
Bam!
Ledakan Cahaya Terjadi.
Sesaat orang - orang yang sedang menyaksikan Ren kehilangan Penglihatan mereka. Namun setelah Cahaya Sepenuhnya menghilang, sesuatu Muncul dihadapan Ren, dan itu adalah Lingkaran Sihir yang telah menjadi Sempurna. Campuran Darah dari Ren membuat Warna dari Lingkaran Sihir ini menjadi Merah Darah.
Ren terlihat memperhatikan dengan Seksama sebuah Lingkaran Sihir yang baru saja dia ciptakan. Setelah memastikan sesuatu, dia mengangguk dengan sendirinya lalu menatap pada para Bawahan nya.
"Apa ada dari kalian yang membawa Kertas kosong?"
Rusava dan Raytsa terlihat tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Ren dengan Kertas Kosong. Namun Rakuza dan Kanza, mereka mengerti, hanya saja Rakuza menggelengkan kepala menandakan bahwa dia tidak membawa sesuatu semacam itu. Sementara itu, Kanza langsung menghampiri Ren sambil memasukan Tangan pada saku miliknya. Dari sana, dia mengambil Kertas kosong seperti yang diminta oleh Ren lalu memberikannya.
Tanpa basa - basi, Ren langsung menerima Kertas Kosong yang terlipat itu lalu membukanya. Sesaat dia memperhatikan dengan seksama Kertas yang dia pegang, lalu mengalihkan Pandangan kembali pada Kanza dengan wajah yang protes.
"Kertas ini sudah buruk, apa kau tidak mempunyai yang lain?"
"Mana aku tahu anda akan meminta sesuatu semacam Kertas Kosong. Itu hanya apa yang tersisa disaku milikku, tidak ada yang lain."
Kanza mengangkat Bahu dan menggelengkan Kepala miliknya. Ren yang mendengar itu tidak memiliki pilihan lain selain menggunakan Kertas yang sudah dalam Kondisi Buruk ini.
"Oke, Kau boleh Kembali kesana."
Kanza mengangguk dan menuruti apa yang dikatakan oleh Ren, dia kembali ke tempat dimana Rakuza, Rusava dan Raytsa sedang menyaksikan mereka berdua. Setelah Kanza tiba disana, Ren memulai kembali tindakan nya.
Tangan Kiri miliknya memegang Kertas yang sudah terbuka dengan lebar. Sementara itu, Tangan Kanan nya diarahkan pada Lingkaran Sihir. Dari Tangan Kanan miliknya, muncul benang - benang mana yang menghampiri Lingkaran Sihir. Benang - Benang Mana kemudian menyentuh setiap Bagian sisi dari Lingkaran Sihir.
Benang - Benang Mana yang sudah mengikat Lingkaran Sihir mulai menarik Lingkaran Sihir itu menuju Kertas yang dipegang oleh Tangan Kirinya. Ketika Lingkaran Sihir mulai menyatu dengan Kertas, muncul sebuah Gambar yang terlihat persis dengan Lingkaran Sihir tadi. Hanya saja, Warna dari Lingkaran Sihir yang tergambar di Kertas adalah Hitam dan sudah bukan Merah Darah lagi.
"Sedikit lagi, dan ini akan sempurna."
Ren memandangi Kertas yang telah diisi oleh Lingkaran Sihir itu. Kemudian, dia melukai kembali Ibu Jari miliknya dengan Gigitan yang kuat. Darah kembali muncul dari Luka itu, dan tanpa menunggu lama, Ren mengoleskan setiap Darah yang keluar di atas Gambar Lingkaran Sihir.
Kini Lingkaran Sihir telah menjadi Berwarna Merah Darah kembali. Namun kali ini, Warna Merah Darah itu lebih pekat karena memang menggunakan Darah secara langsung.
Tidak cukup sampai disana, Ren menuliskan beberapa Kalimat menggunakan Darahnya pada Bagian lain dari Halaman Kertas itu. Setelah menulis Kalimat yang cukup panjang, Ren tersenyum puas yang menandakan bahwa semuanya telah selesai.
Kakinya kembali melangkah untuk menghampiri semua orang yang sedang menunggu dia. Dengan wajah tersenyum puas, dia berjalan dengan santai sampai akhirnya tiba dihadapan semua orang.
"Sebuah Sihir Baru, dan Fungsi dari Lingkaran Sihir ini adalah untuk mengirim Pesan Rahasia. Kalian hanya perlu menulis sebuah Pesan dengan Benar kemudian Gunakan Sihir ini maka Pesan itu akan menjadi sebuah Pesan yang aneh dengan sendirinya."
Para Bawahannya hanya bisa mengangguk ketika mendengar Penjelasan tentang Sihir Baru yang dia buat sendiri. Ini adalah sebuah Sihir untuk menjaga keamanan saat saling berbagi Informasi menggunakan sebuah Surat. Namun jika dipikirkan dengan benar, Sihir ini memiliki sedikit kegunaan dan terasa sia - sia. Meski begitu ... tidak ada yang bisa dilakukan karena ini keinginan Ren sendiri.
"Aku akan mempercayakan Sihir Baru ini untuk dipelajari olehmu Raytsa. Kau adalah yang paling cocok diantara yang lain." Ren menatap Raytsa dengan penuh harapan.
Sambil berjalan kembali, Ren menyerahkan Kertas yang mengandung Sihir Baru miliknya pada Raytsa. Dengan tangan yang bergetar dan Air Mata yang keluar, Raytsa menerima Kertas itu dengan sangat Hati - Hati.
Ren berhenti tepat disamping Raytsa sebelum dia melewati para Bawahannya itu. Dengan suara yang pelan seakan berbisik, Ren memberikan beberapa Kalimat pada Raytsa.
"Pelajari dan Cobalah untuk melakukan apa yang aku lakukan tadi. Aku telah sepenuhnya melihat Potensi dirimu, dan aku juga mempercayaimu. Jangan kecewakan diriku, Raytsa ...."
Setelah mengatakan itu, Ren melanjutkan Langkahnya dan melewati Raytsa beserta para bawahannya. Disaat Ren baru beberapa langkah berjalan ....
Brukk!
Sebuah Suara terdengar di telinganya, namun dia telah mengetahui apa yang terjadi pada Raytsa. Dengan Air Mata dan Tangan bergetar yang dia tunjukan sebelumnya, Raytsa pasti sedang terjatuh sekarang. Ren tidak mempedulikan hal itu lebih jauh dan terus berjalan sambil melambaikan tangan.
"Kalian boleh pergi sekarang ... Ketika mencari Informasi, jangan lupa untuk memperhatikan sekitarmu dan berhati - hati, selamat tinggal."
__ADS_1
Semua orang selain Raytsa hanya bisa terpaku dan melihat kepergian Ren dalam diam. Sementara mereka sedang dalam keadaan seperti ini, Avrogan mengingat sesuatu dan langsung berlari untuk menyusul Ren yang sedang berjalan.
"Hiiii~ Tuan tunggu aku!!!"
* * *
* * *
* * *
Tak Tuk Tak Tuk
Jangan memikirkan suatu hal yang aneh, itu hanya Suara dari Avrogan yang sedang berjalan. Dan jika kalian bertanya dimana Ren saat ini, dia sekarang berada diatas Avrogan dan sedang berjalan di Kota Aulzania. Penampilan Avrogan saat ini adalah Kuda biasa dan dia tidak terlihat seperti seekor [Beast Servant] sama sekali. Jadi walaupun mereka berdua saat ini berada di tengah keramaian, itu sama sekali tidak menimbulkan keributan.
"Mari kita pergi kepada Derrian, dia saat ini kemungkinan ada di Akademi."
Ren berbicara kepada Avrogan untuk menentukan kemana tujuan mereka selanjutnya. Avrogan hanya bisa membalas dengan suara 'Hiii~' agar dapat memberitahu Ren bahwa dia mengerti.
Sayang nya, meski Avrogan tidak menimbulkan Keributan, masih ada Ren yang selalu menimbulkan keributan disetiap tempat baru yang dia lewati. Hanya saja, Ren sudah menganggap mereka Pohon semata dan tidak mempedulikan Hal itu sedikitpun. Mereka berdua cukup berjalan dengan santai untuk menikmati suasana Kota yang sedang Ramai saat ini.
Kereta Kuda yang selalu melewati mereka berdua di tengah Jalanan ini, Lalu para Pedagang beserta Para pembelinya yang ada di Pinggir Jalan, dan orang - orang yang saling berlalu - lalang. Semua itu merupakan suasana yang sedang mereka Nikmati saat ini, dan ... Ren pun merasakan bahwa suasana berjalan cukup damai.
Namun, bagaikan sebuah Takdir yang tidak mengizinkan Ren untuk menikmati Kedamaian sedikitpun, tiba - tiba Dua orang yang mengenakan Jubah menghadang Jalan mereka berdua.
"Ya ampun, tidak bisakah aku sedikit bersantai? Ada apa dengan mereka berdua." Ren protes pada Dua orang yang berdiri dihadapan dia dan Avrogan saat ini.
Dari ukuran dan bentuk tubuh mereka, Dua orang ini adalah Laki - Laki dan Perempuan. Sebuah Celah dari Jubah yang mereka Pakai memperlihatkan Kilauan Cahaya dari sebuah Zirah. Ren ... Sedikit merasakan sesuatu yang merepotkan dari Hal ini.
"Hei, kalian sepertinya mencari Masalah dengan menghalangi Jalanku ...." Ren berbicara dengan dingin.
Sang Lelaki langsung melepaskan Tudung dari Jubah miliknya. Menampakan wajahnya yang terlihat cukup tampan dan masih muda. Wajah itu adalah wajah seorang Ksatria Muda yang memiliki Tekad yang besar.
Dan ... Benar saja orang itu bertanya tentang suatu Hal yang merepotkan. Andai dia mengetahui bahwa orang yang dia maksud ada dihadapannya saat ini. Maka semua akan menjadi lebih merepotkan, maka dari itu, Ren akan menghindari ini semua.
"Ah, kalian ingin bertanya Rupanya. Jika yang dimaksud kalian adalah orang yang menyelamatkan Kota ini dari Insiden beberapa Hari lalu, aku tidak mengetahui apapun tentang dia. Yah ... Aku juga merupakan Pendatang baru disini."
Mendengar Jawaban dari Ren, lelaki itu langsung mengeluarkan Ekspresi lelah di wajahnya.
"Begitu ya, Maafkan kami karena mengganggu perjalanan anda. Silahkan ...."
Lelaki itu tersenyum Lelah sambil meminta maaf pada Ren, dia dengan sendirinya memberikan Jalan untuk Ren lewati.
"Tidak apa, Aku pergi ... Semoga kalian cukup beruntung untuk menemukan Pahlawan itu."
Avrogan bersama dengan Ren lalu segera pergi meninggalkan mereka berdua. Setelah Sosok Kedua orang itu menghilang dari Pandangan, Ren menghela Napas lega.
"Baru sebentar aku menerima Gelar ini, sepertinya langsung banyak orang yang membenci diriku. Sudah kuduga, tidak ada hal yang baik dari menerima Gelar ini."
Sebelum Janjinya dengan Kerajaan Aulzania dipenuhi, Ren berusaha sebaik mungkin untuk tidak menambah masalah lainnya dan menghindari itu semua. Dan andaikan Masalah itu tidak dapat dihindari, tidak ada pilihan lain baginya selain menyelesaikan semua itu dengan cepat walau menggunakan Kekuatan.
"Hiiii~"
Suara dari Avrogan memberitahu Ren bahwa mereka berdua telah tiba di Gerbang Masuk Akademi Aulzania. Namun sayang, tiga murid yang menjaga Gerbang ini sebelumnya tidak ada. Andaikan mereka yang menjaga Gerbang saat ini, Ren tidak perlu diperiksa kembali.
"Ah, Um ... Apa urusan anda kemari, Tuan?"
Suatu Kebetulan yang merepotkan bahwa Penjaga saat ini adalah seorang Wanita. Ren ingin sekali memukul Nasibnya saat ini yang menggiring dia pada Hal yang merepotkan.
__ADS_1
"Aku memiliki Urusan dengan Ketua Ksatria Aulzania, Derrian. Bisakah aku melewati Gerbang? Atau kau mau menyampaikan Kedatanganku padanya?"
Murid Wanita itu langsung kehilangan kata dan bingung harus menjawab apa. Disatu sisi dia tidak bisa membiarkan orang asing masuk dengan bebasnya, tapi disisi lain dia tidak bisa mengganggu Ketua Ksatria Aulzania yang memiliki Kedudukan tinggi.
Pada akhirnya, Murid Wanita hanya diam dengan Mata yang bergerak kesana kemari. Kecemasan dia akhirnya berhenti, ketika seorang Wanita yang merupakan Temannya memanggil dia dari Pos Penjagaan.
"Hey, ada masalah apa ...?"
Teman nya itu langsung berlari untuk menghampiri Ren dan Murid Wanita yang berada di dekatnya. Namun pada saat Wanita itu melihat siapa yang datang, dia berhenti berlari dan terdiam.
"T-Tidak m-mungkin ... Tuan Ren?"
Dan ... Wanita itu adalah Ferlin yang merupakan Putri dari Duke Fedel. Ren sendiri sedikit terkejut karena kebetulan yang saat ini sedang terjadi. Mau tak mau, setelah bertemu dengan Ferlin seperti ini, Ren harus mengalami sesuatu yang merepotkan.
"Eh, kamu mengenalnya Ferlin?" Murid Wanita itu terkejut.
Ferlin tidak menjawab dan hanya melihat Ren dengan tidak percaya. Beberapa saat kemudian, dia akhirnya tersadar dan kembali berlari untuk menghampiri Ren. Dia bahkan melewati Murid Wanita yang merupakan teman nya tanpa membalas pertanyaan nya sedikitpun.
Andai Murid Wanita itu mengalami Hal yang sama dan dia merupakan Penduduk di Bumi, Dunia tempat Ren dahulu. Dia tanpa diragukan lagi akan berkata 'Teman Sialan' atau semacamnya. Sayang sekali ini Dunia lain, dan tidak mungkin terjadi sesuatu semacam itu.
"Tuan Ren, apakah ini benar - benar dirimu?!" Ferlin bertanya dengan Gembira.
"Tidak saya sangka, akan bertemu dengan Nona Ferlin disini ... Apa selama ini Nona sehat?" Ren berbicara halus.
"Um, aku baik - baik saja, berkat Tuan Ren aku dapat memasuki Akademi ini." Ferlin berbicara senang sambil matanya berkaca - berkaca.
"Itu sangat baik, aku menolong hanya karena menginginkannya." Ren tersenyum tulus.
"Um, anu ... Maaf menyela, tapi bukankah kita harusnya tidak berbicara disini?" Murid Wanita itu berbicara.
Ferlin dan Ren langsung berbalik padanya, kemudian mereka saling mengangguk dan berpindah tempat. Sepertinya, itu akan menjadi perbincangan yang panjang, maka dari itu, Ren hanya akan muncul kembali nanti.
* * *
* * *
* * *
Setelah membicarakan banyak Hal yang dirasa tidak penting. Ren, Ferlin dan bersama dengan Murid Wanita kini sedang menuju ke tempat dimana Derrian biasanya berlatih. Pada saat Ferlin mengetahui bahwa Ren mengenal Derrian dan sampai menyebutnya hanya dengan Nama, dia terkejut bukan main.
Butuh waktu yang cukup lama sampai Ferlin dapat tersadar dari keterkejutannya itu. Namun saat itu, dia hanya bisa terkagum pada Ren karena bukan cuma kemampuan nya yang handal, namun juga mengenal seseorang seperti Derrian.
"Akademi yang bagus, mereka mengajar dengan sangat baik. Bagaimana denganmu Nona? Apakah Sihirmu sudah meningkat?"
Ren bertanya sambil berjalan disekitar Akademi, banyak Murid - Murid yang saat ini sedang berlatih. Mulai dari Sihir sampai dengan Latihan tempur dari Murid Bagian Ksatria.
"Ya, um ...Tuan Ren, anda tidak perlu terus menerus memanggilku Nona. Itu agak sedikit ... memalukan."
Andai Ferlin mengetahui bahwa Ren mempunyai seorang Teman yang menjadi Penguasa dari suatu Kerajaan. Dia pasti sudah Pingsan saat ini juga, dan lagi, dia pasti tidak akan membiarkan Ren memanggilnya Nona bagaimanapun caranya.
"Lalu, Izinkan aku memanggil hanya dengan Nama."
Setelah mengatakannya dengan tersenyum, Ren berhenti bersama dengan mereka berdua. Saat ini, mereka telah tiba di tempat Derrian biasanya berlatih. Tempat ini merupakan sebuah Arena yang dibuat Khusus di Akademi untuk para Pengajar berlatih. Dan kebetulan, Derrian sedang berlatih bersama dengan Anggota Ksatria Aulzania lainnya saat ini.
"Kalau begitu Tuan Ren, kami tidak ingin mengganggu anda. Permisi ...." Ferlin dengan terburu - buru pergi meninggalkan Ren seorang diri.
Ren hanya bisa mengerti dan memaklumi mereka berdua. Bagi para Murid Akademi ini, sosok dari Ketiga Master yaitu Derrian, Fraudlin, dan Sarlyn merupakan orang yang sangat mereka hormati dan segani. Dengan posisi seperti itu, mereka tidak akan dapat bertahan lama hanya dengan bertemu mereka bertiga.
__ADS_1
'Baiklah, mari kita sapa Derrian.'