya."

__ADS_1


Turquoise Dragon mengemukakan alasan yang tidak pantas untuk dijadikan sebagai acuan dalam menyerang seseorang. Bagaimanapun, menyerang seseorang secara tiba-tiba hanya karena orang itu terasa akrab adalah hal yang melewati batas.


Anryzel memejamkan mata, lalu membukanya kembali, untuk kemudian dia tersenyum sambil berkata, "Tidak ada alasan apapun. Satu pukulan, maka aku mungkin akan memaafkanmu."


Sejenak Turquoise Dragon menganggap itu sebagai lelucon. Akan tetapi, dia langsung sadar bahwa perkataan Anryzel adalah serius ketika Anryzel tiba-tiba menghilang ... dan memukul wajahnya dengan tangan kosong.


Suara ledakan bergemuruh, yang berasal dari bentrokan antara kulit naga yang secara alamiah keras dan kuat, dengan kulit tangan Anryzel yang kuat secara terlatih.


Turquoise Dragon yang berukuran sangat besar berhasil dijatuhkan dari ketinggian oleh seseorang yang berukuran jauh lebih kecil dengan sebuah luka pada bagian atas mulutnya.


Tubuh besar itu terjatuh tepat di atas hutan. Oleh karena ukuran yang besar dan massa yang besar, terjatuhnya Turquoise Dragon menyebabkan tanah bergetar dalam radius beberapa kilometer di sekitar tempat tersebut.


Anryzel hanya diam menyaksikan Turquoise Dragon. Dia tidak benar-benar menyangka bahwa Turquoise Dragon akan menerima pukulan itu begitu saja. Mungkin Turquoise Dragon sangat percaya diri dengan ketahanan fisiknya? Tentu itu merupakan hal yang bodoh.


"Bagaimana, seharusnya tidak terlalu buruk bukan?"


Turquoise Dragon bangkit secara perlahan. Dia mengangkat tubuhnya sambil mengerang kesakitan yang disertai oleh rasa terkejut yang masih tersisa oleh pukulan sebelumnya.


"Aku tidak memiliki dendam padamu, Blood Devil. Namun martabat seorang naga akan hancur jika aku tidak melakukan apa-apa atas penghinaan ini."


"Grooaaaarrrrrrrr!!"


Turquoise Dragon meraung dengan hebat. Raungan yang memekakkan telinga itu menyebar ke seluruh hutan di sekitarnya sehingga makhluk hidup yang tak cukup kuat tewas seketika saat mendengarnya.


Raungan Turquoise Dragon terdeteksi mengandung sihir yang menyebabkan makhluk hidup mengalami penurunan mental, keberanian, dan mengganggu pikiran. Oleh karena itu, dapat dipastikan bahwa Turquoise Dragon meraung untuk melemahkan lawan, sekaligus menyatakan bahwa surat tantangan telah diserahkan.


"Bertarunglah denganku, Blood Devil! Pertarungan ini tidak akan berakhir kecuali salah satu dari kita menyerah, atau mungkin mati!"


Setelah mengatakannya, Turquoise Dragon bertransformasi menjadi sosok naga yang menyerupai manusia. Mungkin orang-orang akan mengatakan bahwa Turquoise Dragon telah bertransformasi dari bentuk naga asli, ke bentuk Dragonoid, yaitu Naga yang berdiri dengan dua kaki layaknya manusia.


Anryzel cukup terperangah ketika melihat Turquoise Dragon melakukan transformasi yang asing. Sejauh yang dia ketahui, seorang naga asli tidak bisa berubah menjadi Dragonoid, terkecuali seorang Dragonoid yang berubah menjadi sosok naga asli, hal itu masih mungkin dilakukan.


Ketika pertarungan hampir tidak terelakkan lagi, rombongan para murid yang pergi bersama Anryzel mendekat. Hal ini tentu membahayakan keselamatan para murid karena kekuatan Turquoise Dragon masih tergolong di luar kemampuan mereka walaupun diragukan bahwa Turquoise Dragon ini memiliki tingkatan yang tinggi di antara kaumnya.


"Anryzel! Biarkan kami ikut membantumu!!" teriak Nivania dari kejauhan.


Bersama dengan para murid, Nivania berbaris di belakang sosok Anryzel yang mengudara lalu membuat formasi tempur yang telah mereka latih selama satu bulan untuk melawan musuh yang memiliki kekuatan masif, atau ukuran yang masif.


"Tidak perlu," ucap Anryzel.


Keberadaan para murid bukan berarti tidak akan membantu sama sekali, tetapi untuk menghindari situasi terburuk, Anryzel memilih untuk melawan Turquoise Dragon seorang diri. Lagipula, dirinya tidak merasakan sesuatu yang buruk seperti ***** membunuh dari sang Turquoise Dragon.


Melalui perantara sihir, suara Anryzel dapat didengar oleh semua orang. Mereka terkejut dengan pernyataannya yang seolah-olah melihat mereka sebagai beban yang akan merepotkan dalam pertarungan.


Merasa kata-kata itu terlalu kejam, Nivania berseru dan bertanya, "Tunggu! Mengapa?!"


Semua orang mengharapkan alasan yang masuk akal dari Anryzel. Sebuah alasan yang dapat diterima dan menjelaskan semuanya. Akan tetapi, Anryzel bukanlah seorang Anryzel jika dapat dengan mudah sesuai dengan ekspektasi semua orang.


"Mengapa, katamu? Tentu saja karena naga ini hanya masalah kecil. Hanya cukup untuk melakukan peregangan sebelum memberi kalian pelatihan. Jadi maksudmu, aku harus meminta bantuan padahal musuhnya hanya seekor naga biasa?" terang Anryzel dengan muka yang serius.


Nivania dan para murid hanya terdiam. Mereka tidak ingin berkata-kata lagi, lalu memutuskan untuk segera meninggalkan area pertempuran tanpa ada yang berbicara sepatah katapun.


Sementara itu, Turquoise Dragon yang telah bertransformasi secara sempurna melancarkan serangan secara tiba-tiba. Dia menembakkan sebuah bola energi bersuhu tinggi kepada Anryzel dengan kecepatan yang tidak dapat dilihat oleh mata biasa.


Serangan tersebut disusul oleh pergerakan Turquoise Dragon yang menerjang dan berusaha mencabik-cabik Anryzel dengan cakarnya yang panjang dan mengkilap. Ketajaman dan kekuatan cakar Turquoise Dragon bahkan melebihi pedang sihir kelas satu yang dapat dibuat manusia.


Anryzel dengan tanggap menetralisir bola energi bersuhu tinggi menggunakan bola energi yang bersuhu rendah sehingga kedua bola energi tersebut berbenturan dan menghasilkan ledakan yang hebat.


Pertarungan jarak dekat kemudian tidak dapat dihindari. Anryzel dengan tangan kosongnya beradu serangan dengan cakar Turquoise Dragon yang tajam dan secara alami bagaikan pedang.

__ADS_1


Hantaman dan sayatan dari Turquoise Dragon terus dilancarkan. Menggunakan tangan kosong, Anryzel menangkal semua itu sehingga beberapa luka goresan terukir di kedua lengannya.


Turquoise Dragon bergerak dengan cepat, lalu mengambil posisi yang berada sedikit di atas Anryzel, dan kemudian melakukan serangan yang diawali oleh ancang-ancang dalam mengumpulkan kekuatan.


"Meteoric Fist!"


Turquoise Dragon meluncur dengan tangan yang mengepal. Sejumlah besar kekuatan terpusat pada tangan dan cakarnya hingga menghasilkan cahaya biru yang menyilaukan.


Anryzel menunggu momen yang tepat, kemudian dia mengisi seluruh kekuatan fisik murni ke dalam tangan lalu menerjang ke atas dan menghantamkan tinjunya pada serangan Turquoise Dragon.


Dari kejauhan, siluet mereka berdua hanya sebatas cahaya berwarna biru dan merah yang saling beradu lalu menghasilkan ledakan dan dentuman suara yang hebat. Efek yang disebabkan oleh benturan kedua serangan tersebut bahkan mengalahkan efek raungan Turquoise Dragon yang tentu saja menewaskan beberapa makhluk hidup yang lemah.


"Menganggumkan, kau adalah orang pertama yang berhasil melukaiku hanya dengan satu jenis serangan."


Anryzel memperhatikan dengan seksama luka robek yang berada di tangan kanannya. Bahkan setelah mengerahkan seluruh kekuatan fisik yang dimiliki, dia tetap menderita luka yang cukup besar dari adu serangan tersebut.


Darah murni dari seorang True Blood Devil mengalir. Anryzel dengan segera menyembuhkan luka tersebut agar darah miliknya tidak mempengaruhi apapun tetapi sialnya setetes darah terjatuh dan mengenai sebuah pohon yang berada di bawah mereka.


Pohon itu seketika mengalami perubahan yang signifikan, mulai dari bentuk fisik hingga mana yang menyebar di seluruh tubuhnya mengalami fluktuasi. Sampai beberapa saat kemudian, pohon itu seakan menjadi benar-benar hidup dan memiliki ego serta pemikiran.


Meskipun pohon itu tidak dapat berbicara, tetapi Anryzel seakan mampu mengerti bahwa pohon tersebut tunduk kepadanya dan berniat membantu dalam melawan Turquoise Dragon yang menurutnya adalah musuh bagi Anryzel.


Tanpa persetujuan Anryzel, pohon itu bergerak layaknya seekor monster. Dia berlari menggunakan akar yang termodifikasi menjadi kaki menuju Turquoise Dragon. Pohon itu lantas menyerang dengan batang-batang pohon yang menjadi lentur bagaikan cambuk yang memecut Turquoise Dragon.


Sayangnya, perbedaan kekuatan di antara Turquoise Dragon dengan pohon yang baru terlahir itu terlalu jauh. Turquoise Dragon dengan mudah menghancurkan pohon tersebut dengan Dragon Breath sehingga pohon itu musnah begitu saja.


Samar-samar, Anryzel sekali lagi mendengar bahwa pohon itu mengatakan sesuatu seperti meminta maaf kepadanya. Tidak jelas mengapa pohon itu meminta maaf, tetapi Anryzel tidak memikirkan itu terlalu jauh.


"Apa-apaan itu, Blood Devil. Mengapa sebuah pohon bisa menjadi monster hanya karena terkena oleh darahmu?" Turquoise Dragon menyerukan pertanyaan.


Anryzel mengangkat alis sebagai respon pertama. Setelah itu barulah dia berkata untuk membalas pertanyaan Turquoise Dragon, "Kenyataan bahwa kau tidak mengetahui masalah tersebut memberi tanda bahwa dirimu bukan seorang naga yang berpengalaman."


Turquoise Dragon membulatkan mata, dia nampak mengingat sesuatu dalam suatu ingatan yang telah terkubur sangat dalam. Sesaat dia pun memejamkan mata, lalu berkata kepada Anryzel dengan nada yang lebih ramah ketika membuka matanya kembali.


"Mungkin kau benar. Blood Devil, perkenankan-lah aku untuk mengetahui namamu?"


"Aku tidak ingin memberitahu namaku pada seseorang yang akan mati, tapi sebagai bentuk apresiasi karena kau dapat melukaiku maka ini sebuah pengecualian."


Anryzel tidak menganggap serius perkataannya. Seperti yang sebelumnya dia rasakan bahwa Turquoise Dragon tidak pernah sekalipun mengerahkan niat membunuh. Meskipun begitu, Turquoise Dragon masih serius dalam melakukan pertarungan, itulah mengapa Anryzel dapat menerima luka di tangan kanannya.


"Kau bercanda? Meteoric Fist adalah serangan langsung terkuatku. Aku mengerahkan semuanya pada serangan tadi, tetapi aku malah menerima luka yang lebih besar!" jelas Turquoise Dragon.


"Itu adalah masalah yang sepele. Aku adalah Anryzel, seorang Blood Devil ... ah, tidak. Mungkin lebih tepatnya, seorang True Blood Devil."


Turquoise Dragon terdiam sejenak, lalu dia berbicara, "Aku pernah mendengar istilah itu dari para raja ... tetapi tidak pernah sedikitpun menyangka akan bertemu dengan salah satunya."


Anryzel mengunci kata yang diucapkan oleh Turquoise Dragon. Rasa penasaran tiba-tiba muncul sehingga dia memutuskan untuk bertanya pada ahli yang mengetahui sejarah masa lalu.


"*Ahn, kau mendengarku?"


"Tidak seperti yang kau pikirkan. True Blood Devil hanya ada satu di dunia, dan tetap akan ada satu untuk selamanya. Kehadiran dirimu adalah pengecualian karena aku adalah kau, dan kau adalah aku. Sepertinya para raja yang dimaksud oleh naga kecil ini memiliki beberapa informasi yang menyimpang, kau tidak perlu mengkhawatirkannya*."


Anryzel mengangguk mengerti dengan penjelasan Ahn. Dia kemudian mendekati Turquoise Dragon dan menanyakan hal yang paling penting untuk ditanyakan.


"Apa tujuanmu ke hutan ini?" tanya Anryzel dengan serius.


Ini adalah permasalahan yang terpenting sebenarnya. Andaikan Turquoise Dragon ini berencana untuk berbuat macam-macam dengan hutan Loudeas, atau lebih tepat untuk dikatakan istananya, maka lebih baik untuk menghancurkan Turquoise Dragon saat itu juga.


"Percayalah, aku tidak memiliki niat buruk apapun ...."

__ADS_1


__ADS_2