Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 88 : Pemikiran Ren?


__ADS_3

Swoooshhh!


Ren mendarat di salah Satu dari Empat Jalan yang ada. Empat Jalan itu adalah Jalan yang menghubungkan antara Gerbang dan Istana. Sementara itu, Ren kali ini berada di Jalan yang menghubungkan Istana dengan Gerbang bagian Selatan.


Tidak lama setelah Ren mendarat, Avrogan bersama dengan Arystina mengikutinya dan mendarat sedikit di belakang Ren. Mata mereka terpaku pada apapun yang ada di Wilayah Istana ini dan Kekaguman sangat Jelas terlihat disana.


Ren mulai Berjalan, untuk memastikan Istana miliknya masih sama dengan apa yang dia ingat. Avrogan dan Arystina pun mengikuti Ren sambil melihat kesana dan kemari. Mereka telah kehilangan ketenangan setelah melihat Istana yang Unik namun Luar Biasa ini.


Disaat mereka Berjalan, Avrogan mengeluarkan Suara yang lantang ...


"Apa ini benar - benar Istana anda Tuan?!"


Ren berhenti melangkah dan melirik pada Avrogan yang mengikutinya dari Belakang. Sebelumnya Avrogan telah Beberapa kali bertanya Hal ini, namun tidak Ren tanggapi. Karena ini kesekian kalinya dia bertanya, Ren mulai merasa kesal dan tak lagi dapat mengabaikan dia.


"Ya, ada masalah?" Balas Ren singkat.


Mata Avrogan langsung berbinar dengan Hebat. Ekornya langsung mengibas - ngibas dengan cara yang cepat. Kuda Bersayap Avrogan yang mengerikan, kini terlihat sangat bergembira.


"S-Seperti yang diharapkan dari Tuan! Anda bahkan memiliki Istana yang Sangat Hebat ini!" Teriak Avrogan.


Ren langsung mengerutkan Dahi dan Menatap Avrogan Keheranan. Bagaimana bisa dia merasa Segembira ini? Ren tidak mengerti.


"Hm." Hanya ini yang Ren gunakan untuk membalas ucapan Avrogan, Ren juga tidak menanggapinya lebih Jauh. Ren hanya berbalik untuk melanjutkan kembali Perjalanan menuju Istana.


Sementara Ren hanya menatap Istana yang Jauh di depannya. Arystina dan Avrogan malah sibuk memperhatikan apapun yang mereka lewati. Mulai dari sebuah Tiang dengan Cahaya yang menerangi Jalan sampai Jalan itu sendiri yang mereka lewati.


"Y-Yang Mulia ... Apakah yang digunakan oleh Tiang ini untuk mengeluarkan Cahaya adalah ... Crystal Mana?"


Setelah Avrogan sekarang adalah Arystina yang bertanya. Meski Nada yang dia gunakan terdengar seperti orang yang tidak ingin mengganggu Ren, tapi tetap saja dia bertanya. Sekali lagi, dengan Terpaksa Ren harus menjawab pertanyaan Arystina.


"Itu memang Crystal Mana, namun dengan sedikit Perubahan sehingga dapat menghasilkan Cahaya yang Indah."


Kali ini Giliran Arystina yang menampakan Mata yang Berbinar. Dia berhenti berjalan lalu menatap pada Tiang Penerangan dengan Ekspresi seperti "Wooow!" Atau semacamnya.


Dia memperhatikan Tiang Penerangan itu untuk beberapa Waktu, tetapi setelah menyadari Ren dan Avrogan yang sudah Berjalan cukup Jauh, dia segera Berlari untuk menyusul mereka.


"Yang Mulia luar biasa! Bukankah Crystal Mana itu sangat langka? Tapi anda menggunakan itu hanya untuk Penerangan saja!"


Arystina pun sepertinya tidak dapat menahan Ketenangan. Terkadang, dia akan melihat suatu Hal yang ada disana dengan cara yang berlebihan. Namun jika diingat dengan Benar, Arystina sudah lama tidak melihat Dunia luar. Reaksinya yang Berlebihan ini masih dapat dimaklumi oleh Ren.


Hal yang tidak dapat dimaklumi oleh Ren adalah Avrogan. Sedari awal, dia berjalan dengan cara yang aneh, seolah dia dengan sengaja mengetuk Jalanan untuk menghasilkan suara tertentu. Ren sebenarnya tidak ingin mempedulikan Hal ini, tapi itu tetap saja mengganggu dirinya.


"Avrogan ..." Ren berhenti, dan disaat yang bersamaan, Avrogan dan Arystina pun menghentikan langkah mereka.


"Ya Tuan!?" Avrogan menjawab dengan semangat.


"Berjalanlah dengan cara yang biasa."


Ren tidak menyalahkan mereka karena Kagum pada Istana miliknya. Akan tetapi, Kegembiraan mereka bahkan melebihi Ren yang memiliki Istana ini.


Untuk yang Kedua kalinya, Ren berbalik dan melanjutkan Perjalanannya. Namun belum sampai Sepuluh Langkah, Avrogan kembali mengeluarkan Suara.


"M-Maafkan saya Tuan, tapi semua yang ada disini begitu menakjubkan. Bahkan Jalan yang kita lewati ini Sangat Halus dan Nyaman!"


'Terserah ...'


Hanya itu yang ada dalam Hati Ren saat ini untuk menanggapi Tingkah laku Avrogan. Lalu sebisa mungkin, Ren berusaha mengabaikan mereka berdua yang mengikutinya.


Mata Ren terpaku pada apa yang ada dihadapannya. Itu adalah sebuah Istana yang sulit untuk dilukiskan dengan kata - kata. Di sekitar Istana ada Empat Menara yang mengeluarkan Gemerlap Cahaya yang Indah.


Sebuah Pemandangan yang begitu menakjubkan ketika dilihat dikala Malam telah Gelap Gulita.


Kemudian Jalan yang kini dilewati oleh mereka. Seperti yang dikatakan oleh Avrogan, Jalan ini begitu Halus dan sangat berbeda dari Kebanyakan Jalan yang ada di Dunia ini.


Pohon dan Tiang Penerangan yang Berjajar di setiap sisi membuat Jalan ini semakin Nyaman untuk dinikmati.


Pemandangan seperti ini adalah sesuatu yang belum Pernah Ren dapatkan secara langsung di Bumi.

__ADS_1


Setelah itu, Ren terus Berjalan dan Berjalan ...


Sampai akhirnya Ren tiba di depan Istana [Bloody Palace of the Monarch].


Kemegahan dan Kemewahan dari [Bloody Palace of the Monarch] Kini dapat dirasakan langsung oleh semua orang. Disini yang paling merasakan Hal itu adalah Ren. Dia merinding hanya dengan melihat Istana [Bloody Palace of the Monarch] yang berubah menjadi Kenyataan.


Hembusan Angin, Aroma, Perasaan, Tekanan, Kebanggaan, dan Aura dari [Bloody Palace of the Monarch] yang tidak dapat Ren dapatkan dalam Game kini dia dapatkan.


"Bukankah ... Melihatnya secara langsung itu Luar Biasa?"


Ren mendongak ke atas, dimana disana ada Istana miliknya yang terlihat seperti sebuah Gunung yang menjulang ke Langit. Setelah Puas memperhatikan itu, Ren melihat ke semua Hal yang ada di sekitarnya.


Mulai dari Taman Utama dari [Bloody Palace of the Monarch] Yang ada dibelakangnya. Hingga pada sebuah Susunan Tangga dalam Jumlah yang luar biasa dihadapannya. Semua itu dapat disaksikan secara menakjubkan oleh Ren dan semua orang.


"Saya tidak dapat menyangka akan diberi kesempatan melihat sesuatu yang sangat luar biasa seperti ini." Ucap Arystina.


"Tuan ... Istana ini benar - benar milik anda bukan?" Ucap Avrogan.


Tidak dapat dipercaya, Avrogan masih menanyakan Hal yang sama disaat seperti ini. Tentu saja dia tidak akan mendapat Tanggapan apapun dari Ren yang telah terpaku pada Istana miliknya.


Karena Ren tidak menjawab, Avrogan mengalihkan Target Pembicaraan pada Arystina yang ada di dekatnya.


"Nona Muda ... Apa yang anda Rasakan ketika melihat Istana ini?"


"Tidak ada ... Ini terlalu luar biasa."


* * *


* * *


* * *


"Ah, aku memang memalukan karena telah lama terpengaruh oleh Istanaku sendiri."


Ren tersenyum seakan menghina pada dirinya sendiri. Kemudian, dia berjalan untuk menaiki Tangga yang ada dihadapannya. Ren bahkan tidak sempat memeriksa apa yang sedang dilakukan oleh Arystina dan Avrogan saat ini.


"Ya, seperti yang diharapkan dari Istana."


Ada satu Pelindung lagi dihadapan Ren saat ini. Berbeda dari Pelindung sebelumnya yang tidak dapat dirasakan oleh Mana, Pelindung kali ini dapat dirasakan dan sepertinya sedikit lebih lemah dibandingkan yang Pertama.


Ren merentangkan Lengan ke depan untuk merasakan seperti apa Pelindung yang satu ini. Jika Pelindung sebelumnya dapat menyamarkan Wilayah dan memindahkan siapapun orang yang menyentuhnya, lalu bagaimana dengan Pelindung ini?


Begitu Kulit Ren bersentuhan dengannya, Pelindung itu mengeluarkan sebuah Cahaya mengkilap berwarna Merah Darah. Tidak, bukan mengeluarkan, akan tetapi Pelindung itu telah melukai Jari Jemari Ren dan mengambil Darahnya.


Ren sedikit terkejut karena Hal ini dan langsung menarik kembali Lengannya. Kemudian Ren memperhatikan dengan seksama Jarinya yang seakan telah ditusuk oleh sesuatu.


Bahkan untuk Pedang Sihir Tingkat Rendah, Mustahil untuk Merobek Kulit Ren meski hanya sedikit. Berdasarkan Hal ini, Ren dapat menyimpulkan Dua kemungkinan. Yang Pertama adalah, Pelindung itu memang Tajam dan Kedua adalah, Pelindung itu memang dengan sengaja diciptakan untuk mengambil Darah seseorang yang akan memasukinya.


Perhatian Ren kembali dialihkan pada Pelindung itu. Disana, Darah Ren yang telah berubah menjadi Cahaya Merah kini menyelimuti seluruh Pelindung. Membuat Pelindung itu dapat dengan Jelas terlihat bahkan tanpa Persepsi Mana.


Tanpa Hal yang Istimewa lainnya, Pelindung itu mulai memudar dengan sendirinya. Memudar dan terus Memudar sampai titik dimana itu telah benar - benar menghilang. Untuk memperkuat Bukti, Ren mengaktifkan kembali Persepsi Mana, dan seperti yang diduga, Pelindung telah benar - benar hilang.


"Sepertinya ini adalah Kemungkinan yang Kedua." Ucap Ren sambil memikirkannya dengan seksama.


Tap Tap Tap


Ren mendengar Langkah Kaki dari Belakang. Dan Karena Persepsi Mana telah diaktifkan, Ren dapat mengetahui bahwa itu adalah Avrogan bersama dengan Arystina tanpa berbalik sedikitpun.


Mendengar Kata Arystina, itu mengingatkan Ren pada suatu Hal yang seharusnya dia lakukan. Sesuatu itu adalah ... Ucapan Terima Kasih karena telah membantunya menemukan [Bloody Palace of the Monarch].


"Arystina ..."


"Eh ...?" Arystina tersentak karena tidak menyangka dirinya akan dipanggil oleh Ren disaat seperti ini. Avrogan dan Arystina bahkan melangkahkan Kaki secara Perlahan karena tidak ingin mengganggu Ren. Namun tidak disangka, Ren sendiri yang memanggil Nama Arystina.


"Kemarilah ..." Ucap Ren seraya mengindikasikan agar Arystina mendekat.


Arystina menghampiri Ren dan berdiri tepat disampingnya. Begitu Arystina tiba, Ren membalikan Tubuh agar menghadap padanya. Lalu secara tiba - tiba, Ren melakukan suatu hal yang mengejutkan.

__ADS_1


"Mungkin, ini sedikit tidak sopan untukmu ..."


Ren mengelus Kepala Arystina.


Sontak saja ini membuat Arystina merasakan Malu yang luar biasa. Wajah nya menjadi Merah Merona seakan dapat meledak kapan saja. Tetapi, Ren tidak mempedulikan Hal ini dan meneruskan perkataannya.


" ... Tapi karena dirimu, aku jadi dapat menemukan Istana ini. Terima Kasih." Ren tersenyum Tulus.


Arystina langsung panik dan tidak tahu harus melakukan apa. Matanya bergerak kesana dan kemari, bibirnya terus bergetar seakan ingin berbicara. Ren yang membuat Arystina seperti ini malah tidak menyadari dampak dari Perbuatannya.


Dengan Ekspresi yang seolah tidak Peduli, Ren menghentikan Tindakannya yang mengeluas Kepala Arystina. Dia kemudian Berjalan kembali untuk menaiki Tangga tanpa mengatakan sepatah Katapun.


Sementara Ren sudah bergerak kembali, Arystina masih diam dan menatap Udara Kosong dengan Wajahnya yang masih Merah Merona. Setelah beberapa saat dalam Kondisi yang seperti itu, dia akhirnya sadar dan tersentak.


"Ah! Yang Mulia ..." Arystina langsung bergerak dengan cepat untuk mengikuti Ren dan diikuti oleh Avrogan yang ada dibelakangnya.


Ren yang Berjalan terlebih dahulu secara tiba - tiba berhenti. Tidak ada Alasan yang pasti mengapa dia melakukan Tindakan yang tidak dapat dimengerti ini. Hanya saja, dia merasakan sesuatu, sesuatu yang dia lupakan dan membuat Hatinya merasa tidak enak. Tapi ... Apa itu? Ren berusaha keras untuk memikirkannya.


"Yang Mulia, anda tidak apa?" Arystina mengintip Ren yang berpikir dengan Keras dari Belakang.


Bukannya mendapat sebuah Jawaban, Arystina malah ditanggapi dengan Jawaban Bisu. Ini membuat Arystina merasa sedikit Kesal, meskipun dia tahu bahwa seharusnya dia tidak mengganggu Ren yang sedang berpikir.


"Mhm ..." Arystina langsung mengembungkan Pipi dengan cara yang Manja.


Avrogan yang menyaksikan Tingkah Laku Arystina hanya menampilkan Tanda Tanya. Sepertinya, Avrogan yang seekor Kuda tidak akan mengerti Hal ini.


Pada saat ini mereka Bertiga memikirkan Hal yang Berbeda. Ren dengan Pikirannya yang berusaha untuk mengingat Hal apa yang dia lupa. Lalu Arystina yang merasa kesal karena merasa diabaikan walaupun dirinya sendiri tidak dapat menyalahkan Ren yang seperti itu. Kemudian Avrogan, dia tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh Ren dan Arystina, jadi dia hanya menatap pada Istana dengan Penuh Kekaguman sama seperti sebelumnya.


Situasi seperti itu tidak berlangsung lama, itu karena Ren yang telah mengingat apa yang sebenarnya telah dia lupakan.


"Tch, Ya ampun, mengapa aku bisa melupakannya. Avrogan ..."


"Ya Tuan?!" Seperti biasa, Avrogan membalas dengan Jawaban yang semangat. Dia telah menjadi Kuda yang bersemangat setelah melihat [Bloody Palace of the Monarch].


"Segera kembali ke Kerajaan Aulzania dan Jemputlah Nirlayn."


"Hiiii~ Sesuai dengan Perintah Anda!"


Avrogan bergerak secara Perlahan ke Udara. Tindakannya ini bukan tanpa alasan, dia hanya tidak ingin merusak apa yang menjadi bagian dari [Bloody Palace of the Monarch]. Setelah Terbang tinggi, barulah dia melesat dengan cepat membentuk Cahaya Merah di Langit.


Ren melihat Kepergian Avrogan dengan Raut Wajah Bermasalah, "Mungkin lain kali aku harus lebih mengingat Nirlayn ..." Ucapnya.


Lalu Kemudian ...


Dibawah Gelapnya Malam yang disinari oleh Cahaya Rembulan. Ren mulai mengubah semua Rencana yang telah dia susun selama ini. Kehadiran [Bloody Palace of the Monarch] merupakan Penyebab dari Keputusan Ren untuk mengubah semua Rencana.


Salah satu dari Rencana Ren yang telah dia Hilangkan adalah, Rencana untuk mengambil Wilayah Kekaisaran Lodysna menggunakan Kerajaan Aulzania. Ren tidak memerlukan Rencana ini lagi karena dia sudah mendapatkan [Bloody Palace of the Monarch] Miliknya.


'Hahahaha! Mungkin, Andai mereka memberontak, tidak ada pilihan lain selain melakukan ... Penaklukan.'


Pemikiran yang tak terduga ini dikeluarkan olehnya bersama dengan senyuman yang mengerikan.


Namun senyum mengerikan itu langsung menghilang menjadi Ekspresi yang seperti biasa. Ren kembali berbalik pada Arystina, akan tetapi ketika itu dia melihat Arystina tidak seperti biasanya.


"Hm ... Mengapa kau menunduk Arystina?"


Ekspresi dan Aura yang dikeluarkan Arystina lebih Gelap dari Biasanya. Ren sama sekali tidak mengerti dan hanya menatap Arystina dengan seksama. Kemudian, disaat Ren menatap, Arystina mengeluarkan suara yang terdengar sedikit mengerikan.


"Yang Mulia ... Siapa yang dimaksud dengan Nirlayn ini?"


"....."


Ren terdiam, dan dalam Hati dia bertanya - tanya, mengapa Wanita selalu merubah Sikapnya secara Drastis?


___________


*Catatan Author

__ADS_1


__ADS_2