Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 127 ~ Kekacauan Kerajaan Suci Sancteral IX


__ADS_3

Demi menghadapi ancaman yang besar bagi organisasi mereka, merupakan hal yang biasa apabila mereka melakukan serangan penuh secepatnya.


Hal itu berguna agar ancaman tidak menjadi lebih mengancam. Ren sudah sadar bahwa mereka akan melakukan segala cara untuk menghapuskan pengacau seperti dirinya. Namun satu hal yang tidak dia duga adalah penilaian mereka semua.


Siapa yang menyangka? Seorang pengacau sepertinya mampu mendorong musuh agar mengeluarkan kekuatan penuh. Dalam kasus ini, yang dimaksud kekuatan penuh bukan kekuatan seorang individu melainkan seluruh individu.


Seorang perempuan elf yang menggunakan busur angin, seorang perempuan peri yang mampu menggunakan sihir air tingkat tinggi, seorang pria tua yang memiliki sayap emas dipunggungnya, dan terakhir seorang makhluk hitam misterius.


Mereka semua ada dihadapan Ren dan sudah siap menyerang kapanpun itu.


"Biar aku jelaskan awal mula dari semua ini."


Setelah menghindari tombak cahaya sebelumnya, Ren melawan Udensa dan Vezisa dengan sedikit serius seraya menghindari beberapa tombak cahaya yang mengganggunya.


Ketika melawan mereka berdua, Ren belum menggunakan sesuatu yang istimewa. Dia hanya menebas menggunakan Blood Sword yang meniru pedang tingkat S untuk melayani mereka berdua.


Akan tetapi, pertempuran santai itu tidak berlangsung lama saat Udensa dan Vezisa benar-benar melakukan serangan habis-habisan. Mereka berdua mulai melakukan serangan kombinasi yang bahkan Ren merasa cukup sulit untuk menghindarinya.


Terlebih lagi, hal itu diperparah dengan gangguan yang berasal dari tombak cahaya yang muncul entah darimana. Kondisi yang sedikit berubah itu berhasil mendorong Ren agar menjadi serius.


Ren menggunakan Blood Art dan meniru pedang terkuat miliknya, yaitu Nuxuria. Dari sinilah awal mula mengapa dua musuh lainnya muncul dan mengepung dirinya.


"Cukup kilas baliknya," gumam Ren.


Ren mengalihkan tatapan pada empat orang yang berbaris di udara tepat beberapa jarak di depannya. Mereka berempat masih diam tapi tidak sedetikpun pandangannya beralih dari diri Ren.


Niat Ren yang baik mulai muncul. Dia mengeluarkan ekspresi senang sambil melayangkan senyuman tanpa keraguan. Setelah menghirup napas dan memikirkan kalimat yang cocok dengan seksama, diapun berbicara, "Bukankah kondisi ini kurang bagus?"


Tidak ada satupun dari mereka yang bergeming. Melihatnya membuat Ren merasa sedikit aneh sekaligus heran dan bertanya pada diri sendiri, apakah umpan itu tidak berhasil?


"Kalian tidak mende- ..." Ren tersentak sebelum bisa menyelesaikan perkataan.


Ren merasa ada sesuatu yang sedikit janggal. Semua yang ada disekitarnya berdasarkan penglihatan biasa memang tidaklah terasa aneh. Namun jika dia lebih teliti dengan persepsi mana, maka dia akan menemukan sesuatu yang aneh.


"Tidak ada orang selain kami berlima?"


Perasaan itu terasa sangat-sangat samar. Ren memang merasakan adanya makhluk hidup di sekitarnya selain dia dan mereka berempat. Akan tetapi, mana yang dipancarkan oleh mereka semua begitu aneh, terasa seperti sebuah gelombang mana yang direkam dan diulang.

__ADS_1


"Aku terkena ilusi? Tapi, aku tidak mendeteksi kapan ilusi ini dilancarkan."


Ren begitu percaya diri dengan kemampuan persepsi mananya. Oleh sebab itulah dia sedikit merasa tidak percaya apabila dirinya terkena oleh sihir atau skill ilusi.


"Tch, kalian pikir ilusi seperti ini mampu mengalahkanku?!" teriak Ren dengan nada sedikit kesal.


Sesaat setelah Ren berteriak, ruang disekitarnya mulai bergerak. Semua hal yang ada disekitarnya bergerak.


"Memang kemampuan yang luar biasa, beberapa waktu lagi dari saat ini, mungkin kau akan benar-benar mampu mengalahkanku."


Ren berbalik dan menemukan sosok pria tua yang memiliki sayap emas di punggungnya. Di belakang pria tua itu, Vezisa dan Udensa serta makhluk hitam melayang menyertainya.


Tanpa kehilangan ketenangan, Ren membalas, "Beberapa waktu? Mari bertaruh, aku sepuluh tahun yang lalu bahkan sudah bisa mengalahkanmu."


Ren mengeluarkan kata-kata provokasinya kembali sambil tersenyum menantang tanpa rasa takut. Tentu saja jika dia dibawa ke dunia ini sepuluh tahun yang lalu, mungkin dirinya hanya sebatas manusia biasa.


"Ha ... hahahaha! Benarkah demikian? Kalau begitu aku akan bertaruh bahwa kau sama sekali tidak akan bisa menyentuhku di tempat ini! <> adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa kau hancurkan."


Keempat sosok itu mulai menghilang kembali. Disaat yang sama, ruang dimana tempat Ren berada mulai bergetar dan berputar tidak karuan. Sosok Ren seolah terlempar-lempar dalam ruang tanpa kepastian.


Musuh kali ini cukup tangguh karena melawan dengan sesuatu yang seperti ini. Ren bahkan sulit untuk berkonsentrasi dalam dunia yang berputar dan bergetar tidak karuan. Belum lagi, bisikan-bisikan yang sangat mengganggu mulai bermunculan dan semakin mengacaukan pikirannya.


Disaat dirinya mulai merasa terdesak, secara spontan mulutnya bergerak untuk meneriakan sesuatu yang paling dia butuhkan.


"Ke ... mari ... lah, Nu..xu..riaa!!"


Cahaya emas meletus dalam ruang yang berputar. Cahaya emas itu menyelimuti diri Ren hingga membuatnya tidak merasakan dunia yang berputar lagi.


Dalam selimut cahaya, Ren terdiam karena melihat Nuxuria yang melayang dihadapannya. Dia merasa sedikit bingung karena dirinya sama sekali tidak membuka inventory, melainkan hanya berteriak untuk memanggil pedang tersebut.


Namun detail kecil semacam itu tidak semestinya dipikirkan saat ini, Ren kembali mendapatkan senyum kebanggaan miliknya dan segera meraih Pedang Nuxuria.


"Kau memang layak untuk menjadi pedangku!"


Dengan sekali gerakan, Ren mengeluarkan skill <> yang mengeluarkan tebasan memutar sempurna. Skill ini memang bukan sesuatu yang spesial tapi entah mengapa Ren sudah merasa cukup karenanya.


Sesaat setelahnya, dunia tidak lagi berputar dan Ren kembali menemukan sosok mereka berempat yang dengan santai menyaksikannya. Suara tepuk tangan terdengar, dan itu berasal dari pria tua bersayap emas yang menciptakan ilusi ini.

__ADS_1


"Sungguh menarik, tapi perlu kau ketahui bahwa itu hanya permulaan. Permainan baru akan dimulai, Udensa, Vezisa, hadapi dia."


Udensa dan Vezisa melayang maju sesuai dengan instruksi yang dikatakan oleh pria tua bersayap emas.


"Akan aku pastikan kau musnah."


"Kali ini, kami yang akan menang."


Keduanya kemudian diselimuti oleh cahaya, biru untuk Udensa dan hijau untuk Vezisa. Disinilah sesuatu yang tidak pernah disaksikan oleh Ren sebelumnya muncul.


Udensa dan Vezisa seolah bertransformasi menjadi sesuatu yang berbeda. Bisa dikatakan mereka seperti berevolusi menjadi keberadaan yang lebih terasa membahayakan.


Padahal sejauh yang diketahui oleh Ren, peri dan elf tidak seharusnya memiliki kemampuan bertransformasi seperti ini. Terlebih untuk seorang pengendali sihir seperti mereka berdua.


Udensa menumbuhkan dua tanduk kecil berwarna biru kristal di dahinya. Kedua sayap Udensa pun mengalami evolusi, dimana bentuknya yang terlihat tidak berbahaya menjadi sesuatu yang terlihat berbahaya dan mengerikan.


Persepsi mana Ren mendeteksi bahwa kekuatan mana yang dipancarkan oleh Udensa meningkat sekitar dua atau tiga kali lipat dari sebelumnya.


Seperti halnya Udensa, Vezisa menumbuhkan sepasang tanduk kecil berwarna hijau kristal di dahinya. Lalu tubuhnya seolah diselimuti oleh cahaya hijau transparan berbentuk gaun yang cukup indah. Kekuatan mana dari Vezisa meningkat sekitar dua atau tiga kali lipat sama seperti Udensa.


Menyaksikan hal yang baru seperti demikian membuat Ren menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sambil melayangkan senyum canggung yang heran.


"Apakah transformasi seperti itu sedang hangat akhir-akhir ini?"


Sesuatu yang tidak terduga muncul sesaat setelah Ren berbicara. Udensa dan Vezisa menghilang dalam sekejap mata, dan tiba-tiba berada di dekat Ren seraya menyerang secara membabi buta.


"Sekarang gaya bertempur kalian yang berubah!" protes Ren sambil menghindari serangan keduanya.


Mereka berdua menggunakan kombinasi serangan antara jarak dekat dengan jarak jauh. Ketika Udensa menyerang, maka Vezisa akan membantunya menggunakan serangan jarak jauh dan sebaliknya.


Mungkin ini terdengar tidak seberapa, sama halnya ketika Ren melawan mereka berdua sebelumnya. Namun, fakta yang menyakitkan adalah mereka berdua melakukan itu dalam kecepatan yang hampir menyaingi kecepatan seorang Ren.


Hal itu tentu membuat Ren bersusah payah untuk menghindar seraya sesekali membalas serangan mereka berdua. Ketika Ren akan mengeluarkan sebuah skill atau sihir, mereka akan langsung mengganggu seolah tahu langkah Ren selanjutnya.


"Ah, merepotkan!"


Ren terus-menerus bertahan sambil memikirkan jalan keluar dari sesuatu yang dia hadapi saat ini.

__ADS_1


__ADS_2