Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 121 ~ Kekacauan Kerajaan Suci Sancteral III


__ADS_3

Rakuza, Rusava dan Raytsa (3R) berkumpul di kamar dari sebuah penginapan yang disewa untuk Rakuza. Mereka saling berhadap-hadapan dengan cara duduk di kursi yang dibentuk secara melingkar.


Suasana dari kamar ini cukup serius sebab mereka akan mendiskusikan hasil dari laporan pengamatan yang dilakukan oleh masing-masing.


Rakuza bertindak sebagai pencari informasi umum seperti desas-desus yang terdengar di seluruh Kota Zarisma. Rusava bertindak sebagai mata-mata untuk menyusup ke tempat yang berbahaya. Sedangkan Raytsa bertugas untuk mengolah informasi yang tersedia.


Pembagian tugas ini disesuaikan dengan kemampuan individu masing-masing agar mendapatkan hasil maksimal dalam waktu sesingkat mungkin.


Sudah cukup lama semenjak mereka meninggalkan Kerajaan Aulzania. Namun dalam kurun waktu yang cukup lama itu, mereka belum menemukan kepastian mengenai keberadaan Kina.


"Aku memiliki kabar buruk," ucap Rusava memecah keheningan di antara ketiganya.


Menanggapi ini, ekspresi Rakuza dan Raysta berubah menjadi lebih serius lagi. Misi utama mereka bahkan belum menemukan titik terang, sekarang Rusava memberitahu kalau dia memiliki kabar buruk? Ini situasi yang sulit.


"Kabar buruk macam apa itu, Tuan Rusava?"


Rusava menarik napas dalam-dalam. Kabar yang akan dia berikan sangat serius hingga membuat dirinya yang seorang [True Ancestors] merasa direpotkan.


"Misi penyusupan yang aku lakukan sebelumnya itu sendiri sudah cukup menyulitkan. Penjagaan yang sangat ketat dan berkumpulnya orang-orang yang cukup kuat itu sangat merepotkan. Terlebih mereka sangat berhati-hati, hingga sebatas angin sudah dicurigai oleh mereka."


Jika misi ini mengesampingkan hal-hal besar seperti kekacauan, dari awal Rusava tidak ingin melakukan hal-hal merepotkan seperti mengendap dan mencari informasi sedikit demi sedikit.


Setelah menghela napas sekali, Rusava kembali berbicara untuk menjelaskan pada Rakuza dan Raytsa masalah yang sebenarnya.


"Temple of Light, mereka menerima perlindungan yang lebih ketat dari biasanya. Beberapa ksatria dari wilayah lain berdatangan untuk melindungi tempat itu secara bergiliran. Aku tidak tahu mengapa, tapi sepertinya mereka menerima sinyal berbahaya."


Raytsa mengangguk beberapa kali, sebagai orang yang bertugas untuk mengelola informasi, dia segera menyatukan kabar buruk Rusava dengan desas-desus yang diberikan oleh Rakuza.


"Rusava, ini mungkin berkaitan dengan desas-desus yang dibicarakan oleh Rakuza."


Rusava mengalihkan perhatiannya, dan mengindikasikan agar Raytsa menjelaskan lebih detail lagi mengenai desas-desus yang kemungkinan besar berkaitan dengan kabar buruk itu.


"Ya, seperti yang dikatakan oleh Rakuza sebelum kamu kembali. Ada desas-desus mengenai Kota Soliedavosa yang merupakan wilayah selatan kerajaan ini telah diserang oleh keberadaan tak dikenal."


Rakuza hanya mengangguk untuk mengkonfirmasi perkataan Raytsa. Rusava pun sedikit mengerutkan dahi, tidak mengerti darimana asal keterkaitan kedua peristiwa ini.


"Jika ingin lebih mengerti, maka bertanya pada Rakuza adalah pilihan yang tepat." Raytsa menatap pada Rakuza dan bertanya, "Rakuza, sejak kapan kau mulai mendengar desas-desus ini?"


"Jika tidak salah ..." Rakuza memejamkan mata seraya berusaha mengingat dengan pasti kapan dimulainya desas-desus ini. Beberapa detik kemudian, dia menemukan jawaban dan segera memberi balasan, "Kurang lebih empat hari yang lalu, dari para pedagang yang singgah di kota ini."

__ADS_1


"Seperti yang dikatakan oleh Rakuza, sebuah desas-desus semacam ini membutuhkan waktu untuk tiba dari tempat ke tempat lainnya. Begitu juga dengan para ksatria yang berasal dari wilayah lain, mereka akan membutuhkan waktu untuk tiba disini."


Meski Raytsa mencoba menjelaskan dengan sebaik mungkin tapi Rusava belum menemukan titik yang menghubungkan kedua peristiwa ini. Untuk itulah keraguan masih muncul dihatinya.


"Andai memang benar demikian, lantas mengapa para ksatria itu berdatangan ke tempat ini? Bukankah lebih baik mereka menjaga wilayahnya masing-masing?"


Raytsa menggelengkan kepala sambil tersenyum, "Kamu memang benar, Rusava. Namun desas-desus itu masih belum selesai ..."


Mata Raytsa melirik pada Rakuza sebagai indikasi agar dirinya melanjutkan informasi dari desas-desus ini.


"Kota Soliedavosa diliputi oleh kekacauan. Ada pula kabar yang mengatakan Great Bishop of Earth telah dikalahkan. Begitu juga dengan para ksatria yang menjaga wilayah itu, hampir separuh dari mereka katanya telah dibunuh."


Rusava sedikit membulatkan mata, secara alami benaknya membuat sebuah pertanyaan tentang siapa orang yang memiliki keberanian untuk menyerang satu wilayah seperti itu?


Mengecualikan dirinya dan Raytsa serta tuannya, mungkin ada beberapa keberadaan lain. Namun keberadaan itu sendiri tidak mungkin menyerang tanpa alasan.


"T-tunggu, mungkinkah?" Rusava menatap pada Raytsa, berusaha bertanya apakah pemikiran mereka berdua sama.


"Kemungkinan itu sangat tinggi. Kenyataan bahwa kita tidak bisa memberikan kabar karena penghalang itu sudah cukup sebagai alasan bagi beliau untuk bertindak."


Beliau yang Raytsa maksud adalah tuan dari mereka bertiga. Seorang Blood Devil murni yang memiliki kedudukan tinggi dan kekuatan yang luar biasa, Anryzel Dirvaren.


"Jadi seperti itu, aku mengerti sekarang." Rusava mengangguk-angguk.


Meski kemungkinan itu adalah tuan mereka sangat tinggi tapi ada kemungkinan bahwa perkiraan mereka salah. Dalam situasi terburuk, mereka akan mengalami kesulitan dan bantuan pun tidak akan segera datang.


"Walaupun itu memang Yang Mulia, kita tidak bisa berdiam diri dan menunggu dirinya tiba bukan? Wajah macam apa yang akan kita tunjukan kalau beliau tahu kita tidak mendapatkan kemajuan apa-apa?" desah Raytsa.


Hal itu membuat suasana ruangan bertambah serius sekali lagi. Tidak dapat dipungkiri bahwa Rusava atau Rakuza akan merasa malu karenanya.


"Yah, mari kita anggap itu bukan perbuatan Yang Mulia dan melakukan tugas ini lebih serius lagi," usul Rusava.


"Aku juga berpikir demikian, mari kesampingkan kemampuan individu. Tuan Rusava, aku akan ikut dengan Anda untuk menyusup ke markas mereka."


Rakuza mungkin tidak sebanding dengan Rusava ataupun Raytsa dalam hal kekuatan serang. Tapi jika itu dalam hal bersembunyi, dia masih memiliki sedikit kepercayaan diri.


Dengan situasi buruk yang terjadi, Rusava pun tidak memiliki alasan untuk menolaknya. Selama Raytsa tidak masuk dalam bahaya, dia tidak merasa itu bermasalah.


"Baiklah, mari kita pergi besok, Rakuza, dan untukmu Raytsa, berusahalah agar mampu menyelesaikan hal yang telah beliau berikan."

__ADS_1


Rusava mengakhiri percakapan di antara mereka bertiga. Bersama dengan Raytsa, dia meninggalkan kamar Rakuza dan kembali ke kamarnya


________________________________


Persepsi mana Ren menangkap sebuah keberadaan yang tidak asing di puncak gunung. Gunung itu sendiri berada di tengah-tengah antara kereta kuda yang ditumpangi oleh Ren dengan kota dimana Temple of Light berada.


Avrogan yang menyadari hal ini pun menoleh dan memutuskan untuk bertanya pada tuannya. Apakah yang dia rasakan ini benar-benar keberadaan milik seseorang?


"Tuan, Anda sudah pasti merasakannya bukan?"


Tidak perlu dipertanyakan lagi, Ren sudah menangkap keberadaan ini dari beberapa saat yang lalu. Sungguh aneh untuk menemukan keberadaan dari seseorang yang telah mereka kenali di puncak sebuah gunung.


"Ya, ini adalah keberadaan Indacrus. Aku akan pergi menemuinya, teruslah berjalan dan bertemu di depan sana."


Ren langsung menciptakan sepasang sayap berwarna merah. Sayap itu sedikit dikepakan untuk mendorong tubuhnya melayang di udara.


Arystina dan Nirlayn yang mendengar kepakan sayap segera mengintip dari jendela. Menyadari Ren yang akan pergi, tanpa sadar mereka berdua berteriak untuk bertanya.


"Ren-sama! Anda mau kemana?!!"


"Yang Mulia!"


Teriakan mereka terbukti sia-sia mengingat Ren sudah terbang jauh di atas langit. Sebagai gantinya, Avrogan menoleh kembali dan menjelaskan tentang situasi.


"Jangan khawatir, Tuan hanya pergi untuk melihat Indacrus yang ada di puncak sana."


Berbeda dari Nirlayn yang telah mengetahui siapa itu Indacrus, Arystina merasa asing dengan nama yang satu ini. Dia kembali duduk tenang di dalam kereta kuda, dan memutuskan bertanya kepada Nirlayn.


"Siapa itu Indacrus?"


"Indacrus itu [Beast Servant Legendaris] kedua yang dipanggil oleh Ren-sama."


"[Beast Servant] kedua? Eh, aku tidak menyangka Yang Mulia memiliki satu lagi yang lain."


"Umu, benar juga. Arystina belum pernah diberitahu soal itu 'kan?"


Arystina menggelengkan kepala, "Belum pernah, hanya mendengar kalau Yang Mulia memiliki bawahan lainnya."


"Kalau begitu, itu tidak bisa dihindari." Nirlayn mengalihkan pandangan pada hutan melalui jendela. "Tapi, Indacrus ada disini, bagaimana dengan Tuan Rusava dan Nyonya Raytsa ya?" gumamnya kecil.

__ADS_1


__________________________________


Aaaaaaaaaaa, belum saatnya konflik °✓°


__ADS_2