Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 95 : Secercah Cahaya yang menelan Kegelapan


__ADS_3

Definisi yang paling sederhana dan paling disukai oleh Ren dari kata <> adalah Ketiadaan Cahaya.


Apakah itu Cahaya yang memang telah Tiada atau Kegelapan yang telah menelan Cahaya. Pada akhirnya, Kedua Hal itu merujuk pada Kegelapan dan Kekosongan yang tengah Ren Rasakan.


Saat ini, Ren bagaikan sebuah Cahaya yang ada dalam Kegelapan tanpa Akhir. Cahaya Putih yang tidak ternoda, selalu membara setiap kali Kegelapan berusaha melahapnya.


Mungkin Cahaya ini bisa disebut dengan Jiwa, Roh, Kesadaran, ataupun Inti yang dimiliki oleh Ren. Setiap kali Ren berpikir, berkata atau merasakan Emosi, maka Cahaya ini akan menampilkan Reaksi tertentu.


Contohnya adalah ...


"Sungguh Konyol." Cahaya Ren berkedip beberapa kali.


Ren yang tidak pernah dikalahkan (Dalam Game) Kini harus menanggung Malu karena Seekor Cacing Raksasa. Tidak pernah Ren perkirakan sebelumnya bahwa Cacing itu memiliki Kemampuan yang sangat Misterius. Kemampuan yang bahkan dapat mengalahkan Ren hanya dengan sebuah Sentuhan.


"Apakah aku memang semenyedihkan ini?" Cahaya Ren meredup.


Bukan karena Kematian yang membuat Ren terlihat menyedihkan. Tetapi, bagaimana cara Ren mengalami Kematian lah yang membuat semua ini menjadi menyedihkan.


Emosi yang membara mulai muncul dari dalam diri Ren. Emosi itu adalah Kemarahan, bukan pada orang lain namun pada dirinya sendiri. Marah karena dirinya menyedihkan, Marah karena dirinya Ceroboh, dan Marah karena dirinya dikalahkan.


"Hahaha, sepertinya aku terlalu bertele - tele dalam menghadapi mereka." Cahaya Ren semakin membara dan muncul sebuah Warna Baru disana, yaitu Merah.


Sandiwara? Seorang Pria Sejati tidak akan pernah Bersandiwara. Penyamaran? Kekuatan yang sejati tidak akan pernah bersembunyi. Saat ini, Ren menyadari bahwa semua yang telah dia lakukan terlalu membuang - buang Waktu.


"Hm, sepertinya aku benar - benar Marah. Namun disaat yang bersamaan, aku merasakan Ketenangan, apa ini?" Cahaya Merah yang mewakili Emosi Kemarahan mulai bergerak bagaikan seekor Ular yang mengelilingi sebuah Bola.


Tidak lama setelah itu, Warna Biru muncul dan mulai bergerak seperti Warna Merah. Tidak ada yang tahu apa yang membuat Warna Biru ini muncul, namun kemungkinan Besar itu disebabkan oleh Ketenangan yang Ren Rasakan.


"Apakah ini adalah Marah dan Tenang disaat yang bersamaan? Hm ... Itu tidak penting."


Hanya diam dalam Kegelapan tidak akan membantu Ren menyelesaikan Masalah. Ren harus mencari tahu, apakah ada sebuah Jalan keluar dari Kegelapan ini?


"Aku tidak dapat merasakan Tubuh, namun aku masih dapat merasakan Mana."


Sebuah Harapan mulai dirasakan oleh Ren ketika mengetahui bahwa di dalam Kegelapan ini masih ada Mana. Namun sebenarnya Ren tidak mengetahui, darimana Mana itu berasal.


"Kekosongan tidak mungkin memiliki Mana. Jadi, apakah Mana ini ada dalam Tubuhku?"


Cahaya Ren semakin membesar setiap Ren memikirkan sesuatu. Tidak hanya itu, Warna - Warna lainnya mulai muncul satu per satu.


Membuat Cahaya Putih yang merupakan Cahaya Ren dikelilingi oleh semua Warna yang ada di Dunia.


"Aku merasa, Kesadaranku menyebar ke segala arah."


Ren tidak menyadari, bahwa dirinya (Cahaya Ren) Bagaikan sebuah Gelombang Cahaya yang melahap Kegelapan yang ada di Kekosongan ini. Cahaya yang menelan Kegelapan, atau Kegelapan yang menelan Cahaya, hanya ada Dua pilihan yang tersisa.


Waktu terus berlalu, Cahaya yang dimiliki oleh Ren semakin membesar sampai titik dimana itu tidak dapat dibayangkan lagi. Namun meski demikian, masih belum ada tanda - tanda Kegelapan akan Musnah sepenuhnya.


Sampai saat ini, semua Warna telah ada, segala macam Emosi telah Ren rasakan. Berbagai macam Percobaan telah dia lakukan. Akan tetapi, semua itu sama sekali tidak berguna. Kegelapan masih tetap ada dan tidak dapat dihilangkan.


"Marah? Sedih? Senang? Bosan? Bahagia? Aku telah merasakan semua itu dalam Kesendirian. Lalu, apa yang aku lewatkan?"


Kau telah melupakan diriku, An.


"Melupakanmu?"


Fragment - Fragment dari Gambaran seorang Wanita muncul. Lalu tiba - tiba, Ren merasakan sebuah Perasaan yang menyakitkan. Sangat menyakitkan, bahkan lebih menyakitkan dari Kesendirian dalam Kekosongan. Andai Ren memiliki sebuah Tubuh Fisik, maka dirinya akan merasakan Sakit itu tepat dihatinya.


"M-Mengapa ...? A-Aku tidak mengenalmu, tapi ... Mengapa aku merasakan ini?"


Semua Cahaya yang telah menyebar ke dalam Kekosongan ini perlahan mulai menyusut. Awalnya, Cahaya yang menelan Kegelapan, namun sekarang, Kegelapan mulai menggerogoti Cahaya.


Semua ini disebabkan oleh Perasaan yang teramat menyakitkan yang dirasakan oleh Ren.


"A-Aku ... A-Aku ..."


Cahaya Ren semakin meredup, bahkan ukurannya jika dibandingkan kini hanya seujung Jarum. Berbeda dari sebelumnya, Cahaya Ren begitu Besar, bahkan dapat melebihi Besarnya Galaksi.


Apakah ini adalah akhir dari Cahaya Ren?


Apakah Kegelapan yang melahap Cahaya?


Disaat Cahaya itu akan benar - benar dilahap oleh Kegelapan. Muncul beberapa Cahaya lainnya di dalam Kekosongan. Cahaya - Cahaya itu mengelilingi Cahaya Ren seolah memberikan semangat untuk tetap hidup.


"Ren-sama ...!"

__ADS_1


Gambaran dari Nirlayn yang Berteriak Histeris disaksikan oleh Cahaya Ren.


"T-Tuan! Sialaaannn kau ... Milžiniška gyvatė!"


Gambaran dari Avrogan yang Murka dan Bertarung dengan Cacing Raksasa pun disaksikan oleh Cahaya Ren.


"Y-Yang M-Mulia ... Jangan tinggalkan saya. Hiks ... Hiks ... Hiks ..."


Gambaran dari Arystina yang Menangis seraya menopang Tubuh Fisik Ren pun disaksikan oleh Cahaya Ren.


Pada saat itulah, Cahaya Ren berkedip sekali. Lalu, Cahaya Ren itu membuat sebuah Ledakan Cahaya yang amat Dahsyat. Pada saat yang bersamaan, sebuah kata - kata dari seseorang muncul dan didengarkan oleh Cahaya Ren.


Entah ini permainan takdir ataupun apa, aku hanya ingin kau tidak mengalami apa yang aku alami.


Cahaya Ren meledak, bagai ledakan Big-Bang yang disebutkan oleh para Ilmuwan sebagai awal mulanya tercipta Alam Semesta. Seluruh Kegelapan yang ada dalam Kekosongan ditelan dan binasa.


Ledakan Cahaya berakhir, dan hanya menyisakan Kekosongan Putih tanpa akhir. Diantara Kekosongan Putih itu, tercipat sesosok lelaki dengan Penampilan yang sempurna. Dia adalah, Anryzel Dirvaren, secercah Cahaya yang telah menelan Kegelapan.


"Nirlayn, Avrogan, Arystina dan Pria Aneh. Aku berterima kasih pada kalian."


Mata Ren terbuka dan menampakan Senyuman yang mengerikan seperti biasanya. Lalu, Ren merentangkan Lengan pada Kekosongan. Dari sana, sebuah Lubang muncul yang merupakan Pintu dari Inventory.


"Mari kita hancurkan Kekosongan ini ... Nuxuria!"


Shing! Shing!


Dua Tebasan menyilang yang membentuk Huruf 'X' Ren lancarkan. Kemudian daripada Kekosongan itu, muncul sebuah Retakan Hitam seperti Huruf 'X' yang merupakan Hasil Tebasan dari Nuxuria.


Kali ini, tidak ada Keraguan maupun Kecemasan lagi dalam diri Ren. Oleh karena itu, walaupun Ren harus memasuki Kekosongan Hitam sekali lagi, maka dia tidak akan kalah. Untuk itulah, Ren berlari dan memasuki Retakan 'X' tanpa Keraguan sedikitpun.


"Sekarang aku telah dilahirkan kembali!"


Sosok Ren masuk ke dalam Retakan 'X' dan hanya menyisakan Kekosongan Putih. Retakan itu perlahan - lahan menghilang dan berubah kembali menjadi Kekosongan. Namun tidak lama setelah itu, muncul sosok yang tidak dapat digambarkan oleh kata - kata.


Tidak aku sangka, sebuah Fragment dapat melakukan hal seperti ini. Mungkin, dia cocok untuk menjadi ...


____________________________________________


* * *


Dam! Dam! Jeduarrrr!


Hutan Loudeas diporak - porandakan oleh Petir yang terus menerus menyambar dengan Dahsyat. Tidak ada yang dapat menghentikan maupun menahan Petir yang menyambar dengan Dahsyat ini. Bahkan Sang Ular Legendaris hanya bisa melarikan diri dari Serangan yang Luar Biasa ini.


Dibalik Serangan Petir yang tiada henti - hentinya mengejar Sang Ular Legendaris, terdapat sosok yang Murka di atas langit. Sosok itu adalah Kuda Bersayap Avrogan, yang diliputi oleh Kemurkaan. Bukan hanya itu, semua bagian Tubuhnya mengalami Evolusi yang mengerikan.


Kuda Bersayap Avrogan yang Elegan kini telah tiada. Digantikan oleh sesosok Kuda yang ketika dilihat bagaikan Bencana yang ada di atas langit.


"Gyvatė! Jangan harap kau bisa melarikan diri! Akan kumusnahkan kau bahkan jika aku harus pergi mencarimu ke Neraka!"


Duar! Duar! Duar!


Tanah Hancur, Pepohonan Hangus tak bersisa. Hanya ada Kehancuran yang tersisa dari Hutan Loudeas yang luar biasa. Sementara Kuda Bersayap Avrogan Murka, sosok yang memanggil Ular Legendaris, yaitu Irlyana sibuk melarikan diri.


"Gila! Aku tidak mengharapkan melawan Musuh seperti ini!"


Irlyana terus berlari seraya mengutuk Nasib dirinya sendiri. Meski Misinya untuk membunuh seseorang telah berhasil, namun dia tidak mengharapkan untuk Kehilangan Nyawa. Kemunculan Musuh yang luar biasa kuat ini sama sekali tidak dia inginkan.


Langkah Kaki Irlyana tidak karuan, itu karena Kepanikan yang kini dia rasakan. Seorang Wanita Mengerikan sedang mengejarnya bagaikan seorang Malaikat Kematian.


"Hahh ... Hahh ... Apakah aku berhasil lari ...?"


Beberapa kali Irlyana mencoba untuk menoleh ke arah Belakang untuk memastikan Keselamatannya. Namun saat ini, Irlyana sama sekali tidak melihat Wanita Mengerikan yang mengejarnya. Itu membuat Irlyana menghela Napas lega karena merasa sudah aman.


"Beruntung Wanita itu cukup bo- ...?!"


"Akan kucincang kau! Akan Kucincang kau! Tidak akan kuampuni! Tidak akan Kuampuni! Kau! Kau! Kau!!!! Graahhhhh!!!!!!!"


Irlyana berusaha melarikan diri kembali ketika melihat sosok Nirlayn yang mengerikan. Namun bahkan sebelum Irlyana dapat bergerak, Nirlayn sudah berada dihadapannya.


"Hehehe, Kena kau."


Nirlayn mencengkeram Leher Irlyana seraya tersenyum mengerikan. Lalu tanpa diduga, Nirlayn bergerak dengan cepat, menyeret Irlyana menuju sebuah Tebing Batu yang cukup Jauh dari tempat semula.


Syutttt! Bammm!

__ADS_1


"Guhoookkk!"


Tubuh Irlyana bertabrakan dengan Batu Besar, karena Kecepatan dan Kekuatan Nirlayn sangat besar ketika melakukannya, maka tidak ada pilihan lain bagi Irlyana selain mengalami Kehancuran. Semua bagian Tulang yang dia miliki Retak dan Hancur akibat Benturan yang luar biasa keras itu.


"Aku tidak mengizinkanmu Mati! Aku tidak mengizinkanmu Mati! Kau! Kau akan merasakan Penderitaan selamanya!"


Lengan Nirlayn yang mencengkeram Leher Irlyana Bercahaya Merah. Kemudian, segala macam Luka yang dialami oleh Irlyana seketika sembuh. Dan itu membuat Nirlayn menyeringai seolah merasakan Senang yang luar biasa.


"Saatnya menyiksa! Hahahah!"


Crakk! Crakk! Crakk! Crakk!


Nirlayn mematahkan Dua Kaki dan Dua Lengan milik Irlyana. Dengan tujuan agar Irlyana tidak dapat melarikan diri lagi. Setelah mengkonfirmasi Irlyana yang terkulai tak berdaya namun masih hidup, Nirlayn mengeluarkan Pedang miliknya dan membuat Blood Sword menggunakan Blood Artnya.


"Bersiaplah untuk menjadi Daging cincang! Ini semua demi Ren-sama! Kau berani memisahkan kami maka Rasakan akibatnya!"


Nirlayn memulai Penyiksaannya, setiap kali Nirlayn memotong sesuatu, maka akan terdengar Jeritan Putus asa. Jeritan itu selalu diiringi oleh Tawa mengerikan yang terdengar dan membuat seluruh Hewan maupun Monster yang ada disana ketakutan lalu melarikan diri.


Kembali ke tempat dimana Tubuh Ren berada ...


Disini, hanya ada seorang Arystina yang memangku Tubuh Ren seraya Menangis tersedu - sedu. Segala macam Usaha telah Arystina kerahkan untuk menyadarkan Tubuh Ren yang telah tak bernyawa.


Tubuh Ren yang memiliki Kulit Putih kini telah memucat dan tidak Berwarna. Aliran Nafas yang seharusnya berjalan kini telah terhenti. Detak Jantung dan Denyut Nadi tidak bisa dirasakan lagi. Mata Merah yang selalu menatap Arystina dengan lembut kini telah menutup untuk selamanya.


Tangan yang telah mengelus Rambut Arystina sekarang tidak dapat bergerak lagi. Senyuman Hangat yang selalu dia tampilkan pada Arystina, hanya akan menjadi Kenangan. Lalu, Perasaan yang ada dalam Hati Arystina, tidak akan pernah terbalaskan.


Derasnya Air Mata menjadi sebuah saksi, Kesedihan Mendalam yang Arystina Rasakan.


Dalam Hati, Arystina berkata putus asa, "Jika Yang Mulia memang akan meninggalkan, mengapa Yang Mulia harus datang?"


Jeduuuarrrrr!


"Yang Mulia ... Kembalilah."


Jeduarrrr!


"Yang Mulia ... Jangan pergi."


Jeduaaarrrr!


"Yang Mulia ..." Arystina menghapus Air Mata yang mengucur Deras dari Kedua Matanya. Kemudian Wajahnya menampilkan Tekad yang luar biasa, " ... Saya akan mencari sesuatu yang dapat menghidupkan anda kembali."


"Sebelum itu ... Ada sesuatu yang harus saya katakan. Hiks ... Hiks ... Saya mencintai ..."


Arystina mendekatkan Wajahnya ke arah Wajah Ren seraya menyelaraskan Bibirnya dengan Bibir Ren. Jarak mereka semakin mendekat dan mendekat.


" ... Anda."


Arystina memejamkan Mata, dan Bibirnya mengenai Kulit yang halus. Mungkin mereka sudah berciuman? Arystina tidak tahu. Tetapi, begitu Arystina membuka Mata ...


"Mencintai siapa?" Ucap Ren dengan Mata Merahnya yang menatap langsung ke arah Mata Arystina.


Apa yang Arystina sentuh dengan Bibirnya bukanlah Bibir Ren. Melainkan Jari Ren yang menghentikan Kedua Bibir untuk bertemu. Sontak, Arystina sangat terkejut dan menjauhkan Wajahnya.


Meski Ciuman itu tidak terjadi, namun Kebahagiaan yang melebihi sebuah Ciuman dirasakan oleh Arystina. Kebahagian karena sosok Ren yang telah Hidup kembali. Arystina tersedu - sedu, dia tidak dapat menahan Tangisan Bahagianya lebih lanjut, dan dengan Terpaksa dia berteriak, "Huaaaaa!! Yang Mulia!" Seraya memeluk Erat Ren yang masih dalam Pangkuannya.


"Hm ..." Ren hanya diam membiarkan Arystina memeluknya dengan Erat. Seraya tersenyum dengan penuh kelembutan, Ren sekali lagi mengelus Rambut Arystina seraya berbisik, "Maafkan aku karena telah membuat kalian khawatir."


Butuh beberapa waktu bagi Arystina untuk menenangkan diri. Selama itu, Ren melakukan hal yang seharusnya, yaitu membiarkan Arystina memeluknya dan menenangkan Arystina.


"Y-Yang Mulia ... Syukurlah, Syukurlah anda baik - baik saja." Ucap Arystina penuh Suka Cita.


"Aku baik - baik saja berkat kalian. Terima Kasih."


"Saya tidak mengerti ... Tapi, apa yang terjadi pada anda, Yang Mulia?"


"Hoho, ini adalah Hal Kecil, akan kujelaskan nanti. Sekarang ..." Ren melepaskan Arystina dan beranjak untuk berdiri. Lalu Ren menengadah ke langit, menatap Avrogan yang masih dalam Keadaan Murka seraya menyambarkan Petirnya tak karuan.


"... Aku akan menyelamatkan mereka terlebih dahulu."


Arystina yang menyaksikan Ren dari Belakang merasa bahwa Ren telah berubah. Namun, tidak dapat dipastikan apa yang berubah dalam dirinya. Mungkin, semua itu akan terkuak di Masa Depan nanti ...


_________


*Catatan Author : Houu~

__ADS_1


Tidak semudah itu untuk Tamat*.


__ADS_2