Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 25 : Kota Rondelia dan Insiden II


__ADS_3

Pasar Kota Rondelia.


Kawasan perbelanjaan terbesar yang ada di Kota ini. Setiap Toko atau Kios dari yang sederhana sampai yang mewah ada disini.


Lokasinya tak terlalu jauh dari kediaman Duke Tayslen sendiri.


Berbeda dengan biasa, Pasar ini kini menjadi sepi. Alasannya sederhana, karena di lakukan nya operasi penaklukan Vampire, seluruh warga di berikan perintah untuk berdiam diri dirumah.


Titik pertemuan empat jalan yang berbeda, sebuah lahan yang cukup luas.


Di titik ini, sebuah air mancur berukuran lumayan besar dibuat. Kebetulan, Rin-Yu dijadikan umpan bagi Vampire di tempat ini, yaitu dekat air mancur.


"Prajurit! Tuangkan darah pada para pria menjijikan ini!" Gyslen memerintahkan seorang Prajurit untuk menuangkan darah.


Prajurit itu mengangguk dan mengambil sebuah wadah tertutup yang diisi oleh darah. Lalu, prajurit ini menuangkan seluruh darah pada Rin-Yu dan kedua umpan lainnya.


"Zell, aku rasa darah hewan tidak akan menarik Vampire itu?" Gyslen bertanya ragu - ragu pada Zell yang ada disamping nya.


"Nona tenang saja, Vampire itu, saya yakin dia bodoh." Zell menjawab dengan tersenyum menakutkan.


"Baiklah, karena kau adalah Priaku, aku akan percaya padamu Zell."


"Lalu, mari kita sembunyi sebaik mungkin." Gyslen menginstruksikan bawahan nya untuk bersembunyi.


Diikuti oleh Gyslen dan Zell yang bersembunyi di tempat yang sama.


*


*


*


*


*


Beberapa puluh menit kemudian..


Sosok berjubah hitam terlihat oleh pandangan Gyslen dan lainnya.


Sosok berjubah itu berjalan dengan perlahan mendekati para umpan.


Menyadari Rencana nya berhasil, Gyslen tersenyum puas pada Zell yang ada disamping nya.


"Zell, ayo serang." Gyslen berbisik pada Zell


"Tidak, Tunggu Nona, waktu yang terbaik adalah saat dia mendekati air mancur." Zell membalas Gyslen.


"Um.. Kau benar, aku terburu - buru." Gyslen mengangguk dan mengurungkan niatnya untuk menyerang secara langsung.


Berjalan perlahan..


Semakin dekat..


Sosok berjubah sudah ada di dekat para umpan. Melihat hal ini, Gyslen dan para bawahannya segera muncul keluar dari persembunyian.


Mereka mengelilingi sosok berjubah itu agar tidak dapat lari kemanapun.


Gyslen tertawa mengejek pada sosok itu yang dengan mudah terpancing umpan rendahan seperti ini.


"Hahaha. Vampire ini memang bodoh sekali! belum pernah aku melihat Vampire sebodoh ini." Gyslen menertawakan sosok itu sambil menunjuknya.


"Anda benar Nona, Vampire itu sangat bodoh sekali. Terjebak hanya karena darah semacam ini" Zell berkata pada Gyslen.


"Sekarang bagaimana Nona? keputusan ada ditangan anda." Zell melirik dan bertanya pada Gyslen.


"Tentu saja! aku akan menghadapinya sendiri secara langsung! Zell berikan pedangku."


"Ini, Nona." Zell menyerahkan sebuah Pedang, tepatnya sebuah Rapier.


Gyslen menghunuskan Rapier-nya, lalu berjalan mendekati Sosok berjubah itu.


"Haaaaa......" Gyslen menarik Nafas.


Gyslen menyiapkan kuda - kuda, beberapa saat kemudian Gyslen melesat ke arah Sosok berjubah hitam. Menyerang dengan teknik tusukan, meninggalkan sebuah garis cahaya lurus berwarna Crimson.


"Trust!" Satu tusukan.


"Trust!" Dua tusukan.


"Trust!" Tiga tusukan.


Setelah menusuk sebanyak tiga kali pada sosok itu. Gyslen melompat mundur untuk mengambil sebuah langkah serangan selanjutnya. Aura Crimson keluar dari tubuhnya, mengalir lalu menyelimuti Rapier yang dia pegang.

__ADS_1


Ini adalah sebuah teknik pamungkas yang dia miliki.


"Mega Trust!" Gyslen berteriak.


Gyslen berubah menjadi Cahaya Crimson yang meluncur menuju sosok berjubah hitam. Tanpa perlawanan, Gyslen dengan mudah menusuk sosok menggunakan Rapier nya.


Sosok itupun tumbang ke tanah dengan luka tusukan di tubuhnya.


"Ehh? Aku ini memang luar biasa bukan? bagaimana mungkin Vampire lemah seperti ini menjadi terror Kota?" Gyslen memandangi sosok yang tumbang.


"Wah.. Wah..."


"Nonaku memang hebat sekali.." Zel terlihat menghampiri Gyslen.


"Tentu saja! aku adalah orang yang akan memimpin dunia ini suatu saat nanti!" Gyslen memasang wajah dan pose sombong.


"Ngomong - Ngomong, mengapa vampire ini tidak menghilang setelah mati?" Gyslen berbalik dan melihat mayat itu kembali.


Ia lalu membalikan tubuh Vampire itu dan merobek penutup wajahnya.


"???!"


Gyslen terkejut, sosok yang telah ia bunuh bukanlah Vampire, melainkan manusia.


"A-Apa?! ini bukan Vampire itu?!" Gyslen berteriak.


"Nona Gyslen!" Para prajurit dan Priest menunjuk langit dan berteriak bersamaan.


Gyslen mengalihkan pandangan nya menuju arah langit. Disana, sebuah Cahaya yang tak asing muncul dari berbagai tempat. Cahaya yang menjadi penanda, bahwa Vampire muncul di tempat itu.


"Tidak mungkin! apa yang terjadi?!" Gyslen berteriak kehilangan ketenangan nya.


Prok. Prok. Prok. Prok.


Suara tepuk tangan terdengar, membuat semua orang yang hadir mengalihkan perhatian pada asal suara tepuk tangan ini.


"Hahaha... Luar biasa, Ekspresi terkejut itu. Aku sangat menyukainya." Zell berkata dengan gembira.


"Zell? apa maksudmu?!" Gyslen menyadari ada sesuatu yang aneh disini.


"Waktunya bagi kalian keluar." Zell berkata pada udara kosong, mengabaikan pertanyaan Gyslen yang ditujukan padanya.


Sesaat setelah Zell berkata, banyak sosok berjubah hitam muncul entah darimana.


"Apa - apaan ini Zell?! beraninya kau seorang bawahan Nona melakukan hal ini!" Seorang Priest berteriak.


"Kurang ajar kau! Nona telah berbaik hati mengangkatmu menjadi pengawalnya! tapi lihat apa yang kau lakukan?!" Priest lain berbicara.


Gyslen yang mendengar para Priest menyatakan hal itu. Mengangguk, dan menatap Zell untuk meminta penjelasan.


"Apa ini?! siapa mereka Zell?!" Gyslen berteriak marah pada Zell.


Teriakan marah Gyslen tidak membuat Zell sedikitpun gentar.


Justru Zell berekspresi dan berkata dengan santai.


"Mereka? hanya beberapa bawahanku." Zell berkata dengan tersenyum.


"Apa maksudmu?! bukankah kau tidak memiliki bawahan?! Zell, jangan - jangan kau......" Gyslen menatap tak percaya pada Zell. Sebuah kalimat 'Itu Bohong kan?' terlukis dalam wajah Gyslen.


"Hahahaha! Itulah kebenarannya! aku merencanakan ini semua! mulai dari Operasi penangkapan Vampire, Umpan menyedihkan, lalu Sosok berjubah hitam yang berpura - pura menjadi Vampire!." Zell tertawa keras, menjelaskan semua Rencana yang telah ia perbuat.


"Jadii?! Kau telah mengkhianati ku??!" Gyslen marah, dan melotot pada Zell.


"Berkhianat? jangan membuat ku tertawa. Sejak awal aku tidak pernah menjadi sekutumu. Hanya kau yang terlalu bodoh menerimaku orang yang tak jelas asal - usulnya untuk menjadi pengawalmu. Aku suka kebodohanmu, tapi kebiasaan menjijikan mu itu, aku sangat membencinya." Zell membalas tatapan Gyslen, Nafsu membunuh keluar dari seluruh tubuhnya.


"Jadi sejak awal, kau tidak mengabdi padaku?.... Begitu ya. Aku mengerti Zell, kalau begitu! aku akan mengambil nyawamu disini! seorang pria yang tak mengakui kecantikanku hanyalah sampah!" Gyslen berteriak marah, dan mengacungkan Rapier nya ke arah Zell.


"Dengarkan! aku akan membunuhnya sendiri, jangan ikut campur." Gyslen memberi perintah, pasukannya hanya bisa mengangguk atas keinginan Nona mereka.


"Akan kupastikan, kau mati dengan tersiksa! Zell!" Gyslen berteriak.


Gyslen meluncur dengan cepat menuju Zell. Posisi, kuda - kuda dan aura Crimson yang dia keluarkan, membuktikan bahwa Gyslen akan melancarkan [Mega Trust] miliknya sekali lagi.


Zell tidak bergeming sedikitpun, wajahnya hanya menampakan senyum menantang.


Senyum yang dikeluarkan ketika seseorang merasa yakin akan kekuatan nya.


"Haaa!!!! Mega Trust!" Gyslen meneriakan nama tekniknya. Disaat yang bersamaan, teknik Gyslen telah dilancarkan pada Zell. Membuat sebuah awan debu yang cukup tebal akibat gesekan yang dihasilkan [Mega Trust] dengan lingkungan sekitar.


"Apakah aku berhasil?" Gyslen memeriksa Kondisi Zell. Serangannya berhasil membuat sebuah Lubang di tubuh Zell.


"Heh! Pria itu seharusnya tunduk padaku." Gyslen berbalik dari tubuh Zell dan menghadap pasukan berjubah hitam itu.

__ADS_1


"Sekarang, Tuan kalian sudah tidak ada. Belum terlambat untuk menyerah loh." Gyslen berbicara dengan sombong.


Para orang - orang berjubah hitam tidak bergerak sedikitpun.


Perkataan Gyslen yang menantang tidak membuat mereka bergeming.


"Hahahaha! Ada apa?! kalian ketakutan?! melihat kekuatanku yang luar biasa!? sudah sepantasnya para keco---!!!? Guhkk!."


Gyslen yang sedang berbicara lantang mengeluarkan darah dari mulutnya.


Sebuah pisau terlihat menancap pada perutnya dengan tiba - tiba.


"E-h? Ap-a in-i? seb-uah pisau?" Gyslen tak dapat memahami apa yang terjadi.


"Jangan sombong dulu, wanita menjijikan."


Suara Zell terdengar dari belakang Gyslen, Awan debu yang kini menghalangi pandangan sudah tidak ada. Disana, ditempat Zell yang seharusnya mati oleh tusukan pada tubuhnya, Zell masih hidup.


Para Priest dan Prajurit ikut terkejut, mereka tak menyangka. Seseorang yang telah terkena [Mega Trust] secara langsung dapat bertahan hidup. Apalagi serangan ini dilancarkan oleh Nona mereka yang seorang Ksatria Aulzania.


"Ap-Apa? tida-k mungkin... Seharusnya ka-kau su-dah.... Guhk Guhk... Mati." Gyslen berkata dengan terkejut.


"Jangan khawatir tentang hal ini...." Zell menunjukan sebuah luka tusukan di dadanya.


Luka tusukan itu mengeluarkan darah yang cukup deras. Namun, Zell seperti tidak terganggu sama sekali.


Zell lalu mengeluarkan sebuah Botol dari sakunya. Botol yang indah dan memiliki Cairan berwarna merah di dalamnya.


Botol itu kemudian Zell minum dengan satu tegukan. Seketika seluruh tubuhnya bercahaya, luka yang ada di dadanya langsung sembuh dengan cepat.


Gyslen lagi - lagi memasang ekspresi terkejut dan tak percaya. Botol yang Zell minum sudah pasti merupakan Potion Tingkat tertinggi. Potion yang bahkan keluarga Kerajaan tak banyak memiliki itu.


"It-u Potion tingkat tertin-ggi?" Gyslen bertanya seakan tak percaya.


"Huh? Potion tingkat tertinggi? Pfftt..... Aku suka kebodohanmu yang murni. Ini hanya sebuah potion menengah tahu?" Zell berkata seakan itu bukan apa - apa.


"Musta-hil! Potion Menengah.... Guhk, tidak akan dapat menyembuhkan luka dari [Mega Trust] milikku." Gyslen menentang semua ini dengan keras.


Gyslen kali ini menyadari bahwa orang dihadapannya kuat. Tidak mungkin baginya untuk menang melawan orang ini dalam keadaan terluka. Satu - satunya cara adalah dengan menyembuhkan tubuhnya secepat mungkin.


"Prie-st Cepat sembuhkan aku... guhk." Gyslen memerintahkan para Priest untuk memberikan sihir penyembuhan padanya.


"Hahaha... Guhk. Guhk. Tadi aku terkena seranganmu karena ceroboh, tapi kali ini...." Gyslen tertawa, walaupun dirinya terluka dan terbatuk mengeluarkan darah.


"Kali ini apa? melawanku lagi? lalu, perintahkan dengan cepat para Priest itu untuk menyembuhkanmu. Hahaha... Itu juga, jika mereka masih ada." Zell tertawa penuh kemenangan.


"Apa maksudmu? Priest! cepat!" Gyslen berteriak, namun tidak ada satupun yang menjawabnya.


Menyadari ada yang aneh, Gyslen berbalik dan memperhatikan sekitarnya.


Wajahnya kemudian membeku, seluruh priest dan prajurit telah terbunuh.


Anehnya, Gyslen tidak menyadari pergerakan apapun dari sosok - sosok berjubah hitam.


"Ti-Tidak! Bagai-mana? Bisa? Guhk.. Guhk.." Gyslen berteriak histeris, dirinya yang sombong kini telah kehilangan satu - satu nya kesempatan dan harapan nya.


"Nonaku, Oh Nonaku. Menyedihkan sekali melihatmu seperti ini." Zell berkata sambil berpura - pura terlihat sedih.


"Sebagai Rasa kasihan padamu, aku akan membunuhmu malam ini tanpa rasa sakit." Zell berbicara dan mengejek Gyslen yang kehilangan harapan.


"Satu pesan dariku, Nona. Lain kali, jika kau dilahirkan kembali di dunia lain. Jangan ambil semua kebodohan itu untuk dirimu sendiri." Zell memegang pisau di tangan nya, dan berjalan perlahan mendekati Gyslen.


"Terima Nasibmu, Nona!" Zell meluncur ke arah Gyslen.


Lalu Zell melancarkan sebuah serangan tebasan Horizontal pada leher Gyslen.


Gerakannya sangat cepat, bahkan Gyslen tidak bisa bereaksi akan hal ini.


Tapi, pemandangan kepala Gyslen yang terpenggal dan mati tidak terjadi.


Semua itu karena, sebuah sosok menangkis dan menahan pisau Zell dengan tangannya.


Zell melihat sosok ini dengan seksama, kemudian ekspresi kegirangan muncul diwajahnya.


"Akhirnya kau muncul juga, Vampire!" Zell berkata Gembira, seakan bahwa mangsa yang dia tunggu muncul dihadapan mata.


Vampire itu hanya diam dan menatap Zell.


"Aku bukan Vampire, Manusia."


Sosok itu berkata dengan tenang, suaranya yang halus bagaikan sebuah nyanyian. Disamping itu suaranya juga mengeluarkan sebuah intimidasi dan aura yang mengerikan.


"Aku adalah......"

__ADS_1


__ADS_2