
Ketika menginterogasi tahanan terkadang diperlukan semacam penyiksaan agar tahanan tersebut membuka mulutnya. Jika penyiksaan sudah dilakukan maka ada dua kemungkinan yang terjadi, pertama tahanan itu menyerah dan membeberkan semuanya, dan kedua tahanan itu lebih memilih mati daripada harus menyerah.
Kemungkinan yang kedua itu memang sangat merepotkan, bukan hanya tidak mendapatkan hasil apapun tetapi juga membuang-buang waktu. Belum lagi tangan sang penginterogasi harus terkotori oleh hal-hal kejam dan tidak manusiawi yang tentu saja tidak enak dipandang dan dirasakan, kecuali oleh golongan tertentu.
Namun ada kasus istimewa di mana proses interogasi itu tidak perlu menggunakan penyiksaan sama sekali. Tidak, itu bukan sang tahanan yang bersedia menyerah dari awal, melainkan sang penginterogasi yang menanamkan rasa takut luar biasa sehingga tahanan itu lebih memilih berbicara daripada harus mati atau disiksa.
Berbicara soal itu, sudah pasti kalian semua mengetahui pilihan mana yang diambil oleh Ren bukan? Orang yang memiliki sikap sepertinya memang sulit untuk ditebak, tapi dalam kasus kali ini tentu dirinya memilih yang terakhir.
Kogia, dan Murga telah memberitahu semua yang mereka ketahui. Mereka bertiga termasuk Hairan yang telah mati merupakan tim ekspedisi paling pertama yang dimaksudkan untuk meninjau lokasi yang masih cukup asing.
Tugas mereka bertiga adalah mencatat informasi mengenai medan, kondisi, dan keadaan Hutan Loudeas sebelum tim ekspedisi utama diluncurkan. Satu alasan mengapa tim ekspedisi ini begitu ceroboh sehingga hanya mengirim tiga orang di antara mereka itu karena keterbatasan individu.
Menurut perkataan mereka, misi ini khusus dilakukan oleh para pemain dan sengaja tidak melibatkan orang lokal yang berasal dari Kekaisaran Lodysna. Alasan sebenarnya tidak diketahui, tetapi berdasarkan kepribadian mereka yang memberi perintah sudah pasti atas dasar keserakahan.
Misi ini diperintahkan sendiri oleh sang pemimpin tertinggi yang dengan sombong menyebut dirinya sendiri [The Supreme Sovereigns]. Orang itu tidak lain adalah Devaran, sang pemain puncak yang menduduki peringkat kedua setelah R.Styx alias Anryzel Dirvaren.
Bagaimanapun, sebutan itu memang terdengar sangat angkuh bagi orang yang berada di nomer dua, akan tetapi karena Ren sendiri mengambil julukan yang sama memalukannya, dia tidak dapat berkomentar apapun.
Kogia dan Murga menuturkan bahwa Devaran adalah pemimpin yang tirani dan hanya mementingkan diri sendiri. Bahkan tiga pemain puncak lain sudah dia anggap sebagai pesuruh yang dapat diperintah, dan dibuang kapan saja.
Hal itu tentu berbanding terbalik dengan Ren yang menganggap sekutunya sebagai keluarga, dan memiliki ikatan erat dengannya sehingga mendengar pernyataan tersebut membuatnya sedikit merasa kesal.
Menurutnya, tidak ada yang lebih buruk daripada pemimpin yang menguasai sesuatu dengan tirani kejam. Tidak ada kebebasan, tidak ada keadilan, yang ada hanya kekejaman dan pemerasan, kehidupan semacam itu tidak lebih baik daripada kematian.
Mengakhiri pertanyaan mengenai misi mereka, dan siapa yang memerintahkan mereka, kini Ren beralih untuk mempertanyakan mengapa misi itu dilakukan.
"Apakah kalian berdua tahu, atas dasar apa misi ini dilakukan?"
Kogia adalah orang yang menjawab walau dia sendiri tidak yakin, "Saya mendengar sebuah desas-desus dari pemain yang memiliki kedudukan lebih tinggi. Dia berkata kalau misi ini dilakukan karena Devaran merasakan sumber kekuatan yang melimpah di Hutan Loudeas, tetapi lokasi akuratnya tidak diketahui. Ngomong-ngomong, ini hanya desas-desus dan tidak memiliki bukti kuat kebenarannya."
"Tidak, mungkin itu benar, Kogia. Aku mendengar desas-desus yang serupa tapi dengan tambahan kalau Devaran pun mendapat informasi itu dari orang yang misterius."
"A-Apa itu benar? Jadi ada kemungkinan Devaran telah ditipu? Siapa orang yang berani menipu dirinya seperti itu, aku tidak dapat membayangkan sama sekali."
"Entahlah aku juga tidak tahu."
Menyaksikan mereka berdua yang lancar berbicara mengenai rahasia yang mereka ketahui itu membuat Ren merasa sedikit aneh. Bukankah ini sudah tidak termasuk dalam interogasi lagi? Melainkan terasa seperti dia yang mendengar informasi dari mata-mata yang diutus oleh dirinya sendiri?
"Aku mengerti, aku mengerti. Lalu bagaimana dengan kemampuan si nomer dua, tiga, empat, dan lima itu? Apakah kalian berdua tahu rinciannya?"
Kogia terkesima saat mendengar Ren menyebut Devaran dan kawan-kawan menggunakan nomer seolah merendahkan, tetapi Murga lebih kepada terkejut karena sikap Ren yang meremehkan itu.
"Sayang sekali, kami berdua tidak memiliki informasi rinci mengenai kemampuan mereka. Satu hal yang kami ketahui adalah mereka sangat kuat, dan yang terkuat di antara mereka berempat sudah pasti adalah Devaran."
Suasana di ruangan itu langsung hening setelah Kogia menjawab untuk yang terakhir. Keheningan itu tercipta karena Ren sedang berpikir dalam dirinya sendiri, sedangkan Kogia dan Murga tidak berani berbicara sehingga ada suasana diam di antara mereka.
"Oh ya, ada satu hal lagi yang ingin aku ketahui."
Kogia, dan Murga seketika berwajah pucat. Mereka berdua berpikir setelah menjawab pertanyaan yang terakhir ini apakah mereka akan mati dengan mudah? Atau malah akan mengalami sesuatu yang bahkan tidak mau mereka bayangkan?
"A-Apa itu? Selama kami tahu."
"B-Benar, dan mohon berikan kami kematian yang mudah."
Ren mengerutkan dahi seraya bertanya-tanya, apakah dia memang sangat menyeramkan sampai-sampai mereka begitu ketakutan? Tidak, itu pasti khayalannya sendiri.
__ADS_1
"Kekaisaran Lodysna, apakah berencana menaklukan Kerajaan Suci Sancteral juga?"
Kogia sempat berpikir dan melirik kepada Murga, kemudian mereka berdua menggelengkan kepala pelan secara serentak. Dan setelah itu mereka menjawab dengan saling menimpali.
"Tidak ada rencana seperti itu, " ucap Kogia.
"Uhm, malahan Kekaisaran Lodysna telah bekerja sama dengan Kerajaan Suci Sancteral dalam dua tahun terakhir, " timpal Murga.
"Kami sendiri tidak tahu detailnya, namun informasi ini bukan lagi hal rahasia di kalangan para pemain yang ada di kekaisaran."
"Namun, Tuan. Bukankah Kerajaan Suci Sancteral telah musnah oleh pihak tertentu baru-baru ini?"
Menanyakan penaklukan suatu kerajaan ketika kerajaan tersebut telah dimusnahkan itu sangat aneh, dan membuat Murga penasaran. Mereka berdua mungkin berpikir bahwa orang dihadapannya ini mengira Kekaisaran Lodysna-lah yang menghancurkan Kerajaan Suci Sancteral.
"Begitu, pantas saja mereka bergerak sangat cepat."
Ren mengangguk-angguk sambil tersenyum puas penuh pengertian. Bagaimanapun, hubungan kerja sama inilah yang ternyata membuat Kekaisaran Lodysna cepat bertindak, sementara alasan Kekaisaran Agung Exousilia sama sekali tidak terpikirkan.
"Mungkin mereka hanya penasaran? Entahlah."
Interogasi akan dicukupkan sampai disini. Lagipula Ren tidak memiliki ide untuk bertanya sesuatu yang lain, mungkin lain kali dia akan memilikinya. Sampai saat itu tiba, Kogia dan Murga akan dengan terpaksa dikurung dalam penjara ini.
"Untuk saat ini aku sudah mendapatkan informasi yang cukup, aku akan datang lain kali. Dan hanya mengingatkan saja kepada kalian ... cobalah untuk melarikan diri sebisa mungkin," saran Ren sambil beranjak pergi.
Meskipun Ren mengatakannya dengan tulus tetapi Kogia dan Murga menganggap itu sebagai isyarat bahwa melarikan diri adalah hal yang mustahil walaupun mereka berusaha sampai putus asa.
Kendati demikian, Kogia masih penasaran tentang siapa orang ini? Firasatnya mengatakan kalau dia harus mengetahui identitas orang ini apapun yang terjadi.
"Tunggu!" seru Kogia menghentikan langkah Ren yang menuju keluar.
"S-Siapa sebenarnya Anda ini? Bukankah Anda juga seorang pemain?"
"Aku?" Ren menyeringai sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Apakah kau tidak pernah berpikir mengapa si nomer dua, tiga, empat, dan lima itu ada, sedangkan si nomer satu tidak ada? Yah ... menurutmu, di manakah si nomer satu?"
Senyuman yang muncul di wajah Ren mengisyaratkan jawaban tertentu. Ren kemudian menghilang bersamaan dengan suara pintu yang tertutup dari luar. Kogia, dan Murga yang mengerti maksud dari isyarat tersebut menelan ludah beberapa kali dengan wajah yang pucat.
"J-Jadi ... dia adalah?"
"No. 1, R.St ... yx?"
..._____________________...
Kota Aulzania, Satu Hari Setelahnya.
Keramaian Kota Aulzania memang tidak pernah surut dari para orang yang berlalu lalang. Sebagai pusat kota dari suatu kerajaan, Kota Aulzania merupakan tempat yang ideal bagi para pedagang untuk berbisnis sehingga tak heran banyak dari mereka yang menjadi pedagang.
Di antara orang yang memenuhi hiruk-pikuk keramaian Kota Aulzania, terdapat seseorang yang tidak asing bernama Nivania.
Nivania menempuh perjalanan yang sangat jauh dari Desa Giru yang terpencil ke Kota Aulzania yang besar ini demi mencari seseorang. Orang itu adalah Pahlawan Aulzania, yang dia duga merupakan orang yang sama dengan Ren.
Dugaan itu memang tidak memiliki dasar yang kuat, hanya berlandaskan kemiripan ciri-ciri yang terdapat di sebuah dokumen. Kemungkinan Pahlawan Aulzania adalah orang yang berbeda itu lebih besar daripada kemungkinan orang itu adalah Ren.
Namun bagi Nivania, dia lebih percaya terhadap insting yang selama ini dia gunakan untuk bertahan hidup. Apakah itu orang yang sama atau tidak akan terbukti setelah dia menemukannya.
__ADS_1
"Huff ... kira-kira dia di mana ya?"
Nivania hampir merasa lelah sepenuhnya. Sebagian besar wilayah kota telah dia telusuri untuk mencari informasi mengenai Pahlawan Aulzania, akan tetapi hasil yang ia dapatkan adalah nihil, murni tidak ada apapun.
"Uhh ... jahatnya kau Ren!! Mengapa harus bersembunyi seperti ini sih?!"
Pasrah dengan pencarian tanpa arah yang tidak membuahkan hasil, akhirnya Nivania memutuskan untuk menggunakan cara kedua, yaitu meminta bantuan orang-orang berkemampuan khusus.
Nivania memiliki sedikit koneksi dengan Ksatria Aulzania, mungkin bertanya pada mereka akan ia jadikan sebagai opsi terakhir. Sekarang yang harus dia lakukan adalah pergi ke Guild Petualang yang mana kata orang-orang segala macam informasi ada di sana.
Guild Petualang terletak di jalan utama yang menghubungkan gerbang keluar kota, dan Istana Kerajaan Aulzania, karena itu jalan utama lebih ramai beberapa kali lipat daripada jalan biasa.
Nivania dengan hati-hati bertanya pada orang yang terlihat bisa dipercaya di mana letak Guild Petualang tepatnya. Pada saat dia ingin bertanya sekali lagi, ada seseorang yang berjalan cukup jauh di depan, dia mengenakan pakaian hitam bercorak perak yang mengenakan tudung kepala.
Penampilan orang ini sangat mencurigakan, tampak seperti penjahat yang sedang bersembunyi. Namun Nivania, entah kenapa merasa percaya dengan orang itu sehingga dia mengejar dan memanggilnya.
"Uhm, kamu! Permisi, apakah kamu tahu di mana letak Guild Petualang?"
Orang itu terdiam dengan bahu yang bergetar, perlahan dia berbalik untuk menampakan sosoknya yang sangat familiar di mata Nivania. Kulit putih, rambut hitam, mata merah, dan ekspresi yang meyakinkan itu tidak lain adalah orang yang dia cari.
"Ahhh!?!" Nivania pun terkejut melihatnya.
Tanpa sadar Nivania berteriak terlalu keras hingga membuat orang-orang di sekitar memperhatikan mereka berdua.
Ren mengutuk nasibnya yang sial, kedatangan Nivania ini terlalu tiba-tiba bahkan tidak sempat membuatnya menggunakan mode penyamaran. Nah, itu tidak dapat dihindari karena dia mempersempit jarak persepsi mananya hingga titik terendah.
Meski berat hati, tetapi Ren tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Menilai dari ekspresi Nivania yang terkejut setengah mati, sepertinya dia melakukan perjalanan jauh ini untuk mencarinya.
"K-Kamu ...!"
Nivania tampak terharu, dan tidak bisa berkata-kata. Ekspresi seorang gadis yang terharu mungkin akan meluluhkan pria manapun, tapi tidak untuk Ren yang masih berusaha meminimalisir masalah.
"Uhm, maaf? Anda siapa ya?" tanya Ren dengan santai untuk berpura-pura tidak mengenalnya.
Alih-alih berhasil mengelabui, Nivania malah melompat ke arah Ren dengan sekuat tenaga. Seorang pria biasa akan terjatuh hanya dengan lompatan itu, tetapi Ren yang kuat dan kokoh bagaikan benteng istana tidak bergeming sedikitpun yang membuatnya berakhir dalam situasi dipeluk Nivania.
"Aku akhirnya menemukanmu!" teriak Nivania sekali lagi.
"Ahh, ya ampun."
Orang-orang semakin menarik perhatian mereka kepada dua orang yang dengan terang-terangan berpelukan di tengah jalan ini. Beberapa orang berbisik sambil tersenyum penuh pengertian.
"Anak muda sekarang memang suka terang-terangan ya?" ucap seorang wanita paruh baya.
"Ini mengingatkanku akan masa muda," timpal seorang kakek disampingnya.
"Masa muda kita tidak seindah ini," sahut seorang nenek yang tidak lain istri si kakek.
Ren segera melepaskan Nivania dengan paksa lalu pergi meninggalkan tempat itu. Beberapa bisikan semakin menjadi liar sehingga dia tidak tahan untuk segera pergi menemui Raja Aulzania, dan tentu saja dengan sangat terpaksa dia membawa Nivania.
..._____________________...
*Catatan Author :
Siapa di sini yang belum pernah di peluk sama sekali? Sini ... kita ngopi bareng mending. *_**
__ADS_1