Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 143 : Mereka yang tidak mengerti


__ADS_3

Boooommm!!


Ledakan yang menyebabkan kerusakan hutan terjadi. Banyak pohon diterbangkan yang membuatnya seperti burung yang melayang di udara. Asap mengepul dan debu bertebaran ke seluruh wilayah itu, sedangkan hewan biasa sudah melarikan diri bahkan sebelum ledakan terjadi.


"Fuhahaha ... Flame Explosion memang tidak pernah membuatku kecewa!"


Muncul dari pusat ledakan adalah pria muda yang mengenakan pakaian tidak biasa. Dia memakai jubah seorang penyihir berwarna coklat keemasan tetapi di balik jubah itu terdapat sebuah zirah ringan yang cocok dikenakan oleh seorang petarung jarak dekat.


Beberapa saat setelah kemunculannya, dua orang lain datang sambil mengibas-ngibaskan lengan mereka untuk menghilangkan debu di sekitaran wajah. Satu adalah pria muda yang membawa pedang besar di punggung, dan satunya lagi adalah pria muda yang membawa busur di lengan.


"Sial! Sihir ledakanmu itu benar-benar membuatku jengkel!" seru pria yang membawa pedang.


"Kau, Hairan! Tidak bisa menahan diri sedikitpun ya?!" timpal pria yang memegang busur.


Pemuda yang membuat ledakan, Hairan hanya tertawa seolah dia gila dan terlihat menikmati situasi yang sedang dialaminya. Bagaimanapun, Hairan tidak mempedulikan peringatan teman-teman yang mengkritik aksinya yang berlebihan itu.


"Mengapa aku harus menahan diri? Dia juga mengatakan aku bisa berbuat sesuka hatiku disini."


Hairan dengan tegas membela diri, kepribadiannya yang selalu ingin bebas dan tidak mau dikekang oleh aturan selalu menyulitkan kedua temannya. Masalah itu diperumit oleh kepribadian Hairan yang cenderung buruk dan sedikit gila.


"Tch, susah sekali memberitahumu. Lalu biar kita dengarkan, Murga, apa yang dia katakan setelahnya?" tanya pria berpedang kepada pria berbusur, Murga.


"Aku ingat dia berkata tindakan apapun yang menggagalkan rencana maka dia akan menghukumnya dengan kejam. Aku dan Kogia sendiri yang mendengarnya. Jadi kau ... Hairan, berhentilah bertindak sembarangan."


Hairan, Murga, dan Kogia adalah satu tim yang tidak dapat dipisahkan. Mereka bertiga telah bersama dalam waktu yang cukup lama, walaupun sering berselisih satu sama lain tapi hubungan mereka sudah erat dan seperti keluarga.


Kogia merupakan yang tertua di antara mereka, disusul oleh Murga sebagai yang kedua dan Hairan sebagai yang terkecil. Meski begitu, Hairan kerap kali membawa masalah kepada Kogia dan Murga sehingga hari-hari yang mereka lalui penuh dengan masalah.


Perkataan Kogia dan Murga membuat Hairan terdiam dengan ekspresi tegang dan ketakutan. Melihat reaksinya yang sangat serius ini tentu mengindikasikan bahwa mereka bertiga sangat patuh terhadap orang yang disebut dengan "Dia" ini.


"A-Aku mengerti, akan kutahan sebisa mungkin," balas Hairan dengan tubuh gemetar.


Kogia dan Murga seketika tersenyum masam, mereka bahkan sulit mengendalikan Hairan yang susah diatur, tetapi hanya dengan kata-kata oleh orang itu, Hairan langsung gemetar ketakutan.


Tidak tahu kekejaman apa yang telah dilakukan oleh orang itu kepada Hairan, mereka tidak ingin merasakannya, dan berharap Hairan juga tidak perlu merasakannya lagi.


"Bagus, Hairan," ucap Kogia sembari menepuk bahu Hairan, dia kemudian berkata kepada keduanya, "Kembali ke topik utama, kita telah masuk cukup dalam ke Hutan Loudeas tapi belum menemukan tanda-tanda sesuatu yang mencurigakan."


Murga tampak mengamati sekeliling, saat melihat beberapa tumpukan mayat monster yang seharusnya ada malah tidak ada dirinya menyadari sesuatu yang janggal.


"Sebentar, aku merasakan ada sesuatu yang aneh dengan hutan ini," terang Murga kepada Kogia dan Hairan.


"Maksudmu para mayat monster yang menghilang?" ucap Hairan yang tentu tidak disangka oleh Murga telah mengerti kejanggalan yang dirasakannya.


"Eh ... aku baru menyadarinya. Memang situasi ini sangat aneh, seharusnya mayat para monster itu masih tersisa seberapa besarpun kekuatan yang digunakan Hairan untuk meledakkan mereka, kecuali ...."


Kogia membuat praduga yang mengacu pada satu-satunya kebenaran yang bisa menjelaskan kejanggalan ini. Murga dan Hairan tampaknya sudah mengerti apa yang dimaksud oleh Kogia sehingga keduanya dengan serentak membalas pelan.


"Mereka adalah [Beast Servant]?"


Kogia mengangguk cepat, kemudian menghunuskan pedang yang menempel di punggung lantas memegang sedikit daripada bilah pedang itu menggunakan jari-jemari.


"Aku merasakan semacam pelindung di sekitar tubuh monster itu. Bukankah [Beast Servant] juga memiliki sesuatu yang sama?" tanya Kogia untuk menegaskan pernyataannya.


"Kurasa begitu, tapi yang lebih mengherankan adalah fakta bahwa mereka memiliki kekuatan pelindung yang serupa. Kalian berdua tahu artinya?" tanya Murga kembali.


"Hm?" Kogia memandang Hairan, dan Hairan melakukan hal yang serupa kepada Kogia sebelum akhirnya pandangan mereka terpaku pada Murga, "Mereka memiliki satu tuan yang sama?"


Murga menepuk tangan sekaligus memberikan ibu jari yang terangkat ke atas kepada mereka berdua.


"Benar sekali, mereka seharusnya memiliki tuan yang sama, akan tetapi ... siapa orang hebat yang mampu memanggil banyak [Beast Servant] sekaligus lalu menelantarkan mereka di hutan seperti ini?"


Pertanyaan Murga kembali membuat mereka bertiga berpikir keras. Bagaimana tidak, monster alias [Beast Servant] yang telah mereka kalahkan sudah mencapai puluhan, sedangkan orang yang bisa memanggil [Beast Servant] sebanyak itu sudah pasti tidak bisa diremehkan.

__ADS_1


Berbeda dari pendekar atau penyihir, seorang pemanggil [Beast Servant] yang hebat langka keberadaannya. Selain rumit, dan membutuhkan banyak tenaga untuk memanggil [Beast Servant], para pemanggil juga biasanya tidak terlalu kuat sehingga beberapa orang tidak berminat menjadi bagian dari mereka.


Perlu banyak usaha dan tenaga untuk memanggil satu [Beast Servant] karena mereka yang dipanggil kadang kala memiliki kehendak sendiri dan harus ditaklukan terlebih dahulu, konsekuensi dari kegagalan menaklukan [Beast Servant] yang terpanggil tidak hanya pulang dengan tangan kosong tetapi bisa berakibat pada kematian.


"Mungkinkah, dia memanggil tapi tidak mampu mengendalikan sehingga membuang mereka ke hutan ini?"


Murga menggelengkan kepala saat mendengar pernyataan Kogia yang tidak masuk akal, karena [Beast Servant] mana mungkin bisa mempertahankan sosok fisik mereka jika tuan mereka tidak cukup kuat.


"Itu mustahil, keberadaan [Beast Servant] di dunia membutuhkan pasokan mana dari sang pemanggil untuk mempertahankan bentuk fisik mereka. Adapun saat bertarung, para [Beast Servant] itu akan menggunakan kekuatan mereka sendiri dan pasokan mana dari tuannya hanya berperan dalam mempertahankan keberadaan."


"Heh, bukankah ada kasus istimewa di mana [Beast Servant] itu menjadi lebih kuat karena diberi kekuatan lebih oleh tuannya?"


Hairan benar, orang yang memiliki kekuatan atau mana yang melimpah tidak hanya mampu mempertahankan keberadaan [Beast Servant] tetapi juga bisa memperkuat mereka. Namun seperti yang dikatakan oleh Murga, sebagian besar pemanggil enggan melakukan hal ini karena terlalu berisiko.


Daripada memperkuat sesuatu yang tidak pasti, lebih baik menghemat kekuatan untuk berjaga-jaga dari kondisi yang tidak diinginkan, bukankah itu prinsip dasar dari seorang pemanggil?


"Jika orang yang kita bertiga maksud ini memang memiliki kekuatan besar untuk mempertahankan keberadaan [Beast Servant] miliknya, aku harap dia tidak bisa melakukan apa yang engkau katakan, Hairan."


Memanggil puluhan [Beast Servant] lalu menelantarkan mereka seolah tidak berguna, kemudian memiliki [Beast Servant] yang sangat kuat dan mampu memperkuatnya, sedikitpun Murga tidak ingin bertemu dengan mereka.


Pemanggil memang lemah jika orang itu mengembangkan kekuatan miliknya secara setengah-setengah, tapi pemanggil yang sesungguhnya adalah mimpi buruk di medan pertempuran.


"Kalau begitu, sepertinya kita sudah memasuki zona berbahaya. Bagaimana menurut kalian, lanjutkan atau mundur terlebih dahulu untuk melapor?"


Kogia dengan cepat mengambil inisiatif untuk waspada, setidaknya orang yang dimaksud oleh mereka masih belum menyadari bahwa [Beast Servant] miliknya telah terbunuh. Dengan begitu, ada kesempatan bagi mereka untuk mundur dan datang kembali dengan kekuatan yang lebih mumpuni.


"Aku lanjut," ucap Hairan.


"Tidak, itu terlalu berisiko. Aku memilih untuk mundur," ucap Murga.


Kogia merenung sejenak untuk berpikir tindakan mana yang harus diambil. Namun karena kemungkinan besar mereka telah menginjak ekor dari seorang harimau, dan itu terlalu berbahaya bagi mereka untuk melanjutkan, Kogia lebih memilih pendapat Murga.


"Aku telah memutuskan, kita harus mundur terlebih dahulu. Dan kau Hairan, jangan membantah, jika kita melakukan sesuatu yang cenderung gagal dan menghancurkan rencananya, kau tahu akibat dari semua itu bukan?"


Mereka bertiga sudah memutuskan, dan mulai bergerak untuk kembali ke tempat awal dari mana mereka pergi. Kogia memimpin, Hairan berada di tengah, sedangkan Murga berada di belakang karena hanya dirinya yang memiliki pendeteksi musuh paling hebat di antara mereka bertiga.


Beberapa menit setelah meninggalkan area yang diledakan oleh Hairan, Murga merasakan kedatangan beberapa sosok yang bergerak sangat cepat menyusul mereka. Kecepatan yang sangat tinggi membuat Murga tidak bisa menjelaskan kepada Kogia dan Hairan, tapi hanya bisa berteriak memperingati mereka berdua.


"Kogia! Hairan! Menghindar!"


Daammmm!!!


Tanah di mana mereka berjalan sebelumnya dihantam oleh sesuatu yang meluncur dari langit. Dampak yang disebabkan oleh hal itu tidak jauh berbeda dari dampak yang disebabkan oleh Flame Explosion milik Hairan tadi.


Kogia, Hairan, dan Murga berhasil menghindar berkat peringatan dari Murga yang datang tepat waktu. Kalau tidak, Kogia dan Hairan setidaknya akan mengalami luka yang tidak ringan jika terkena hantaman itu secara langsung.


"Uhuk-uhuk, apa-apaan ini?!" teriak Hairan marah.


"Hairan, diam! Aku merasakan firasat buruk mengenai hal ini," ucap Kogia yang perlahan-lahan berkumpul kembali bersama Murga dan Hairan.


Mereka bertiga langsung bersiaga, Kogia menghunus pedang dan berdiri di depan dua orang yang tersisa, Hairan memasang kuda-kuda ala petarung tangan kosong seraya menyiapkan lingkaran sihir di tangan, dan Murga sudah menarik anak panah yang terdapat di antara busurnya.


"Murga, jelaskan."


Kogia meminta penjelasan dari Murga, biasanya mereka tidak akan mengalami hal seperti ini karena Murga dapat merasakan keberadaan musuh walaupun dalam jarak yang cukup jauh dari mereka, tapi kali ini Murga hanya memberi peringatan satu detik sebelum penyerangan terjadi.


"Aku tidak tahu, mereka datang dengan sangat cepat dan aku baru merasakan kehadirannya setelah seratus meter dari tempat kita berada."


"Tch, bukankah itu hanya karena kemampuanmu yang sudah menurun?" decak Hairan kesal.


"Kau diam dulu, Hairan! Murga, kau yakin tidak ada kesalahan dengan itu?"


"Mana mungkin, bahkan sekarang aku masih bisa merasakan kupu-kupu yang sedang berterbangan satu kilometer dari tempat ini."

__ADS_1


Kogia memejamkan mata, dan berbicara sangat serius, "Lalu, sepertinya kita telah membangunkan harimau. Bersiaplah untuk menghadapi situasi terburuk."


Awan debu yang menghalangi pandangan sudah mulai menghilang. Dari tempat mereka berjalan sebelumnya, terdapat empat siluet dengan dua siluet manusia dan dua lagi adalah hewan.


Murga berusaha mendeteksi kekuatan mereka berempat, tetapi seberapa keraspun dia berusaha masih belum mampu mengidentifikasi kekuatan mereka dengan akurat dan pasti.


Kogia menelan ludah, Hairan mendecak kesal, dan Murga menggigit bibir karena tidak berhasil menelaah kekuatan musuh. Suasana di antara mereka begitu tegang dengan caranya masing-masing tetapi ....


Sebuah tepuk tangan santai muncul tanpa melihat suasana yang ada di sekitar mereka bertiga. Baik Kogia, Hairan, ataupun Murga seketika mengalihkan pandangan mereka untuk melihat siapa yang sedang bertepuk tangan.


Saat itulah mereka mendapati sosok yang bertepuk tangan adalah satu di antara dua pria yang memiliki rambut hitam dan mengenakan topeng yang menutup seluruh wajah selain daripada mata, dan sedikit bibirnya yang terbuka.


Hairan yang memiliki harga diri tinggi dan paling tidak suka dipandang rendah saat ini merasa sangat diremehkan. Alhasil dirinya memasang raut wajah yang dipenuhi emosi kemarahan.


"Aku tidak kau itu siapa tapi berani sekali menyerangku diam-diam!" teriak Hairan yang sudah melupakan nasihat Kogia agar menjaga mulutnya.


"Hairan! Sudah kukatakan untuk berhati-hati dengan uca- ...."


Pria bertopeng itu berhenti bertepuk tangan, lalu berbicara dan memotong perkataan Kogia kepada Hairan.


"Benarkah?" sahut pria itu santai.


Murga dan Kogia yang tidak dikendalikan oleh emosi seperti Hairan seketika merasakan hawa dingin di punggung mereka. Ucapan pria itu memang terdengar santai, tapi dibaliknya terdapat tekanan yang luar biasa.


"Cih, jangan pura-pura bodoh! Apa yang kau lakukan itu sangat menjijikan!" hardik Hairan tanpa berpikir terlebih dahulu.


Pria itu terdiam dalam keheningan yang sangat sunyi. Tidak hanya Kogia dan Murga, bahkan Hairan yang masih dalam kendali emosi sedikit menyadari hawa dingin yang menyebar di sekitar mereka.


Suasana itu semakin mencekam saat Kogia dan Murga tersadar bahwa selain dari pria yang sudah berbicara, tiga sosok lainnya diam mematung sambil menatap mereka dengan penuh hawa membunuh.


Kesunyian itu lantas berakhir ketika pria bertopeng kembali berbicara, "Oh, itu sangat lucu."


"Dia berpikir itu lucu?! Lalu mengapa dia tidak tertawa! Ucapannya pasti memiliki makna yang sangat berbahaya!" pikir Murga.


"Lucu sekali bukan? Kalian yang memulai masalah, tapi kalian sendiri yang marah, aku bertanya-tanya apa ada yang salah dengan otak kalian?"


GLEKK!


Kogia menelan ludah, dan Murga melakukan hal yang sama. Mereka berdua mulai berbisik untuk membahas rencana selanjutnya tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun dari empat sosok yang berdiri beberapa jarak dengan mereka bertiga.


"Celaka, aku sudah menduga ini akan terjadi, " bisik Murga.


"Ya, semenjak kita membahas itu aku sudah merasakan firasat buruk. Tapi tidak kusangka ini akan terjadi dalam waktu yang sangat cepat."


"Bagaimana ini, Kogia?"


"Melihat kekuatan orang itu yang masih misterius, sepertinya berusaha kabur adalah hal yang percuma. Gunakanlah sihirmu untuk meminta bantuan, dan kita akan mengulur waktu sampai bantuan itu tiba."


"Baiklah, semoga kita mampu bertahan."


Saat Kogia dan Murga berdiskusi untuk mengambil langkah selanjutnya, tanpa mereka berdua sadari Hairan sudah sepenuhnya marah dan kehilangan kendali, ia dengan bodohnya menerjang dan mengarahkan tinju berkekuatan tinggi kepada pria bertopeng sambil mengaktifkan Flame Explosion.


Murga dan Kogia ingin menghentikan Hairan tetapi semua sudah terlambat. Lingkaran sihir Flame Explosion telah diaktifkan, sedangkan Hairan sendiri sudah meluncur dengan cepat untuk memberi pukulan kepada pria bertopeng.


Sambil membayangkan sesuatu yang buruk akan terjadi, Kogia dan Murga hanya bisa berharap serangan Hairan akan membuahkan hasil yang memuaskan. Namun hal-hal yang diinginkan tidak akan selalu berada dalam bayangan apa yang diperkirakan.


"Tergesa-gesa itu tidak baik," ucap pria bertopeng dengan tenang.


Pukulan Hairan telah dihentikan oleh pria lain yang sebelumnya berdiri di samping pria bertopeng, sedangkan untuk lingkaran sihir yang mengaktifkan Flame Explosion, itu telah sepenuhnya dihentikan.


Kogia dan Murga sangat terkejut saat menyaksikan betapa mudahnya mereka menahan serangan Hairan seolah-olah itu adalah mainan. Meskipun Hairan belum mengeluarkan kekuatan penuh, tetapi secara garis besar kekuatan kedua orang ini tidak bisa dianggap enteng.


"Yang Mulia, bagaimana jika saya yang membereskan mereka semua?" ucap pria yang melindungi pria bertopeng yang tidak lain adalah Rusava, dan tuannya, Anryzel Dirvaren.

__ADS_1


__ADS_2