
Malam Hari, di sebuah Bar Kota Perbatasan Ordenz.
Sekumpulan Pria Besar dan berbadan Kekar sedang berkumpul dan menikmati minuman mereka. Sesekali, mereka berbicara mengenai berbagai macam topik. Dari yang biasa sampai yang cukup Rahasia, inilah mengapa orang - orang selalu menjadikan Bar sebagai tempat pencarian Informasi. Para Pria Kekar yang sedang mabuk seperti ini akan dengan sendirinya mengalirkan Informasi yang berharga.
Krieetttt~
Pintu Bar terbuka, sesosok Pria dan Wanita yang mengenakan Jubah serta Tudung terlihat disana. Meski mereka terlihat sedang menyamar, itu tidak sepenuhnya menutupi penampilan mereka. Zirah yang mengkilap sedikit terlihat dibalik Jubah yang mereka kenakan. Memantulkan sedikit Cahaya yang menjadi Penerangan dari Bar ini.
Dengan langkah yang pelan, mereka memasuki Bar dan duduk di salah satu sudut yang kosong. Tidak ada yang memperhatikan kedatangan mereka ataupun penampilan mereka yang aneh.
"Aku memesan minuman keras terbaik disini."
"Untukku hanya sebuah Teh biasa."
Sang Lelaki adalah orang yang memesan Minuman Keras, sedangkan Sang Wanita dia hanya memesan sebuah Teh biasa. Tanpa banyak bertanya lagi, bartender dari Bar ini langsung mengangguk serta menyajikan pesanan mereka berdua.
Keduanya menikmati Minuman mereka masing - masing dalam keheningan tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Hanya terdengar suara dari para Pria berbadan kekar lah yang memenuhi Bar ini.
Para Pria Berbadan Kekar sedang asik dalam membicarakan Topik terhangat di Kerajaan Aulzania saat ini. Topik itu berkaitan dengan munculnya seorang Pahlawan baru yang menyelamatkan Kota Aulzania dari Kekacauan.
Informasi mengenai Pahlawan ini menyebar dengan cepat, berkat para Penyair yang selalu mengisahkan kisah - kisah Heroik dari tempat ke tempat lainnya.
"Kau tahu?! Penyair itu berkata kekuatan Pahlawan itu amat dahsyat! sampai bisa membelah tiga Naga sekaligus!"
"Wow! Apakah Penyair itu tidak waras?! Bagaimana mungkin seorang Manusia dapat membelah Ras Naga yang kuat itu!"
"Hahaha! Aku pun meragukan pendengaranku saat Penyair itu memulai kisahnya!"
"Ada satu hal lagi yang tidak kalah menariknya, Penyair itu mengatakan Pahlawan kita yang satu ini mempunyai sayap! Kau dengar itu, dia mempunyai Sayap!"
"Ehh! Mana mungkin itu terjadi! Jika dia mempunyai sepasang sayap, tandanya dia bukan seorang Manusia!"
"Benar sekali, mana mungkin Manusia memiliki sayap!"
"Hahaha! Aku Rasa bukan hal yang buruk juga memiliki sayap!"
"Hahaha! Aku tidak mampu membayangkan kau seorang lelaki berotot mempunyai sepasang sayap yang imut layaknya peri! Bahahaha! Aku tidak mampu membayangkannya!"
Para Pria berbadan Kekar itu mengobrol satu sama lain. Sesekali mereka tertawa lepas, membuat seluruh bangunan Bar menjadi berisik karena tawa mereka itu.
"Permisi, bisa kalian menceritakan lebih jelas tentang Pahlawan yang tadi kalian bicarakan?"
Tanpa disadari oleh semua orang, Lelaki berjubah yang memiliki penampilan tidak biasa itu kini telah berada diantara para Pria Berbadan Kekar. Hanya ketika lelaki itu mengeluarkan Suara, para Pria berbadan Kekar akhirnya menyadari keberadaannya.
"Hei Nak, jangan terlalu mengganggu percakapan orang tua seperti kami tahu?"
"Apa yang kau punya agar dapat membuka mulut kami yang sudah tua ini?"
"Bahaha! Nak seolah kau bersedia membayar satu koin emas untuk Kisah Pahlawan itu!"
Para Pria Berbadan Kekar itu terlihat mengguraukan apa yang dikatakan oleh Lelaki Berjubah. Sangat Jelas terlihat bahwa Mereka berkata lelucon soal meminta sebuah Imbalan untuk dapat menceritakan kembali tentang Pahlawan Aulzania. Namun, Lelaki Berjubah sepertinya tidak menganggap mereka mengatakan sebuah Lelucon ....
Tring!
Sebuah Koin Emas dilemparkan oleh Lelaki Berjubah ke arah sekumpulan Pria Berbadan kekar. Koin Emas itu menggelinding mengelilingi Meja yang menjadi tempat berkumpulnya para Pria Berbadan Kekar. Seketika Pandangan para Pria Berbadan Kekar itu semua mengikuti Koin Emas yang bergerak.
"Apakah itu cukup?"
Glekk....
__ADS_1
Para Pria Berbadan Kekar itu menelan ludah melihat sebuah Koin Emas dihadapan mereka. Meskipun keuangan bukanlah masalah serius yang sedang mereka hadapi saat ini. Tetapi mereka mengetahui betapa sulitnya mencari sejumlah uang dalam Jumlah besar, terlebih yang dimaksud adalah Koin Emas yang Rata - Rata hanya dimiliki oleh para Bangsawan.
"He-Hehaahahaha! Kau pikir satu Koin Emas seperti ini dapat membuat kami berbicara?! Hei Nak, lebih baik kau belajar lebih lama lagi!"
"Dua Koin Emas lagi dan kami akan mulai memberitahumu, itu juga ... Jika dirimu mampu nak! Hahaha!"
Sekali lagi, para Pria Berbadan Kekar itu mengatakannya dengan sebuah Lelucon. Mereka tidak berniat bersungguh - sungguh dalam meminta Koin Emas ini. Namun lagi dan lagi, Lelaki Berjubah itu malah menganggap perkataan mereka serius.
Tring! Tring!
Dua Koin Emas dilemparkan dan berputar mengelilingi Meja tempat para Pria Berbadan Kekar berkumpul. Pandangan mata mereka sekali lagi mengikuti arah pergerakan Koin Emas ini.
"Aku Rasa itu sudah cukup kan?"
Glekkk....
Para Pria Berbadan Kekar itu menelan ludah dan saling memandang satu sama lain. Kali ini, sepertinya mereka menyerah untuk berkata Lelucon lagi. Terlihat dari sorot mata mereka yang berubah menjadi sorot mata yang serius.
Banyak yang tidak menyadari sebuah Misteri, yaitu bagaimana cara mereka semua tersadar dari keadaan mabuk mereka.
"Baiklah Nak, kami tidak bertanggung jawab jika Informasi ini tidak sesuai dengan apa yang engkau harapkan."
"Tidak apa, selama itu cukup memberiku Gambaran mengenai Pahlawan yang kalian sebutkan itu."
"Ya baiklah, kami mendapatkan Informasi mengenai Pahlawan itu dari seorang Penyair yang suka berkelana."
"Um, Penyair itu menceritakan Kisah Heroik dari Pahlawan ini di pinggiran Jalan."
"Kemarin, Kota Aulzania diserang oleh sekelompok orang yang tidak diketahui siapa dan darimana asalnya."
"Penyair itu mengatakan dengan jelas bahwa, salah satu orang dari Kelompok tersebut kemungkinan seorang Necromancer."
"Namun bukan Undead itulah yang paling mengerikan dari semua ini. Penyair itu mengatakan bahwa ada tiga Naga yang sangat menyeramkan, membuat kehancuran dan kekacauan diseluruh Kota Aulzania."
"Ya, pada saat itulah, Pahlawan ini muncul, kedatangan dirinya begitu misterius. Tidak ada yang mengenal maupun mengetahui darimana Pahlawan ini muncul."
"Dari apa yang dikatakan oleh Penyair itu, Pahlawan ini memiliki penampilan dan ciri - ciri yang unik. Dia mengenakan sebuah Pakaian yang unik sekaligus asing berwarna Hitam, ada beberapa corak kemerahan di setiap sudut Pakaian miliknya."
"Yah, Penyair itu juga mengatakan bahwa dia membawa sebilah Pedang yang sangat indah dan tidak terbayangkan."
"Tidak terbayangkan? Hei, kau tidak mabuk kan? Jelas - Jelas Penyair itu mengatakan bahwa Pedang ini sangat Indah dan luar biasa! Bukan tidak terbayangkan!"
"Kau ini hanya ingin membuatku terlihat bersalah kan?! Apa gunanya kau memperdebatkan hal sepele seperti itu!"
"Sssttt! Sudahlah kalian, mari lanjut bercerita ...."
"Lalu, sebuah pernyataan yang hampir Mustahil dipercayai dilontarkan oleh Penyair itu."
"Hm? Mengapa itu Mustahil untuk dipercayai?" Lelaki Berjubah menyuarakan pertanyaan.
"Ya! Bayangkan saja! Penyair itu mengatakan bahwa dia melihat Pahlawan ini membelah sebagian Ibukota! Bagaimana?! Apa kau mempercayai sesuatu yang Gila semacam itu!"
"Aku mengerti perasaanmu, tapi bisakah kau menenangkan dirimu sedikit?!"
"Tch, kalian tidak bisa tenang ya?! Biar aku saja yang menyelesaikan semua ini."
"Pahlawan itu membelah sebagian Kota Aulzania menggunakan Pedang yang dia genggam. Penyair itu sendiri mengatakan dirinya dalam keadaan menyedihkan saat itu, dan tidak bisa membuktikan kepastian ucapan nya."
"Sayang sekali, dalam waktu yang cukup lama, Penyair itu tak sadarkan diri dan tidak bisa melihat apa yang terjadi secara langsung."
__ADS_1
"Yang jelas dia mengatakan begitu dia tersadar, langit sudah menjadi Gelap dan Kota Aulzania sudah menjadi tenang kembali."
"Lalu, kau tadi mengatakan Pahlawan itu membelah Tiga Naga sekaligus kan?! Mengapa sekarang Cerita itu menjadi tidak ada!"
"Sabar sedikit! Penyair itu kembali terbangun, lalu dia mulai mencari beberapa Informasi dari para Penduduk sekitarnya. Nah, dari sana dia mendapatkan Informasi bahwa Pahlawan itu berhasil membelah Tiga Naga sekaligus!"
"Mencurigakan ...."
"Sangat Mencurigakan ...."
"Untuk apa seorang Pria Tua sepertiku berbohong?!"
Para Pria Berbadan Kekar kemudian saling berdebat tentang suatu hal yang tidak jelas. Melihat ini, Lelaki Berjubah hanya bisa menghela Napas dan memikirkan apa yang diceritakan oleh mereka.
"Haa ... Baiklah, itu sudah cukup ...." Pria Berjubah hendak beranjak pergi dari Kerumunan Pria Berbadan Kekar, namun langkahnya terhenti dan berbalik kembali.
"Maaf, aku memiliki sedikit pertanyaan, dari Kota ini menuju Kota Aulzania, apakah ada jalan tercepat yang bisa aku lewati?"
Atas pertanyaan Lelaki Berjubah, para Pria Berbadan Kekar yang sedang berdebat itu menghentikan perdebatan mereka.
"Hanya ada satu Jalan dari Kota Ordenz ini untuk menuju Ibukota ...."
"Ya, Dan Jalan itu terhubung ke Kota Rithal di bagian Selatan Kota ini. Dari sana, kau bisa bergerak langsung menuju Ibukota."
"Baiklah, aku mengerti ... Terima Kasih atas Informasinya."
Ketika Lelaki Berjubah itu pergi, Para Pria Berbadan Kekar itu kembali berdebat satu sama lainnya. Sedangkan untuk Lelaki Berjubah, dia kembali duduk di dekat Wanita yang dari awal bersama dengannya.
"Nona, saya sudah mendapat Informasi, kita akan berangkat besok." Lelaki berjubah itu berbisik.
"Um... Aku tahu itu." Balas Wanita itu dengan suara pelan.
Setelah melakukan perbicangan singkat yang sulit dimengerti itu. Keduanya membayar pesanan mereka tadi pada Bartender. Kemudian mereka beranjak pergi untuk meninggalkan Bar ini. Tidak ada yang mengetahui dengan pasti, kemana tujuan mereka dan siapa sebenarnya mereka ini ...
Para Pria Berbadan Kekar pun terlihat tidak lagi mempedulikan mereka berdua. Lagipula, Informasi mengenai Pahlawan Aulzania ini sudah menjadi suatu Hal yang umum. Mereka tidak merasakan sesuatu yang mencurigakan sama sekali.
*
*
*
*
*
Sementara itu, Ren dan Kanza telah selesai melakukan perbicangan dengan Para Wanita Muda. Ren berhasil melewati semua itu tanpa mengalami sebuah Konflik yang berarti. Saat ini, Ren sedang duduk bersama dengan Kanza, Rakuza, serta Nirlayn di salah satu tempat di Aula Pesta.
"Hachyii!" Ren tiba - tiba Bersin.
"Apa yang terjadi Ren-sama?"
Nirlayn yang belum pernah melihat Ren sekalipun bersin kini menjadi kebingungan dan bertanya.
"Ahh ... Ya ampun, bagaimana bisa aku bersin secara tiba - tiba begini? Haa ... Kau tidak perlu mengkhawatirkannya Nirlayn, mungkin ada seseorang yang sedang membicarakanku saat ini?" Ren mencoba menjelaskan dengan Nada yang Ragu - Ragu.
"Eh? Baiklah, jika itu keinginan anda." Balas Nirlayn dengan keraguan yang sama.
Pesta belum mencapai puncak yang sesungguhnya. Kehadiran Keluarga Kerajaan masih ditunggu oleh semua orang yang hadir disini. Sudah menjadi sebuah Tradisi jika Keluarga Kerajaan akan menghadiri Pesta pada saat - saat terakhir. Maka dari itu, kedatangan mereka yang terlambat ini sama sekali tidak dianggap aneh oleh para orang yang hadir di Pesta ini.
__ADS_1
Mungkin, hanya kelompok Ren lah yang merasakan keanehan akan keterlambatan Keluarga Kerajaan ini ...