Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 137 : Arystina yang Berusaha


__ADS_3

Arystina melihatnya, kenangan yang terkubur dalam ingatan selama dia hidup dalam naungan pohon raksasa. Kenangan itu muncul kembali secara alami saat dirinya bersiap untuk melepaskan inti mana dari pohon Shade of Spirits.


Saat memikirkan bahwa satu-satunya pohon kenangan itu akan menghilang, Arystina merasa gelisah, dan satu pertanyaan muncul.


"Apakah keputusan ini sudah benar?"


Pertanyaan ini dia tujukan kepada seseorang yang istimewa. Orang ini sudah lama menghilang, tidak tahu berapa lama waktu berlalu, tetapi sosoknya selalu ada dalam hati Arystina seakan menemani setiap langkah dan kehidupannya.


"Mengubur ingatan lama, dan menggantinya dengan yang baru. Apa ini memang pilihan yang tepat?"


Arystina begitu terlarut dalam renungan sampai tidak menyadari bahwa seseorang membuka pintu di belakang. Orang itu adalah Ren yang khawatir karena Arystina berdiam di ruangan ini cukup lama, melebihi batas waktu yang diperkirakan.


Namun Ren tidak langsung memanggil Arystina, melainkan diam beberapa saat untuk melihat situasi selagi Arystina belum menyadari keberadaannya. Saat memandang punggung yang ramping itu, dia sadar bahwa Arystina sedang mencurahkan hati terhadap seseorang yang mungkin sangat istimewa baginya.


Sangat istimewa orang itu sampai-sampai setiap kata yang diucapkan Arystina terasa dipenuhi oleh keyakinan yang mendalam. Ya ... Arystina mendapati dirinya sendiri terisak dan menitikkan air mata, mungkin karena sedih, atau mungkin karena rindu.


Meskipun Ren enggan untuk mengganggu pemandangan yang mengharukan ini tetapi dirinya harus melakukan sesuatu. Terlebih tidak ada tanda-tanda peristiwa akan segera berakhir, dan Arystina tampaknya lupa akan waktu yang berlalu.


Ren menunggu saat yang tepat, sampai akhirnya dia menemukan momen dimana Arystina tidak lagi berbicara. "Arystina."


Tersentak oleh suara yang muncul, Arystina segera memperbaiki postur tubuh. Arystina melakukan gerakan mengelap air mata dengan terburu-buru sebelum berbalik menghadapai asal suara.


"Y-Yang Mulia, sudah berapa lama Anda disana?" dengan gugup ia bertanya.


"Mungkin, sejak awal suara tangisan terdengar?"


Nyatanya, Ren sudah ada cukup jauh sebelum itu. Namun karena menyebutkan dengan detail hanya akan memperumit suasana, jawaban itu seharusnya cukup meyakinkan Arystina.


"U-Uhm."


Arystina bergetar karena malu, dan hasil dari itu seluruh wajahnya memerah. Hanya membayangkan semua kata yang diucapkannya diketahui oleh orang lain, terlebih seorang Ren dapat membuatnya ingin menghilang dari dunia.


"Maaf, Yang Mulia. S-Saya malu telah menunjukan sisi yang menyedihkan ini."


Lantas kenapa dengan menyedihkan? Ren tidak pernah berpikir bahwa itu menyedihkan. Wajar bagi seseorang untuk merasa sedih dan mengeluarkan air mata, karena dengan demikian orang tersebut masih memiliki hati.

__ADS_1


"Aku tidak menganggapnya menyedihkan, malah ini adalah suatu pemandangan indah baru bagiku."


Arystina yang sedang dilanda perasaan malu bahkan seketika terdiam. Pemandangan indah? Apakah tuannya ini senang menyaksikan orang sedih dan menderita serta menganggap itu adalah pemandangan yang indah?


Arystina bingung harus memberi tanggapan seperti apa. Alhasil pandangan Arystina menjadi kosong dengan cara yang unik.


Menyadari ada sesuatu yang salah, Ren segera memutuskan untuk merubah topik pembicaraan. Kurang lebih usahanya ini akan mengurangi kesalahpahaman agar tidak naik ke tingkat yang lebih berbahaya.


"Mengenai pelepasan inti mana, apa ada suatu masalah?"


Arystina menarik kesadarannya seperti semula. Dia menampakkan ekspresi rumit yang didasarkan pada ... tidak adanya suatu masalah yang terjadi. Karena yang terjadi adalah-- dia belum melakukan proses pelepasan inti mana itu sendiri sehingga sulit baginya menjelaskan.


"Tidak, ah itu ... sebenarnya saya belum melakukan apapun."


Berkata jujur mungkin akan membawa masalah, tapi berbohong itu lebih tidak termaafkan bagi Arystina.


"Jadi belum ya?" Ren mengernyitkan alis dengan ekspresi bermasalah. Kelopak mata yang menutupi mata merahnya sedikit lebih terbuka, memberi tanda bahwa ia sedikit tidak menyangka. "Aku mengerti, kalau begitu lakukanlah sekarang."


"Eh?" Arystina bingung karena tadinya dia berpikir akan mendapatkan beberapa teguran yang keras, tapi sepertinya dia salah. Untuk itu Arystina tidak akan mengeluh lagi, seharusnya dia bersyukur atas perilaku lembut tuannya. "Saya akan melakukannya saat ini juga."


Dengan anggukan kecil, Arystina menanggapi. Arystina lantas memulai proses melepaskan inti mana dari Shade of Spirits. Pada hakikatnya melepaskan inti mana tidak semudah yang dibayangkan, terlebih bagi orang yang tidak berpengalaman.


Bahkan Arystina hanya mempelajari tekniknya dan sama sekali belum pernah mencoba praktiknya. Hal ini tentu menambahkan poin kesulitan ke tingkat yang lebih tinggi saat itu sudah tinggi.


Namun berbanding lurus dengan keputusan yang sudah dibuat, menyerah bukanlah pilihan. Arystina harus berusaha lebih keras agar tidak mengecewakan harapan dirinya, dan orang lain.


Proses ini sendiri sepenuhnya menggunakan pengendalian mana dalam melakukan tiga tahap utama yang mampu melepaskan inti mana secara baik, dan benar. Tiga tahap tersebut meliputi penghentian mana, pemisahan mana, dan pembekuan mana, baru setelah itu inti mana dapat diambil dengan aman.


Mengesampingkan detail kecil, ketiga hal tersebut hanya bisa dilakukan oleh orang yang bisa mengendalikan mananya dengan baik sehingga mampu untuk memanipulasi mana yang mengalir dalam Shade of Spirits.


Untuk perbandingan dalam skala Shade of Spirits, ini akan menjadi seperti pengendali air yang berusaha mengendalikan air danau menggunakan satu liter air. Kurang lebih perbadingan itu dapat diterima walaupun sedikit dilebihkan.


Tahap pertama adalah penghentian mana. Maksudnya adalah memanipulasi Shade of Spirits agar berhenti menyerap mana yang ada di alam. Tahap ini sangat penting karena berpengaruh besar terhadap keberhasilan tahap kedua dan ketiga.


Lima belas menit kemudian, tahap pertama berhasil dilewati dengan hasil Arystina yang bernapas terengah-engah seraya dipenuhi oleh keringat di sekujur tubuhnya. Tak disangka, ternyata melakukan pelepasan mana ini lebih menyulitkan daripada yang dia perkirakan.

__ADS_1


Arystina menggigit bibirnya untuk kemudian memaksakan diri lebih jauh. Dia memulai tahap kedua bersama kondisi diri yang cukup mengkhawatirkan. Sambil sesekali menyemangati diri dengan, "Aku bisa!" dalam hati, Arystina berjuang sekuat tenaga.


Tahap kedua adalah pemisahan mana, dimana Arystina harus ekstra teliti dalam melakukannya. Jika boleh dikatakan tahap ini bahkan lebih sulit daripada tahap pertama karena dengan kemampuan yang terbatas, Arystina diharuskan memisahkan mana paling murni di seluruh Shade of Spirits untuk dimasukkan ke dalam inti mana Shade of Spirits.


Pikiran Arystina dipaksa melampaui batasan. Memanipulasi, memilah, membawa, dan memasukkan. Siklus yang sama terus berulang hingga membuat seluruh tubuhnya gemetar karena kelelahan secara mental dan pikiran.


Kesalahan sekecil apapun akan berujung pada kegagalan. Sadar akan hal itu membuat Arystina semakin memaksakan diri lagi, dan lagi, hingga membuat seseorang memutuskan untuk segera bertindak.


Arystina terhuyung, tubuhnya roboh tapi berhasil ditahan oleh Ren yang dengan sigap menangkapnya. Merasakan getaran tubuh yang tidak normal dari Arystina, Ren semakin yakin jika Arystina benar-benar memaksakan diri terlalu jauh.


"Y-Yang Mulia? Sa-ya ... masih ... bi-bisa."


"Apa yang kau katakan?! Beristirahatlah, biarkan aku yang meneruskan masalah ini."


"T-Tapi ... itu mu-stahil."


Ren mengerti itu ....


Mereka berdua pernah membahas ini sebelumnya. Shade of Spirits memiliki kemampuan bertahan diri dari serangan manipulasi mana orang asing sehingga orang tidak dikenal akan merasa seribu kali lipat lebih sulit daripada orang yang telah dikenal seperti Arystina.


Tidak hanya itu, efek serangan balik akan dilancarkan oleh Shade of Spirits yang menambah kemustahilan bagi orang asing untuk memanipulasi dirinya. Tentu ini tidak mungkin bagi orang lain, namun yang kita bicarakan disini adalah Anryzel Dirvaren, seorang yang tidak akan menyerah hanya karena kemustahilan tak berdasar.


"Arystina, beristirahatlah. Percayakan semua ini kepadaku."


Meski sangat enggan tetapi Arystina tidak memiliki pilihan karena saat ini dia benar-benar akan kehilangan kesadaran. Ren membaringkan Arystina di tempat yang seadanya, lalu dia mulai bergerak untuk melepaskan inti mana.


"Jika masih ada kesempatan, bukankah itu tidak mustahil?" Senyum penuh tantangan muncul di wajahnya. Itu terlihat sedikit mengerikan jika harus dikatakan.


Seribu kali lipat lebih sulit? Maka dia akan bekerja dua ribu kali lipat lebih keras. Serangan pertahanan diri? Maka dia akan menahan semua itu! Tidak ada alasan untuk membatalkan rencana hanya karena sebuah inti mana yang tidak bisa dilepaskan.


............


...137...


............................

__ADS_1


__ADS_2