
"Aku Lelah...."
Merasakan kesendirian yang menyedihkan di dalam Kereta Kuda, Ren mengeluh seorang diri. Tubuhnya kuat, Tenaga nya juga tidak dapat dipungkiri bahwa itu ditingkat Luar Biasa. Namun anehnya dia merasakan suatu perasaan yang disebut lelah kali ini.
Tetapi dengan itu pula, semua Senjata Sihir yang akan dia berikan pada Kerajaan Aulzania berhasil dikumpulkan. Bisa dibilang usaha yang dia lakukan tidak sepenuhnya sia - sia. Ekspresi kelelahan miliknya dengan cepat digantikan dengan sebuah senyum puas yang dipaksakan.
'Tidak perlu bersedih, bukan berarti aku adalah seorang Tuan Menyedihkan, tetapi aku adalah Tuan yang baik hati.'
Dalam Hati, dia terus mengulangi Kalimat itu, mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri.
Di Dunia dia yang sebelumnya yaitu Bumi, Ren tidak pernah melakukan pekerjaan seperti ini. Dia hanya memerintahkan dan memerintahkan, setelah itu menandatangani serta menyetujui. Mungkin, satu - satunya pekerjaan yang membuat dia merasa lelah ketika di Bumi adalah saat pertemuan.
"Hm? mari kita keluar."
Ren memutuskan untuk mengakhiri keluh kesah yang dia lakukan. Saat ini, Mana dari seorang Rakuza telah terdeteksi mendekat ke arahnya.
Sebuah Suara Khas dari Pintu yang ditutup terdengar ketika Ren muncul dari dalam Kereta Kuda. Semua orang yang memang dari awal memperhatikan Kereta Kuda itu kini semakin penasaran. Pasalnya, seseorang yang begitu Tampan keluar dari Kereta Kuda seorang diri. Tentu ini menyebabkan sebuah pertanyaan Besar muncul dibenak mereka
'Siapa Pria itu....?'
'Seorang Bangsawan....?'
'D-Dia, sangat tampan....'
Mereka semua bergumam dan memandangi Ren dengan Ekspresi yang beragam. Tetapi, kebanyakan dari mereka adalah Wanita yang menatapnya dengan kagum.
Menanggapi pandangan dari orang - orang yang ada di sekitarnya. Ren hanya diam dan bersandar pada bagian sisi Kereta Kuda. Kedua lengannya dia silangkan, sebuah posisi tubuh yang selalu dia gunakan ketika menunggu sesuatu.
Kali ini, Ren sedang menanti kedatangan dari seorang Rakuza. Berdasarkan dari apa yang Ren Rasakan, hanya butuh beberapa waktu kemudian untuk Rakuza tiba ke tempat Ren berada.
Semua orang yang memperhatikan tidak dia pedulikan lagi. Saat ini, pikirannya sedang terfokus pada hal yang lain.
'Semua Rencanaku lagi - lagi berubah...'
Ren menyentuh dahinya, dia merasakan sakit kepala. Semua Rencana nya selalu berubah setiap waktu, itu karena kemunculan beberapa sosok yang tidak terduga seperti Rakuza, Rusava dan Raytsa. Belum lagi, Arnicko yang seorang Ketua Guild Petualang meminta dia untuk memimpin anggota Guild Petualang yang tersisa.
'Lagipula, apa yang harus aku pimpin?'
Apa yang dimaksud oleh Arnicko menjadi pemimpin? Ren tidak mengerti sama sekali. Jika itu untuk memimpin Guild Petualang, Ren akan langsung menolaknya. Tetapi, dari pernyataan Arnicko, sepertinya bukan itu.
'Lalu apa?'
Dari lubuk Hati Ren yang dalam, dirinya tidak mempercayai Arnicko dan bawahannya sama sekali. Orang - orang seperti mereka terlalu Rentan melakukan pengkhianatan. Maka dari itu, Ren harus berhati - hati dan tidak sembarangan menerima permintaan mereka.
Meskipun Arnicko dan para bawahannya berasal dari Bumi. Tetapi bukan berarti mereka semua memiliki hati yang baik. Justru orang - orang yang telah mengenal Nama Ren lah yang paling mungkin untuk berkhianat.
Untuk Rakuza, dia diterima karena Ren melihat sesuatu yang istimewa darinya. Suatu keistimewaan itu adalah Kesetiaan yang terpancar jelas dimatanya. Tetapi, itu juga tidak menutupi seluruh kemungkinan bahwa dia tidak akan berkhianat.
Demikianlah alasan mengapa Ren tidak bisa membeberkan informasi tentang Inventory pada siapapun bahkan jika itu Rakuza.
'Yah... Yang paling menarik adalah mereka berdua...."
Rusava dan Raytsa, dua orang Leluhur Sejati yang berasal dari Ras Blood Devil. Semua yang mereka Ceritakan adalah sesuatu yang tidak Ren ketahui.
Pertama, semua hal tentang Tujuh Keluarga Utama. Berdasarkan Cerita mereka, Ren dapat mengambil Kesimpulan bahwa Keluarga disini adalah sesuatu yang mirip dengan Kerajaan. Terbukti dari setiap Keluarga yang memiliki wilayah kekuasaan masing - masing. Setiap Keluarga juga memiliki Anggota yang dapat dikatakan sebagai Rakyatnya.
Lalu yang Kedua, ada seseorang yang merupakan Pemimpin Sejati Blood Devil. Dia adalah Blood Devil pertama yang ada di Dunia ini. Dengan sebuah cara yang tidak diketahui, dia memperbanyak Individu Blood Devil sebagai Keturunan. Karena kemampuannya itu, dia disebut sebagai Dewa dari Ras Blood Devil. Namun, ada juga beberapa orang yang menyebut dia sebagai seorang Blood Devil Sejati.
Sayang sekali, Rusava dan Raytsa mengatakan bahwa Dia yang merupakan Dewa dari Ras Blood Devil telah mati dimasa yang lalu.
'Seorang Dewa yang mati? Apa kau bercanda....'
Ren tidak bisa menahan keheranan nya sedikitpun. Bukankah seseorang yang disebut sebagai Dewa seharusnya tidak dapat mati.
'Aku tidak mengerti...'
Ren menggelengkan kepalanya, tindakan nya yang tiba - tiba ini membuat semua orang yang memperhatikan dia kebingungan.
Tap Tap Tap
Semua orang kini mengalihkan pandangan pada Lelaki Demi-Human serigala yang menghampiri Ren dengan tenang, dia adalah Rakuza.
"Mm..? Maaf, Tuan Dirvaren, apakah anda sudah menunggu lama?"
Rakuza datang dan langsung melihat Ren yang telah menunggu. Mungkin itu penyebab mengapa dia memasang wajah bermasalah saat ini.
Pada kenyataan nya, Ren hanya menunggu sebentar. Lagipula, dia tidak benar - benar menunggu kedatangan Rakuza. Jadi Ren sama sekali tidak mempermasalahkan hal ini.
"Tidak masalah, aku hanya menunggu selama beberapa menit."
Ren mengibaskan lengan, mengindikasikan kepada Rakuza bahwa dirinya tak perlu merasa khawatir.
"Meski begitu, saya akan tetap memohon maaf."
"Hm..?"
Lagi - Lagi sikap yang berlebihan, Ren tidak mengerti mengapa semua bawahannya bertindak seperti ini. Mungkin bukan hanya bawahan saja, tetapi semua orang yang telah mengenal dirinya bertindak demikian.
"Aku tidak peduli, terserah kau saja..." Ren menyerah pada Rakuza yang bersikeras.
__ADS_1
"Oh, berbicara soal itu, aku ingin kau membawa kedua Kereta Kuda ini ke Istana Kerajaan."
"Ke Istana? Bisakah saya mengetahui Alasan nya?" Rakuza Bingung.
Dua buah Kereta Kuda kosong dikirim ke Istana Kerajaan? Itulah yang membuat Rasa Bingung timbul di Hati Rakuza. Lagipula, Ren tidak memberitahu sedikitpun soal Kerja Sama dengan Kerajaan Aulzania. Merupakan Hal yang wajar jika Rakuza bertanya tentang hal ini....
"Ada beberapa barang yang sudah tidak berguna untukku disana. Jadi, aku memutuskan untuk memberikannya pada Kerajaan Aulzania...."
"Barang... Tidak berguna?" Rakuza kebingungan dengan sebuah alasan yang berbeda.
"Ya, itu hanya suatu barang biasa. Kau tidak perlu menanyakan detail nya."
'Barang tidak berguna dan biasa itu diberikan pada Kerajaan?' Rakuza berpikir dengan serius, mencoba menebak - nebak barang macam apa itu.
Raut Wajah Rakuza menjadi sangat - sangat serius. Dia hanya menatap dengan penuh kekosongan, pikirannya telah pergi entah kemana. Terkadang, Rakuza juga mengerutkan dahinya beberapa kali.
Ren yang penasaran dengan Kondisi Rakuza saat ini segera bertanya...
"Rakuza, ada apa denganmu?"
Sontak saja, pertanyaan ini membuat Rakuza sadar dan terkejut. Dengan sebuah senyum canggung yang dipaksakan, Rakuza memberi penjelasan....
"Ahh! Saya tidak apa - apa.... H-Hahaha."
"Hm...? Bagaimana, bisakah kau membawa Dua Kereta Kuda ini secara bersamaan?"
"Sebentar......" Rakuza terlihat memikirkan sesuatu.
"Saya Rasa tidak mungkin, seseorang harus membawa satu Kereta Kuda lainnya."
Jawaban dari Rakuza membuat Ren yang harus berpikir kali ini. Tidak mungkin bagi dirinya sendiri untuk mengantarkan Kereta Kuda lainnya. Dia sudah merasakan lelah, jika ditambah dengan sesuatu yang seperti itu, dapat dipastikan kelelahan nya akan meningkat tajam.
"Jadi mustahil ya...." Ren menghela napas.
Mau bagaimanapun, di dalam Kereta Kuda itu terdapat Senjata Sihir dalam Jumlah yang tidak sedikit. Meski dimata Ren mereka hanya sampah dan sudah tidak berguna, tetapi dimata orang lain bisa saja berbeda. Akan sangat berbahaya jika Kereta Kuda di antarkan oleh seseorang yang tidak dapat dipercaya.
Disaat perasaan bingung melanda Hati Ren saat ini. Rakuza terlihat mendapatkan sebuah jawaban....
"Tuan Dirvaren, bagaimana dengan Kanza?"
Rakuza menyarankan seseorang yang tak terpikirkan oleh Ren sama sekali. Kanza, seorang Assassin terbaik dari Guild Petualang, seharusnya dia masih dapat dipercaya.
"Ah, Dia ya, dimana dia sekarang?"
Ren tidak memiliki pilihan yang lain, sesuatu yang seperti ini mustahil dia serahkan pada Nirlayn. Yang berarti, harapan satu - satunya adalah Kanza...
"Apakah anda memanggil saya...?"
Kanza tiba - tiba muncul dari dalam bayangan. Bahkan orang - orang yang memperhatikan Ren dan Rakuza sedari tadi tidak bisa melihat kedatangan Kanza sedikitpun. Di Mata mereka, sosok Kanza dengan tiba - tiba muncul layaknya hantu.
"Hm... Kemampuan bersembunyi mu sedikit lebih baik, sampai beberapa saat yang lalu aku tidak menyadarimu sama sekali."
Jika dibandingkan dengan pertama kali Ren bertemu dengannya. Kanza jelas menjadi lebih baik dalam hal penyembunyian diri.
Atas pujian Ren yang secara tak sengaja dia lontarkan. Kanza tersenyum dengan bangga, bisa dilihat bahwa wajahnya diliputi oleh kebanggan yang besar.
"Kemampuan ini sudah saya latih dengan keras!" Kanza berkata dengan penuh percaya diri.
"Aku tarik ucapanku kembali." Ren berkata kesal.
"Apa?! Tidak mungkin...."
Kanza melotot, seketika semua semangat yang telah dia peroleh menghilang. Kini wajahnya diliputi oleh kesuraman yang mendalam. Melihat hal ini, Rakuza mendekati Kanza dan menepuk - nepuk punggung nya. Berusaha untuk memperbaiki suasana Hati milik Kanza.
Pluk Pluk...
"Jangan berkecil hati, aku bahkan terkejut kau sudah menjadi lebih hebat dari sebelumnya..." Rakuza memuji dengan tulus.
"Hei, kalian ini seperti anak kecil...." Ren berkomentar pada sikap yang ditunjukan oleh Kanza serta Rakuza.
"Mhm... Lupakan itu Kanza, aku ingin kau menerima permintaanku."
"Hm... Apa itu?"
Ren kemudian meminta Kanza untuk menemani Rakuza mengantarkan Dua Kereta Kuda yang berada di dekat mereka ke Istana Kerajaan. Pada awalnya, Kanza menanyakan hal yang sama dengan Rakuza. Namun, Ren menjawab seperti halnya pada Rakuza.
Berbeda dari Rakuza yang kebingungan atas jawaban dari Ren. Kanza hanya mengangguk dan menyetujui permintaan Ren tanpa bertanya lebih jauh.
"Bagus sekali, aku ada beberapa urusan dulu..."
Ren beranjak pergi, melakukan hal yang sama yaitu melambaikan tangan ketika dirinya pergi. Tujuan Ren saat ini adalah, Akademi Kerajaan Aulzania.
*
*
*
*
__ADS_1
*
Di Gerbang Masuk Akademi Kerajaan Aulzania.
Seorang Ren yang mencurigakan sedang menatap Gerbang dengan penuh perhatian. Dia tidak bergerak sedikitpun, sama sekali tidak berbicara, dan hanya hening dalam diam.
Penampilan nya sangat mencurigakan, dia mengenakan sebuah Topeng Hitam yang hanya memperlihatkan sebagian dari wajahnya. Meski penampilan nya aneh, itu tidak dapat menyangkal bahwa wajah dibalik topeng itu adalah Lelaki tampan.
Perilaku yang mencurigakan, lalu penampilannya yang mencurigakan, membuat segala macam gerak - gerik nya di awasi oleh para murid yang menjaga Gerbang.
Beberapa saat mengawasi, akhirnya Murid - Murid yang bertugas menjaga Gerbang itu segera menghampiri Ren yang mencurigakan ini.
"Ada perlu apa kemari?"
"Siapa dirimu?"
"Apakah kau punya urusan disini?"
Mereka bertanya secara berurutan, tampaknya mereka memiliki Etika yang baik. Terbukti dari pertanyaan mereka yang dilontarkan secara sopan meski lawan bicara mereka seseorang yang mencurigakan.
"Namaku adalah Anryzel Dirvaren, aku ingin bertemu dengan Fraudlin, Sang Master Alkimia."
Ren menjawab dengan perkataan tanpa emosi sedikitpun. Begitu datar Nada bicaranya, seolah - olah dia memang tidak memiliki emosi.
Meski demikian, Ketiga Murid itu masih berusaha bertanya.
"An...Ryzel? Bagaimana kami dapat menyebutmu?"
"Apa kau mempunyai sesuatu yang dapat membuktikan kebenaran perkataanmu itu?"
"Master Fraudlin ya, apa kau adalah Murid nya atau sesuatu seperti itu?"
"Kalian bisa menyebut Namaku yang manapun. Lalu, aku tidak mempunyai bukti itu sama sekali. Dan terakhir, aku bukanlah murid Fraudlin atau semacamnya."
Jawaban yang cepat dan sempurna, tanpa ada sedikitpun kesalahan dalam menyebutnya sama sekali. Jawaban ini seakan sudah dipersiapkan dengan baik sebelumnya.
Ketiga Murid langsung membelakangi Ren yang mengenakan topeng mencurigakan. Mereka saling mendekatkan wajah satu sama lain.
'Hei, ada apa dengan lelaki ini?'
'Aku tidak tahu, sungguh.'
'Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?'
'Mungkin menerimanya dan memberitahu Master Fraudlin?'
'Apa kau bodoh! bagaimana jika dia seorang yang berniat jahat?!'
'Aku memiliki Ide, bagaimana jika kalian berdua diam disini menjaga dia. Lalu aku akan menyampaikan ini kepada Master Fraudlin?'
'Hm..... Ide bagus.'
'Baiklah, aku juga setuju... Tapi Hei, kau jangan sekali - kali kabur!'
'Jangan Khawatir, aku akan berjuang bahkan sampai aku mati.'
'Semoga kau diberi keselamatan....'
'Aku harap kau berhasil... Berjuanglah!'
'Huuf... Satu, dua, tiga, ayo!'
Ketiga Murid ite menyelesaikan sesi perbisikan mereka. Dengan wajah penuh tekad, mereka berbalik kembali pada sosok Ren yang berdiri dalam diam.
"Baik.. Mohon tunggu disini bersama kami berdua sebentar. Temanku yang satu ini akan memberitahu Master Fraudlin..."
"Kami bukan mencurigaimu atau semacamnya, mohon mengerti... Semua ini demi kebaikan dan keselamatan bersama."
"Aku mengerti...." Ren menjawab, Nada bicaranya seakan tidak peduli.
"Ha....?"
"Apa...?"
Dua orang Murid yang tersisa sampai tak bisa berkata - kata. Penjelasan mereka yang bermaksud menenangkan Ren berakhir dengan sia - sia. Senyuman yang dipaksakan terlihat di wajah kedua Murid itu.
'Kami sudah bersusah payah menjelaskan dan kau hanya menjawab Aku mengerti?!'
'Aku mengerti?! Aku mengerti kau bilang!'
Kedua murid itu mengumpat dalam Hati mereka. Tetapi, mereka tidak berani berbicara secara langsung, orang dihadapan mereka kemungkinan besar berhubungan dengan Master Fraudlin. Mereka tidak dapat berbuat hal yang gegabah.
"Apa tidak ada tempat untuk menunggu lebih baik?" Ren kembali bertanya.
Dia tidak memberikan sedikitpun kesempatan pada Kedua Murid itu menyelesaikan perkataan mengumpat di Hati mereka.
"Ha-ha.. Maafkan kami, mari ikuti kami kesini..."
"Ya, Ya benar, ikuti kami."
__ADS_1
Kedua Murid itu, membawa Ren menuju Pos penjagaan Gerbang. Dalam Hati, mereka terus menerus mengumpat...