Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chaptet 67 : Perintah dan Tujuan Baru?


__ADS_3

Kamar yang ditempati oleh Ren di Istana Kerajaan Aulzania. Dapat dikatakan, ini adalah Kamar terbaik yang pernah Ren dapatkan selama di Dunia ini. Sebelumnya, dia hanya tinggal di tempat - tempat yang tidak terlalu mewah maupun terlalu buruk. Hanya tempat biasa yang cukup nyaman untuk ditinggali.


Meskipun semenjak Ren menjual Core di Pelelangan Byurlin Kota Ceeven dia bisa membeli Rumah sendiri. Namun ia tak melakukan hal itu, alasan nya sederhana, Ren berpikir bahwa belum saatnya dia menetap di suatu tempat. Lagipula, Ren memiliki sebuah tujuan untuk mencari Istana miliknya andaikan ada di Dunia ini.


'Ya, jika Dunia ini mirip dengan COTHENIC seharusnya ada kan?'


Ren tidak memiliki pilihan lain selain bertanya pada dirinya sendiri. Tidak ada seorang pun yang dapat dia tanyai mengenai masalah yang satu ini.


'Banyak hal yang terjadi, namun aku baru bisa mencapai tujuan kecilku untuk mendapatkan sebuah dukungan Kerajaan.' Ren sedikit merenungi semua yang terjadi.


Karena beberapa alasan, Rencana Ren sedikit terhambat dan melenceng dari perkiraannya. Beruntung, dia masih dapat menerima semua ini, Ren tidak bisa melihat masa depan, maka dari itu perubahan sedikit Rencana merupakan suatu hal yang wajar untuk terjadi.


'Oke, aku akan menata kembali semua Rencana milikku. Pertama um ....' Ren berpikir dalam - dalam.


Saat ini, dia sedang duduk di Kamarnya dan diatas Kursi yang terbuat dari Blood Art. Pada proses berpikir seperti ini, Ren selalu melakukan posisi unik yang biasa dilakukan olehnya. Dengan kedua kaki menyilang dan tangan yang menopang dagu. Itu sudah menjadi hal yang biasa ketika melihat Ren melakukan hal ini.


Setelah penobatan Gelar Pahlawan yang dilakukan oleh Raja Esdagius. Ren tidak melakukan suatu hal yang penting, apapun itu. Dia hanya berjalan - jalan dan sesekali melakukan beberapa Pekerjaan yang tidak jelas. Singkatnya, selama itu dia tidak melakukan suatu hal yang berguna sedikitpun.


'Yah seharian ini aku memang tidak melakukan apapun yang penting.'


Ren mengakui hal itu, setelah menerima Gelar Pahlawan, Ren mengalami kelelahan mental yang cukup besar. Semua itu diakibatkan oleh kelakuan dan tindakan Raja Esdagius yang menurut Ren tidak memiliki Kegunaan yang berarti. Ren melakukan kegiatan tidak berguna dan berjalan - jalan bukan tanpa alasan, dia melakukan semua itu untuk menenangkan mental dan pikiran miliknya.


"Aaahh ... Aku ingin sekali berteriak ketika mengingat Gelar [Malaikat Ketampanan] yang amat menyebalkan itu."


Selama Seharian ini, sudah tidak terhitung Ren mengeluh dan menghela napas. Pikiran dia cukup kacau hanya karena dia mengingat Gelar [Malaikat Ketampanan]. Nirlayn dan Rusava serta Raytsa yang mengatakan bahwa Gelar itu cocok untuknya sama sekali tidak menenangkan pikiran Ren. Bahkan untuk saat ini, Ren memikirkan sebuah pemikiran yang cukup mengerikan.


'Andaikan aku diberikan Gelar itu secara Resmi, Bisakah aku menghancurkan Kerajaan ini saja?'


'Haa ... Tentu saja tidak bisa ....' Ren menggelengkan kepalanya.


Pemikiran ini segera Ren hilangkan, semua hal yang telah dia lakukan akan menjadi tidak berguna dan sia - sia jika dia melakukan hal itu. Lagipula, sebuah Gelar seharusnya tidak menggoncang pikirannya terlalu besar.


"Oh ... Hampir saja aku melupakan mereka ..."


"Nah, sekarang saatnya untuk menjadi serius."


Semua Pikiran Ren yang tidak karuan telah sepenuhnya dia hilangkan. Tujuan utama dia duduk di tempat nya saat ini adalah menunggu kedatangan para Bawahannya. Ren merasakan mereka sudah hampir tiba ke tempat dimana kamarnya berada.


------


Tok Tok Tok


Berselang beberapa saat, sebuah Ketukan terdengar. Ren memastikan terlebih dahulu siapa yang mengetuk Pintu tersebut menggunakan Persepsi mana miliknya. Hanya butuh beberapa saat untuk Ren memastikan bahwa itu adalah para Bawahannya yang dia panggil.


"Masuklah ...."


Dengan Instruksi yang diberikan oleh Ren, Pintu dibuka tanpa halangan. Nirlayn, Rakuza, Rusava dan Raytsa muncul dari sana. Mungkin kalian bertanya, mengapa mereka semua bisa datang secara bersamaan? Alasan dari semua ini sederhana, Ren yang memerintahkan hal itu.


"Kami telah datang Ren-sama." Nirlayn berbicara mewakili ketiga orang lainnya.


"Um, kalian semua duduklah."


Mereka duduk satu per satu sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Ren. Seperti yang telah Ren persiapkan, Kursi dimana mereka duduk dengan sengaja ditempatkan dihadapan Kursi Blood Art milik Ren. Sekarang Ren dan para Bawahannya itu sedang duduk berhadapan.


"Langsung saja aku berbicara, Alasan aku memanggil kalian kesini hanya ada satu."


"Dan itu adalah Janjiku kepada Rakuza. Untuk sekarang, aku meminta maaf padamu Rakuza karena tidak membahas ini cukup lama."


Rakuza terkejut dan terlihat tidak tahu harus melakukan apa. Perkataan Ren yang secara tiba - tiba menyinggung masalah Janji yang mereka berdua buat, merupakan penyebab keterkejutan nya itu. Rakuza langsung mengibas - ngibaskan lengannya dan berbicara cukup panik.


"I-Itu tidak masalah, aku memaklumi anda yang cukup sibuk. Aku bukanlah orang yang Egois, asalkan janji anda ditepati, itu tidak masalah sama sekali, serius."

__ADS_1


Nirlayn hanya mendengarkan hal ini dengan tenang karena dia mengetahui masalah Rakuza. Sementara Rusava dan Raytsa, mereka tidak mengetahui sama sekali dan terlihat sedikit bingung.


"Rakuza, kau tidak bisa seperti itu, aku cukup ceroboh untuk melupakannya. Ini adalah masalah serius karena mempertaruhkan keselamatan temanmu."


Apa Rakuza sudah menyerah akan keselamatan temannya sehingga dia tidak terlalu mempedulikan hal itu? Ren tidak tahu. Sesuatu yang sudah jelas disini adalah, Ren tidak bisa membiarkan Janjinya terlupakan dan tidak ditepati.


"Mari bahas masalah utamanya, beberapa hari ke depan, aku masih harus menetap di Kerajaan ini dan belum bisa kemanapun. Kalian tentu sudah mengetahui soal Kerjasama ku dengan Kerajaan ini kan?"


Mereka semua mengangguk dan memberi tanda bahwa mereka sudah tahu dan mengerti. Ren kemudian melanjutkan penjelasan nya dengan serius.


"Nah, oleh karena itu, aku ingin kau Rakuza, mencari sendiri keberadaan Kinna di Kerajaan Suci Sancteral untuk sementara waktu."


Sontak, Rakuza sedikit melotot dan terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Ren. Hal yang wajar, Rakuza sudah pasti berpikir bahwa andai dia dapat menyelamatkannya seorang diri seperti yang diperintahkan oleh Ren, maka dia akan melakukannya dari dulu.


"Apa maksudnya ...." Rakuza bertanya untuk meminta penjelasan.


Namun, Jawaban Ren selanjutnya membuat Rakuza menjadi mengerti apa yang dimaksud oleh Ren.


"Jangan terkejut dulu, aku akan meminta Rusava dan Raytsa untuk menemani dirimu. Bisakah kalian melakukannya, Rusava? Raytsa?"


Rusava dan Raytsa saling memandang terlebih dahulu sebelum akhirnya mereka menjawab pertanyaan dari Ren.


"Kami siap menerima tugas ini, tapi sebelum itu Yang Mulia. Bisakah anda menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi disini?" Ucap Rusava.


Ren baru mengingat bahwa dirinya belum mengatakan apapun soal ini pada Rusava dan Raytsa. Jadi wajar mereka menanyakan hal ini terlebih dahulu. Ren pun tidak memiliki pilihan lain selain menjelaskan terlebih dahulu kepada mereka berdua.


"Aku akan menjelaskannya dengan singkat, Rakuza mempunyai seorang Teman Wanita yang saat ini sedang ditahan oleh musuh dan tidak diketahui keberadaan pastinya. Hanya ada sebuah petunjuk mengenai di Kerajaan mana dia ditahan, dan itu ada di Kerajaan Suci Sancteral."


"Sebelum menjadi Bawahanku, Rakuza meminta aku untuk menolong nya menyelamatkan Wanita itu, dan sebagai bayaran dari semua itu, aku meminta dia menjadi bawahanku."


"Rakuza menyetujuinya dan membuat Janji itu denganku. Nah, meskipun aku sementara ini tidak bisa menepati Janji dengan kedua tanganku secara langsung."


Rusava dan Raytsa terlihat berpikir untuk mencerna semua perkataan Ren terlebih dahulu. Sekitar beberapa saat kemudian, mereka akhirnya mengangguk dan berkata ...


"Kami berdua mengerti, Rakuza adalah bawahan anda Yang Mulia. Itu berarti sudah menjadi kewajiban kami untuk menolong dirinya." Rusava memberikan Jawaban Positif.


Ren langsung menghela napas lega, jika Rusava dan Raytsa menolak perintah darinya. Maka tidak ada pilihan lain bagi Rakuza selain menunggu Ren menyelesaikan Pekerjaannya. Untuk lebih menenangkan hatinya, Ren mencoba untuk memastikan kembali.


"Jadi, kalian menerimanya?"


"Ya, kami menerima misi ini, dan satu hal lagi Yang Mulia. Anda tidak perlu mengatakan ini sebagai permintaan, cukup berikan kami perintah dan kami akan melaksanakannya. Selama itu masuk akal dan tidak bertentangan dengan Hati kami."


Rusava dan Raytsa meminta agar Ren tidak bersikap segan dalam memerintahkan mereka. Tidak seperti pada Rakuza dan Nirlayn, Ren memang sedikit ragu - ragu untuk memerintahkan Rusava dan Raytsa. Namun, setelah Rusava mengatakan hal ini, keraguan ini sendiri menjadi hilang.


Perkataan Rusava juga cukup masuk akal dan dapat diterima oleh Ren. Meski mereka berdua adalah seorang Leluhur sejati, tapi mereka tetap Bawahan Ren. Jika Ren masih Segan dalam memerintahkan mereka, itu akan menghilangkan martabat penguasa miliknya.


"Hm ... Baiklah Rusava, jika keinginan kalian seperti itu, akan kupastikan tidak mengecewakan kalian berdua."


"Oke, sekarang melanjutkan masalah tadi. Aku harap kalian bertiga siap untuk pergi ke Kerajaan itu besok, lebih cepat akan lebih baik."


Ren sedikit merasakan firasat yang kurang baik mengenai keadaan Kinna saat ini. Maka dari itu, Ren menyarankan agar mereka berangkat lebih cepat. Untuk Rakuza ... Ren meyakini bahwa dia setuju akan sarannya yang satu ini.


"Aku mengerti, Tuan Dirvaren. Aku sangat setuju untuk berangkat secepat mungkin." Ucap Rakuza.


"Bagaimana dengan kalian, Rusava?"


"Kami tidak masalah berangkat kapanpun itu Yang Mulia, bahkan untuk saat ini."


Balasan dari Rusava ini membuat Ren sedikit berpikir. Bukankah Rusava ini terlalu percaya diri dengan kemampuannya? Meski itu merupakan hal yang bagus dia menyetujui nya.


'Leluhur Sejati memang berbeda bukan?' Ren sedikit tersenyum dalam Hatinya.

__ADS_1


Ren yakin, bahwa kepercayaan diri Rusava memang beralasan dan masuk di akal. Dia adalah seorang Leluhur Sejati yang merupakan Kasta tertinggi dari Ras Blood Devil. Tidak masalah jika dia memiliki sedikit kepercayaan diri pada kemampuannya.


"Sangat Bagus, berarti kalian bertiga dipastikan berangkat esok hari."


Ketiga orang itu langsung mengangguk, Rakuza juga menjadi terlihat lebih bersemangat. Keputusan Ren saat ini sepertinya merupakan hal yang bagus.


"A-Anu ... Apa yang harus saya lakukan Ren-sama?" Nirlayn menyuarakan sebuah pertanyaan.


"Aku tidak dapat mengirim dirimu kesana Nirlayn, aku membutuhkan seseorang untuk tetap disini dan membantuku. Jadi, maafkan aku jika kau ingin mengikuti mereka bertiga."


Ren tidak memiliki pilihan lain, andai Nirlayn pergi ke Kerajaan Suci Sancteral bersama dengan yang lain. Maka dia tidak akan mempunyai seseorang untuk diperintahkan andaikan dia sedang sibuk.


"E-Eh, Tidak masalah jika begitu! Ren-sama anda tidak perlu meminta maaf seperti itu."


"Terima kasih atas pengertianmu Nirlayn."


Kali ini, Ren juga bersungguh - sungguh dalam berterima kasih. Tanpa kebohongan maupun berdusta. Dia benar - benar berterima kasih dengan sepenuh Hati. Pada saat ini pula, Ren tidak menyadari bahwa sikap dirinya ini membuat Rusava dan Raytsa semakin menghormati dia.


"Oh, aku melupakan suatu hal yang penting. Jika kalian menggunakan Kereta Kuda, bukankah itu akan memakan waktu yang lama?"


"Hm ... Anda benar Yang Mulia, saya tidak memikirkannya."


"Jadi apa yang harus kita lakukan?" Rakuza bertanya kebingungan.


"Aku memiliki solusi, ini akan semakin cepat andaikan Raytsa mampu melakukannya." Ren tersenyum dengan penuh makna.


"Saya? Apa itu Yang Mulia?" Raytsa memiringkan kepalanya.


"Skill [Summoning] Apakah kau dapat melakukannya?" Ren mengatakan suatu hal yang mengejutkan.


"Ahh! Anda ingin saya memanggil [Beast Servant] untuk ditunggangi?"


"Benar, apa kau mampu melakukannya?"


"Um ... Saya mampu tapi ...." Raytsa tidak melanjutkan perkataannya.


"Tapi? Apa ada suatu masalah?" Ren bertanya, berusaha memastikan apa yang terjadi.


"[Beast Servant] yang dipanggil melalui Skill [Summoning] itu acak dan tidak dapat dipastikan bisa ditunggangi Yang Mulia." Rusava adalah orang yang menjawab pertanyaan Ren.


"Ahh ... Aku mengerti, jadi begitu ...."


Sewaktu dalam Game dulu, Ren juga tidak terlalu mengetahui dengan Jelas skill - skill dari Job [Summoning] ini. Hanya satu yang pasti, jika dalam Game, pada saat melakukan Summoning akan ada pilihan Tipe macam apa [Beast Servant] yang akan kita panggil. Misalnya, ada beberapa macam tipe yang dikategorikan dalam beberapa hal, Yaitu Kategori Jenis, seperti Hewan macam apakah itu, apakah yang terbang dan mempunyai sayap, ataupun Hewan Buas layaknya serigala.


Kemudian, ada Kategori Kegunaan, apakah [Beast Servant] yang dipanggil adalah Tipe Tunggangan yang dijadikan Kendaraan, ataupun Tipe Penyerang yang dijadikan sebagai Partner dalam pertempuran. Untuk seberapa Tinggi nya tingkatan [Beast Servant] itu sendiri sudah pasti tergantung dari Kekuatan pemanggilnya.


Hanya itu yang diketahui oleh Ren mengenai Job [Summoning] ini. Bagaimanapun, Ren dulu sama sekali tidak tertarik untuk memanggil Hewan Peliharaan seperti itu. Berdasarkan Hal ini Pula, Ren mengingat sesuatu untuk ditanyakan pada Rusava dan Raytsa.


"Aku mengingat suatu hal, bagaimana dengan [Summon : Sacred Blood Beast] yang aku miliki? Mengapa Nama nya adalah [Beast] sementara yang muncul adalah kalian para Blood Devil?"


Meskipun pertanyaan ini cukup beresiko membuat Rusava dan Raytsa meragukan Ren. Tetapi, Ren sangat penasaran dengan hal ini, dia tidak memiliki pilihan lain.


"Bagaimana kami bisa tahu jika anda saja tidak tahu? Mungkin, Dewa kita memberi Nama seperti itu hanya sekedar lelucon yang dia buat." Rusava menjawab dengan senyum kebingungan.


"Hm ... Masuk di akal, baiklah lupakan itu untuk sekarang. Bisakah kita mencoba terlebih dahulu Raytsa? Dan juga, aku ingin mempelajari Skill Summoning ini."


Apakah di Dunia ini masih terikat oleh System Job yang ada dalam Game COTHENIC? Ren meragukannya. Dia sendiri dapat membuat skill - skill baru dari Blood Ruler, mungkin saja keterikatan itu sudah musnah saat ini. Ren akan memastikannya nanti.


'Melakukan suatu hal yang baru? Memang menyenangkan.'


Ren merasa tidak sabar untuk mempelajari Skill Summoning ini. Dalam Hati, dia berharap bahwa semua berjalan dengan lancar dan keterikatan itu sudah hancur. Sehingga dia bisa dengan bebas mempelajari apapun yang dia sukai.

__ADS_1


__ADS_2