Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 28 : Percakapan


__ADS_3

Istana, Kerajaan Aulzania.


Sebuah Istana yang terbentang sangat luas di Ibukota Aulzania. Terletak di pusat Kota, Istana ini dikelilingi oleh sebuah tembok kuat dan kokoh untuk membatasi siapa saja yang bisa masuk ke istana.


Istana ini sendiri dibuat dengan indah dan megah. Dihadapan istana, sebuah jalan terbentang dari pintu istana sampai ke pintu gerbang masuk istana.


Istana memiliki 6 sudut yang berbeda, setiap sudut memiliki sebuah menara yang berbeda.


Dimana Ruang Takhta berada, Sang Raja Esdagius Losgan Ri Aulzania duduk di singgasana. Meski sudah berumur 40 tahun, tubuhnya tetap tegap dan kokoh. Parasnya juga masih terbilang tampan di usianya. Memiliki rambut perak keemasan menambah kesan kuat pada wajahnya. Pakaian yang dia kenakan juga menambah kesan kebijaksanaan dan wibawa yang dia miliki.


Di samping kanan nya, Sang Ratu Rialna Asdeen Ri Aulzania berdiri mendampingi Sang Raja. Paras Ratu yang Cantik dengan rambut panjang berwarna perak yang terurai menambah keindahan dirinya.


Gaun berwarna es yang dikenakan Sang Ratu sangat indah, dihiasi oleh permata - permata di setiap sudutnya.


Sedangkan sebelah kiri, seorang lelaki muda yang merupakan pangeran pertama, Etharez Hilren Ri Aulzania berdiri dengan gagahnya. Pangeran adalah seorang pria muda tampan berambut perak.


Perawakannya seimbang, tidak kekar, tidak kurus, maupun tidak gendut. Ketampanan nya semakin bertambah dengan pakaian yang dia kenakan.


Sementara itu dihadapan Singgasana Raja, para ksatria yang memakai Zirah putih berdiri berbaris di kedua sisi.


"Duke Tayslen Vendicurt, apa urusanmu sampai berani meminta Raja untuk mendengarkanmu pada pagi hari seperti ini?"


Pangeran berbicara, Ada sedikit ketidaksukaan dalam kata - kata nya.


"Maafkan Saya, Pangeran. Urusan ini begitu penting."


Tayslen Vendicurt, berlutut di depan Sang Raja dan menundukan kepalanya dalam - dalam.


"Meski begitu, Tayslen. Kau tidak harus bersikeras seperti itu, apakah kau tidak tahu sopan san-"


"Cukup, Rialna. Biarkan dia berbicara."


Raja akhirnya mengeluarkan suara, memotong perkataan sang Ratu.


"Baiklah, Rajaku... Tayslen kau diperbolehkan menjelaskan apa yang terjadi. Jika urusan itu tidak sepenting seperti yang kau katakan, maka kau tahu konsekuensi nya kan?"


"Glekk.... Terima kasih Yang Mulia Raja, Yang Mulia Ratu. Hamba akan menjelaskan ini sesingkat tapi sejelas mungkin."


Tayslen berwajah pucat, keringat keluar dari kening nya.


"Yang Mulia Raja, urusan ini berkaitan dengan Kota Rondelia. Semalam, Kota Rondelia diserang oleh sekumpulan orang, ada kemungkinan  mereka berasal dari Kelompok jahat yaitu Night Corpse."


"Putri Hamba, Gyslen Vindecurt. Pada awalnya berencana untuk menangkap Vampire yang telah menerror Kota Rondelia malam tadi. Tapi pria yang dia jadikan pengawal sekaligus kekasihnya yang bernama Zell ternyata seorang bagian dari kelompok misterius itu. Zell adalah orang yang menyarankan Rencana penangkapan Vampire itu, padahal Niat dia sebenarnya adalah memancing seluruh pasukan Kota Rondelia keluar sekaligus dan menguasai kota."


"Akibatnya, Putri hamba menerima kekalahan. Seluruh pasukan yang dia bawa terbunuh tak bersisa. Putri Hamba bahkan masih tersiksa sampai saat ini."


Tayslen menunduk, wajah nya terlihat marah dan sedih.


Mendengar penjelasan Tayslen, wajah Ratu, Pangeran beserta para Ksatria terlihat terkejut.


"Apakah maksudmu bahwa Kota Rondelia hampir dihancurkan dan di ambil alih?!"


Pangeran bertanya dengan wajah terkejut, dan tak percaya.


"Ternyata ini masalah yang lebih serius dari dugaanku."


Ratu menyuarakan keterkejutan yang sama.


Raja kemudian mengangkat tangannya, agar tidak ada suara lagi.


"Aku mendengar beberapa kejanggalan, kau bilang musuh telah membunuh semua pasukan disana. Tapi putrimu satu - satu nya yang masih hidup kan? apa yang kau maksud dengan tersiksa? Putrimu terkena kutukan atau sejenisnya?jelaskan Tayslen."


"A-Anda Benar Raja, Putri hamba memang masih hidup dan dalam keadaan tersiksa.


Namun, hamba tidak yakin apa yang terjadi dengan putri hamba, dia terbungkus oleh sebuah kotak transparan yang terlihat seperti segel. Di dalamnya, putri hamba tersiksa dan mengalami mimpi buruk, untuk lebih jelasnya hamba tidak yakin bisa menyebutkannya dihadapan Yang Mulia..."


Raja, Ratu dan Pangeran mengangkat alisnya. Hal apa yang membuat seorang Tayslen tidak dapat menyebutkan nya dihadapan sang Raja?

__ADS_1


"Katakanlah, ini perintah."


"B-Baik, di dalam kotak itu putri hamba disiksa dengan siklus mengerikan.! Setiap beberapa waktu, sebagian tubuh putri hamba akan meledak. Dari dalam tubuh putri hamba akan muncul sebuah benda tajam yang terlihat seperti darah. Yang lebih mengerikan dan kejamnya lagi, beberapa waktu lagi putri hamba akan sembuh sepenuhnya. Tapi, akan meledak lagi... Begitu seterusnya... Yang Mulia."


Tayslen terlihat putus asa, nafasnya tidak teratur.


"Ap-Apa..??" Sang Ratu menutup mulutnya.


"Apakah kau serius, Duke Tayslen?!" Pangeran juga terlihat tak percaya.


"Tayslen. Apakah kau sudah menyuruh penyihir untuk memeriksa kutukan macam apa itu?" Raja juga sedikit terkejut.


Tapi, seperti yang diharapkan dari seorang Raja. Dia masih menampilkan wajah yang berwibawa, tenang, dan bijaksana.


"Sayang nya sudah, mereka tidak mengetahui apapun." Tayslen menggelengkan kepala.


"Tapi Yang Mulia, ada kejadian aneh pada malam itu.... Sebuah Getaran hebat menggoncangkan seluruh Kota, kemudian diikuti oleh sebuah Hujan.... Darah." Tayslen berkata dengan serius.


"Begitukah... Namun, hujan darah ya... Lupakan. Aku sudah mengerti maksudmu. Aku akan mengirimkan Sarlyn bersama beberapa Ksatria Aulzania ke Rondelia nanti."


"T-Terima kasih banyak!! Yang Mulia, Hamba sungguh berterima kasih! seperti yang diharapkan dari anda bisa menebak maksud kedatangan hamba!"


Tayslen menunduk dalam - dalam, memberikan rasa terima kasih terbesar nya pada Raja.


"Um... Ini masalah serius bagi Kerajaan, sudah seharusnya aku menanggapi ini dengan serius." Raja mengangguk.


"Kau sudah boleh pergi sekarang." Raja memberi perintah.


"Baik!" Tayslen membungkuk sekali lagi, kemudian dengan perlahan dia berjalan mundur dan keluar dari Ruang Takhta.


Ruang Takhta menjadi hening, tidak ada siapapun yang berani berbicara.


Mereka hanya menunggu Raja mereka memulai perkataan terlebih dahulu.


"Ehm! Kalian keluarlah, lanjutkan kegiatan kalian masing - masing. Kecuali untukmu Derrian." Raja memerintahkan Ksatria yang berjajar rapi untuk keluar, kecuali satu orang.


Satu per satu dari mereka memberi hormat pada Raja dan berjalan keluar dari Ruang Takhta.


"Hamba menghadap Yang Mulia, apa yang ingin anda bicarakan dengan Hamba?"


Pria yang bernama Derrian menunduk lalu berlutut dihadapan Raja.


"Derrian, aku hanya ingin bertanya padamu yang memiliki wawasan yang luas didunia pertarungan. Apa kau tahu sihir atau kutukan macam apa itu?" Raja bertanya.


"Dengan segala permintaan maaf, bahkan hamba belum pernah mendengar sesuatu semacam itu. Jika itu hanya kutukan yang meledakan tubuh seseorang pada waktu tertentu, saya tahu hal itu. Namun, menurut apa yang Duke Tayslen bicarakan, kutukan ini memiliki siklus berulang dan akan meledak secara terus menerus selama kutukan ini ada. Lebih anehnya luka yang diterima putri nya dapat kembali sembuh.


Ini berarti Kutukan ini akan berjalan selama - lama nya.  Saya Rasa Rahasia semua ini ada pada Kotak Transparan yang Duke Bicarakan Yang Mulia."


"Penjelasan yang bagus dan masuk akal, Derrian. Aku suka kemampuanmu dalam menganalisa situasi dengan cepat." Raja memuji derrian dengan tulus.


"Saya tidak pantas mendapatkan pujian seperti itu, Yang Mulia."


"Tidak apa, kau memang memiliki kemampuan dalam hal itu... Dan lagi..."


"Putraku, sebaiknya mulai sekarang kau harus berhati - hati. Begitu juga denganmu Rialna kau juga harus berhati - hati, ada kemungkinan mereka mengincar keluarga kerajaan secara langsung."


"Baik, Yang Mulia." Pangeran membalas.


"Tentu saja, Rajaku." Ratu membalas.


"Kalau begitu, pertemuan ini dibubarkan." Raja memerintahkan.


Setelah memerintahkan bubar, Raja merenung.


"Semoga saja Serlyn bisa menganalisa Kotak aneh itu.." Raja bergumam dalam hatinya...


*

__ADS_1


*


*


*


*


*


Kali ini, di sebuah Aula yang hanya diterangi sedikit cahaya.


Aula yang mengeluarkan perasaan tidak menyenangkan dan mengerikan. Di setiap sudut aula ini, terdapat patung iblis yang menyeramkan dengan kedua mata merah yang menyala.


Sedangkan, di pusat aula ini ada 3 buah kursi yang mengelilingi meja melingkar.


Ketiga Kursi di isi oleh orang yang berbeda, satu orang lelaki dan dua orang wanita.


Mereka semua bukanlah manusia, terlihat dari dua tanduk yang ada pada kepala mereka. Sepasang sayap juga menempel pada punggung mereka.


"Reynalue, aku menerima informasi bahwa orang - orang mu gagal dalam menjalankan misi dari Chief untuk menguasai Kota Rondelia. Bagaimana kau dapat bertanggung jawab akan hal ini?"


Seorang Pria tua yang terlihat menyeramkan dengan hidung runcing dan kepala botak berbicara dengan sinis.


"Huhuhu, Reynalue memang selalu gagal bukankah begitu Nidgor?"


Kali ini Giliran wanita dengan wajah licik yang berbicara. Kata - Kata nya mengandung sindiran yang keras.


"Tch... Bukan aku yang Gagal, melainkan para bawahanku! bagaimana kalian menyalahkan aku di situasi seperti ini?!"


Wanita yang bernama Reynalue menentang kedua orang lainnya yang menyalahkan dia.


Reynalue memiliki tubuh yang kecil, tapi anehnya wajahnya terlihat dewasa.


"Kesalahan bawahanmu merupakan kesalahanmu juga Reynalue." Nidgor berbicara.


"Ugh..... Bagaimana denganmu Irlyana? bukankah kau juga pernah melakukan kesalahan?"


"Fufufu... Aku memang pernah melakukan kesalahan, tapi tak sebanyak dirimu." Wanita bernama Irlyana menampakan senyum licik.


"Sudah cukup kalian berdua, Chief memintaku untuk mendengarkan penjelasanmu Reynalue."


"Haaa..... Pada awalnya Rencana berjalan dengan sangat baik. Kami berhasil mengkambing hitamkan seorang Vampire yang kebetulan berada di kota itu. Tapi, pada malam operasi, seorang pria aneh dan mengerikan muncul." Reynalue berbicara.


"Mengerikan hanya dalam pandanganmu bukan? fufufufuf.."


"Diam Irlyana! lanjutkan Reynalue." Nidgord menbentak Irlyana.


"Pria aneh itu dalam sekejap membantai seluruh bawahanku. Pada saat kemunculan dirinya, sebuah Hujan berwarna merah disertai dengan aura yang mengerikan menyelimuti seluruh Kota."


"Hujan? Darah? apa itu??" Irlyana terlihat kebingungan.


"Entahlah, aku juga tidak tahu. Pada saat itu aku memutuskan untuk mundur, akan berbahaya jika aku melawan orang itu." Reynalue menjelaskan.


"Reynalue, menurut perkiraanmu. Seberapa kuat dirinya? seberapa besar jumlah mana nya?" Nidgor bertanya dengan serius.


"Yah.... Setidaknya, dia sedikit lebih kuat dari aku yang berada dalam mode ini..." Reynalue menjawab.


"Begitu, Chief memerintahkan agar kau membayar kegagalanmu. Pertama, kau harus menghabisi orang itu terlebih dahulu. Seharusnya tidak masalah jika dia sedikit lebih kuat darimu kan??"


"Tentu saja! aku tidak akan mengecewakan Chief untuk kedua kalinya. Aku akan menyiksa pria kurang ajar yang telah mengganggu Rencana kita!"


"Fufufuf.... Jangan Gagal lagi ya, Reynalue."


"Tidak akan...!"


"Bagus, jika begitu kita bubar sekarang...."

__ADS_1


Ketiga sosok itu lalu menghilang menjadi sebuah bayangan dan menyatu dengan udara.


Aula ini menjadi hening dan tenang.....


__ADS_2