
Esok harinya Rusava dan Rakuza bergerak untuk memulai tugas penyusupan berbahaya pada Temple of Light yang merupakan bangunan terpenting di Kota Zarisma.
Keduanya mengenakan pakaian serba hitam agar lebih mudah menyatu dalam kegalapan. Untuk waktunya sendiri, Rusava memutuskan untuk pergi pada saat matahari tepat berada di atas kepala. Mungkin ini sedikit aneh tetapi alasan yang diberikan oleh Rusava bisa dikatakan masuk akal dan absurd.
"Hah? Malam hari kau bilang? Tidak mungkin, penyusupan pada malam hari itu sudah terlalu sangat amat biasa. Matahari tepat di atas kepala, itulah waktu yang paling tepat!" balas Rusava pada saat Rakuza bertanya kapan mereka akan melancarkan tugas ini.
Namun jangan salah sangka, Rusava memberikan sedikit penjelasan yang cukup masuk akal untuk memperkuat keputusannya.
Pada saat malam hari, penjaga akan lebih waspada terhadap mata-mata karena saat itu adalah waktu biasa bagi mereka keluar. Sedangkan siang hari, mereka tidak akan menyangka bahwa mata-mata akan keluar pada saat seperti ini.
Alhasil Rakuza memilih untuk menyerah dan menuruti apa kata Rusava daripada mereka berdebat dan menghabiskan waktu lebih lama. Raytsa pun tidak bisa berargumen apapun karena dia yakin terhadap keputusan yang dibuat Rusava.
Setelah melakukan diskusi satu jam sebelum waktu yang ditentukan, Rusava dan Rakuza memulai tugas penyusupan ini. Mereka bergerak secara beriringan dari bayangan bangunan ke bayangan bangunan lain.
Meski tidak sempurna, keduanya mencoba sebaik mungkin untuk menekan mana dan menyembunyikan hawa keberadaan. Selama musuh yang mereka hadapi bukanlah monster penyamaran ini tidak akan diketahui.
[Note : Monster disini memiliki arti, seseorang dengan kekuatan luar biasa]
Pergerakan mereka yang melewati bayangan tempat sepi dengan orang-orang biasa yang berlalu lalang dijalanan, bagaikan sebuah dunia dua sisi. Satu adalah kegelapan dan keheningan lalu yang satunya lagi adalah cahaya dan keramaian.
Kota Zarimas memiliki luas wilayah yang besar, hampir atau bahkan lebih besar dari Kota Aulzania. Peradaban disini juga terlihat lebih maju, terbukti dari beberapa peralatan yang tidak bisa ditemukan di Kerajaan Aulzania bisa ditemukan disini.
Jika dilihat sekilas Kota Zarimas ini seperti sebuah kota di atas danau yang damai, tentram, dan nyaman. Namun selalu ada sisi buruk dari sisi yang baik, itu tidak dapat dipungkiri lagi.
"Kita hampir sampai, tingkatkan kewaspadaanmu!" Rakuza memperingatkan.
"Baik, aku akan berusaha."
Rusava memang mengatakan mereka hampir sampai, tapi sesungguhnya tidak demikian. Tantangan mereka dalam melakukan penyusupan baru saja akan memasuki tahap pertama.
>Melewati Jembatan<
Sekali lagi, Kota Zarimas merupakan kota yang dibangun di atas sebuah danau. Danau ini juga disebut Danau Zarimas dan memiliki bentuk yang hampir bulat sempurna hingga memungkinkan untuk membangun kota yang indah di atasnya.
Kawasan kota yang merupakan tempat didirikannya bangunan penduduk biasa adalah pinggiran danau dan daratan. Sedangkan Temple of Light yang merupakan pusat dari semua itu berada di tengah-tengah danau.
Untuk menghubungkan Temple of Light dengan kawasan kota dan daratan, maka dibentuklah empat buah jembatan. Jembatan ini sendiri langsung terhubung dengan jalan yang menghubungkan wilayah pusat dengan keempat wilayah lainnya.
Bisa dikatakan, Rusava dan Rakuza harus melewati salah satu dari jembatan itu untuk bisa menyusup ke dalam Temple of Light. Sebagai penyusup harus melewati ruang terbuka dan minim kegelapan seperti jembatan merupakan sebuah kesulitan.
Bagaimanapun kesulitan itu semakin bertambah karena akan ada beberapa ksatria yang berpatroli melewati jembatan ini.
"Bagaimana ini, Tuan Rusava?"
"Tidak ada pilihan lain, kau bisa berenang?"
Rakuza yang awalnya sedang mengamati situasi tiba-tiba memutar kepalanya ke arah Rusava dengan cepat sambil membulatkan mata.
__ADS_1
"Eh, Anda serius? Bukankah di danau seperti ini terdapat monster yang berkeliaran?"
Mendengar pertanyaan konyol dari Rakuza, Rusava pun balik menatapnya dengan heran sambil membalas dengan sedikit menekankan perkataan.
"Hal itu tidak penting, apakah tekad untuk menyelamatkan temanmu hanya sebatas ini? Maka sebaiknya kau kembali ke penginapan."
Assassin seperti Rakuza tidak di untungkan di dalam air, hal itu memang fakta yang tidak bisa terbantahkan. Kecuali ada kasus istimewa dimana seorang Assassin memiliki keterampilan tertentu dalam air, maka fakta itu sudah tidak berlaku.
Meski demikian, apakah Rakuza memang benar-benar merasakan takut? Bukankah dia sudah berjanji untuk menyelamatkan Kina?
"Tidak, aku akan mengikuti Anda, Tuan Rusava."
Melihat tekad itu sudah kembali di mata Rakuza membuat Rusava sedikit tersenyum dan berkata dalam hati bahwa itulah yang seharusnya dimiliki oleh seorang lelaki. Apalagi masalah ini berkaitan dengan wanita yang kemungkinan besar dia sukai.
"Bagus, tunggu saat-saat yang paling sepi dan kita akan langsung melompat. Ingat, tetaplah berada di bawah jembatan."
Rakuza mengangguk, gunung akan dia daki, laut akan dia sebrangi, badai akan dia lalui, semua itu akan dia lakukan demi menyelamatkan temannya. Tidak akan dia biarkan sebuah danau menyurutkan tekadnya.
"Sekarang!"
Mereka berdua bergerak secepat kilat. Hanya satu detiklah waktu yang dibutuhkan bagi mereka berdua untuk melompat ke dalam danau.
BYURR!!
Danau yang dalam serta dinginnya air tidak mempengaruhi dua orang itu, mereka terus berenang dan berenang di bawah bayang-bayang jembatan. Ada kalanya Rusava dan Rakuza harus menyelam untuk menghindari pengawasan ksatria yang berpatroli, dan itu berlangsung selama beberapa menit.
____________________________________________
____________________________________________
Burung Garuda berukuran raksasa itu sedang asik terbaring dengan santai di atas tanah lapang puncak sebuah gunung. Penampilannya yang terasa mistis dan bermartabat dapat membuktikan bahwa itu bukan Burung Garuda biasa.
Begitu nyaman dia tertidur sampai-sampai tidak menyadari ada satu keberadaan yang mendekat dengan cepat ke arahnya. Keberadaan itu telah tiba, dan menampakan sosoknya yang seorang laki-laki bermata merah dengan sayap merah di punggungnya.
"Indacrus, sudah cukup lama kau tidak bertemu denganku dan ini sambutan yang kau berikan?"
Suara dan kalimatnya membuat Indacrus mengalami mimpi yang buruk dengan tubuh bergemetar. Indacrus seketika tersentak dari tidurnya, seakan-akan dia telah disambar oleh petir yang dahsyat.
Indacrus memutar matanya untuk melihat sosok yang berbicara, setelah itu dia semakin membulatkan mata karena tidak menyangka sosok itu muncul di tempat seperti ini.
"Hm?! M-maafkan sikap saya yang tidak sopan. Tuan, mengapa Anda bisa berada di tempat ini?" Indacrus bangkit secara perlahan dan menghadap ke hadapan Ren sambil menundukkan kepalanya.
Ren diam dengan tatapan tajam sambil mengeluarkan aura intimidasi. Indacrus yang merasa tertekan bergetar hebat dan berpikir dia telah melakukan kesalahan yang berat.
Sayangnya, dia salah paham. Ren langsung menghilangkan semua itu dan sedikit tertawa kecil untuk mengindikasikan bahwa dia sedang bercanda.
"Bercanda, kau tidak perlu sebegitu menunduknya. Lihatlah dirimu saat ini, andai orang lain melihat maka mereka akan mengira bahwa dirimu seekor ayam."
__ADS_1
"Ayam? Eh, Ayam?!" Indacrus sampai berteriak.
Begitukah dia di mata tuannya? Tidak lebih daripada seekor ayam? Bagaimana mungkin, selama ini dia merasa bangga dengan dirinya sendiri tapi ternyata ....
"Lagi-lagi kau bereaksi berlebihan. Tidak bisakkah kau menunjukan sedikit daripada martabat seorang [Beast Servant] Legendaris?" tanya Ren sambil tersenyum heran.
"Saya bisa ... tapi dihadapan sosok hebat seperti para Continents Holder, kami tidak berani menganggap diri sendiri tinggi."
Ren mengerutkan dahi, ada apa dengan perasaan Nostalgia yang muncul secara tiba-tiba dalam diri Indacrus ini?
"Hm, kesampingkan masalah itu. Bagaimana kondisi mereka bertiga?"
Alasan Indacrus berada di tempat ini sudah tidak perlu lagi dipertanyakan. Keberadaan seekor Burung Garuda mencolok sepertinya tidak mungkin dibawa masuk ke dalam kota, terkecuali dia bisa berubah menjadi burung biasa seperti Avrogan yang menjadi kuda biasa.
"Saya tidak yakin. Semenjak mereka bertiga memasuki kota itu, hanya terhitung dua kali mereka kembali ke sini. Dan itu sudah cukup lama, Tuan."
"Apa yang mereka katakan selama dua kali pertemuan itu?" tanya Ren kembali.
"Tidak banyak, mereka hanya mengatakan kondisi kota itu memiliki keamanan yang sangat ketat sehingga sulit untuk mencari informasi lebih jauh."
"Oh, mereka juga berkata kalau keamanan kota itu semakin meningkat pada pertemuan yang kedua, setelah itu mereka tidak muncul lagi."
Keamanan yang diperketat tidak memungkinkan bagi mereka untuk keluar dan masuk kota itu dengan bebas. Bagaimanapun, ini adalah hal yang masuk akal karena berbagai macam alasan.
Jika keamanan kota semakin diperketat maka akan sangat sulit untuk mereka bertiga mengalami kemajuan dalam mencari informasi. Ada kemungkinan juga bahwa mereka tidak mengalami kemajuan sama sekali.
Namun ada satu hal yang sulit untuk dimengerti oleh Ren, bagaimana beberapa penjaga menyulitkan seorang [True Ancestors] seperti Rusava?
"Tidak, bahkan untuk Rusava sekalipun sepertinya akan sulit karena aku sendiri yang menyuruh mereka untuk bertindak secara aman."
Aman berarti sembunyi-sembunyi. Itu juga memiliki arti bahwa mereka tidak diperkenankan untuk melakukan pertempuran terkecuali dalam keadaan yang mendesak. Andaipun mereka tidak memiliki kemajuan sama sekali, Ren mungkin merasa kecewa.
"Aku sudah mengerti. Baiklah, kau akan ikut bersama dengan kami atau menetap disini seorang diri?" Ren menawarkan pada Indacrus.
"Tunggu sebentar, apa yang Anda maksud dengan kami?"
"Avrogan dan lainnya menunggu di bawah sana. Aku bertanya sekali lagi, kau akan ikut atau tidak?"
"Jadi dia juga ... ahh, berdasarkan perkataan Anda, sepertinya akan terjadi sesuatu yang besar ya? Tapi tentu saja saya akan ikut!"
Ren mengeluarkan senyum yang tidak menyangkal pertanyaan Indacrus. Semenjak dia mengacau di Kota Soliedavosa, menghindari pertempuran itu merupakan suatu hal yang hampir mustahil.
"Yah, mari kita pergi."
____________________________________________
____________________________________________
__ADS_1
Catatan Author :Tinggalkan dukungan yang berupa .... Dan Jangan lupa untuk mampir di tulisan terbaru saya dengan judulnya yang absurd The L-O-T-H :3