
Anryzel melarikan diri dengan kecepatan penuh. Perjalanan santai dan damai yang dia dambakan tidak terwujud karena suatu kejadian yang tidak diinginkan. Sekali lagi, dia harus kabur demi menghindari sesuatu yang merepotkan.
Lima menit perjalanan harus ditempuh Anryzel untuk melewati 10 kilometer yang tersisa menuju Kota Ceeven. Sebenarnya perjalanan ini masih dapat dipersingkat jika dia benar-benar serius dalam berlari, akan tetapi hal itu akan menghancurkan lingkungan sekitar dan meninggalkan jejak kerusakan yang tentu akan diketahui oleh para ksatria.
Untuk itu, Anryzel mempertahankan cara berlari yang cepat namun masih dalam batas normal sehingga tidak akan ada jejak apapun yang tersisa.
Kini lima menit itu telah berlalu, Anryzel sudah bisa melihat penampakan luar Kota Ceeven. Kota Ceeven dilindungi oleh sebuah tembok raksasa yang berbentuk persegi dengan beberapa gerbang masuk menyertainya yang menghubungkan Kota Ceeven dengan beberapa daerah lain termasuk Desa Giru.
"Pemandangan kuno yang sangat fantastis."
Anryzel berhenti berlari dan berjalan seperti biasa. Jarak menuju Kota Ceeven pun semakin lama semakin dekat hingga akhirnya dia berada tepat di depan gerbang masuk Kota Ceeven.
Dua orang prajurit Kota Ceeven yang bertugas menjaga gerbang menyadari kedatangan Anryzel dan bergegas menghampiri. Dua prajurit itu mengenakan zirah full plate sehingga Anryzel tidak bisa melihat bagaimana wajah mereka.
"Berhenti, siapa namamu dan dari mana kau berasal?" tanya salah satu prajurit sementara yang lain memeriksa Anryzel.
Anryzel saat ini mengenakan pakaian lusuh dan sederhana. Mengecualikan wajah yang sedikit tidak sesuai, maka orang-orang akan mengira bahwa dia adalah penduduk desa biasa.
"Namaku adalah Anryzel Dirvaren. Aku berasal dari Desa Giru," terang Anryzel seraya menunjuk arah selatan.
Prajurit yang bertanya memerhatikan seluruh penampilan Anryzel dengan seksama. Tidak bisa dipungkiri bahwa prajurit itu sedikit merasa curiga dengan pemuda yang muncul secara tiba-tiba ini.
Jika diperhatikan, pakaian Anryzel memang seperti pakaian penduduk desa yang lusuh dan sederhana, tapi ketika prajurit itu memandang kondisi kulit, tangan, dan wajah, dia merasakan ada sesuatu yang janggal.
"Kau bilang namamu Anryzel Dirvaren?"
Anryzel mengangguk sambil mengerutkan dahi. Prajurit yang memeriksa Anryzel pun kembali ke samping prajurit yang bertanya dan mengatakan bahwa Anryzel tidak membawa sesuatu yang mencurigakan.
"Maaf anak muda, sepertinya kau akan kami tahan untuk diinterogasi lebih lanjut," ucap prajurit itu yang langsung memerintahkan prajurit yang lain untuk menangkap Anryzel.
Anryzel sesaat merasa terkejut atas perintah penangkapan yang tiba-tiba, tapi karena pikirannya berkata untuk menurut terlebih dahulu maka dia membiarkan dirinya ditangkap tanpa memberikan perlawanan.
Anryzel dibawa oleh para prajurit menuju pos penahanan sementara. Pos penahanan sementara ini berbentuk ruangan dengan satu meja dan dua kursi yang saling berhadapan, berada di bawah benteng dan sepertinya memang tempat untuk menginterogasi.
Prajurit yang bertanya pada Anryzel kemudian datang dengan seorang pria berpakaian rapi dan memakai kacamata. Pria itu tampak masih cukup muda, jika Anryzel harus memperkirakan maka dia akan menjawab usianya berada di 27 sampai 30 tahun.
"Tuan Mori, mohon bantuannya," ujar prajurit itu lalu dia keluar dari ruangan.
Pria berkacamata yang bernama Mori itu memiliki wajah sinis yang cukup angkuh. Terlihat dari cara menatapnya, dia seakan memandang rendah Anryzel yang memakai pakaian lusuh dan berstatus tahanan sementara.
Mori dengan langkahnya yang angkuh berjalan dan duduk di kursi yang saling berhadapan dengan Anryzel. Mereka hanya dipisahkan oleh meja yang berfungsi sebagai sekat antara penginterogasi dan yang diinterogasi.
Mori dengan nada intimidasi berkata, "Mari kita buat kesepakatan. Jawab semua pertanyaanku dengan jujur maka kau akan kulepaskan, mengerti?"
Anryzel mempertahankan ekspresi datar dan netralnya meskipun sudah muncul perasaan kesal dengan tingkah laku pria berkacamata ini.
"Baik. Aku harap kau menepati janjimu," balas Anryzel dengan sikap yang tidak kalah angkuhnya.
Hal itu nampaknya sangat tidak disukai oleh Mori. Dia dengan senyum mengerikan menaruh kedua tangan di atas meja dan mulai menopang dagunya menggunakan tangan di atas meja tersebut.
"Besar juga nyalimu. Baiklah, siapa namamu?"
Anryzel dengan tenang menjawab, "Namaku? Anryzel Dirvaren, kau bisa mencatatnya dalam otakmu yang kecil."
Brak!!
Mori menggebrak meja dengan maksud ingin menakuti Anryzel. Dia lalu bertanya, "Dari mana kau berasal?"
"Desa Giru. Tidak tahu? Maka aku akan memberitahumu jika tempat itu berada di selatan."
Mori semakin merasa kesal, ini pertama kalinya dia menemukan seorang tahanan yang begitu berani dan tak tahu diri.
"Tentu saja aku tahu, Rakyat Jelata. Sekarang pertanyaan terakhir, apa kau memiliki niat buruk di kota ini?"
Anryzel menghela napas seolah lelah dengan pertanyaan yang bodoh, "Tentu saja tidak. Lagipula jika aku mau berbuat buruk, maka berkedip pun kalian tidak akan sempat."
Mori memelototi Anryzel kemudian menggebrak meja dengan kedua tangan. Ada dua hal utama yang membuatnya begitu marah. Pertama, sikap Anryzel yang angkuh dan tidak tahu diri sebagai seorang tahanan, dan yang kedua adalah fakta bahwa Anryzel tidak berbohong sedikitpun.
Mori dengan amarah yang menggebu-gebu terpaksa harus meninggalkan ruangan. Meskipun dirinya ingin memberi pelajaran kepada Anryzel, tapi dia tidak memiliki alasan yang rasional untuk melakukannya.
Sebelum membuka pintu keluar, Mori memberikan satu kalimat sebagai pesan kepada Anryzel, "Kau mungkin dilahirkan dalam sebuah tempurung sehingga kau tidak mengetahui betapa menakutkannya dunia di luar tempurung itu. Berhati-hatilah dalam bersikap, ingat itu."
Anryzel hanya bisa mengernyitkan alis atas peringatan tersebut. Siapa yang lebih dulu bersikap buruk? Si kacamata Mori itu berkata seolah-olah Anryzel-lah yang pertama kali bertingkah buruk.
"Tch, orang aneh."
Tak lama setelah itu, prajurit yang bertanya pertama kali pada Anryzel memasuki ruangan. Gerak-geriknya nampak sedikit aneh karena sebelum memasuki ruangan dia melihat Mori seolah kesal terhadap sesuatu dan pemandangan semacam itu belum pernah dia saksikan.
"Maaf atas ketidaknyamannya, mohon mengerti ini dilakukan hanya untuk keamanan kota. Tenang saja, Tuan Mori memerintahkan kami untuk membebaskanmu."
Anryzel hanya tersenyum ramah dan mengangguk mengerti. Setidaknya, para prajurit ini masih tahu tata krama dalam berbicara walaupun mereka sudah menangkap orang seenaknya.
"Ah maaf, bisa aku tahu siapa sebenarnya Tuan Mori itu?" tanya Anryzel sebelum meninggalkan ruangan.
Prajurit itu tampak berpikir sesaat lalu menjelaskan, "Tuan Mori itu pimpinan Moon Alliance cabang Kota Ceeven. Dia memiliki semacam keistimewaan sehingga bisa mengetahui kejujuran dari reaksi dan perubahan mana dalam diri seseorang."
Anryzel mendengar sesuatu yang menarik. Moon Alliance? Apa ini nama sebuah organisasi atau justru aliansi dari beberapa organisasi di kerajaan ini? Anryzel juga sangat tertarik dengan fungsi keberadaan Moon Alliance.
"Oh, benar 'kah? Di mana letak Moon Alliance? Sepertinya aku akan mengunjunginya."
..._______________________...
Anryzel berjalan menyusuri Kota Ceeven. Ditahan oleh prajurit penjaga gerbang tampaknya memakan waktu yang lama sehingga tidak terasa hari sudah menjelang sore.
Kesan pertama saat Anryzel melihat kota ini dari dalam kurang lebih sama seperti pada saat dia melihatnya dari luar. Bentuk bangunan dan rumah di Kota Ceeven berarsitektur klasik namun mengandung unsur fantasi yang kental. Bahan yang digunakan juga berbeda dengan bahan yang ada di bumi.
"Suasana ini, entah mengapa terasa damai."
Saat dengan santainya berjalan menyusuri jalan kota yang ramai, Anryzel dikejutkan oleh perasaan yang cukup familiar. Instingnya mengatakan bahwa ancaman sedang mendekat dengan kecepatan tinggi sehingga dia harus segera melarikan diri.
"Para ksatria itu, mereka sudah tiba di kota ini?!"
Jangan bertanya mengapa Anryzel bisa tahu informasi tersebut. Saat dia sedang melakukan percobaan menggunakan persepsi mana di tengah kota, dia merasakan adanya mana dari ketiga ksatria yang dimaksud.
Bagaimanapun, mereka pasti mencarinya. Ada kemungkinan juga mereka bertanya pada para prajurit mengenai orang yang baru-baru ini memasuki kota sehingga situasi ini cukup berbahaya.
"Secepatnya pergi ke Moon Alliance!" seru Anryzel seraya bergerak cepat di antara kerumunan.
Tempat yang dia tuju adalah markas Moon Alliance cabang Kota Ceeven yang di mana letaknya tidak terlalu jauh dari sana. Dengan keahlian player level 999 dia dapat dengan mudah menyelinap di antara kerumunan orang tanpa ketahuan.
Sesaat kemudian Anryzel sampai di markas Moon Alliance. Entah mengapa, melihat bentuk markas Moon Alliance ini mengingatkannya pada bentuk Guild House dalam Cothenic. Apa ini hanya kebetulan atau memang ada kaitan tertentu? Semua itu harus dipastikan.
Anryzel lalu masuk ke dalam markas Moon Alliance. Begitu masuk dia langsung disambut oleh resepsionis yang merupakan seorang perempuan berkulit coklat.
"Selamat datang di Moon Alliance cabang Kota Ceeven. Sebuah wajah yang asing, apa Anda datang kemari untuk daftar menjadi anggota?"
Mata Anryzel melihat ke sana dan kemari. Tempat itu nampak seperti lobi dari sebuah hotel. Segala macam dekorasinya cukup asing, tapi memiliki aura fantasi yang kuat.
"Ahh, apa yang dimaksud dengan anggota?" tanya Anryzel bingung.
Resepsionis nampak terkejut, tidak mengira bahwa orang yang memasuki Moon Alliance tidak tahu menahu soal itu.
"Anggota adalah orang yang terdaftar di Moon Alliance. Setelah menjadi anggota, Anda secara resmi menjadi bagian dari Moon Alliance dan bisa mendapatkan pekerjaan yang diajukan pada Moon Alliance. Umumnya, bentuk pekerjaan ini cukup berbahaya sehingga orang-orang menyewa anggota Moon Alliance untuk menyelesaikan pekerjaan mereka."
__ADS_1
Konsep yang sama dengan Guild House dalam game Cothenic. Mungkinkah Moon Alliance ini adalah nama dari sebuah guild yang ada dalam Cothenic? Anryzel sedikit curiga bahwa ada player lain yang terjebak di dunia ini.
"Ah, aku mengerti. Apa ada syarat khusus untuk mendaftar di sini? Lalu, setelah menjadi anggota apakah aku bisa bertemu dengan pimpinan guild?"
Resepsionis itu menjawab dengan ramah, "Ada tiga syarat utama agar Anda bisa menjadi anggota Moon Alliance. Pertama, Anda harus memenuhi biaya pendaftaran sebanyak Lima Koin Perak. Kedua, Anda harus memiliki kemampuan yang memadai. Ketiga, Anda harus terbebas dari catatan kriminal apapun dan menandatangani surat perjanjian."
"Untuk bertemu dengan pimpinan guild, Anda tidak perlu menjadi anggota tetapi Anda harus memberitahu apa urusan Anda dengan pimpinan guild. Seterusnya, akan saya sampaikan pada pimpinan lalu keputusan ada di tangan pimpinan."
Anryzel menangkap semua penjelasan resepsionis dengan baik. Mendaftarkan diri ke dalam Moon Alliance tentu bukan pilihan yang bagus, tetapi dia harus bertemu dengan Mori untuk menentukan rencana pertamanya di dunia ini.
Rencana pertama Anryzel di dunia ini adalah mengumpulkan informasi mengenai player lain. Keberadaan Moon Alliance bisa menjadi indikasi adanya player lain yang terjebak bersama dengannya, tapi kemungkinan itu sendiri sangat kecil.
"Baiklah. Bisa tolong sampaikan urusanku pada pimpinan? Katakan padanya, " Teman baikmu datang menjenguk" tolong katakan itu."
Resepsionis awalnya sedikit ragu untuk menyampaikan pesan yang sedikit meragukan. Namun karena sudah menjadi kewajibannya untuk menyampaikan pesan maka dia tidak memiliki pilihan lain.
Resepsionis itu pun pergi ke lantai dua untuk memberitahu pimpinan, sementara Anryzel memutuskan untuk duduk dan menunggu kabar dari sang resepsionis.
Mungkin sekitar sepuluh menit berlalu, dan resepsionis yang bertugas menyampaikan pesan kepada Mori telah kembali dengan ekspresi yang sedikit tidak ramah.
"Maaf, Pimpinan Guild tidak bisa menemui Anda hari ini. Silahkan datang di lain waktu," ujar resepsionis itu menyampaikan.
Anryzel menarik napas dan mengeluarkannya secara perlahan. Tampaknya, berpura-pura menjadi teman bukanlah ide yang bagus. Lagipula, berdasarkan kepribadian si kacamata Mori, dia bukanlah tipe orang yang memiliki banyak teman.
Meskipun permohonan bertemunya ditolak, Anryzel tidak akan menyerah begitu saja. Mungkin besok atau di waktu yang akan datang, dia akan bertemu dengan Mori.
"Baiklah. Terima kasih sudah menyampaikan pesanku."
Anryzel berniat pergi dari markas Moon Alliance, tetapi sebelum membuka pintu keluar dia teringat sesuatu dan memutuskan untuk kembali pada sang resepsionis.
"Ah, maaf. Bisa aku bertanya di mana toko berkualitas yang menerima penjualan logam berharga di sini?"
Resepsionis itu tampak tidak percaya, menurut pandangannya seseorang berpakaian lusuh tidak mungkin memiliki logam berharga. Jadi secara kasarnya, resepsionis tersebut mengira bahwa Anryzel mencuri atau mengambil logam berharga milik orang lain dan berniat menjualnya.
"Pertanyaan bagus. Setelah keluar dari sini, maka Anda akan melihat bangunan besar dan megah di ujung jalan. Itu adalah perusahaan komersial terbesar di kota yang menjual dan menerima pembelian logam. Perusahaan itu bernama Byurlin."
Anryzel berterima kasih dan segera pergi ke tempat yang dimaksud. Dia mengikuti perkataan resepsionis lalu tiba di ujung jalan dan menemukan bangunan besar nan megah yang bertuliskan Byurlin di atasnya.
Begitu ingin memasuki bangunan tersebut, Anryzel dicegah oleh dua orang pria bertubuh kekar dan tampak menyeramkan. Mereka berdua sepertinya adalah penjaga yang ditugaskan untuk menjaga pintu masuk perusahaan Byurlin.
"Maaf Nak, tapi orang miskin dilarang masuk," ucap salah satu penjaga.
"Bukankah lebih tepat jika " Orang yang tampak tidak menguntungkan?" bukan begitu?" sindir penjaga yang lain.
Anryzel hanya tersenyum dan berbalik untuk mencari tempat yang tersembunyi. Dia memasuki celah antar bangunan yang cukup gelap dan tentu tidak ada siapapun di sana.
"Aku pikir hanya bangunan yang fantasi, ternyata budaya mereka juga sama."
Penampilan yang baik sepertinya akan memudahkan Anryzel melakukan berbagai macam hal. Oleh karena itu, dia membuka Dimension Ring secara diam-diam dan masuk ke dalamnya untuk berganti pakaian.
Sesaat kemudian, Anryzel keluar dari Dimension Ring dengan mengenakan pakaian khas dari seorang R.Styx. Karakter gamenya itu memang tidak selalu mengenakan pakaian yang sama, tetapi semua warna dari pakaiannya itu serupa.
Sebuah kemeja merah gelap dibalut oleh sebuah jas yang pas, dilengkapi oleh celana hitam khusus yang cukup ketat dan sepatu kulit berwarna hitam. Satu set pakaian formal yang dimiliki oleh Anryzel dengan warna khas dari Blood Devil, yaitu merah gelap dan hitam.
"Baik, mari kita pergi," ucap Anryzel dengan percaya diri.
Dia melangkahkan kaki keluar lalu menuju perusahaan Byurlin sekali lagi. Berbeda dengan sebelumnya yang cenderung diabaikan dan tidak dianggap oleh sekitar, kini Anryzel yang berpakaian unik dan elegan tampak menarik begitu banyak perhatian.
Dua penjaga perusahaan Byurlin tadi bahkan berlari untuk menyambut Anryzel, dan mereka tidak menyadari bahwa Anryzel adalah orang yang mereka usir sebelumnya. Itulah bukti seberapa besar perubahan yang dilihat oleh orang lain ketika Anryzel memakai pakaian yang berkelas.
"Selamat datang di perusahaan Byurlin," ucap penjaga satu dengan sopan.
"Silahkan masuk, Tuan," ucap penjaga dua menimpali.
Begitu memasuki bangunan milik perusahaan Byurlin, Anryzel disuguhkan sebuah pemandangan di mana barang-barang berkilauan seperti kalung, gelang, cincin, anting, bahkan pedang, dan senjata lain sedang dipamerkan dalam kotak-kotak kaca yang berjejer rapi.
Tampak juga di sana pelanggan yang melihat-lihat barang adalah orang-orang berpakaian mewah. Rata-rata pelanggan tersebut adalah pria tua yang buncit, dan wanita yang sudah cukup berumur. Meski demikian, ada juga beberapa di antaranya yang masih muda dan segar.
Seorang pelayan muda melihat kedatangan Anryzel dari kejauhan. Dia bergerak cepat menghampiri Anryzel dengan senyuman yang cukup menawan.
"Selamat datang di perusahaan Byurlin. Tuan, apa ada sesuatu yang Anda inginkan?" sambutnya ramah.
Pelayan tersebut adalah seorang perempuan. Dari ciri-ciri fisik dan wajah yang sedikit kekanak-kanakan, Anryzel menebak bahwa perempuan ini masih berusia belasan tahun.
Perempuan ini memiliki rambut coklat, kulit putih biasa, dengan gaya rambut ikat dua alias twintail.
"Sebelumnya aku bertanya pada seseorang, dia mengatakan jika aku bisa menjual logam berharga di sini. Apakah itu benar?"
Senyum merekah perempuan itu nampak sedikit memudar. Anryzel juga mendengar beberapa bisikan dari pelayan lain yang seperti mengasihani dan merendahkan pelayan perempuan yang menyambutnya.
"T-Tentu saja bisa. Hanya saja, tempat penerimaaan logan berharga ada di area yang berbeda. Tuan bisa mengikuti saya menuju ke sana."
Setelah menerima konfirmasi dari Anryzel, pelayan itu menuntun Anryzel menuju ruangan yang berbeda. Mereka berjalan melewati beberapa lorong pendek kemudian masuk ke sebuah ruangan bawah tanah.
Ruangan bawah tanah itu minim cahaya, tapi dibentuk dengan sangat baik sehingga Anryzel tidak merasa sedang berada di bawah permukaan sedikitpun. Mereka berdua pun berjalan lagi melewati sebuah auditorium yang luas.
"Tempat apa ini?" tanya Anryzel secara spontan.
"Ini adalah panggung pelelangan. Tempat yang biasa digunakan perusahaan Byurlin untuk melelang barang berharga yang sangat langka."
"Oh."
Mereka pun terus berjalan hingga tiba di hadapan satu pintu yang bertuliskan "Manajer Cabang" dan pelayan itu mulai mengetuk pintu secara perlahan.
"Siapa itu?"
Suara laki-laki muncul dari dalam ruangan. Pelayan itu nampak gugup untuk menjawab pertanyaan. Entah apa yang dipikirkan pelayan tersebut sehingga dia menjawab dalam tempo yang cukup lama.
"Manajer, ada seseorang yang berkata ingin menjual logam berharga."
Tidak ada tanggapan apapun dari dalam, tetapi pintu di hadapan mereka seketika terbuka. Seorang laki-laki muda muncul sambil terlihat kesal dan memerhatikan mereka berdua.
"Kau lagi! Sudah kubilang bukan? Jangan membawa orang asing sembarangan, apalagi mereka yang berkata ingin menjual sesuatu yang berharga!" bentak manajer pada pelayan itu.
Anryzel yang tidak menyukai nada tinggi sang manajer mengambil alih dan berkata, "Tuan Manajer bukan? Aku berharap kau tidak membentak pelayan yang tidak bersalah ini. Percayalah, aku membawa sesuatu yang sangat berharga."
Manajer itu melotot ke arah Anryzel, dan Anryzel sedikitpun tidak gentar dengan tatapan tajam sang manajer. Setelah cukup lama saling memelototi satu sama lain, manajer itu menghela napas seolah lelah.
"Baiklah, aku akan mendengarkanmu. Dan kau, tunggulah di sini dan jangan harap ada kesempatan kedua jika hal yang sama terjadi lagi."
Pelayan itu menunduk dengan wajah yang takut, "B-Baik."
Anryzel dan sang manajer lantas memasuki ruangan sementara pelayan itu menunggu di luar ruangan. Sang manajer mempersilahkan Anryzel duduk, dan mereka berdua duduk saling berhadapan.
"Jadi, barang berharga apa yang Tuan miliki?" tanya manajer tanpa basa-basi.
Anryzel menyunggingkan bibirnya seraya bersikap angkuh di hadapan sang manajer. Tindakan ini tidak mencerminkan sifat Anryzel yang sesungguhnya, melainkan sebuah strategi agar lawan bicara tidak menganggapnya remeh.
"Kedatanganku ke tempat ini menerima penyambutan yang kurang baik dari Sang Manajer. Jadi, bagaimana kau bisa menjelaskan hal itu padaku?"
Sang manajer merasa terintimidasi dengan sikap dan gaya bicara Anryzel. Dari gerak-gerik, perkataan, mimik wajah, dan bahkan penampilan, sang manajer menyadari bahwa sosok di hadapannya ini adalah seseorang yang berpengalaman.
"Ah, maafkan sikapku sebelumnya. Pertama biarkan aku memperkenalkan diri. Namaku adalah Rezhuan, manajer cabang perusahaan Byurlin. Mengenai sambutan yang kurang mengenakan, itu disebabkan oleh ..."
__ADS_1
Manajer menjelaskan bahwa akhir-akhir ini banyak orang berpura-pura kaya dan berkata memiliki barang berharga untuk dijual atau dilelang di perusahaan Byurlin. Secara kebetulan, semua penipu itu selalu dan selalu dibawa oleh pelayan yang berada di luar ruangan sehingga manajer tidak mempercayainya lagi.
Itu juga menjadi alasan mengapa sikap manajer pada pelayan tersebut cenderung tidak ramah, dan itu juga menjadi alasan mengapa pelayan tersebut dikucilkan serta tampak sedikit takut untuk mengunjungi ruangan sang manajer.
"Jadi begitu. Siapa namanya?"
Manajer Rezhuan tampak sedikit bingung dan balik bertanya, "Maaf, siapa yang Anda maksud?"
"Pelayan itu, yang saat ini ada di luar."
Manajer Rezhuan nampak lupa dan mengatakan, "Aku tidak menghafal nama mereka satu per satu, tapi jika tidak salah dia adalah pelayan paling junior di perusahaan ini."
Anryzel menghela napas dan mengkritik manajer cabang perusahaan Byurlin dalam benaknya, atas kebodohannya melupakan nama pelayan perusahaan.
"Sudahlah, tidak masalah. Mari kita membahas bisnis yang menguntungkan. Pertama-tama, aku ingin tahu apa barang yang paling berharga, yang sekarang dimiliki oleh perusahaan Byurlin ini?"
"Perusahaan Byurlin ini hanya cabang. Aku tidak tahu, mungkin ada barang yang lebih berharga di cabang yang lain atau pusat perusahaan, tapi barang paling berharga di tempat kami ada dua. Pertama sebongkah orichalcum murni yang cukup untuk dijadikan sebuah senjata, dan kedua adalah sebuah core daripada monster Great Lion King."
Anryzel mengangguk-angguk mengerti seraya tersenyum penuh ejekan seolah tidak tertarik dengan sampah semacam itu. Meski tingkahnya ini sebagian dari strategi, tetapi kenyataannya dua item yang dijelaskan oleh sang manajer memang sebuah barang biasa di mata Anryzel.
"Heh, sudah kuduga kota kecil semacam ini tidak memiliki barang yang cukup berkualitas."
Manajer Rezhuan semakin menegang. Banyak pertanyaan bermunculan di benaknya seperti, apakah pria ini memang bukan penipu? Benarkah pria ini seseorang yang memiliki benda sangat berharga? Jika dia memilikinya, apakah dia mau bekerja sama dengan perusahaan kami setelah mendapat sambutan buruk?
"Tuan, siapa Anda sebenarnya hingga memandang sebongkah orichalcum murni dan core dari Great Lion King seperti bukan barang yang berharga?"
Anryzel merogoh saku jasnya dan mengambil sebuah cincin bercahaya yang berukuran kecil. Cincin itu nampak sangat indah dan mengeluarkan aura yang misterius, bahkan manajer Rezhuan tidak sanggup menahan hasrat ingin menatap cincin tersebut.
"C-Cincin macam apa ini, Tuan? Mengapa aku merasa tertarik dan seakan tidak bisa mengalihkan pandangan darinya?"
Ini adalah aksesoris berbentuk cincin yang memiliki efek meningkatkan efisiensi penggunaan sihir. Cincin ini terbuat dari logam sihir, yaitu sebuah logam khusus yang muncul di area dengan kepadatan sihir tinggi dan terkonsentrasi.
Biasanya, logam sihir hanya muncul di sarang monster yang benar-benar kuat. Monster terlemah yang bisa membuat logam sihir dari energi sihirnya yang menyebar adalah setidaknya ada di tingkat Super Class, pengembunan energi sihir menjadi logam sihir pun memakan waktu cukup lama, yaitu sepuluh tahun untuk sebongkah kecil logam sihir.
Sementara itu, item yang dikeluarkan oleh Anryzel adalah aksesoris tempur yang memiliki nama "Demon Ring, Atmery" item High Class dengan efek spesial mengurangi konsumsi mana sebesar 50% saat menggunakan sihir.
"Coba kau tebak terbuat dari apa cincin ini?" tanya Anryzel dengan wajah yang bangga.
"Orich ... tidak mungkin, ini pasti Adamantite!"
Anryzel menutup cincin itu dengan genggamannya dan menampakan wajah kecewa. Manajer Rezhuan terlihat panik dan tidak tahu di mana letak kesalahannya.
"Sayang sekali manajer, aku mengurungkan niatku untuk menjual Demon Ring Atmery yang terbuat dari Logam Sihir ini pada perusahaanmu."
"A-A .... Apaa?!!!"
Sebuah cincin yang terbuat dari Logam Sihir? Manajer Rezhuan membatu dengan mulut yang terbuka lebar karena merasa sangat terkejut. Tidak ada hal yang lebih mengejutkan dari mengetahui bahwa cincin tersebut di buat dari material legendaris, Logam Sihir!
Lalu hal yang ingin membuat Manajer Rezhuan menangis menjerit adalah kesalahannya dalam menebak sehingga Anryzel mengurungkan niatnya untuk menjual cincin tersebut pada perusahaan Byurlin.
Manajer Rezhuan pun mengeluarkan ekspresi kosong dan putus asa. Karena kelalaian, dia melewatkan satu kesempatan besar yang bisa membuatnya menjadi manajer utama perusahaan Byurlin.
"Namun tenang saja, Manajer. Aku masih memiliki barang menarik yang cukup berharga untukmu."
Manajer Rezhuan seketika sadar kembali dan bertanya, "Benar 'kah, barang macam apa itu, Tuan?!"
Anryzel berkata dengan penuh kebanggaan, "Satu buah core dari monster Rare Class yaitu Great Serpent of Disaster, Tuyara."
Great Serpent of Disaster, Tuyara adalah boss monster akhir dari salah satu dungeon yang ada di Cothenic. Meski hanya monster Rare Class tetapi melihat penduduk desa yang senang hanya karena core rendahan, seharusnya ini lebih daripada cukup.
"A-Apa Anda sedang bercanda? Rare Class bukankah itu sudah termasuk monster bencana?"
"Bencana? Tuyara tidak sekuat itu. Julukannya hanya sekedar nama saja."
"Selama saya hidup hanya Anda yang mengatakan monster Rare Class biasa saja! Tapi jika Anda berkata begitu, mungkinkah?"
"Benar, aku sendiri yang mengalahkannya. Jadi bisa dipastikan core ini dalam keadaan yang sangat baik tanpa tergores sedikitpun."
Manajer Rezhuan mengeluarkan ekspresi yang mengatakan bahwa bukan itu yang dia maksud!
"Tapi, apa Anda yakin menjual barang berharga semacam itu pada perusahaan Byurlin ini? Bukankah akan lebih meyakinkan jika menjualnya di ibukota?"
Anryzel berpikir sejenak dan berkata, "Jangan bertanya alasannya. Jika kau mau, aku akan menjual core tersebut dengan harga yang tidak terlalu mahal."
Tidak mungkin bukan, Anryzel berkata alasan mengapa dia menjual core tersebut di sini karena kekurangan uang?
Rezhuan tampak termenung, keputusan membeli barang yang sangat berharga seperti ini tidak bisa diambil tanpa memikirkan banyak pertimbangan. Salah satu hal yang dipertimbangkan oleh Rezhuan adalah anggaran untuk membeli core tersebut, apakah masih tersisa dan cukup?
"Jangan terlalu banyak berpikir, Manajer. Apa kau yakin membiarkan kesempatan ini terlepas begitu saja?"
"Anda benar. Perusahaan pusat sudah mengantongi banyak barang berharga dan mungkin mereka memiliki core yang sama berharganya, manajer utama pasti memiliki keuntungan besar dan impianku tidak akan terwujud jika tidak mengambil kesempatan ini."
"Keputusan yang bagus."
"Namun, saat ini kami belum memiliki anggaran yang cukup. Mau 'kah Tuan menunggu sampai pelelangan minggu ini selesai? Maka perusahaan cabang ini dengan pasti akan membayarnya!"
Anryzel tersenyum dan mengulurkan tangan untuk bersalaman. Namun reaksi Rezhuan tidak terduga, sepertinya dunia ini tidak memiliki budaya jabat tangan atau semacamnya.
"Hal yang harus kau lakukan adalah mengikutiku."
Rezhuan dengan ragu mengikuti Anryzel untuk mengulurkan tangan. Mereka berdua pun berjabat tangan sebagai tanda bahwa mereka telah bekerja sama.
"Manajer tidak perlu khawatir. Aku akan kembali setelah pelelangan selesai dengan membawa core yang dimaksud. Namun sebelum itu, bisakah aku menjual sebuah barang ini agar aku mendapatkan uang?"
Anryzel memperlihatkan sebuah liontin yang berkilauan. Ini hanya item aksesoris biasa yang terbuat dari kombinasi beberapa bahan seperti emas, perak dan batu giok.
"Silahkan perkirakan harganya."
Manajer Rezhuan mengambil liontin tersebut. Dia memeriksa detail-detail dari liontin dengan seksama dan mendapat kekaguman atasnya.
"Wow, sungguh liontin yang indah. Meskipun bahan pembuatannya tidak terlalu berharga tetapi desain dan ukiran ini, sungguh sebuah mahakarya. Aku bersedia membeli liontin ini dengan lima belas koin emas, bagaimana Tuan?"
Anryzel tidak mengetahui dengan pasti berapa banyak lima belas koin emas itu, tetapi dia berakting seolah-olah sudah tahu dan itu merupakan bagian dari rencana.
"Tidak masalah, anggap ini sebagai jaminan bahwa aku tidak berbohong."
Manajer Rezhuan tampak kagum, dan tiba-tiba dia berkata, "Tidak Tuan, harga sebenarnya adalah dua puluh koin emas, aku hanya ingin melihat ketulusanmu, Tuan."
Anryzel tersenyum dan berkata dalam hati, "Sudah kuduga."
"Jadikan itu lima belas koin emas. Aku tidak masalah dengan itu, barang sepele seperti ini masih banyak aku miliki," tutur Anryzel.
Manajer Rezhuan mengangguk, dia berjalan ke arah meja tempatnya bekerja dan mengambil lima belas koin emas dari penyimpanan. Dia lantas memberikan lima belas koin emas tersebut pada Anryzel dalam sebuah kantong yang terbuat dari kain.
"Lima belas koin emas. Senang bekerja sama dengan Anda, Tuan."
Anryzel mengambil kantong kain tersebut dan menaruhnya ke dalam saku seraya berkata, "Ya, terima kasih."
Saat kesepakatan sudah terjalin, dan Anryzel ingin meninggalkan ruangan sang manajer, tiba-tiba manajer menghentikan langkah Anryzel dengan sebuah pertanyaan.
"Tuan, bisa aku tahu siapa namamu?"
Tanpa menoleh sedikitpun, Anryzel menjawab, "Anryzel Dirvaren." seraya membuka pintu dan meninggalkan ruangan.
__ADS_1