
Ren menunggu Nirlayn yang katanya akan memasak suatu hidangan untuk dimakan secara bersama-sama. Namun ketika menunggu, Ren hanya bisa menyaksikan Nirlayn yang menatap pada daging monster yang telah dicuci seraya diam tak bergerak.
Ren menyadari adanya kesalahan, Nirlayn yang diam tak bergerak sudah pasti memikirkan bagaimana cara dia memasak, sedangkan peralatan yang dibutuhkan untuk memasak saja tidak ada. Hal itu menjelaskan dengan pasti, mengapa dia diam tidak bergerak.
Sebagai bentuk pertolongan, Ren melirik pada Arystina yang duduk tidak jauh darinya. Arystina yang menyadari tatapan Ren segera memalingkan muka dan menatap kembali Ren dengan wajah yang bertanya-tanya.
"Tolong tanyakan padanya, apakah ada suatu masalah." Ren mengarahkan pandangannya pada Nirlayn yang sedang diam. Meskipun Ren sudah dapat menduga masalahnya.
"Saya tidak mengerti cara memasak, jadi baiklah." Arystina memberikan konfirmasi dan bergegas menghampiri Nirlayn.
Ren memandangi mereka berdua yang berbicara walaupun tidak mengerti apa maksud dari ucapan Arystina sebelumnya. Beberapa saat setelah berbicara, Arystina kembali dengan ekspresi rumit yang bahkan Ren tidak mengerti alasan dibalik ekspresinya ini.
"Yang Mulia ... Nirlayn berkata dia tidak mempunyai peralatan memasak, sehingga dia tidak bisa memasak?"
Arystina menyatakan sesuatu dengan nada sebuah pertanyaan, apa maksudnya mengatakan hal itu dengan cara seperti ini Ren sama sekali tidak tahu. Yang jelas, masalah yang dihadapi Nirlayn sudah pasti tentang peralatan memasak, Ren sudah bisa menduga hal ini.
"Baiklah, Arystina. Kau boleh duduk kembali," ucap Ren mempersilahkan.
Arystina mengangguk kemudian duduk, sedangkan Ren berkata, "Nirlayn, kemarilah!" dengan cukup keras.
Tidak menunggu lama, Nirlayn sudah berada dihadapan Ren, lalu bertanya, "Ya, Ren-sama?"
"Kau tidak bisa memasak karena tidak ada peralatan memasak 'kan? Lalu alat memasak apa yang kau butuhkan?"
Ren bangkit dan berdiri, memperlihatkan Aura merah di tangannya. Niat Ren dalam membuat peralatan memasak menggunakan <> dapat dilihat dengan jelas oleh Nirlayn dan Arystina.
"Ah, Ren-sama ..." Nirlayn terlihat mengeluarkan ekspresi canggung.
"Ada apa? Kau tidak memiliki peralatan memasak 'kan? Lalu, biarkan aku membuatkannya untukmu," tegas Ren.
"B-Bukan seperti itu, Ren-sama. Saya sangat menghargai kebaikan anda yang ingin membuatkan saya peralatan memasak. Akan tetapi ..." Nirlayn menghentikan perkataannya.
Keragu-raguan Nirlayn ini membuat Ren kebingungan sekaligus penasaran. Ada apa dengan dirinya sehingga terlihat enggan untuk dibuatkan peralatan memasak? Apakah Nirlayn tidak ingin merepotkan orang lain dan ingin mengandalkan diri sendiri? Banyak pertanyaan yangs serupa dalam diri Ren.
"Hah ... katakan saja." Ren mengangkat dagu sebagai indikasi agar Nirlayn melanjutkan perkataannya.
"J-Jika itu menggunakan <> maka akan mengurangi cita rasa dari masakan itu sendiri," sambung Nirlayn.
'Hm?' Mata Ren berkilau. 'Cita rasa? Blood Art? Apa hubungannya?'
Pikiran Ren tidak mampu memahami apa yang dimaksud oleh Nirlayn ketika menyatakan bahwa peralatan yang dibuat dari <> dapat mengurangi sebuah cita rasa dari masakan. Apakah ada efek samping dalam <> yang tidak Ren ketahui?
"Aku tidak mengerti," ucap Ren.
Nirlayn langsung terlihat bermasalah begitu Ren berkata bahwa dia tidak mengerti. "Eh? Ah, baiklah saya akan menjelas-"
"Tidak perlu dijelaskan, aku tidak terlalu peduli tentang hal itu. Tapi, apa yang akan kau gunakan untuk memasak?" Ren duduk kembali diatas kursinya.
Nirlayn diam sesaat, lalu tersenyum lebar seraya menampilkan wajah yang percaya diri, kemudian dia berbicara, "Serahkan pada saya, Ren-sama!"
Ren sedikit membelalakan mata sebagai bentuk keterkejutan atas kepercayaan diri Nirlayn. Senyum lebar yang Nirlayn keluarkan pun entah mengapa membuat hati Ren merasa tenang dan damai. Karena hal ini, Ren tidak menyesali keputusannya untuk membiarkan Nirlayn memasak, walaupun ada kemungkinan rasa dari masakan itu akan buruk nantinya.
"Heh, lakukanlah dengan baik."
Ren mengatakan kalimat penyemangat pada Nirlayn seraya tersenyum. Kemudian Ren melipatkan kedua lengannya sembari memejamkan mata dan menyilangkan kedua kakinya.
__ADS_1
Dibalik tindakan ini, Ren berharap bahwa Nirlayn memasak dengan sangat sungguh-sungguh, sehingga ketika dia membuka mata, hidangan yang dibuat dengan sepenuh hati ada dihadapannya.
Lagipula, Nirlayn juga menyadari harapan yang ada dalam tindakan Ren. Maka dari itu, hatinya dipenuhi semangat matanya mengandung tekad dan tindakannya begitu cepat. Dalam sekejap, Nirlayn sudah berpindah tempat kembali dan mulai menyiapkan apa yang seharusnya dia lakukan.
Lalu di antara kedua orang itu yang sudah melakukan apa yang ingin mereka lakukan masing-masing, ada seorang lagi yang sedang menunggu untuk diperintahkan. Dia adalah seorang Arystina yang mengharapkan sebuah tugas yang diberikan padanya.
"A-Anu ... Yang Mulia, apa ada sesuatu yang bisa saya lakukan?" tanya Arystina penuh harap.
"Hm?" Ren terpaksa membuka mata kembali untuk berkata, "sepertinya ... tidak ada."
Ren ingin memerintahkan Arystina untuk membantu Nirlayn, tapi mengingat dia yang sepertinya tidak bisa memasak, maka keputusan itu hanya akan mengacaukan pekerjaan Nirlayn. Hal ini juga menimbulkan sebuah pertanyaan dalam benak Ren, apakah Arystina selama ini makan dari masakan orang lain?
Jika itu merupakan kebenaran, maka Ren akan memuji dengan tulus atas kesabaran orang itu dalam mengurusi Arystina selama ratusan atau bahkan ribuan tahun lamanya.
"Apakah benar-benar tidak ada?" Arystina mendekatkan wajahnya ke arah Ren, menampilkan sebuah ekspresi memelas yang khas dari seorang Roh hutan.
Ren yang dalam keadaan memejamkan mata terstimulasi oleh keharuman dari alam yang ada di dekatnya. Membuat dia membuka mata untuk memastikan darimana asalnya keharuman alami yang menstimulasi hidungnya ini. Begitu mata terbuka, Ren sudah disambut oleh kecantikan dari Arystina yang bertindak manja.
Salah satu kebahagiaan yang diimpikan oleh para laki-laki kini dialami oleh Ren seorang diri. Namun apa yang Ren rasakan saat ini? Itu hanya sebuah ketertarikan dari pertanyaan, bagaimana Arystina bisa menunjukan ekspresi memelas seperti ini?
'Maksudnya, bukankah ekspresi memelasnya semakin baik daripada sebelumnya?' tanya Ren dalam hati.
Semua ini terasa seperti, ada seseorang yang berada dibalik semua ini. Namun terlepas dari apa yang terjadi, Ren mengapresiasi usaha dari tindakan Arystina jika itu memang direncanakan seperti yang diperkirakan.
"Sayang sekali, tapi benar-benar tidak ada," ucap Ren.
Ren sedikit melengkungkan bibirnya dengan cara yang licik, seolah menampakan bahwa dirinya sedang mempermainkan Arystina.
Sadar akan hal ini, Arystina akhirnya menyerah dan segera memalingkan muka sambil terlihat sedang marah.
'Hahaha sayang sekali ... aku tidak peduli.' Ren tertawa dalam hati.
Ren kembali memejamkan mata dengan perlahan-lahan seraya mengaktifkan persepsi mana. Jangkauan dari persepsi mana itu sendiri diperluas sampai titik terluas yang dapat Ren capai untuk saat ini.
Sehingga dalam jarak yang sangat jauh, Ren dapat merasakan berbagai macam benda hidup maupun benda mati yang memiliki mana di dalam dirinya. Namun pada saat persepsi mana Ren mencapai titik yang merupakan batas kemampuan dari Ren saat ini, dia merasakan adanya semacam gangguan disana.
Jika digambarkan, persepsi mana memiliki bentuk sebuah kubah yang diperluas dalam bentuk melingkar. Lalu gangguan itu dapat digambarkan seperti kubah lain yang mengganggu bentuk sempurna dari kubah persepsi mana milik Ren.
Gangguan yang dirasakan oleh Ren berasal dari arah selatan dan memiliki skala sebesar sebuah kota. Jika Ren tidak salah mengingat, ada sebuah kota yang berada paling dekat dari tempatnya berada dan kebetulan di arah selatan. Kota yang dimaksud adalah kota Soliedavosa, dipimpin oleh seorang <> yang menduduki <> dengan element tanah miliknya.
"Sihir perlindungan? Ini menarik, aku baru menemukan sesuatu yang dapat menekan persepsi manaku sebesar ini," gumam Ren.
Ren tidak sengaja membuka mata ketika menggumamkan hal itu. Begitu fokusnya Ren dalam merasakan persepsi mana sehingga dia baru menyadari, bahwa Arystina dan Nirlayn sedang menatapnya. Tidak hanya itu, beberapa hidangan yang disiapkan diatas dedaunan berbentuk bulat pun sudah disiapkan.
"Sihir perlindungan? Apakah Yang Mulia, masih memikirkan keamanan istana?"
"Ren-sama, anda tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya. Saya yakin, Istana anda akan baik-baik saja."
Ren seketika mengerutkan keningnya dan berbicara, "Aku bukan membicarakan hal itu ...."
Mereka berdua sepertinya salah paham akan sesuatu. Namun untuk saat ini, Ren akan membiarkannya karena memperbaiki sedikit kesalah pahaman ini juga tidak akan terlalu berpengaruh.
"Hm? Lalu apa yang anda maksud Yang Mulia?"
"Benar, Ren-sama. Apakah ada sesuatu yang mengganggu anda?"
__ADS_1
Meskipun mereka berdua bertanya-tanya, tapi Ren tidak berniat membeberkan apa yang diketahuinya untuk sementara. Siapa yang tahu, bagaimana reaksi mereka nantinya jika di depan sana ada sesuatu yang dapat menekan persepsi mana yang dimiliki oleh Ren.
"Hahaha, kalian ini ... bukankah lebih baik kita coba dulu apa yang ada di depan kita semua ini?" Ren melirik pada beberapa hidangan yang ada di atas meja dihadapannya.
Meskipun kenyataannya, Ren sedikit kebingungan atas hidangan yang disiapkan oleh Nirlayn. Ada hidangan daging yang dimasak dengan tiga cara yang berbeda, yaitu dipanggang, digoreng dan direbus.
Sebuah daging monster yang dipanggang dengan cara yang tidak diketahui. Sebagian besar memiliki warna coklat dan beberapa bagian kecil yang berwarna hitam. Lalu dilengkapi dengan beberapa lembaran dedaunan yang mungkin dapat dikatakan sebagai sayuran, dan sayuran ini disajikan dalam keadaan yang mentah.
Daging monster yang lain direbus lalu disatukan dengan kuah dan berbagai macam sayur. Mungkin tidak ada sesuatu yang spesial dari daging rebus yang satu ini, kecuali kuahnya yang berwarna kehijauan yang dilengkapi oleh berbagai macam dedaunan (Sayuran).
Hanya sekedar informasi, bahwa sayur yang digunakan berbeda dari sayuran sebelumnya.
Yang paling menarik minat Ren adalah daging yang digoreng. Tidak hanya dari nama, tetapi dari bau dan penampilan itu benar-benar terlihat seperti digoreng. Satu pertanyaan besar muncul dalam benak Ren ketika melihat hal ini, yaitu darimana Nirlayn mendapatkan sesuatu yang dapat digunakan untuk menggoreng seperti minyak?
"Ehm," deham Ren.
Mengesampingkan dalam hal penampilan, Ren benar-benar harus merasakan bagaimana rasa dari masakan yang dibuat oleh Nirlayn. Walaupun, Ren tidak yakin masakan ini akan benar-benar enak, dan kemungkinan terbaiknya adalah rasa yang dapat diterima.
"Aku akan mencobanya." Ren menatap pada Nirlayn untuk meminta izin darinya.
Anggukan Nirlayn menjadi sebuah pertanda, awal dari semua rasa yang akan dirasakan oleh indera perasa milik Ren. Suasana kemudian menjadi tegang tanpa alasan yang jelas. Ren meraih daun yang di alih-fungsikan menjadi semacam piring untuk makanan.
Bentuk dan karakteristik dari daun ini cukup menarik. Tidak hanya mirip seperti piring bentuknya, tapi juga memiliki karakteristik yang kuat dan keras. Mungkin daun dari tumbuhan asli dari dunia penuh keanehan ini.
"Hm, menarik," ucap Ren. Seraya mengambil sebagian kecil dari masakan daging yang direbus bersama dengan kuahnya.
Aroma dari daging dan rempah-rempah yang direbus dan disatukan bersama tercium oleh hidung Ren yang tajam. Disini, Ren tidak dapat membohongi diri sendiri, bahwasannya aroma ini mengenakan dan menambah keinginan untuk makan.
Begitu Ren mulai memakannya, seketika rasa dari masakan itu mulai memenuhi dirinya.
"Sungguh ..." Ren meresapi rasa dari masakan yang ada.
Nirlayn yang melihat ekspresi Ren penasaran dengan apa yang dirasakan oleh Ren. Ekspresi Nirlayn terlihat cemas, cemas karena takut masakannya tidak sesuai dengan selera Ren.
"B-Bagaimana ... Ren-sama?"
Ren menaruh daun piring yang telah kosong, memejamkan mata untuk memikirkan bagaimana mendeskripsikan rasanya. Beberapa saat kemudian, Ren membuka mata, menarik napas, dan lantas dia mengeluarkan pendapatnya.
"Daging monster yang seharusnya memiliki serat dan aroma yang kuat dapat di minimalisir sedemikian rupa dengan aroma dari rempah-rempah yang wangi. Hanya dengan kematangan dan kemampuan yang sempurnalah semua ini dapat tercipta."
"Mulai dari daging yang halus dan lembut, tapi tidak terlalu berlebihan. Sampai rasa-rasa yang saling melengkapi sehingga membuat cita rasa yang sempurna dan saling melengkapi."
"Bumbu yang digunakan sangat tepat sehingga tidak memicu rasa yang berlebihan. Kematangan yang diperkirakan sedemikian rupa, membuat cita rasa yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata."
"Aku sampai tidak mempercayainya, bahwa semua ini terbuat dari daging monster."
Ren berbicara dengan panjang lebar, mendeskripsikan rasa yang enak dan tidak terduga ini. Tidak dapat disangka, bahwa Nirlayn adalah seorang koki yang berbakat.
Ren menyesal telah meragukan rasa dari masakan Nirlayn pada awalnya.
"Kerja bagus, Nirlayn. Aku menyukainya ...."
Setelah itu, mereka menghabiskan makanan bersama-sama.
______
__ADS_1
Catatan Author : Seketika jadi Shok*geki no soum* :v