
Jalanan dipenuhi oleh orang - orang yang berlalu lalang. Mayoritas nya adalah prajurit yang sedang berlarian kesana dan kemari. Alasan segala keributan ini adalah perbuatan Ren. Saat ini, Ren sedang diam menatap jalan yang terang dihadapannya. Kebetulan, Ren yang sekarang masih berdiri di sebuah jalan gelap dan sepi.
"Um.. Ayo pergi."
Ren berbicara pada diri sendiri, kemudian melangkahkan kaki untuk berjalan keluar. Tidak lupa, Ren mengenakan tudung yang terdapat dalam jubah pakaian nya. Meski Ren bisa menggunakan penyamaran, tetapi dia berpikir untuk menggunakan nya hanya dalam keadaan yang sangat penting.
Para prajurit, priest, ksatria dan orang - orang terlihat berlarian ke arah Colosseum. Bahkan terlihat juga beberapa orang yang mengenakan berbagai macam pakaian mencolok pergi ke arah sana. Ren menebak bahwa mereka pasti adalah anggota Guild Petualang. Berdasarkan Atmosfer yang mereka keluarkan memang terlihat seperti itu.
Ren terlalu sibuk memikirkan berbagai macam hal. Sampai Ren telat menyadari, ada seorang yang barusan melewatinya dengan mencurigakan. Dia mengenakan tudung dan jubah yang menutupi seluruh tubuhnya, meski begitu Mana yang dia keluarkan dari tubuhnya membuat Ren mengetahui bahwa dia adalah seorang Assassin.
Ren berpikir dan memutuskan untuk mengabaikan nya sementara waktu ini. Ren berjalan kembali untuk sampai ke tujuan berikutnya. Tujuan Ren adalah sebuah penginapan, Ren ingin merasakan kembali tidur di tempat yang nyaman setelah sekian lama. Maka dari itu Ren akan mencari sebuah penginapan yang mewah dan nyaman.
Ren berjalan dengan santai dengan hati penuh kebebasan. Kemudian, seorang wanita yang masih muda memasuki pandangan Ren. Mata nya terkunci pada Ren yang berjalan, sepertinya dia memang berniat menghampiri Ren.
"Hei, Paman yang disana!"
'Siapa yang kau bilang paman? aku ini bahkan terlihat lebih muda darimu.' Ren membalas wanita yang memanggilnya dari belakang dalam hati.
Firasat Ren mengatakan bahwa Wanita ini merepotkan. Maka dari itu, Ren terus berjalan, berusaha untuk mengabaikan dirinya. Jika Ren harus berurusan dengan wanita seperti ini sekarang, itu akan membebani pikirannya.
"Hei! Paman jangan mengabaikanku! kau seorang yang baru kesini kan? kau mencari penginapan kan?"
"Hm?"
Dari balik tudungnya, Ren memasang wajah aneh. Tentu alasannya karena wanita itu bisa mengetahui Niat Ren yang sedang mencari sebuah penginapan.
"Darimana kau tahu aku mencari sebuah penginapan?"
Ren memutuskan membalas wanita yang dengan keras kepala membuntutinya yang sedang berjalan.
"Eh? Suaramu lebih muda dari yang aku pikirkan. Jadi kau bukan seorang paman?"
'Darimana keyakinan nya ini berasal?' Ren sedikit kesal.
Wanita itu sangat beruntung bahwa kenyataannya Ren memiliki kesabaran yang sangat tinggi. Jika tidak, maka Ren sudah menghancurkan wanita dihadapannya ini yang telah mengatakan hal itu dengan wajah tak bersalah.
"Bukankah, perkataanmu itu sedikit tidak sopan.?"
Ren mengatakan hal ini dengan mata merah yang menyala. Entah mengapa ketika suasana hati Ren sedang tidak baik, mata merahnya ini selalu menyala. Hasilnya, bahkan wanita ini terlihat ketakutan.
"Sudahla-" Kata - Kata ku terpotong.
"Ma-Ma-Maafkan aku! Aku tidak bermaksud menyinggung anda Tuan!"
"Sudahlah, aku memang mencari sebuah penginapan. Memangnya kenapa?"
"Ah! Benarkan! Aku adalah pelayan penginapan Twin Lotus. Tuan menginap disana saja, bagaimana?"
Ya, Ren benar - benar tidak pernah sekalipun mengerti seorang wanita. Wanita itu awalnya ketakutan, sekarang wajah nya menjadi cerah dan bahagia. Perubahan suasana mereka terlalu cepat berubah, melihat ini... Ren jadi teringat kepada seseorang, yaitu Nivania. Tapi ini merupakan sebuah kebetulan penginapan yang Ren cari datang dengan sendirinya.
"Um. Kalau begitu, bisakah aku melihat tempat nya terlebih dahulu?"
Ren menginginkan sebuah penginapan yang nyaman dan mewah. Jika itu hanya penginapan biasa, dengan seribu maaf Ren dengan cepat akan mengundurkan diri.
"Ya, Ya, Mari Tuan, ikuti aku.."
Wanita itu beranjak pergi dengan wajah tersenyum lebar. Tidak ada pilihan lain bagi Ren selain mengikutinya. Mereka berjalan beriringan, wanita itu di depan sedangkan Ren mengikutinya dari belakang. Pemandangan ini terlihat seperti Ren yang mencoba membuntuti seorang wanita. Bahkan, beberapa orang terlihat berbisik sambil menatap seorang Ren.
"Ibu, siapa orang aneh yang mengenakan tudung itu?"
"Ssst... Nanti orang itu mendengarnya."
'Ya, aku benar - benar telah mendengarnya. Jangan khawatirkan hal itu.' Ren bergumam sambil berusaha mengabaikan tatapan orang - orang.
"Tuan! Kita telah sampai."
"Ah.. Benarkah?" Ren memandangi bangunan yang ada dihadapannya.
Twin Lotus, Nama ini tertera di bangunan yang ada di hadapan Ren. Bangunan ini sendiri cukup bagus, walaupun tidak semewah yang Ren inginkan. Dari apa yang Ren lihat, sepertinya bangunan ini memiliki dua lantai. Sama seperti penginapan yang ada di Kota Ceeven. Namun, jelas penginapan ini terlihat lebih bagus dan terawat dengan baik.
__ADS_1
"Ya, mari kita masuk.. Nyonya! aku membawa seorang pelanggan!"
Wanita itu membuka pintu penginapan, dan langsung berteriak. Ren tidak dapat berkomentar dalam hal ini, Ren hanya mengikuti nya masuk ke dalam penginapan. Kelelahan batin Ren terasa sedikit meningkat menandakan bahwa Ren harus segera beristirahat.
"Oh? Benarkah itu Vinri?"
Suara seorang Wanita paruh baya terdengar, kemudian sosok Wanita Paruh baya itu muncul. Wanita yang mengenakan pakaian sederhana dan terlihat sedikit kotor. Dia bahkan tidak terlihat sebagai pemilik penginapan ini sama sekali.
"Benar Nyonya! Taraa... Dia adalah orang nya."
Wanita itu menunjuk Ren dengan wajah yang gembira dan bangga. Sedangkan untuk Wanita paruh baya, dia menatap Ren dengan perasaan iba.
"Vinri, sepertinya kau memaksa orang untuk kesini lagi kan?"
"Ha...?! Aku tidak memaksanya!"
Apakah membuntuti termasuk dalam sebuah pemaksaan? Ren tidak tahu. Yang jelas Ren akan menginap disini terlebih dahulu.
"Tidak apa - apa, aku memang berniat mencari sebuah penginapan." Ren menenangkan pemilik penginapan.
"Benarkah itu? Syukurlah jika Vinri tidak membuatmu merasa terganggu..."
"Nyonya.....! Hm! Lebih baik aku pergi ke dapur saja!"
Wanita bernama Vinri pergi menuju dapur dengan wajah kesal. Sikapnya terlihat sedikit kekanak - kanakan walaupun sudah berumur dewasa.
"Maafkan sikap Vinri, dia memang seperti itu.."
"Tidak masalah, aku tidak memikirkan hal itu. Lalu, berapa biaya menginap disini?"
"Itu.. Seharusnya 1 koin emas per malam tapi karena beberapa hari terakhir ini pelanggan menjadi sepi. Biaya nya menjadi setengah dari itu."
'Sepi...? Ahhh... Benar juga.'
Ren menyadari bahwa tidak ada seorang pun selain dirinya disini. Suasana disini begitu sepi, tidak seperti penginapan Kota Ceeven yang selalu di huni oleh orang setiap harinya.
"Ya, Tolong tunggu sebentar..."
Wanita pemilik penginapan memasuki sebuah Ruangan. Beberapa saat kemudian, dia muncul kembali.
"Kamar milikmu seharusnya berada di lantai atas, sebelum kamar yang terujung."
"Um.. Aku mengerti, Terima kasih."
Ren berjalan ke lantai atas sesuai dengan arahan wanita pemilik penginapan. Setelah menaiki tangga, Ren sampai di sebuah lorong. Lorong ini di isi oleh pintu - pintu di kedua sisi nya. Karena kamar Ren berada satu kamar sebelum kamar yang terujung, Ren berjalan kembali kesana.
"Kamar disini bahkan memiliki nomor ya."
Ren memandangi pintu kamar yang dia sewa, disana terdapat sebuah Nomor yang tertera di bagian atas pintu.
'Eh? Apakah aku melupakan sesuatu...'
Ren termenung saat dirinya akan membuka pintu kamarnya. Ada sesuatu yang saat ini Ren lupakan, namun dia tidak mengetahui apa itu.
'Sudahlah...'
Kreettt...
Pintu Kamar ini sedikit berbunyi ketika dibuka, hal yang wajar, mengingat ini bukanlah Dunia Modern dimana Ren tinggal sebelumnya.
Ruangan dalam kamar memasuki pandangan Ren, sebuah Ruang yang cukup luas, di dalamnya terdapat meja dan kursi. Tidak lupa, sebuah Ranjang yang cukup besar dan bagus terlihat di bagian ujung dekat jendela.
"Hoo... ini sedikit lebih baik dari Penginapan Kota Ceeven."
Ren berbicara sendiri, kemudian melepaskan tudung yang menutupi wajahnya.
"Hoaaam.... Aku ingin tidur untuk sementara waktu.."
Ren membaringkan tubuhnya diatas kasur. Hanya butuh beberapa waktu sampai Ren benar - benar tertidur.
__ADS_1
*
*
*
*
*
Di Jalanan Kota Aulzania, terlihat sebuah Kereta Kuda yang sangat mewah. Kereta itu di kawal oleh banyak Ksatria di semua sisi nya.
Kereta itu adalah Kereta yang membawa Sang Raja kembali ke Istana.
Sementara di dalam Kereta...
"Rajaku, karena kejadian ini.. Apakah Turnamen masih akan tetap dilaksanakan?" Sang Ratu tiba - tiba berbicara memecah keheningan.
"Itu sudah pasti, meski banyak Ksatria Aulzania yang terluka..." Raja terlihat berpikir dalam - dalam.
"Tapi... Bukankah itu akan sedikit berbahaya, Rajaku?" Ratu Gelisah.
"Meski begitu, Turnamen Aulzania adalah Kegiatan yang sudah turun - temurun dari Zaman dulu. Kita tidak bisa membatalkannya begitu saja... Akan ada banyak yang Protes soal ini." Raja menggelengkan kepala.
"Sebenarnya...." Sang Ratu melihat ke arah luar jendela. Dia sengaja menunda perkataannya terlebih dahulu.
"Apa yang di Rencanakan oleh Yang Mulia Dirvaren..?" Ratu bertanya, namun itu tidak ditujukan pada siapapun.
"Bahkan aku tidak tahu, dia adalah seorang Continents Holder, Rencana yang dia jalankan pasti sesuatu yang besar." Raja melakukan hal yang sama dengan Ratu, menatap keluar Jendela Kereta kuda, seakan menatap masa depan.
*
*
*
*
*
*
Ruangan yang hanya di terangi oleh sedikit cahaya. Ruangan ini terlihat seperti Ruang Takhta, Namun dalam skala yang lebih kecil.
Di Singgasana, terlihat seorang wanita sedang duduk di atas nya. Wanita yang memiliki perawakan kecil dan dua buah tanduk di dahi nya.
Beberapa orang yang memakai jubah hitam sampai menutupi seluruh tubuhnya berlutut lada Wanita yang sedang duduk di singgasana.
"Kota Aulzania diserang...?" Wanita itu bertanya seakan tak percaya.
"Benar Nona Rey, lebih tepatnya Colosseum Kota Aulzania lah yang diserang. Dan lagi, pada saat kejadian, Colosseum itu berisi para orang - orang penting di seluruh Kerajaan."
"Wahh... Orang itu berani sekali menyerang langsung di sarang musuh. Siapa sebenarnya dirinya? kau tahu sesuatu?"
"Dia adalah seorang Penjahat yang ditangkap di Kota Rondelia, atas tuduhan mencoba merebut Kota Rondelia. Dengan kata lain, dia adalah seorang yang telah menghalangi Rencana kita sebelumnya."
"Jadi dia..!? Dimana dia saat ini!?" Wanita itu berteriak marah.
"Sayang sekali Nona Rey, saat ini dia sudah menjadi sebuah mayat. Derrian, seorang Ketua Ksatria Aulzania telah berhasil membunuhnya."
"Apa...?! Tch, berani sekali dia terbunuh sebelum aku yang merenggut nyawa nya sendiri.." Wanita itu menggerutu kesal.
"Sudahlah, apakah Kerajaan Aulzania mengalami kerugian besar?"
"Tentu Nona Rey, banyak Ksatria Aulzania yang terluka parah. Ditambah, Penyihir Kerajaan pun terluka akibat serangan itu."
"Hehehe... Berita bagus, kalau begitu... Kita akan mempercepat Rencana kita." Wanita itu tersenyum dengan cara yang menakutkan.
"Baik!"
__ADS_1