
Situasi Pertempuran yang buruk mendorong para Penyihir untuk mundur terlebih dahulu. Terutama Wilayah dimana Kelompok Penyihir Angin, disana mereka sedang dikepung oleh Banyak Monster bertipe Terbang. Meskipun mereka dilindungi oleh para Prajurit, namun tetap saja kemampuan para Prajurit sendiri terbatas dan tidak semahir Ksatria Aulzania.
Lalu untuk Ksatria Aulzania sendiri, mereka tidak dapat membantu karena mereka sendiri mengalami Masalah. Dimana saat ini, mereka sedang dikepung oleh Lautan Monster tanpa akhir. Dalam Kondisi Monster yang mengepung mereka dari segala arah, mereka semakin lama akan semakin dirugikan.
Kebanyakan dari Korban adalah para Penyihir, keberadaan Monster bertipe Terbang sangat menyulitkan mereka semua. Namun alasan dari mengapa para Penyihir ini kesulitan bukan karena mereka seorang Penyihir, tetapi karena kurangnya kemampuan mereka.
Disaat Keputusasaan mulai datang sedangkan Harapan mulai pergi, muncul sesosok Bayangan Hitam yang akan menyelamatkan mereka. Sosok Bayangan itu adalah Kanza yang bergerak dengan cepat diantara Bayangan.
Shing! Shing! Shing!
Kanza menebas Monster Terbang yang berusaha membunuh seorang Penyihir. Meski dia sudah melakukan Hal ini dalam Jumlah yang Luar Biasa banyak, namun tidak ada tanda - tanda bahwa semua ini akan berakhir.
Dalam Sudut Matanya, Kanza melihat ada Penyihir lain yang akan diserang oleh Monster. Tanpa banyak pikiran lagi, dia langsung melompat ke dalam Bayangan dan menuju ke tempat dimana Penyihir lain diserang.
"Sial!" Kanza berusaha bergerak secepat yang dia bisa dan akhirnya tiba disana. Lalu Kanza dengan segera memotong para Monster menjadi beberapa bagian layaknya memotong kue.
Seakan tidak membiarkan Kanza untuk menarik Napas, Kanza melihat beberapa orang lain yang membutuhkan pertolongan dia. Kali ini, ada Tiga orang sekaligus yang harus dia tolong.
Otaknya bekerja dengan cepat, untuk mencari solusi bagaimana dia bisa menyelamatkan Ketiga orang itu sekaligus. Sedangkan, Kanza adalah seorang Assassin dan dia tidak memiliki satupun Skill Area.
Jangan hanya terpaku pada sesuatu yang telah ada, cobalah untuk memulai sesuatu yang baru.
Sosok Gurunya yang mengatakan Hal itu muncul dalam Benak Kanza. Oleh karena itu pula, Kanza jadi teringat akan kebodohan yang selama ini dia yakini, "Benar juga, aku bodoh karena masih terikat aturan dari Game! Bagaimana bisa aku melupakan hal ini!"
Suatu Ide acak tiba - tiba muncul dalam Pikiran Kanza. Tanpa banyak berpikir lagi, Kanza mencoba Ide itu terlebih dahulu dengan Menjatuhkan Pisau dan menariknya kembali menggunakan Mana.
"Aku hanya bisa berharap ini berhasil!" Kanza langsung melemparkan Dua Pisau miliknya kepada Dua Monster yang berbeda. Disaat yang bersamaan, Kanza melompat ke dalam bayangan dan mendekati target yang tersisa.
Dua Pisau yang dilemparkan dengan Mulus menembus Kepala Monster yang akan menyerang orang - orang. Sementara itu, Kanza sendiri ...
"Bantulah aku Guru!" Dia berteriak dalam Hati, dan muncul dihadapan Orang yang akan diserang oleh Monster. Kemudian, Benang Mana muncul dari Kedua lengannya dan langsung tersambung dengan Dua Pisau yang dia lemparkan.
Dengan Cara yang tidak diketahui, Kanza menarik Dua Pisau yang menembus Monster tadi untuk menuju ke arahnya kembali. Ketika Dua Pisau sudah dia genggam kembali, Kanza langsung melakukan Eksekusi ....
Sratt! Sratt!
Monster itu langsung Terbelah dan Mati. Kanza melakukan semua ini dalam waktu yang singkat, bahkan orang yang dia selamatkan terlihat kebingungan mengapa dia bisa selamat.
"Jangan hanya diam! Cepat pergi!" Bentak Kanza.
Monster - Monster lain mulai mendekati Kanza, itulah mengapa Kanza membentak Orang yang dia selamatkan agar dia segera pergi dari tempat ini. Orang itu hanya mengangguk dan segera berlari, satu Monster melihat hal ini dan berusaha mengejarnya. Tetapi ....
Kanza menghabisi Monster yang mengejar orang itu dengan cepat menggunakan Teknik Barunya. Dengan tatapan Tajam dan Senyum menantang pada Lautan Monster dihadapannya, Kanza berkata, "Aku adalah Lawan kalian ...."
* * *
* * *
* * *
Meskipun Keadaan Pertempuran semakin memburuk, Ren masih tetap diam dan duduk di Singgasana miliknya. Mata Merah yang masih menatap Lurus pada Pertempuran. Dia tidak bergeming meski melihat banyak Korban yang berjatuhan.
Dalam diam, Nirlayn merasa bingung dengan apa yang dipikirkan oleh Tuannya. Mengapa Ren membiarkan Korban berjatuhan? Mengapa dia tidak langsung turun tangan dan memusnahkan Monster itu semua?
Nirlayn sendiri sebenarnya tidak mempedulikan para Manusia. Namun pertanyaan ini muncul karena Nirlayn berpikir, jika Ren membiarkan mereka semua terbantai, bukankah itu akan mengganggu Hubungan Ren dengan Kerajaan Aulzania?
Disaat Nirlayn memikirkan semua ini dengan baik, dia melihat sesosok Makhluk yang mendekat dengan kecepatan tinggi. Sosok itu hanya terlihat seperti Cahaya berwarna Merah Darah di Udara.
__ADS_1
Pada awalnya, Nirlayn mewaspadai sosok yang mendekat ini karena terlihat tidak bersahabat. Namun ketika Jarak mereka semakin mendekat, sosok itu mengeluarkan Suara, "Hiiii~" Yang langsung membuat Kewaspadaan Nirlayn sirna.
"Avrogan?" Nirlayn berbicara Ragu - Ragu, sosok Avrogan yang terbang di Udara sangat berbeda dari Avrogan yang dia ketahui.
Avrogan mendarat di dekat Ren dengan sempurna dan langsung menunduk ke arah Ren. Ren yang awalnya hanya diam kini mulai melakukan pergerakan dengan melirik Avrogan yang tepat berada di sampingnya.
"Hal yang cukup gawat?" Ren berbicara seolah sudah mengetahui apa yang akan dibicarakan oleh Avrogan.
"Ya Tuan, seperti yang anda perkirakan, disana ada Portal yang memanggil Monster secara terus - menerus. Lalu yang membuat keadaan semakin gawat adalah, Monster yang keluar dari sana semakin Kuat dan Tangguh."
Setelah Mendengar Penjelasan dari Avrogan, Ren langsung menatap Lurus ke Hutan Loudeas kembali. Ekspresi wajahnya mengatakan seolah dia tidak tertarik sama sekali. Kemudian ... Ren menunjuk ke Medan Pertempuran yang sontak saja membuat Nirlayn dan Avrogan mengikuti Jari Telunjuknya ini.
"Keadaan akan semakin memburuk." Ren kemudian menunjuk pada Bagian Terbelakang dari Lautan Monster, disana terdapat Monster - Monster berukuran besar yang terlihat Kuat. Lalu, Ren melanjutkan perkataannya, "Kalian berdua pergilah dan bantu mereka."
Sebelum menjawab Perintah Ren, Nirlayn dan Avrogan melihat sekali lagi pada Bagian Terbelakang itu. Lalu dengan serempak, Keduanya mengangguk pada Ren dengan wajah yang tegas.
"Sesuai keinginanmu, Tuan!" Avrogan langsung meluncur dan terbang kesana. Kali ini, hanya tersisa Nirlayn yang akan memberikan Jawaban.
"Dengan senang Hati, Ren-sama. Tapi sebelumnya ... Dapatkah saya menggunakan Teknik itu?" Nirlayn bertanya dengan Hati yang bimbang.
Ingatkah kalian dengan apa yang Ren katakan dahulu? Soal dimana dia akan mengajari Nirlayn Ilmu berpedang dan akan membantunya membuat Blood Art baru? Nirlayn telah mempelajari beberapa Skill Berpedang milik Ren dan telah berhasil membuat sebuah Blood Sword. Namun anehnya, Blood Claw miliknya tidak hilang dan sampai sekarang masih dapat digunakan.
Dapat dikatakan, Nirlayn mempunyai Tiga Senjata sekarang, dan karena itu pula, Nirlayn mempunyai Gaya bertarung yang baru. Gaya bertarung ini sendiri cukup berbahaya dan terkesan membabi buta, yang dimana Nirlayn akan menyerang menggunakan Ketiga Senjatanya secara bersamaan.
Ren sendiri sedikit membenci Gaya bertarung seperti ini karena menghilangkan Seni dari Berpedang yang sesungguhnya. Tapi ... Pemikiran seperti ini langsung dia hilangkan, dan digantikan dengan pikiran yang lebih terbuka.
Ren meyakini, mungkin suatu Hal yang baru akan menciptakan Seni yang baru pula. Maka dari itu, pada saat Nirlayn menunjukan Gaya Bertarung nya, Ren hanya mengangguk dan memberi sedikit pujian padanya.
"Hm ... Baiklah, aku memberimu Izin."
Setelah menyaksikan kepergian Nirlayn, Mata Ren menemukan dua sosok yang menarik. Kedua sosok itu dengan senang Hati membantu Pasukan Kerajaan Aulzania walaupun, Ren yakin bahwa mereka bukan berasal dari Kerajaan ini.
* * *
* * *
* * *
"Gunakan Perisai kalian untuk bertahan! Lindungi para Penyihir!" Seorang Kapten Prajurit memerintahkan agar para Prajurit lainnya mundur sambil melindungi para Penyihir.
Trank! Trank!
Para Prajurit membentuk sebuah Tembok menggunakan Perisai untuk mengelilingi para Penyihir. Suara dari benturan antara Bagian Tubuh para Monster dengan Perisai terdengar dimana - mana.
"Aaaaaahhhh!" Seorang Prajurit Berteriak ketika Bagian tubuhnya terkena oleh Serangan Monster dan dengan Seketika Tewas terbunuh.
Kemudian, ada seorang Penyihir yang dibawa oleh Monster bertipe terbang ke Udara, dia berteriak sebisa mungkin untuk meminta pertolongan, "Tolong! Tolong Selamatkan aku!" Namun sayangnya, tidak ada satupun orang yang dapat menyelamatkan dia saat ini.
Korban semakin berjatuhan, suara dari Rintihan mereka yang kesakitan semakin membuat Mental para Pasukan yang masih hidup menjadi semakin menurun. Kecemasan, Kekhawatiran, dan Ketakutan akan kematian memenuhi mereka semua.
"Bertahan! Kita pasti bisa melewati ini semua!" Kapten Prajurit berusaha mengembalikan semangat para Prajuritnya. Akan tetapi, Mental mereka semua telah Jatuh sedemikian Rupa sehingga kata - kata Kapten Prajurit sudah tidak dihiraukan lagi.
Kebanyakan orang kini hanya fokus untuk menyelamatkan diri mereka sendiri. Formasi dinding yang dibuat oleh Prajurit pun hancur karena satu per satu dari mereka melarikan diri sendiri.
Suatu Keputusan yang amat bodoh, mereka yang melarikan diri malahan diserang dan terbunuh oleh para Monster terlebih dahulu. Sedangkan mereka yang tidak melarikan diri dan masih bertahan pun mengalami hal yang sama. Akibat dari orang - orang Egois yang menghancurkan Formasi.
Medan Pertempuran sudah menjadi kacau dan dipenuhi oleh Darah dan Mayat. Bukan hanya Mayat para Monster tetapi juga Mayat para orang - orang.
__ADS_1
Penyihir maupun para Prajurit sudah putus asa dan telah kehilangan Harapan mereka. Mereka hanya bisa menunggu, akan kematian yang menghampiri mereka sebentar lagi.
"Oh ... Dewa, bantulah kami."
"Aku ... masih memiliki anak dan istri."
"Hiks ... Hiks ...."
Itu adalah Gumaman dari orang - orang yang menatap pada Monster yang siap mencabut Nyawa mereka kapan saja. Ketika Keputusasaan mencapai puncaknya, sebuah suara Gemuruh menggema di atas Langit pertempuran. Suara Gemuruh itu datang, bersamaan dengan Cahaya merah yang bergerak dengan cepat dilangit.
"Dasar Bodoh! Berhenti menyerah dan berjuanglah!" Sebuah Suara yang menggelegar tiba - tiba terdengar dari Langit.
Suara yang dapat digambarkan sebagai Guntur Petir yang menggelegar ini mengejutkan apapun yang ada di Medan Pertempuran. Bahkan para Monster berhenti menyerang dan menatap ke sumber suara ini.
Semua orang yang ada di Medan pertempuran membeku, ketika melihat sosok yang mengeluarkan itu adalah Kuda Bersayap dengan Aura yang amat mengerikan.
"Apakah kalian meremehkan Tuanku yang telah menjamin Keselamatan Kota ini?!"
Suaranya kembali menggelegar di seluruh Medan pertempuran. Sontak, ketika sosok itu menyinggung seseorang yang menjamin Keselamatan Kota Aulzania, semua orang hanya memikirkan satu orang dan itu adalah Pahlawan Aulzania.
Namun Reaksi orang - orang yang mementingkan diri mereka sendiri berbeda. Mereka terlihat marah dan kesal pada kenyataan bahwa Pahlawan Aulzania tidak membantu mereka sama sekali.
"Kemana dia?!" Satu orang berteriak dengan lantang ke arah langit.
"Pahlawan Aulzania?! Omong Kosong! Dia hanya bisa menyaksikan kita menderita!" Satu orang lagi berteriak dengan lantang.
"Dia pasti orang pengecut dan lemah yang tidak berani menunjukan diri!" Orang Ketiga berteriak sama halnya dengan dua orang tadi.
Setelah Ketiga orang itu, beberapa orang lainnya pun mengatakan Hal yang sama. Ada yang mengatakan bahwa Pahlawan Aulzania hanyalah palsu dan berbagai macam perkataan Hina lainnya.
Sosok yang berada diatas langit yang tidak lain adalah Avrogan tentu merasa marah ketika mendengar perkataan mereka. Bagi para Bawahan seperti Avrogan yang memiliki Loyalitas sangat tinggi, Kehormatan Tuan mereka bahkan lebih penting daripada Kehormatan dirinya sendiri.
Kemarahan Avrogan kian membesar, Aura Merah Darah semakin membara. Tubuh Avrogan semakin menyeramkan Ketika Aliran Listrik yang muncul menyatu dengan Aura Merah Darah. Semua orang yang berkata dan menghina Ren seketika menciut melihat hal ini.
"Akan kuhancurkan kalian!" Avrogan bersiap untuk mengeluarkan sebuah Serangan untuk membinasakan orang - orang yang menghina Tuannya.
Langit ditutupi Awan Hitam Tebal yang membentuk sebuah Pusaran. Di Bagian dalam Awan tersebut, terlihat Petir - Petir yang terus menyambar.
Ketika Persiapan Serangannya telah mencapai tahap sempurna, Avrogan akan langsung memulai Serangan, "Divine Thund ...?!"
Serangan Avrogan berhenti seketika, semua ini disebabkan karena Avrogan merasakan sebuah Perasaan mengerikan dari arah Belakang. Ketika Avrogan berbalik dan melihat apa sebenarnya Perasaan ini, dia langsung membeku. Perasaan mengerikan itu berasal dari Ren yang menatap tajam dengan Kedua Mata Merahnya.
"T-Tuan ...? Baiklah, saya mengerti." Niat Avrogan yang ingin membinasakan mereka semua langsung menghilang dibawah Tatapan Ren yang mengintimidasi.
Tanpa perlu mendengar perkataan Ren, Avrogan tahu bahwa Ren tidak mengizinkan dirinya untuk menyerang orang - orang.
Avrogan tidak memiliki pilihan lain, selain mengubah Target menjadi Lautan Monster yang masih terlihat tidak berkurang sedikitpun. Karena Target adalah para Monster, Avrogan memutuskan untuk menggunakan Kekuatan Penuh miliknya.
"Divine Thunder ...." Avrogan mengatakannya perlahan.
Petir - Petir yang saling menyambar di Awan mulai bersatu di Pusat Pusaran. Ketika semua Petir telah bersatu dan membuat sebuah Bola Petir Raksasa di Pusat Pusaran Awan, Bola Petir mengeluarkan Petir Tunggal Dahsyat yang menyambar ke Tanah.
Damm!! Duaaaaaarrrrrrrrrr!
Petir Menyambar tepat pada Lautan Monster yang sedang berjalan. Tanpa memberikan para Monster untuk menghindar, Petir membuat Kehancuran yang Dahsyat. Sebuah Kawah Besar tercipta, lalu Gelombang Kejut yang berasal dari Sambaran Petir itu sendiri memusnahkan seluruh Monster yang berada di Jangkauannya.
Pada saat itu, Pasukan Kerajaan Aulzania menyaksikan apa yang dimaksud dengan Kekuatan yang sebenarnya.
__ADS_1