
Kereta kuda telah mencapai setengah perjalanan menuju Kota Soliedavosa. Namun sebuah masalah kembali menghampiri ketika perampok menghadang mereka sambil membawa puluhan anggota yang dilengkapi berbagai macam senjata. Masing-masing dari mereka menampilkan keserakahan yang sangat besar dari matanya ketika melihat bahwa mangsa mereka hari ini adalah bangsawan yang benar-benar kaya.
Alih-alih merasa direpotkan, Ren malah tersenyum senang. Penyebabnya tidak lain karena dua hal, yaitu kemencolokkan kereta kudanya berhasil dan yang kedua adalah perampok ini merupakan warna yang menghiasi kebosanan Ren dalam perjalanan. Jumlah mereka memang cukup banyak, berkisar antara 15-25 orang. Tapi jika diukur melalui kekuatan, mereka bahkan lebih lemah daripada grup perampok milik Lador yang dibinasakan oleh Ren beberapa saat yang lalu.
“Kalian diamlah di dalam, ini bukan masalah yang besar.” Ren memperingatkan pada Nirlayn dan Arystina agar tidak muncul.
Tidak ada jawaban Ren anggap sebagai persetujuan. Senyuman muncul bersamaan dengan Ren yang menurunkan dirinya dari kereta kuda. Hal ini sedikit membingungkan para perompak, apakah senyuman itu berbahaya? Atau malah senyuman bodoh Mereka belum bisa memastikannya.
“Sebagai perampok rendahan seperti kalian, berani sekali untuk menghadang kereta kuda dari dua wanita suci dari selatan huh?” kata Ren dengan ekspresi yang meyakinkan.
Perkataan Ren lantas membuat para perampok tertawa terbahak-bahak, mereka semua merasa lucu atas perkataan yang dilontarkan oleh Ren yang dimata mereka hanya seorang pelayan yang menjaga mangsa.
“Hahahaha, dasar bodoh! Sejak kapan perampok seperti kami mempedulikan aturan suci Kerajaan ini?” cibir salah satu dari mereka.
“Kau pikir hanya karena kami berada di wilayah Kerajaan Suci, kami harus mengikuti aturan bodoh Kerajaan ini?”
“Kami adalah perampok, tidak terikat oleh aturan manapun, bahkan aturan dewa!”
Mereka menggonggong dengan sangat sombong, terutama pada saat mereka berkata kalau mereka tidak diikat oleh aturan dewa. Sepertinya, otak mereka telah dikendalikan oleh keserakahan sehingga mereka tidak memikirkan dengan baik konsekuensi apa yang akan diterima setelah berbicara seperti itu.
Ren hanya bisa merasa kasihan pada mereka, karena ketidak tahuan mereka akan siksaan dan kepedihan yang ada di dunia.
“Sekelompok serangga yang sangat sombong. Bagaimana jika kalian melawanku? Kalau kalian menang, barulah kalian diperbolehkan untuk menyombongkan diri.”
Rambut hitam, mata merah, kulit putih, dan kondisi tubuh yang sangat-sangat baik. Para perampok itu memperhatikan Ren di setiap sudut, hanya seorang pelayan tapi sudah sebaik ini, mereka tidak dapat membayangkan bagaimana kondisi tuannya jika seorang pelayan saja sudah sedemikian baiknya.
“Hahahaha, hanya kau? Aku bahkan bisa menghabisi sepuluh orang seperti dirimu!” teriak salah seorang di antara mereka yang melangkahkan kaki ke depan.
“Namaku adalah Gru’end, pemimpin dari kelompok perampok ini!”
Perkenalan orang yang bernama Gru’end ini sedikit menggelitik, Ren dalam hati menertawakan dirinya seraya berkata dalam benak dengan penuh cibiran, “Peduli apa aku dengan namamu?”
“Hahahah, perampok yang sopan. Baiklah, kuperkenalkan juga diriku, namaku adalah Ry, seorang kepala pelayan yang melayani dua wanita suci dari selatan.” Ren membungkuk dengan cara seorang bangsawan.
Setelah membungkuk, Ren kemudian tersenyum kembali pada para perampok. Memikirkan dengan baik apa yang harus dilakukannya untuk memberi pelajaran untuk mereka.
“Kepala pelayan? Semuda itu? Baiklah, terserah kau saja. Sekarang kau akan bertarung denganku, bersiaplah!”
Gru’end mengepalkan kedua tangannya, berdasarkan sikap dan kuda-kuda yang dia tunjukan, Ren dapat menebak bahwa dia seorang <> atau petarung tangan kosong. Ren lalu mengukur seberapa hebat dirinya berdasarkan pengamatan seadanya.
“Ya ampun, bahkan dia jauh lebih lemah daripada Derrian? Kembalikan semangat bertarungku,” protes Ren dalam hati.
Muka Ren yang masam sontak mengundang rasa penasaran dari Gru’end.
“Hei, apa kau sudah mengakui kekalahanmu sebelum bertarung?”
Raut wajah Gru’end mengerut, seolah aneh karena ekspresi masam yang ditunjukan oleh Ren. Namun sesungguhnya, Ren tidak menyerah, melainkan lebih kepada kehilangan semangat untuk bertarung.
“Aku salah menilaimu, ternyata kau selemah ini,” ucap Ren kecewa.
Gru’end langsung tersulut kemarahannya karena telah dihina sedemikian rupa. Wajahnya memerah dan tangannya mengepal dengan sangat kuat. Lalu tanpa peringatan, dia melesat untuk melakukan serangan ke arah Ren. Di mata para bawahannya, Gru’end terlihat cepat, tapi berbeda dengan mata dari
seorang Ren, kecepatan Gru’end dalam berlari terlihat hanya seperi seorang anak kecil yang berlari.
Perbedaan dalam hal kecepatan menyebabkan perbedaan dalam hal pandangan pula. Mungkin dalam durasi Gru’end berlari, Ren dapat melakukan berbagai macam hal dengan cepat, misalnya meminum teh atau membuat kerajinan dari <> itu adalah perumpamaannya.
“Hm … membosankan.”
BAMM!!!
Gru’end melancarkan pukulan keras yang seketika ditahan oleh tangan kanan Ren dengan sempurna. Meski pukulan itu cukup kuat hingga menghasilkan gelombang angin sebagai dampak dari benturan antar kedua tangan, tapi semua itu belum cukup untuk membuat Ren merasakan pukulannya.
“Seginikah kemampuan pemimpin dari kelompok yang tidak terikat oleh aturan dewa?” ejek Ren terhadap Gru’end yang terkejut.
Gru’end tidak membalas ejekan Ren, dirinya terburu-buru untuk mundur sambil terlihat sangat waspada. Meski itu hanya pukulan pertama yang dimaksudkan untuk mengukur kekuatan olehnya, tapi dia tak pernah menyangka pukulan itu akan benar-benar dapat ditahan dengan begitu mudahnya. Sikap meremehkan lalu dihilangkan oleh Gru’end itu sendiri, kini dia harus benar-benar serius.
“Maafkan aku telah meremehkanmu tadi. Sekarang saatnya bagiku untuk serius ... setelah sekian lama.”
__ADS_1
Gru’end menyatakan sesuatu yang cukup mengejutkan, Ren berharap bahwa perkataannya bukan omong kosong belaka.
“Oh, benarkah? Aku menantikannya.” Senyuman menantang khasnya dikeluarkan oleh Ren.
Gru’end pun lantas membalas senyuman dengan senyuman. Sesaat setelah itu, tubuhnya menyemburkan aura emas yang cukup hebat. Mana yang sebelumnya dideteksi oleh Ren lebih lemah daripada Derrian kini beberapa kali lebih kuat sampai titik dimana itu bahkan dua kali lipat lebih hebat dari Derrian. Ren lantas tersenyum puas, lawan yang dia sangka sangat lemah ternyata menyembunyikan kekuatannya dengan baik.
“Lagi-lagi lolos dari persepsi manaku huh? Menarik sekali,” ucap Ren dalam hati.
Karena lawan sudah mengeluarkan keseriusan, apa salahnya untuk sedikit bersemangat bukan? Ren berpikir demikian. Mungkin ini juga saatnya untuk menggunakan skill-skill yang dia milikki dari Job Fighter
miliknya.
“Nah, seharusnya kau serius dari awal.”
Ren mengeluarkan Aura sebesar Aura yang dikeluarkan oleh Gru’end, agar musuh menyangka bahwa dirinya telah berlaku serius. Tindakan Ren terbukti efektif karena membuat Gru’end terkejut Aura yang dikeluarkan Ren setara dengannya.
“Huh, kepercayaan dirimu ternyata punya alasan. Kuakui, kau memang setara denganku.”
Ren menahan tawa ketika Gru’end berkata sesuatu yang menggelikan seperti setara dengannya. Namun, Ren tidak memiliki niatan untuk memberitahu musuh kalau dia lebih kuat darinya. Biarkan musuh merasa senang untuk sementara waktu, itulah yang diinginkan oleh Ren.
“Setara atau tidak, bagaimana kalau kita buktikan secara langsung?”
Ren hanya memiliki Job biasa dari seorang
<> dan tidak memiliki Job spesial darinya. Tapi, Ren cukup percaya diri kalau dalam hal kekuatan fisik secara mentah dia jauh melebihi Gru’end.
Dengan isyarat sebuah senyuman dari kedua belah pihak, mereka mulai melesat untuk menyerang satu sama lain. Tidak sulit bagi Ren untuk menyesuaikan kekuatan dan kecepatan agar setara dengan Gru’end. Namun dalam hal variasi skill, Gru’end tentu memiliki lebih banyak darinya, sehingga Ren sebisa mungkin melakukan gerakan yang mirip dengan suatu skill tertentu, walaupun sebenarnya dia tidak memiliki skill tersebut.
“<>!”
Saat saling berhadapan, Gru’end melancarkan sebuah tendangan dengan ancang-ancang yang cukup lama. Ancang-ancang itu berguna untuk mengumpulkan kekuatan pada kaki yang akan ditendangkan sampai kaki tersebut mengeluarkan cahaya emas yang menyilaukan.
Ren mengikuti gerakan Gru’end, melakukan ancang-ancang dan mengumpulkan kekuatan sampai di kaki kanannya muncul Aura Merah yang menyeramkan. Meski sebenarnya ini adalah Aura palsu yang memang dikeluarkan dengan sengaja oleh Ren.
“<>!”
Gru’end tersentak dan menggemertakan gigi, dia menyadaribahwa selama mereka bertarung, Ren selalu mengikuti apapun serangan yang dia lancarkan dan menamainya dengan nama yang hampir serupa. Ini adalah penghinaan terbesar selama dia hidup di dunia.
Gru’end melompat mundur sambil terlihat sangat kesal. Meski Ren hanya meniru teknik miliknya, tapi dia tidak bisa menyangkal bahwa serangan Ren lebih kuat dan menyebabkan kakinya mati rasa.
“Sialan! Tidakkah kau memiliki teknikmu sendiri?!” umpat Gru’end pada Ren.
“Aku adalah kepala pelayan, Ry si peniru. Menjiplak teknik orang lain adalah kesenanganku,” balas Ren dengan tidak acuh.
“Cih! Jika itu keinginanmu, maka coba tiru teknik terkuatku ini.”
“Hoo?”
Gru’end menenangkan hati, jiwa dan pikiran. Menyerap mana dari alam untuk dijadikan sebagai kekuatan. Setelah mengumpulkan mana dalam jumlah yang cukup luar biasa, Gru’end melakukan beberapa gerakan yang teratur. Gerakan yang teratur itu berakhir dengan sebuah kuda-kuda yang bersiap untuk
melakukan pukulan lurus ke depan.
Aura beserta mana yang luar biasa melonjak keluar dari dalam tubuh Gru’end dan sekali lagi melipat gandakan kekuatannya. Disini, Ren sedikit membelalakan mata karena tidak menyangka Gru’end akan melipat gandakan kekuatan sekali lagi. Karena hal ini pula, Ren sepertinya harus mengeluarkan kekuatan
yang lebih banyak.
“Ini adalah teknikku … cobalah untuk menirunya. <>!”
Entah itu imajinasi atau bukan, tetapi Ren melihat seekor Naga emas yang menyelimuti tubuh Gru’end. Naga emas itu kemudian dilontarkan bersamaan dengan memukulnya Gru’end ke depan. Naga yang terlihat seperti ilusi itu memanglah suatu hal yang nyata dan merupakan bentuk perwujudan dari
kekuatan mana. Pukulan Naga itu menyebabkan angin dan tekanan yang sangat kuat, beberapa di antara para perampok bahkan terpental karenanya.
Rambut Ren berkibar terkena angin yang berhembus kencang. Dihadapannya adalah Naga emas yang mendekat dengan cepat, tapi dia sama sekali tidak gentar, malah lebih terlihat senang daripada ketakutan.
“Aku memang tidak bisa menirunya, tapi …” Ren melakukan ancang-ancang yang sama sekali lagi. Bermaksud ingin menggunakan tendangan yang dia gunakan sebelumnya.
“Izinkan aku menahannya dengan sepenuh hati!” teriak Ren dengan penuh ketertarikan.
__ADS_1
“Apa dia gila?!” Gru’end terkejut setengah mati ketika mendengar Ren akan menahan serangannya secara langsung.
Bahkan untuk dirinya sendiri harus mengorbankan sesuatu yang besar ketika akan mengeluarkan teknik hebat yang satu ini. Efek samping dari <> adalah luka anggota tubuh bagian dalam, sehingga
Gru’end akan terkapar setidaknya selama sebulan sebelum benar-benar sembuh
kembali.
Dampak dari suatu serangan yang memiliki konsekuensi besar tentu tidak bisa dianggap remeh, <> adalah serangan yang dapat melukai orang yang dua kali lipat lebih kuat dari penggunanya dengan sangat
parah. Tindakan Ren dimata Gru’end tidak lebih dari usaha yang sangat sia-sia dan bodoh belaka.
Naga mengaum dengan hebat, menyebabkan gemuruh suara yang luar biasa meski itu bukanlah Naga yang nyata. Ren yang dihadapkan dengan serangan yang mengerikan tidak ketakutan sama sekali, hal itu dikarenakan kepercayaan dirinya yang luar biasa. Mungkin Naga emas ini dapat melukai orang yang lebih kuat dari Gru’end sebesar dua kali lipat, tapi bagaimana dengan sepuluh kali lipat? Seratus kali lipat? Tentu itu tidak akan berefek sama sekali bukan?
“<> versi
modifikasi!”
Dururururu! Bam!!!!!
Naga emas dan tendangan merah darah saling berbenturan.
Dua gelombang cahaya yang menyilaukan itu saling bertabrakan dan menciptakan sebuah ledakan yang sangat besar. Apa yang terjadi belum dapat dipastikan sebelum kedua cahaya benar-benar menghilang dan mengembalikan pandangan orang-orang.
Gru’end cukup penasaran dengan hasil dari benturan kedua serangan. Meski dirinya merasa yakin Ren tidak dapat menahan serangan <> miliknya, tapi entah mengapa kecemasan selalu ada
dalam pikirannya. Ingin memastikan, tapi sudah tidak mampu untuk bergerak
sembarangan karena organ dalamnya mengalami luka yang cukup dalam. Gru’end
hanya dapat menunggu cahaya dan debu yang dihasilkan benar-benar sudah
menghilang.
Debu menghilang dan hasilnya dapat dipastikan oleh pandangan semua orang. Ren yang masih dalam posisi kaki melayang diatas udara terdiam tanpa melakukan gerakan apapun. Celana dari pakaian kepala pelayan yang Ren gunakan sobek dan mengalami kehancuran, menampakan kakinya yang putih tapi cukup berotot itu.
“A-apakah dia … mati?” sangka Gru’end.
Harapan Gru’end segera sirna ketika sosok Ren tersenyum dan melakukan pergerakan untuk membenarkan posisinya ke keadaan berdiri yang sempurna.
“Hahahaha, ini luar biasa! Aku tidak menyangka seorang kepala perampok sepertimu memiliki kekuatan sebesar ini.”
Gru’end bergetar dengan mulut yang menganga. Pikiran, hati dan jiwanya tidak menerima bahwa Ren yang memenangkan adu kekuatan itu. Dalam pikiran Gru’end, hanya ada pertanyaan, bagaimana bisa seorang manusia dapat menahan <> yang kekuatannya setara dengan pukulan naga tanpa terluka?
“Tch, aku tidak bisa membiarkan hal ini. Kalian, seranglah bersama-sama!” perintah Gru’end
Semua orang menyerang secara bersama-sama, membuat Ren sibuk
karena harus menghindar, menahan dan menyerang balik mereka semua. Disaat Ren
sedang disibukkan oleh mereka, Gru’end bersama dengan seseorang segera melarikan diri dengan kecepatan penuh.
Satu per satu dari perampok itu tumbang oleh sekali serang yang dilancarkan oleh Ren. Kemudian pada akhirnya, mereka semua dikalahkan dalam kurun waktu kurang lebih satu menit. Satu menit yang cukup bagi Gru’end untuk melarikan diri dengan sempurna.
“Melarikan diri? Kau pikir bisa kabur dari-“ Ren berhenti berkata saat melihat sesuatu yang berkilauan di tempat Gru’end sebelumnya
berdiri.
Sesutu yang berkilauan itu kemudian diambil olehnya, dan diperhatikan dengan seksama. Sebuah lencana yang terbuat dari emas dan perak yang ditengahnya dilengkapi oleh <>.
Dalam lencana itu, terdapat sebuah nama yang sedikit mencurigakan, yaitu <> yang diukir dengan sangat baik.
“Jadi begitu, kali ini kubiarkan dirimu hidup lebih lama untuk kugunakan sebagai pion sementara dalam rencana,” gumam Ren seraya tersenyum mengerikan.
Ren memasukan lencana itu ke dalam inventory untuk diamankan. Setelah memastikan semua aman, Ren menggunakan Sihir Api untuk membakar mayat-mayat dari para perampok yang telah dia kalahkan. Tanah yang berlubang dan rusak akibat benturan Naga emas dan tendangan miliknya pun diperbaiki menggunakan Sihir Tanah.
“Hm? Mereka sepertinya menuruti perintahku dengan baik.” Ren melirik pada kereta kuda yang masih dalam keadaan aman tanpa tergores sedikitpun.
__ADS_1
Tapi, yang menyebalkan dari semua itu adalah Avrogan, yang malah dengan santai dan tidak pedulinya tertidur pulas.
“Entah mengapa, aku menginginkan daging kuda goreng saat ini?” ucap Ren dengan nafsu membunuh yang diarahkan pada Avrogan.