
Dinding tinggi yang menampakan Aura Suci mulai terlihat di ujung pandangan mata. Berwarna putih bersih dengan dilengkapi oleh banyak bendera yang menunjukan bahwa mereka adalah bagian dari Kerajaan Suci Sancteral.
Tidak ada yang mampu menahan rasa berlebihan dari setiap ornamen yang ada dalam dinding tersebut, termasuk Ren sendiri. Sekarang semua dirasa masuk akal, termasuk perkataan Kanza yang menyarankan Ren untuk berpenampilan semencolok mungkin.
Namun, rasa itu tidak berlangsung lama saat Avrogan menoleh dan memberi peringatan, "Tuan, sepertinya ada yang menyambut kedatangan kita."
"..."
Ren telah menyadari keberadaan mereka bahkan sebelum Avrogan memberi peringatan. Dia lebih memilih diam karena ada sesuatu yang aneh dengan beberapa keberadaan itu.
Seperti yang dirasakan oleh Ren terhadap Kota Soliedavosa, beberapa keberadaan itu memiliki gangguan persepsi mana di sekitarnya. Entah ini sebuah kemampuan atau apapun, Ren merasa tertarik.
"Aku tahu, mereka memiliki sesuatu yang cukup merepotkan." Ren menatap pada kejauhan, pada beberapa kilatan zirah yang berkilauan.
Pembicaraan antara Avrogan dan Ren menarik perhatian dua orang wanita yang duduk di kursi penumpang. Salah satu dari mereka, yaitu Arystina membuka sekat jendela yang menghubungkan antara Ren dan dirinya.
"Yang Mulia, apakah ada suatu masalah?"
Suara Arystina yang lembut terasa menggelitik karena tepat mengenai daun telinga milik Ren.
Tidak lama, Nirlayn pun ikut mengintip dari sekat jendela itu, membuat wajah keduanya berdesak-desakan secara lucu. Namun Nirlayn tidak berbicara, murni hanya diam dan ingin tahu situasi.
Meski penasaran dengan ekspresi yang mereka perlihatkan, tapi Ren memilih untuk mengurung perasaan itu. Mata itu terpaku ke depan seraya mengeluarkan kilatan cahaya merah.
"Ya, ada beberapa orang yang akan menyambut kedatangan kita."
Keseriusan Ren dalam berkata membuat mereka berdua merasa sedikit khawatir. Hanya saja, mereka telah salah paham jika menganggap masalah ini begitu berarti dari ekspresi yang serius.
Satu-satunya hal yang di anggap serius oleh Ren adalah gangguan persepsi mana. Selain daripada itu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan sama sekali.
"Haruskah saya dan Arystina yang menggantikan Anda sebagai pengemudi, Ren-sama?" Nirlayn menyarankan sambil merasa khawatir.
Ren menghargai perasaan Nirlayn namun dia tidak mungkin melakukan itu. Apa yang telah dia mulai harus dia akhiri, termasuk sandiwara kusir dan dua wanita suci ini.
Dengan cara memutar kepala sambil tersenyum cerah, Ren menenangkan keduanya, "Jangan khawatir, ini bukan masalah yang berarti. Tugas kalian adalah satu, lakukan peran yang telah kuberikan dengan baik, ok?"
Keduanya membalas lesu, "Ah ... sesuai perintah Anda."
Setelah menutup kembali sekat jendela, Nirlayn maupun Arystina mulai mempertanyakan, apa sebenarnya kegunaan mereka? Bahkan jika mereka ingin membantu, Ren tidak pernah mengizinkannya.
"Em ... Yang Mulia, dia selalu menanggung semua masalah sendiri. Aku harap dia sedikit mengandalkan kita, benar 'kan, Nirlayn?" keluh Arystina dengan tatapan kosong.
"Aku tidak bisa menyangkalnya, Arystina. Ren-sama itu pintar dan bodoh disaat yang bersamaan, mengapa dia harus mengajak kita berdua kalau pada akhirnya kita tidak berguna?"
"Benar!" Arystina mengangguk cepat, lantas kembali berbicara,"Padahal Yang Mulia selalu membantu kita, tapi dia sendiri tidak mau kita memberikan bantuan!"
"Iya 'kan? Lebih parahnya lagi, Ren-sama itu sering kali menggoda wanita tanpa dia sadari. Tapi setelah itu, dia pergi begitu saja, menyebalkan sekali!" Nirlayn mendengus kesal sambil menatap ke arah luar jendela.
Arystina seketika terdiam. Terperangah oleh perubahan topik yang terjadi begitu tiba-tiba. Dalam hati, dia berbicara heran, "Nirlayn kecil, apa yang kamu katakan ini sudah melenceng loh?"
__ADS_1
Namun sebagai wanita yang lebih tua dari Nirlayn, dia mengerti disaat seperti ini diam merupakan pilihan yang terbaik.
"Hei, Arystina ... kau mendengarkanku 'kan? Bukankah kau juga pernah merasakannya?"
"Eh?! M-merasakan ... apa?" Arystina pura-pura tidak mengerti.
"Apalagi kalau bukan Ren-sama yang menggodamu?" Nirlayn tersenyum penuh makna, lantas berpindah tempat untuk duduk di samping Arystina.
"Hei, apa yang dikatakan Ren-sama saat meluluhkanmu?" bisik Nirlayn.
"A-a ...."
Arystina mengeluarkan suara yang sulit untuk dimengerti oleh Nirlayn.
"A-a ... apa?" bisik Nirlayn sekali lagi.
Arystina memalingkan dan menutup wajahnya menggunakan kedua tangan. Setelah melakukan itu, dia berteriak keras, "A-a ... aku tidak tahu!"
Kereta kuda tampak bergetar saat Arystina berteriak. Sebuah hal yang aneh mengingat kereta ini sama sekali tidak bergoncang bahkan ketika terkena gelombang kejut <> milik Gru'end.
Avrogan pun merasakan ini, dia sekali lagi menoleh ke arah Ren dan berkata, "Tuan, sepertinya mereka sedang berselisih?"
"Entahlah, aku tidak mendengarkan apapun."
Sangat bohong jika Ren berkata tidak mendengar apapun, dia hanya berpura-pura tidak mendengarkan pembicaraan mereka berdua. Lagipula, sebuah pertanyaan besar muncul dalam benaknya.
Kapan aku menggoda mereka berdua? Lalu, apa-apaan dengan teriakan itu? Seolah aku telah melecehkan Arystina ....
Hanya dengan merasakan nafsu membunuh ini, Ren bisa mengetahui sekilas apa yang ada dalam hati mereka. Tidak mungkin mereka ingin berteman dengan niatan membunuh 'kan? Singkatnya, mereka adalah musuh.
"Ingatlah ... apapun yang terjadi, jangan melakukan tindakan sembarangan tanpa izin dariku."
Ren menekankan kekuatan dalam perkataannya. Jadi dengan begitu, pesan ini dapat di dengar oleh Arystina dan Nirlayn walaupun dia tidak keras dalam berbicara.
Avrogan tidak memiliki penolakan apapun, dia hanya mengangguk dengan kepala kudanya dan berbicara, "Saya mengerti, Tuan berhati-hatilah."
Sementara itu, beberapa orang yang akan menyambut adalah pasukan khusus yang diperintahkan oleh Great Bishop untuk menghadang siapapun yang akan memasuki wilayah Kota Soliedavosa.
Enam di antara mereka adalah anggota pasukan terkuat Temple of Earth, dan di bawah kepemimpinan langsung Great Bishop of Earth.
"Tuan Enshu, kereta kuda itu terlihat mirip dengan target yang kita cari."
Seorang pria berbicara pada pria lain yang berada di baris terdepan pasukan penghadang. Dia mengenakan zirah emas berkilauan seperti lima orang lainnya.
"Hm, meski dia bukanlah seorang yang penting, tapi mereka yang melukainya adalah para pengacau yang berani berbuat onar di wilayah suci kita. Hadang mereka dan jangan biarkan satu orang pun lolos! Sang Pendosa yang arogan harus menerima hukuman terberat dari dewa!"
Pria terdepan itu mengatakan perintah dengan penuh semangat seraya tidak lupa untuk menyelipkan kata-kata yang ikonik dengan ajaran mereka. Dia adalah pemimpin pasukan Temple of Light, Enshu Gervoulian.
Kereta kuda milik Ren pun tiba dihadapan mereka semua. Tanpa memberi sedikitpun ruang untuk bernafas, enam orang pasukan Temple of Earth itu langsung mengepung kereta kuda sambil menodongkan senjata.
__ADS_1
"Kalian pendosa yang arogan! Serahkanlah diri kalian sendiri, dan biarkan hukuman menyucikan kalian!" ancam Enshu.
Ren turun dari kereta kuda, berjalan santai menghampiri Enshu sang pemimpin pasukan penghadang seolah tidak memiliki beban. Ren berdiri beberapa langkah di hadapan Enshu dan tersenyum ramah.
"Katakan padaku, dosa apa yang telah kami perbuat?"
Enshu mendengus, "Jangan berpura-pura tidak tahu kau pendosa, siapa yang berani mengacau di tanah suci kami sudah pantas menerima balasannya!"
Mendengar ini, Ren tertawa kecil, "Hei, memangnya apa yang telah aku lakukan di wilayah ini? Bukankah kalian ini pintar sekali dalam menuduh orang lain sebagai pendosa?"
Atas sikap Ren yang meremehkan, mereka semua merasa geram. Menatap tajam dengan nafsu membunuh yang dipusatkan pada sosok Ren. Sayangnya, itu semua tidak cukup untuk membuat Ren gentar sedikitpun.
Enshu tidak berbicara, dia hanya menggerakan jarinya untuk memberi perintah pada orang lain. Seseorang kemudian membawakan dia sebuah pedang besar berwarna emas dan bergerigi.
Pedang besar bergerigi itu kemudian ditebaskan begitu saja. Menciptakan sebuah gelombang besar ke arah Ren, dan membuat tanah terbelah. Gelombang dan tanah yang terbelah itu seketika terhenti di hadapan Ren.
Tebasan ini sangat jelas ditunjukan untuk mengintimidasi Ren. Mengatakan isyarat tersembunyi bahwa Ren tidak bisa memprovokasi mereka semua.
"Sekarang kau mengerti bukan, Pendosa?"
Sekali lagi, Ren tertawa kecil. Dia menampakan sebuah senyum meremehkan yang di ikuti oleh tatapan tajam. Kakinya mulai melangkah dengan arogan, menuju tempat dimana Enshu berdiri.
Semua orang yang berada dalam pasukan penghadang itu berkeringat. Melihat sosok Ren yang begitu berani menantang Enshu, pria terkuat di wilayah Temple of Earth. Bahkan tebasan barusan itu tidak pantas disebut sebagai tebasan pengintimidasi dari Enshu.
Tebasan itu adalah tebasan yang digunakan untuk bermain-main dan sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan tebasan Enshu yang sesungguhnya.
Melihat kebodohan itu membuat Enshu merasa marah. Dia bersiap untuk memotong tubuh Ren dengan mengangkat pedangnya ke atas, "Pendosa yang tidak tahu diri, bahkan hukuman tidak mampu menyucika-"
"Aku menyerah," ucap Ren memotong perkataan marah dari Enshu.
Tidak hanya para penonton, bahkan Enshu sendiri merasa terkejut dengan perubahan situasi ini. Dia yang akan menebaskan pedang sampai terhenti dengan pedang yang terangkat ke atas.
"Aku menyerah, tolong berikan hukuman untuk menyucikanku."
Ren memberikan kedua lengannya. Kebiasaan dari bumi masih melekat padanya, dimana seorang penjahat sudah biasa memberikan kedua lengan mereka untuk diborgol ketika menyerah.
Enshu tidak mengerti, tidak pernah sekalipun dia menemui seorang pendosa yang begitu tidak tahu diri seperti Ren. Setelah memprovokasi, lantas dia menyerahkan diri? Begitu aneh sampai-sampai membuat Enshu mengampuninya.
"Eh, baiklah ... kalian! Tangkap dia!" perintah Enshu.
Lima orang ksatria Temple of Earth pun hanya bisa mengangguk dan menurut dengan apa yang dikatakan oleh Enshu. Mereka bahkan melupakan fakta bahwa Ren adalah pendosa yang harus dihukum bagaimanpun caranya.
Ren ditangkap, kemudian dibawa masuk ke dalam Kota Soliedavosa bersama dengan kereta kuda miliknya. Pasukan Temple of Earth pun menggeledah kereta kuda, dan menangkap Nirlayn dan Arystina.
Namun berbeda dari Ren yang dibawa masuk ke dalam penjara, Nirlayn dan Arystina dibawa ke suatu tempat yang berbeda dengan tempat Ren berada.
Pada akhirnya, Ren tersenyum karena berhasil memasuki kota. Meski sandiwara dua wanita suci itu tidak memiliki peranan besar sama sekali.
"Aihh, saatnya menjalankan rencana ...."
__ADS_1
________________
Catatan Author : Haii~~~ :v*