
Kamar pribadi milik Ren berada di tingkat paling atas dari keseluruhan istana. Dengan kata lain, kamar Ren yang sesungguhnya merupakan tingkatan tertinggi yang ada di istana itu sendiri.
Memiliki luas yang memungkinkan seseorang berlari dengan bebas, kamar dilengkapi dengan berbagai macam dekorasi yang bernilai sangat tinggi. Jika dijual maka harga dari setiap dekorasi akan sanggup membeli satu mansion, sebuah perbandingan yang mengesankan.
Jendela kamar di desain untuk menghadap gerbang utama. Kaca yang dipasang pada jendela merupakan kaca kualitas tertinggi, sangat jernih dan kuat hingga bisa menahan beberapa serangan sekaligus.
Muncul dari balik jendela adalah balkon yang cukup luas. Pemandangan yang disuguhkan adalah halaman istana, taman istana, serta hutan belantara yang berada di cakrawala. Sungguh indah dipandang tanpa mempedulikan kapan pemandangan ini dilihat.
Matahari mulai terbit dari cakrawala timur. Menerangi dunia dari kegelapan yang disebut dengan malam. Orang-orang mulai terbangun untuk melakukan aktivitas mereka, beberapa ada yang berlatih, ada yang meneliti, bahkan ada yang sekedar bangun hanya untuk melamun.
Namun di kamar itu, Ren masih tertidur dengan tenang. Setelah semua, Ren merasa kelelahan dan berakhir dengan tertidur selama satu malam penuh. Lalu tidurnya ini, tidak akan berakhir untuk sementara waktu sebab ada sesuatu dalam dirinya yang sedang berkembang.
......______......
Satu minggu telah berlalu. Kedatangan para roh merubah istana menjadi ramai dalam kondisi tertentu. Disebabkan Shade of Spirits masih dalam tahap pertumbuhan, itu masih belum sepenuhnya berkembang menjadi sesuatu yang dapat ditinggali. Dengan begitu, para roh masih akan tinggal di istana untuk beberapa hari kemudian.
Beralih ke kamar pribadi, terlihat di balkon kamar, Ren menatap lurus jauh ke cakrawala, memikirkan berbagai macam hal secara acak. Selama seminggu ini dia menerima beberapa surat dari Kerajaan Aulzania yang memberikan informasi cukup penting.
Misalnya kabar mengenai utusan Kekaisaran Lodysna, dan Kekaisaran Agung Exousillia yang menyatakan bahwa Kerajaan Aulzania dicurigai sebagai dalang dibalik kehancuran Kerajaan Suci Sancteral.
Ren sedikit tidak menyangka bahwa penciuman dua kekaisaran ini cukup tajam. Masalah ini memang sedikit mengkhawatirkan bagi Kerajaan Aulzania, tapi masalah ini tidak sepele, dua kekaisaran tidak mungkin melakukan hal ceroboh tanpa bukti apapun.
"Nah, Kekaisaran Lodysna memang aneh, tapi Kekaisaran Agung Exousillia tampak berbahaya," ucap Ren pada diri sendiri.
Kekuatan macam apa yang mampu mempertahankan wilayah Kekaisaran Agung yang sangat besar selama ratusan tahun? Mereka mungkin sangat baik dalam kekuatan, tapi sistem pemerintahan juga sangat berpengaruh di dalamnya. Mempertimbangkan hal itu, Kekaisaran Agung Exousillia sudah pasti sangat makmur.
Firasatnya mengatakan ada orang spesial di balik kemakmuran Kekaisaran Agung Exousillia, entah itu sang kaisar atau para petinggi yang lain. Yang jelas mereka adalah kandidat utama yang perlu untuk diwaspadai.
"Hm?"
Ren melirik ke taman istana, di sana beberapa anak kecil sedang berlarian sambil tertawa riang. Mereka bagai burung terkekang yang akhirnya diberi kebebasan, sungguh pemandangan yang damai untuk disaksikan.
Bercampur dengan hembusan angin yang sejuk, suara ketukan pintu terdengar sebanyak tiga kali. Membuat Ren mengaktifkan persepsi mana dalam sekejap untuk melihat siapa orang yang mengetuk pintu.
Setelah memastikan bahwa itu bukan seseorang yang mencurigakan, Ren membalas ketukan dengan kata yang singkat tapi mengandung makna yang padat dan jelas.
"Masuk."
Muncul dari balik pintu adalah Raytsa yang berekspresi canggung. Raytsa menggenggam kertas yang tergulung dan diikat menggunakan sebuah tali merah bercorak emas.
Sebelum berbicara, Raytsa dengan penuh kesungguhan memberi hormat pada Ren yang masih berada di balkon kamar. "Yang Mulia, maaf bila saya mengganggu."
Itu tidak mengganggu dalam artian apabila Raytsa memiliki semacam urusan. Berbeda jika Raytsa mengunjunginya hanya untuk sesuatu yang tidak penting seperti basa-basi tidak jelas.
"Aku tahu kau memiliki urusan. Apa itu?"
Meskipun balasan itu cukup dingin, tapi tidak salah lagi Raytsa melihatnya sebagai kemurahan hati dari atasan tertinggi kepada bawahan yang rendah. Bagaimanapun, mayoritas tuan di dunia ini selalu bertindak semena-mena terhadap anak buah, sikap Ren termasuk dalam kategori lembut.
"Ini adalah surat yang baru saja tiba dari Kerajaan Aulzania. Apa Yang Mulia ingin saya membacakan suratnya?"
Muncul surat yang lain dari Kerajaan Aulzania. Ren sedikit berpikir mungkin surat ini berkaitan tentang dua kekaisaran yang sebelumnya dia pikirkan. Akan tetapi, tidak ada kerahasiaan khusus, membiarkan Raytsa mengetahuinya juga tidak masalah.
"Kalau begitu aku akan merepotkanmu untuk melakukannya."
Raytsa sedikit melebarkan mata atas jawaban Ren yang sulit dipercaya. Jujur, Raytsa mengira surat ini berisi hal-hal penting yang sangat rahasia, dan sekarang dirinya diberi kesempatan untuk membacakan surat tersebut, dan itulah yang membuatnya terkejut.
__ADS_1
"Saya mengerti, " ucap Raytsa, kemudian dengan senang hati dia membacakan semuanya.
"Kepada Tuan Dirvaren yang terhormat. Mengenai utusan dua kekaisaran yang datang beberapa hari yang lalu, mereka terus mendesak agar Kerajaan Aulzania bertindak. Bahkan utusan Kekaisaran Lodysna berani mengancam akan menyalahkan Kerajaan Aulzania atas semua yang terjadi pada Kerajaan Suci Sancteral. Mereka berkata apabila Kerajaan Aulzania terus mengelak, Kerajaan Aulzania akan dinyatakan sebagai penjahat, dan seluruh kerajaan lain di benua bebas menyerangnya. Tuan Dirvaren, saya memohon agar Anda hadir tiga hari kemudian saat kedua utusan kekaisaran akan bertanya untuk yang terakhir kali. Salam hormat, Raja Esdagius dari Kerajaan Aulzania."
Setelah selesai Raytsa kembali menggulung surat dan mengikatnya kembali meskipun itu sudah tidak berguna. Dia melirik ke arah Ren yang masih membelakangi, dan samar-samar perasaannya merasa sedikit tidak nyaman, seolah udara terasa lebih berat.
"Begitu. Yah, mereka bertindak lebih cepat dari dugaanku. Bagaimanapun, aku yang memulai maka aku yang harus menyelesaikan. Bukankah tidak lucu membiarkan kerajaan orang lain yang menanggung akibat perbuatanku, Raytsa?"
Tersentak oleh pertanyaan tiba-tiba, Raytsa membalas secarak acak, "B-Benar!"
"Uhm," gumam Ren mengangguk. "Sudah diputuskan aku akan pergi."
"Ah? Kapan Yang Mulia akan pergi? Biarkan kami ikut bersama untuk memberi sedikit pengetahuan kecil kepada mereka yang berani menantang Anda!" seru Raytsa kesal.
"Tidak perlu, aku membutuhkan kalian semua untuk tetap disini, kalian harus menggantikan aku untuk melindungi para roh."
"T-Tapi ...."
"Tidak ada kata membantah."
Bahu Raytsa terkulai lemah, perintah adalah perintah. Pembantahan lebih lanjut akan termasuk ke dalam penghinaan bagi tuannya.
"Saya mengerti, Yang Mulia."
Raytsa memberi hormat sekali lagi untuk mempersiapkan dirinya yang akan pamit pergi. Bahkan di detik terakhir, Raytsa tidak bisa melihat bagaimana ekspresi Ren saat dihadapkan dengan masalah yang terlihat berat.
Tentu karena masalah berat inilah Raytsa mengurungkan niatnya untuk bertanya sesuatu. Raytsa meyakinkan diri bahwa lain kali pasti akan ada kesempatan bagi dirinya untuk lebih tahu.
"Saya izin pamit, Yang Mulia."
"Raytsa, dengarkan ... aku akan berbicara."
Mendengar itu Raytsa dengan buru-buru menarik diri, dan menghadap Ren kembali. Dia fokus untuk mendengar agar satu kata pun tidak akan terlewati.
Sekian lama Ren memandangi cakrawala, akhirnya dia berbalik untuk menatap Raytsa yang sedang menunggu. Mata merah itu seketika bercahaya, bersama dengan aliran mana yang seolah menari di sekitar tubuhnya.
"Sihir memiliki enkripsi. Jika enkripsi sihir terbuka maka rahasia yang ada di dalamnya akan terungkap. Sihir terdiri dari banyaknya pola mana yang saling terhubung, dan berkesinambungan agar menciptakan suatu fenomena yang diinginkan."
Ren menampilkan ilustrasi menggunakan mana itu sendiri. Terkagum oleh pemandangan yang tidak pernah bosan untuk dilihat itu, Raytsa memasang mata, telinga dan pikiran untuk menangkap segalanya.
"Dalam hal ini, pola mana menggambarkan suatu ciri khas dari efek tertentu. Api, Air, Tanah, Angin, Cahaya, Kegelapan, mereka memiliki pola mana tersendiri yang sangat kompleks. Jika kau ingin membuat sihir angin dan api, maka kau harus bisa menyatukan ribuan pola mana yang berbeda dari element angin, dan juga api."
Sebagai seorang yang sedang mengajari, Ren tidak hanya memberi penjelasan berupa kata tetapi membuktikannya disaat itu juga. Penciptaan sihir yang amat diagungkan oleh Raytsa terjadi di depan matanya, dimulai dari penyusunan pola mana yang rumit dan kecil, sampai suatu lingkaran sihir yang indah benar-benar diciptakan.
"Selain daripada element, efek-efek tertentu juga membutuhkan pola mana yang pasti. Misalnya, sebuah sihir petir akan merambat ke target yang lain setelah mengenai target pertama, maka untuk membuat efek tersebut membutuhkan pola mana [Pergantian] yang dipasang pada efek terakhir dari lingkaran sihir."
Raytsa terkesima, bahkan setelah dijelaskan sesingkat dan semudah mungkin untuk dipahami sulit untuk mengerti semua yang telah dikatakan. Beruntung contoh nyata diperlihatkan selain hanya penjelasan yang berupa kata-kata, dengan begitu Raytsa mampu mengerti secara garis besarnya.
"Oh, perlu diingat bahwa suatu lingkaran sihir akan semakin rumit dan membesar seiring bertambahnya fenomena yang dihasilkan. Untuk mengatasi hal ini, kau bisa membuat beberapa lingkaran sihir yang berbeda yang nantinya akan digabungkan dan memiliki efek yang sama."
"S-Saya tercerahkan, Yang Mulia!" Raytsa mengangguk-angguk, bahkan hampir bersujud setelah menerima penjelasan ini.
Namun ada satu hal yang mengganjal di pikiran Raytsa, tentang bagaimana Ren mengeluarkan sebuah sihir secara spontan tanpa harus menggunakan lingkaran sihir terlebih dahulu. Sedangkan berdasarkan penjelasan di atas, semua hal mengenai sihir harus, dan selalu berkaitan dengan lingkaran sihir untuk menciptakan suatu fenomena.
"Y-Yang Mulia, bolehkah saya menanyakan dua hal?"
__ADS_1
Sontak Ren menghilangkan seluruh ilustrasi nyata miliknya mengenai penciptaan sihir. Hal itu membuat Raytsa meringis karena memikirkan betapa disayangkannya sesuatu seberharga itu dihilangkan begitu saja.
"Aku tidak keberatan. Hal apa yang ingin kau tanyakan?"
Raytsa berpikir dalam-dalam, lalu berkata yakin, "Terkadang saya melihat Anda melakukan suatu sihir baru dengan spontan tanpa menciptakan lingkaran sihir apapun. Tentu ini sedikit bertentangan dengan penjelasan Anda barusan yang seolah mengatakan segala macam sihir harus memiliki lingkaran sihir untuk mewujudkannya. Mohon Yang Mulia memberikan pencerahan."
"Oh?" Ren teringat sesuatu. "Ya, benar sekali. Sihir memang berkaitan erat dengan lingkaran sihir. Namun, tidak semua sihir harus memiliki lingkaran sihir terwujud di dalamnya."
"Lingkaran sihir terwujud?"
"Ya, lingkaran sihir terwujud itu bisa dilihat dan dirasakan keberadaannya. Secara sederhana, lingkaran sihir terwujud hanya sebuah perantara untuk memudahkan penggunaan sihir yang sama di lain waktu."
"Maafkan kebodohan saya ini, Yang Mulia. Saya memohon agar Anda memberi pencerahan yang lebih mudah dipahami."
Masih belum mengerti?!
Ren sedikit bingung bagaimana harus menjelaskan sesuatu yang rumit agar mudah dipahami. Otaknya berpikir mencari sesuatu yang dapat mengibaratkan lingkaran sihir terwujud ini.
"Ah, begini. Saat ingin menggambar, sebelum mencoretkan sesuatu di atas kertas kau pasti memikirkan apa yang mesti digambar dulu bukan?"
Raytsa mengangguk cepat.
"Lingkaran sihir terwujud bisa diibaratkan sebagai gambar yang telah ada di atas kertas. Sedangkan yang aku gunakan adalah sesuatu yang masih ada dalam pikiran, dan masih berupa bayangan sementara. Lalu, kau tahu apa kegunaan seseorang menggambarkan imajinasinya di atas kertas?"
Raytsa memutar otak, dan berkesimpulan pada jawaban sederhana. "Agar bertahan selamanya? Atau mungkin, agar imajinasinya tetap ada?"
"Mhm, kurang lebih seperti itu. Kau tidak harus selalu menggunakan lingkaran sihir terwujud untuk melakukan suatu sihir, tetapi sebagai gantinya kau harus mampu merangkai lingkaran sihir itu dalam waktu yang sangat singkat tanpa mengalami sedikitpun kesalahan."
"I-Itu ... tidak mungkin." Raytsa terlihat suram.
Jangankan menciptakan sihir baru secara langsung, bahkan penelitian yang dilakukannya belum mengalami kemajuan yang signifikan.
"Tidak perlu berkecil hati. Nyatanya, aku harus melakukan penelitian tanpa henti untuk mengetahui semua yang kukatakan."
"B-Benarkah? Terima kasih, Yang Mulia. Saya akan berusaha lebih keras lagi."
"Semangat yang bagus. Kemudian apa pertanyaan yang kedua?"
"Eh, itu termasuk satu?" Raytsa bingung.
Raytsa meminta izin untuk bertanya dua kali sebenarnya untuk mengantisipasi apabila ada sesuatu yang tidak dia mengerti. Dengan begitu, kemungkinan mendapat pencerahan yang lebih dalam akan lebih besar. Tetapi dia tak mengira bahwa setelah semua Ren masih menganggap pertanyaan itu hanya satu.
"Tentu saja," balas Ren tanpa beban.
Raytsa langsung mencari ide acak di antara yang paling acak, sampai ketika satu pertanyaan yang membuat penasaran muncul dibenaknya. "Yang Mulia, dengan semua hasil penelitian yang luar biasa itu, berapa lama Anda meneliti?"
Ren memegang dagu sambil memperkirakan berapa lama dia meneliti sihir di dunia ini. Lalu dengan ekspresi yang sangat biasa, dia membalas pada Raytsa, "Kurasa ... satu atau dua bulan?"
"A-Ap- ...?"
Mata Raytsa dibuat terbelalak, kemudian secara tidak sengaja dia kehilangan kesadaran hasil dari keterkejutan yang dialaminya. Ren yang sedikit kebingungan saat itu tidak tahu harus berbuat apa, dan pada akhirnya dia memilih untuk melarikan diri.
..................
Catatan Author : Wow Primitive ...
__ADS_1