Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 75 : Persiapan Invasi Monster


__ADS_3

Kamar Ren di Istana Kerajaan kini telah mengalami sedikit perubahan. Dimana saat ini ada sedikit penambahan Barang yang sebelumnya tidak ada. Barang itu adalah sebuah Meja Kerja yang diberikan oleh Raja Esdagius pada Ren.


Suatu Kebetulan bahwa Ren saat ini sedang duduk disana bersama dengan Nirlayn yang berdiri disamping nya. Pandangan Mata Ren terfokus pada selembar Kertas yang saat ini sedang dia baca.


Setelah cukup lama, dia berhenti membaca dan memandang ke depan dengan pandangan yang kosong seolah memikirkan sesuatu.


Kemudian, Ren meletakan Dokumen yang baru saja dia baca, dalam Dokumen itu hanya terdapat beberapa Informasi tidak penting mengenai Kondisi Kerajaan Aulzania. Ren bukanlah seseorang yang mengurus Kerajaan Aulzania, jadi Ren tidak mengerti mengapa Raja Esdagius mengirim sesuatu seperti ini padanya.


"Selanjutnya Nirlayn ...."


Setelah membaca banyak Dokumen yang ada, Ren belum menemukan satupun Dokumen yang benar - benar penting. Dan yang diberikan oleh Nirlayn adalah Dokumen terakhir dari Raja Esdagius.


"Yah ... Semoga ini penting dan bukan hal biasa seperti tadi."


Mata Ren kembali Fokus pada beberapa Lembar kertas yang dia pegang saat ini. Disamping nya, Nirlayn hanya menatap Ren dengan penuh perhatian sambil tersenyum dengan manis.


"Hm ...." Ren bergumam.


Pada Halaman pertama, Ren menemukan Informasi yang cukup berguna. Dimana disana terdapat penjelasan tentang Kerajaan Aulzania yang mulai bersiap untuk menghadapi Invasi Monster yang akan datang.


Seluruh Halaman Pertama jika diringkas akan menjadi seperti ini ....


Kota Aulzania mulai mempersiapkan diri untuk menghadapi Invasi dari para Monster yang akan terjadi Dua Hari lagi. Beberapa Kawasan yang ada di Bagian Barat dan Selatan mulai ditutup. Untuk sementara waktu, orang - orang yang berada di Dua Kawasan itu diungsikan ke tempat yang lebih aman.


Berdasarkan Ringkasan diatas, dapat disimpulkan bahwa Kerajaan Aulzania pernah mengalami Kegagalan dalam Menahan para Monster serta menyebabkan Monster itu menembus Tembok dan Memasuki Ibukota. Jadi kemungkinan besar, pengungsian dilakukan karena jika kejadian yang sama terulang kembali, para penduduk tidak akan menjadi Korban dari para Monster ini.


"Hm ... Aku mengerti."


Ren memejamkan Mata sebelum membuka Halaman Selanjutnya. Namun kali ini, Ren tidak langsung membaca Halaman ini melainkan berbalik dan menatap pada Nirlayn terlebih dahulu. Nirlayn yang sedang tersenyum terkejut, lalu langsung mengubah Ekspresi miliknya menjadi datar kembali.


"Nirlayn, aku haus ...."


Ren berkata dengan Nada yang tidak biasanya, dia yang selalu bertindak sebagai Penguasa kini terlihat seperti anak kecil yang meminta mainan pada ibunya. Melihat hal ini, Nirlayn tidak bisa menahan tawa dan mulai terkekeh.


"Ren-sama, anda tidak perlu memasang Ekspresi menggemaskan seperti itu."


Menggemaskan? Ren tidak mengerti dari sudut mana dia bisa dikatakan menggemaskan. Bisa dibilang, Nirlayn yang tertawa masih termasuk ke dalam tujuannya. Namun Ren tidak berharap sama sekali Nirlayn mengatakan bahwa dia menggemaskan.


"Aku hanya tidak ingin dirimu Jenuh karena memperhatikanku sepanjang waktu. Jadi lupakan apa yang barusan dirimu lihat."


Pandangan Ren kembali pada Kertas yang ada di tangannya. Dengan Konsentrasi yang tinggi, Ren mulai membaca Halaman Kedua yang ternyata masih dalam Topik Invasi para Monster. Namun kali ini, yang dibahas adalah Formasi Kerajaan Aulzania untuk melawan para Monster.


Berdasarkan pertempuran melawan Invasi Monster beberapa tahun sebelumnya, mereka menggunakan Formasi biasa dan sederhana. Dimana para Ksatria Aulzania akan menjadi penyerang Utama di Garis terdepan. Sedangkan para Prajurit akan bersiap dan bertahan andaikan beberapa Monster berhasil menembus para Ksatria.


Disini ada satu hal yang menarik, dimana para Penyihir ditempatkan dibagian paling belakang dan hanya ditugaskan untuk memberikan sedikit bantuan ketika beberapa Kejadian buruk terjadi.


"Ini adalah Kesalahan ...."


Ren tiba - tiba berbicara dan membuat Nirlayn menatapnya dengan perasaan bingung. Apa yang dimaksud dengan Kesalahan oleh Tuannya? Dan apakah pernyataan ini ditujukan padanya? Nirlayn menjadi lebih bingung.


"A-Apa yang Salah Ren-sama?" Nirlayn bertanya Ragu - Ragu.


"Umu? Kau lihat, disini disebutkan bahwa para Penyihir di tugaskan dibagian paling belakang dan hanya sedikit membantu."


Ren menunjukan Halaman itu pada Nirlayn, dan tanpa Nirlayn sadari, dia mendekatkan diri pada Ren untuk melihat apa yang Ren maksudkan. Jarak mereka berdua menjadi Begitu dekat, sampai - sampai kedua pipi mereka hampir bersentuhan.


"Ah, begitu ... Namun, apa yang salah Ren-sama?"


"Biarku Jelaskan, para Penyihir memiliki kemampuan dalam Serangan Area dan itu sangat berguna untuk melawan Invasi dari banyak monster sekaligus." Ren mulai menjelaskan dan disimak dengan baik oleh Nirlayn.


Sebelum melanjutkan penjelasan, Ren menyingkirkan beberapa Dokumen lain diatas Meja terlebih dahulu. Setelah Meja itu bersih tanpa ada barang apapun diatasnya, Ren memulai sebuah pertunjukan.


Pengendalian Mana yang sangat baik dan digabungkan dengan Pengimajinasian yang luar biasa. Ren menciptakan sebuah Ilustrasi peperangan Kerajaan Aulzania melawan Monster diatas Meja menggunakan Mana miliknya.


"Baiklah, mari kita lanjutkan ... Formasi ini tidak sepenuhnya buruk, namun jika lawan memiliki Kecerdasan. Maka mereka akan memilih para Penyihir terlebih dahulu untuk dibinasakan."


Sebuah Gambaran tentang para Penyihir yang diserang oleh para Musuh dari Belakang Ren tunjukan. Nirlayn tidak memiliki pilihan selain Terpesona oleh kemahiran Ren dalam mengendalikan Mana nya.

__ADS_1


"Tapi ... Karena lawan kali ini adalah Monster aku tidak akan mempermasalahkannya."


"Hal yang membuaktu Kesal adalah Fakta bahwa para Penyihir hanya membantu ketika benar - benar dibutuhkan."


"Padahal, jika para Penyihir melancarkan Serangan Area secara bersamaan di awal pertempuran dan melemahkan para Monster, para Ksatria akan dengan mudah menghabisi mereka semua."


Kali ini, Ren mendemonstrasikan sebuah perbedaan antara Formasi yang digunakan oleh Kerajaan Aulzania dan apa yang barusan dia katakan. Meskipun ini hanya Gambaran dan bukan hal yang nyata, Nirlayn masih tetap mengangguk setuju bahwa cara Ren memang lebih ampuh.


"Namun ada satu hal yang mesti kau ingat, dalam pertempuran, kemampuan mengambil keputusan yang benar sangat penting."


"Tergantung Situasi dan Kondisi, Formasi dan cara kita menghadapi Musuh akan selalu berubah."


"Sampai disini, apa kau mengerti? Aku Rasa kau tidak paham sepenuhnya karena penjelasan ini sedikit kacau."


Semua Gambaran tentang Pertempuran telah Ren hilangkan menjadi butiran Cahaya yang indah di Udara. Tanpa menunggu lama untuk dapat mendengar Jawaban dari Nirlayn, Ren meraih Ujung Kertas dan membuka Halaman selanjutnya.


"Hm ... Kali ini Informasi mengenai para Monster nya ya."


Meskipun Informasi bagian ini hanya digambarkan oleh kata - kata, tapi semua itu masih dapat Ren mengerti. Ada beberapa Mosnter yang telah Ren ketahui dan ada juga beberapa yang tidak.


Ren kembali membuka Halaman - Halaman selanjutnya. Namun tidak ada satupun yang lebih menarik dari bagian pertama dan kedua, hanya beberapa Informasi tambahan mengenai Invasi dari para Monster.


Ren menaruh beberapa Lembar Kertas itu ke atas meja dan langsung merenungi semua Informasi yang baru saja dia dapat. Dalam Kondisi perenungannya, Ren tiba - tiba teringat sesuatu dan langsung berbalik pada Nirlayn.


"Aku butuh Minum, bisa ambilkan aku segelas Teh hangat?"


Nirlayn tersenyum dan mengangguk, lalu dia segera pergi untuk memenuhi permintaan dari Tuannya. Tidak butuh waktu lama, Nirlayn kembali dengan secangkir Teh yang mengeluarkan Asap diatasnya.


"Silahkan Ren-sama."


"Ah ... Terima kasih."


Ren mengambil Cangkir berisi Teh itu dengan Elegan. Bahkan ketika meminum Teh itu sendiri, pergerakan yang dilakukan oleh Ren begitu Elegan dan Berseni dimata Nirlayn.


Satu Tegukan dan Ren memejamkan Mata, merasakan dengan seksama Rasa dari Teh yang dibuat oleh Nirlayn. Sebuah Rasa yang belum pernah dia Rasakan ketika di Bumi dulu.


"Ah ... Ini enak sekali."


"Aku akan pergi kepada Raja Esdagius, apa kau akan ikut?"


"Ya, tentu saja Ren-sama."


Kemudian Ren bersama dengan Nirlayn beranjak pergi, ke tempat dimana Raja Esdagius berada.


* * *


* * *


* * *


Malam Hari.


Diatas Benteng Kota yang membatasi Wilayah Ibukota Aulzania dengan Wilayah Hutan Loudeas. Ren dan Nirlayn sedang diam berdiri disana, menatap dengan penuh perhatian pada apapun yang ada dihadapan mereka.


"Ini Aneh, tidak ada satupun Monster yang bisa aku Rasakan."


Mata Merah Ren menyala dengan Hebat, itu menandakan bahwa dia sedang menggunakan Persepsi Mana dengan Jarak yang luar biasa. Meski begitu, tidak ada satupun Mana dari Monster yang bisa Ren Rasakan saat ini.


Invasi para Monster akan terjadi Esok Hari, maka seharusnya, Ren sudah dapat merasakan beberapa Monster yang mendekat ke arah Kota Aulzania. Namun sampai saat ini, dia belum merasakan apapun, dan membuat dia bertanya - tanya mengapa bisa seperti ini.


"Ren-sama, bukankah anda sebaiknya beristirahat terlebih dahulu? Biarkan mereka yang menjaga tempat ini. Seorang seperti anda seharusnya tidak ...."


Nirlayn menyatakan kekhawatiran nya dan menatap dengan Perasaan cemas pada Ren yang sedang memperhatikan Hutan Loudeas.


Namun Ren menemukan sesuatu yang menarik saat ini, mustahil bagi Nirlayn untuk dapat mengubah Pendiriannya.


"Um ... Terima kasih atas kekhawatiranmu, aku akan beristirahat sebentar lagi."

__ADS_1


Mendengar Jawaban Ren, Nirlayn hanya bisa menghela Napas dan menunggu sampai Tuan nya ini beristirahat. Akan sangat tidak sopan Jika dia beristirahat sedangkan Tuan nya bekerja seorang diri.


Ren yang telah sekian lama menatap pada Hutan Loudeas kini memperhatikan Nirlayn yang ada di dekatnya. Sayang nya, Nirlayn pada saat itu terlihat sangat kelelahan dengan Mata nya yang mengantuk.


Sebuah Senyum tulus melengkung di Wajah Ren ketika melihat Nirlayn dalam Kondisi setengah sadar sambil berdiri. Namun dibalik Senyum Tulus itu, ada sebuah Rasa bersalah karena membiarkan seorang Wanita seperti Nirlayn menemani dia seperti ini tanpa beristirahat.


"Nirla ...."


Ren ingin menyadarkan Nirlayn dan menyuruhnya untuk kembali ke Istana. Namun ... belum sempat kata - kata nya selesai ... Tubuh Nirlayn mulai kehilangan keseimbangan dan terjatuh.


Dengan Kecepatan yang tidak bisa dibayangkan, Ren melakukan berbagai macam Hal agar Nirlayn tidak terjatuh pada Tembok Benteng yang keras.


Pertama, Ren menciptakan sebuah Ranjang tempat Tidur menggunakan Blood Art miliknya. Lalu yang kedua, Ren mengambil beberapa Item yang bisa digunakan sebagai Kasur dari Inventory. Dan yang terakhir, Ren mengatur dan meletakan semua itu agar dengan sempurna menangkap Nirlayn yang terjatuh.


Pada saat Ren melakukan semua itu, waktu seakan melambat bahkan mungkin berhenti di Matanya. Ren langsung mengambil posisi yang sama dengan sebelum dia melakukan semua ini, untuk berjaga - jaga jikalau Nirlayn terbangun.


Ketika Waktu kembali berjalan Normal di Matanya, Nirlayn terjatuh dengan sempurna ke Atas kasur yang telah disediakan. Sangat membuat Iba ketika Ren melihat bahwa dia masih tertidur dengan pulas.


Setelah memastikan semuanya, Ren mengambil sesuatu Item dari Inventory dan menyelimuti Nirlayn yang sedang tertidur. Lalu Dengan suara lembut dan pelan yang tidak biasa dia keluarkan, Ren berkata ....


"Maafkan aku ...."


Mata Ren melihat Telinga Nirlayn yang sedikit berkedut. Namun dia sama sekali menganggap bahwa itu hanya Imajinasi dirinya sendiri. Dalam Suasana yang gelap seperti ini, terkadang mata suka menipu.


"Avrogan ...."


Sepatah Kata Ren ucapkan pada Langit Malam yang berbintang. Lalu, seolah menanggapi Panggilan nya ini, suara dari Kuda bergema di Langit, bersama dengan sebuah Cahaya yang bergerak dengan cepat.


"Hiiii~ Tuan memanggilku?"


Avrogan mendarat dengan sempurna dan langsung bertanya. Kini sosoknya telah kembali seperti semula dengan Aura Bercahaya yang begitu menyilaukan.


"Sssttt ... Ada seseorang yang sedang tertidur disana."


Ren menunjuk pada Nirlayn di belakang nya dengan wajah kesal pada Avrogan. Seketika, Aura yang dikeluarkan Avrogan meredup dan menciut di bawah Tekanan yang dikeluarkan oleh Ren.


"Ma-Maaf Tuan ...." Avrogan sedikit menundukan kepalanya.


"Lupakan itu, aku ingin sedikit mencoba sesuatu pada dirimu ... Apakah kau bersedia?"


Wajah Ren yang tersenyum mengerikan membuat Avrogan Ragu - Ragu untuk menyetujuinya. Namun saat ini mereka telah terikat oleh kontrak, Avrogan tidak bisa melawan maupun menentang keputusan Ren.


Dengan berat Hati, Avrogan menjawab Ren dengan suara yang pasrah ....


"Si-Silahkan ... Tuan."


"Jangan khawatir, aku menemukan Hal menarik Dua Hari lalu. Tepatnya pada saat Derrian melukai diriku ...."


Avrogan sedikit tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Ren. Dia hanya menunggu dalam diam untuk mendengar penjelasan Ren lebih lanjut.


Krett


Sekali lagi, Ren menggigit Jarinya sampai terluka dan mengeluarkan Darah segar. Sementara Avrogan sedikit terkejut dan tidak mengerti apa yang sebenarnya dilakukan oleh Ren.


"Mendekatlah ...." Ren memberi perintah.


Avrogan tanpa bertanya lagi langsung mendekat, Ren yang sudah bersiap langsung meneteskan Darah Segar miliknya pada Kepala Avrogan.


Pada awalnya, tidak ada yang terjadi, Darah Segar itu hanya diam di Kepala Avrogan. Melihat ini, Ren sempat berpikir bahwa perkiraan nya salah, namun beberapa saat kemudian ....


Darah mengeluarkan Cahaya dan mulai bergerak membentuk sebuah Simbol Tunggal yang aneh. Ketika Simbol itu mencapai tahap sempurna, dari dalamnya muncul Gelombang Darah yang menyelimuti seluruh bagian Tubuh Avrogan.


"Graahhh!" Avrogan berteriak.


Meskipun Gelombang Darah ini tampak seperti ingin menelan Avrogan. Namun Ren masih memperhatikan untuk mengetahui dengan jelas apa yang terjadi. Secara bertahap, Ren merasakan Mana milik Avrogan bertambah dengan pesat.


"Hahaha, Ini menarik ...."

__ADS_1


Avrogan diselimuti oleh Gelombang Darah untuk waktu yang cukup lama. Avrogan hanya berteriak sekali dan setelah itu diam tanpa melakukan apapun. Kemudian, Gelombang Darah menipis dan mulai menampakan sosok Avrogan yang ada di Dalamnya.


Ren terkejut, bahwa sosok Avrogan kini ... telah mengalami perubahan yang signifikan.


__ADS_2