
Ren membawa mereka semua ke salah satu Rumah Makan terbaik di Kota Aulzania. Rumah Makan ini menyediakan Tempat Makan yang terpisah karena menggunakan Bilik sebagai sekat untuk mencegah para Pelanggan tercampur. Sebuah Tempat yang sangat cocok untuk dijadikan Tempat Bicara.
Kanza, Nirlayn dan Ren duduk saling berdampingan dengan Ren yang berada di Tengah. Sementara Kedua orang itu, berada dihadapan mereka, dengan kata lain mereka saling berhadapan saat ini.
"Jadi apa yang kalian mau?" Ren berkata sebagai orang yang memulai Pembicaraan.
Salah satu dari Kedua orang itu membuka Penutup Kepalanya, menampilkan sebuah Wajah dari Pria Tampan ala Ksatria. Dia mengenakan sebuah Kacamata yang dilengkapi dengan sorot Mata yang cukup Tajam.
"Maafkan saya sebelumnya, saya adalah Ritter Zorrano seorang Pengawal dari Nona ini."
Ritter menunjuk pada satu orang lagi yang ada di sampingnya. Orang itu pun tidak diam, dia melepas Penutup Kepala miliknya dan menampilkan Wajah dari seorang Wanita Dingin namun dipenuhi dengan Tekad.
Ren memperhatikan Wanita itu secara singkat dan segera mengalihkan kembali Perhatian pada Ritter seolah tidak tertarik.
"Lalu ...?" Balas Ren singkat.
"Anda ... Adalah Pahlawan Aulzania, benar?"
"...."
Ren tidak langsung menjawab, Ren menatap pada Ritter dengan seksama, dan berusaha mencari apa sebenarnya Niat Ritter.
"Apa hanya itu? Kalian menggangguku hanya karena Hal ini?" Ucap Ren dengan penuh Kekesalan.
"Tidak, kam- ..."
"Biar aku katakan, kalian bertemu dengan orang yang salah."
Suasana disekitar mereka seketika menegang. Itu dikarenakan Ren yang berbicara angkuh dan tak memberikan kesempatan pada lawan bicaranya.
Dan disaat seperti ini, Ritter seharusnya terprovokasi serta mengeluarkan Amarahnya. Akan tetapi, sepertinya dia terlatih dengan cukup baik, terbukti dari dia yang masih dapat menahan ketenangan meski diremehkan.
"Anda tidak perlu merendah, kami sangat yakin anda adalah Pahlawan Aulzania." Ritter berkata dengan penuh percaya diri dan keyakinan.
"Hahh ..." Helaan Napas Ren terdengar.
Sepertinya, mereka mengetahui Kebenaran ini ketika Ren menghentikan Serangan Kanza sebelumnya. Dalam Waktu yang sesingkat itu, mereka dapat merasakan Persamaan Mana Ren dan Pahlawan Aulzania. Berbohong disaat seperti ini pun hanya akan membuat Ren terlihat Bodoh.
"Baiklah, terserah apa katamu."
"Terima Kasih Tuan Pahlawan." Senyum kemenangan muncul di Wajah Ritter, "Kedatangan kami kemari ingin memi- ..."
"Ritter, biarkan aku yang bicara." Wanita itu menyela perkataan Ritter.
"Nona?"
Ritter terlihat ragu - ragu dan menatap Wanita disebelahnya. Tetapi, setelah Wanita itu mengangguk seolah telah memutuskan sesuatu, Ritter menghela Napas dan mempersilahkan Wanita itu bicara.
"Tuan Pahlawan, aku adalah Erfila Lercuela Ni Efidoxia. Saya adalah anak Tunggal dari ..."
"Raja Efidoxia kan? ... Apa yang membuatmu datang kemari?"
Mengesampingkan apakah mereka Utusan Kerajaan Efidoxia atau bukan. Sudah pasti mereka meminta suatu hal yang merepotkan.
"Itu ... Kedatangan kami kemari, hanya ingin meminta Bantuan anda."
Kecemasan muncul di wajah Erfila saat menyatakan dirinya meminta Bantuan. Cemas karena takut permintaannya akan ditolak secara mentah - mentah, Cemas karena takut Ren berbuat sebaliknya dan malah memanfaatkan dirinya. Bisa dikatakan, Erfila telah menanggung Risiko yang besar setelah dia menyatakan dirinya seorang Putri dari Kerajaan Efidoxia.
'Apa Takdir dengan sengaja membawa kalian padaku?' Gerutu Ren dalam Hati.
Ren sudah dapat menduga ini, tidak mungkin seorang Utusan Kerajaan Efidoxia mencari keberadaan Ren yang seorang Pahlawan Aulzania. Seharusnya jika memang mereka Utusan Resmi, maka mereka akan lebih memilih mencari Raja Esdagius. Tapi, apa yang terjadi sehingga Tuan Putri mereka sendiri yang datang meminta Bantuan?
"Hahh." Ren memegang Kepala seraya menghela Napas, "Aku akan mendengarkan penjelasan ini terlebih dahulu."
Soal apakah Ren akan menerima atau tidaknya itu adalah Urusan nanti.
...
"Jadi maksudmu ..." Protes Kanza.
"... Kau meminta Ren-sama untuk membatalkan Urusan Pribadimu? Sebuah Pernikahan?" Sambung Nirlayn seraya melotot ke arah Erfila.
Di Bawah Tatapan Nirlayn dan Kanza yang begitu menekan membuat Keberadaan Erfila semakin lama semakin mengecil. Namun, Ren tidak dapat menyalahkan Protes Kanza dan Nirlayn. Memang apa yang dikatakan oleh Erfila soal meminta Bantuan itu hanya menyangkut urusan pribadinya.
Singkatnya, Erfila diperintahkan oleh Raja Efidoxia untuk menikahi seorang Lelaki berkedudukan tinggi dari Kekaisaran Lodysna. Dikarenakan Erfila tidak terima dan tidak menginginkan Pernikahan Paksa seperti ini, dirinya kabur dari Kerajaan Efidoxia ke Kerajaan Aulzania. Sebuah Pertanyaan Besar disini adalah, mengapa dia datang pada Pahlawan Aulzania untuk meminta Bantuan?
__ADS_1
'Sepertinya masalah ini tidak sesederhana itu.' Benak Ren Berbicara.
Disaat Ren berpikir, Cahaya Matahari menembus sela - sela Jendela dan mengenai Matanya. Menyadarkan Ren akan urusan yang sesungguhnya mengapa dia datang ke Kota Aulzania.
"Ya ampun, kalian hanya membuang - buang Waktuku." Ren berkata seraya beranjak dari tempat duduknya. Sebelum dia berjalan dan benar - benar pergi, Ren menoleh ke arah Dua orang itu kembali dan berkata, "Ini adalah Kartu Namaku, simpan ini dan Temui aku kembali Esok Hari disini."
Sebuah Kertas terbang dari Tangan Ren dan mendarat tepat dihadapan Erfila dan Ritter. Setelah memastikan mereka menerimanya, Ren segera pergi dengan diikuti oleh Kanza dan Nirlayn.
Darimana Kartu Nama itu berasal mungkin hanya Ren sendiri yang mengetahui. Yang Jelas, ketika Erfila membuka Kartu Nama itu, disana terdapat sebuah Tulisan.
<>
____________________________________________
* * *
* * * ____________________________________________
Istana Kerajaan Aulzania
Semua orang telah siap untuk melakukan Upacara Penyambutan. Dimulai dari Raja Esdagius, Ratu Rialna dan Putri Sylna yang merupakan Keluarga Inti Kerajaan, sampai dengan para Prajurit beserta Pelayan, mereka semua telah hadir dan siap untuk menyambut Ren kapan saja.
Begitu Ren tiba, para Prajurit yang telah bersiap di Kedua sisi Jalan langsung mengangkat Senjata mereka sebagai bentuk Penghormatan.
"Tuan Dirvaren! Senang dapat bertemu anda kembali, hahahaha."
"Selamat Datang kembali Tuan Dirvaren."
"Selamat Datang, Tuan Dirvaren."
Raja Esdagius menyambut Ren dengan Penuh semangat. Sedangkan Ratu Rialna menyambut Ren dengan sikap yang anggun. Untuk Putri Sylna sendiri, Ren merasa bahwa dia bersikap lebih Dewasa dari Biasanya.
"Terima Kasih atas Penyambutan yang baik ini Raja Esdagius." Ucap Ren dengan senyuman.
"Terima Kasih, Raja Esdagius." Nirlayn berkata seraya sedikit membungkuk ke arah mereka.
Mungkin karena Pesan yang disampaikan oleh Nirlayn tentang betapa Pentingnya pertemuan ini, karena itu Raja Esdagius melakukan Penyambutan yang lebih baik.
"Saya mendengar bahwa Pertemuan ini akan membicarakan suatu hal yang sangat penting. Karena itu Tuan Dirvaren dan Nona Nirlayn, bagaimana jika kita segera ke Ruang Pertemuan?"
Ren mulai berjalan mengikuti Raja Esdagius ke tempat Pertemuan. Memasuki Istana Kerajaan Aulzania yang terasa biasa saja.
'Nona Nirlayn?' Benak Ren Keheranan.
Ren baru mengetahui Raja Esdagius memanggil Nirlayn dengan sebutan Nona. Apakah hanya Ren yang baru tahu saat ini? Atau ini merupakan sebuah Panggilan baru? Ren masih kebingungan, tetapi dengan segera dia menepis pemikiran yang tidak penting ini.
Perhatian Ren kembali pada apapun yang dia lewati di Istana. Pikiran Ren dengan sendirinya membandingkan antara Istana Kerajaan Aulzania dengan [Bloody Palace of the Monarch] Miliknya. Namun dilihat darimanapun, sudah Jelas [Bloody Palace of the Monarch] Jauh lebih unggul.
Disaat membandingkan seperti ini ....
"Nah Tuan Dirvaren, kita telah tiba."
Raja Esdagius menyadarkan Ren dan memberitahu bahwa mereka telah tiba.
"Um ..." Ren mengangguk.
Ren dan Raja Esdagius memasuki Ruangan. Lalu diikuti oleh Nirlayn bersama dengan Ratu Rialna dan Putri Sylna. Untuk menjaga Kerahasiaan, tidak ada yang diperbolehkan untuk memasuki Ruangan ini selain mereka.
Di dalam Ruangan, hanya ada sebuah Meja yang dilengkapi oleh Kursi yang saling berhadapan. Sementara di belakang masing - masing Kursi, terdapat dua kursi lainnya.
Ren dan Raja Esdagius menempati Kursi yang dilengkapi oleh Meja. Sementara yang lainnya menempati Kursi yang tersisa.
Ren memejamkan Mata, lalu menghirup Napas dalam - dalam. Setelah itu, Ren mulai berkata, "Raja Esdagius, aku memiliki sebuah Rencana yang cukup besar."
Raja Esdagius mengetahui, Rencana yang dipikirkan oleh Ren pasti adalah suatu hal yang besar. Meski Ren mengatakan itu dengan Tambahan Kata 'Cukup' tetapi perkataannya sama sekali tidak dapat dipercaya.
"R-Rencana macam apa itu Tuan Dirvaren?" Tanya Raja Esdagius sambil mengeluarkan Keringat di Wajahnya.
"Rencana, untuk membangun sebuah Wilayah Kekuasaan Baru. Sebuah Negara yang baru. Dengan kata lain, aku akan membangun sebuah Kerajaan atau Kekaisaran sendiri."
Brakkk!
"APA?!" Teriak Raja Esdagius karena terkejut setengah Mati.
Tidak hanya Raja Esdagius, Ratu Rialna dan Putri Sylna pun langsung membulatkan Mata mereka seolah tidak percaya dengan Pendengaran mereka sendiri. Membuat sebuah Kerajaan atau Kekaisaran Baru, tidak pernah sekalipun mereka berpikir Ren akan menyatakan Hal ini.
__ADS_1
Beberapa Hal tentang Ren pernah membuat mereka Terkejut sampai tidak dapat berkata - kata lagi. Namun diantara semua itu, Pernyataan Ren yang satu ini memiliki dampak yang lebih besar daripada yang lainnya.
Raja Esdagius yang telah berteriak dan menggebrak Meja dengan cara yang tidak sopan segera memperbaiki Posisinya dan kembali duduk.
"M-Maafkan saya Tuan Dirvaren, saya tidak dapat menahan Keterkejutan ini." Ucap Raja Esdagius seraya menenangkan diri.
Ren tentu saja memakluminya, Reaksi mereka semua kurang lebih masih dapat dimengerti. Siapa yang tidak akan terkejut ketika seseorang mengatakan dirinya sendiri akan membangun sebuah Negara? Jika itu orang biasa, maka dia pasti akan ditertawakan dan dianggap Gila. Tidak dianggap Gila saja sudah merupakan Keberuntungan.
"Hahaha, aku mengerti Raja Esdagius. Kalian pasti sangat terkejut oleh Pernyataanku."
'Kami bahkan hampir terkena Serangan Jantung.' Wajah mereka semua dengan Jelas mengatakan ini.
"S-Sekali lagi Tuan Dirvaren, apa anda serius mengatakan Hal ini?" Tanya Raja Esdagius untuk memastikan.
"Apa aku terlihat sedang bercanda?"
Semua orang tentu akan menjawab "YA!" Jika diperkenankan untuk berkata Jujur. Namun sayangnya, mereka tidak memiliki keberanian untuk berkata seperti itu pada sosok yang telah menyelamatkan Kerajaan mereka.
"A-Ah, Begitu ... Saya mengerti."
"Bagus, jadi apa pendapatmu mengenai Rencanaku?"
Raut Wajah Raja Esdagius langsung berubah menjadi sangat - sangat serius. Semua Otaknya kini digunakan untuk mencari Jawaban atas Pertanyaan Ren yang satu ini.
Setelah Beberapa Waktu, barulah Raja Esdagius membalas, "Tuan Dirvaren, bahkan saya tidak memiliki Pengalaman dalam mendirikan sebuah Kerajaan. Saya hanya seorang Raja yang mewarisi Kerajaan, bukan mendirikannya. Meski demikian, saya akan berusaha memberikan Pendapat saya."
Raja Esdagius menghirup Napas dalam - dalam dan memikirkan Perkataan yang tepat untuk dikatakan. Sementara Ren hanya menunggu dalam diam seraya mengeluarkan sedikit senyuman. Sedangkan untuk Nirlayn, Ratu Rialna dan Putri Sylna, tidak perlu dikatakan lagi bahwa Pembicaraan ini sudah terlalu Jauh untuk mereka ikuti.
Kembali pada Raja Esdagius, dia akan memulai Penjelasannya.
"Tuan Dirvaren, membangun sebuah Kerajaan adalah Masalah yang sangat serius. Banyak Rintangan dan Pekerjaan yang harus anda selesaikan demi terciptanya sebuah Kerajaan yang aman dan damai serta nyaman untuk ditinggali. Semua itu, tentu membutuhkan Pengorbanan dan Kerja Keras yang sangat besar, bahkan untuk anda yang luar biasa, Mustahil mendapatkan semua itu dengan mudah."
"Rintangan yang terbesar Pertama adalah mendapatkan Pengakuan dari Kerajaan dan Kekaisaran lain yang ada di Benua ini. Mereka tentu tidak akan tinggal diam setelah mendengar semua ini. Dapat dipastikan, anda akan mengalami Penentangan dari Berbagai Pihak. Setelah itu terjadi, bukan tidak mungkin Peperangan akan terjadi."
"Lalu yang Kedua adalah mempertahankan Kerajaan itu untuk tetap berdiri. Mungkin tepat jika saya mengatakan bahwa mempertahankan itu akan lebih sulit daripada mendirikan. Dalam Proses mempertahankan, akan ada banyak Gangguan, mulai dari Gangguan yang disebabkan dari dalam seperti Pemberontakan sampai dengan Gangguan yang berasal dari Luar seperti Penyerangan."
"Sebuah Kerajaan Baru harus memil- ..."
Penjelasan Raja Esdagius terhenti ketika dirinya mengingat suatu hal yang terpenting.
"... T-Tuan Dirvaren, mengesampingkan soal Pendapat saya. Dimana anda akan mendirikan Kerajaan Baru itu ...?"
"Hm ..." Ren dengan sengaja menampakan sebuah Ekspresi penuh makna. Membuat semua orang mengucurkan Keringat mereka dan bersiap untuk mendengar Jawaban yang mengejutkan selanjutnya.
Setelah beberapa saat diam dengan Ekspresi seperti itu, Ren kembali pada Ekspresi Santainya dan berbicara, "Hutan Loudeas." Seolah bukan apa - apa.
"..."
Brakk!
Raja Esdagius langsung tak sadarkan diri.
____________________________________________
* * *
* * * ____________________________________________
"Begitu ... Saya sudah mengerti sepenuhnya."
Setelah tak sadarkan diri untuk Waktu yang cukup lama. Raja Esdagius akhirnya mengangguk mengerti dengan Penjelasan Ren yang Panjang Lebar. Tidak ada Keraguan, Keterkejutan maupun Kecemasan pada Wajahnya, hanya ada sebuah Keyakinan yang tak tergoyahkan dalam Ekspresinya.
"Jika seperti itu maka ..." Raja Esdagius mengikuti Ren yang berdiri lalu menjabat tangannya, "Saya, Esdagius Losgan Ri Aulzania, Raja Kerajaan Aulzania, menyatakan akan memberi dukungan penuh pada anda."
"Aku akan menerimanya dengan senang Hati."
Mungkin ini adalah Pertemuan yang singkat, akan tetapi, Ren telah berhasil mendapatkan Bantuan dari Kerajaan Aulzania seperti yang dia harapkan. Hanya tersisa beberapa Urusan yang harus Ren selesaikan untuk dapat benar - benar mendirikan sebuah Negara seperti yang direncanakan.
Terbentuknya sebuah Negara Baru ini akan diumumkan di Pertemuan para Pemimpin dari seluruh Benua nanti. Pertentangan, Perselisihan maupun Peperangan, Ren akan menghadapi semua itu untuk mendapatkan Pengakuan dari mereka semua.
Meskipun ini bukanlah Tujuan Utama mengapa Ren dipindahkan ke Dunia yang penuh dengan Ketidak Masuk akalan ini. Tetapi setidaknya, Ren dapat memenuhi Keinginan Terbesar dalam Hidupnya yaitu mendirikan sebuah Negara di Dunia Fantasy.
______
*Catatan Author : Hoo~
__ADS_1
Sudah Empat Hari saya gk update, sepertinya akan mendapat protes (mungkin). Tapi, saya tidak dapat menyangkalnya ... Beberapa Hari terakhir, Mood saya anjlok, Imajinasi saya langsung menjadi terbatas. Mungkin, Chapter ini juga menjadi tidak jelas dan ngawur. Entah apa penyebabnya, Hm* ...