
Tidak lama setelah Ren memanggil, Kanza muncul dari dalam bayangan, menampakan kebingungan dan penasaran yang tersirat jelas di wajahnya.
"Anda memanggilku?" Kanza langsung bertanya dan berakhir dengan jawaban singkat dari Ren.
"Ya."
Jawaban singkat yang disandingkan dengan muka serius, Kanza setidaknya dapat menebak kedatangan Ren kesini akan membicarakan suatu hal yang penting. Untuk memastikan tebakannya ini, Kanza mencoba bertanya kembali.
"Apa ada sesuatu yang ingin dibicarakan?"
"Tunggu sebentar, biarkan aku berpikir untuk mulai berbicara dari mana." Ren memejamkan mata dan berpikir.
Kanza mengambil Inisiatif untuk menggantikan dirinya sebagai Pahlawan Aulzania dalam membantu Putri tunggal Kerajaan Efidoxia, disini masalahnya terletak pada, apakah Kanza membantu mereka dengan tulus atau mengharapkan suatu imbalan?
Jika tulus, maka Ren akan kesulitan dalam membujuk Kanza untuk membiarkan Kerajaan Efidoxia hancur dan mengambil alih Kerajaan itu. Namun jika Kanza memiliki alasan tersembunyi, maka semua akan menjadi lebih mudah bagi Ren dalam menyusun rencana.
"Baiklah, aku akan memulainya dari sebuah pertanyaan. Apa alasanmu membantu mereka?"
"Heh?" Kanza tampak terkejut dengan pertanyaan tidak terduga sekaligus tidak berguna ini. Mengapa Kanza berpikir tidak berguna? Sebab Kanza mengira sesuatu semacam ini dapat dengan mudah diketahui oleh Ren.
"Jujur saja Tuan Dirvaren, pada awalnya aku membantu mereka karena alasan 'Bosan' tapi setelah mendengar penjelasan lebih lanjut dari Erfila, aku menjadi semakin tertarik dengan masalah mereka." Kanza menjawab dengan santai, lalu duduk dengan santai pula disana.
Ren mengerutkan dahi karena jawaban yang cukup tidak terduga dari Kanza. Alih-alih membantu kedua orang itu dengan tulus atau memiliki niat tersembunyi, Kanza malah menjawab dengan enteng kalau alasannya adalah Bosan.
"Hm, aku tidak merasakan adanya kebohongan dalam perkataanmu. Lalu, hal apa yang membuatmu semakin tertarik dengan masalah mereka?"
Tidak dapat dipungkiri lagi, Kanza dan Ren memiliki sedikit kemiripan, mereka berdua tidak suka terlibat dalam masalah, namun selalu tanpa sadar melibatkan diri di dalamnya. Setelah terlanjur terikat dengan masalah itu, mereka berdua akan dengan santainya memberi alasan bahwa masalah itu adalah hal yang menarik. Sungguh, dua orang ini dapat dimasukan dalam kategori orang yang membingungkan.
"Apa anda tahu Ernens the Heavenly Guardian?"
Sekali lagi Ren mengerutkan dahi, [Heavenly Guardian] adalah Job Spesial dari Tank, dia mengetahui dengan betul hal ini. Namun yang membuat penasaran adalah, siapa orang yang memiliki Job [Heavenly Guardian]?
"Aku tidak tahu dan tidak pernah mendengarnya." Jawab Ren dengan Mantap.
"Heh, padahal dia adalah pemain yang menduduki peringkat ke-13 dalam COTHENIC, apakah anda serius tidak mengenalnya?"
Ren menggelengkan kepala perlahan, untuk membuktikan bahwa dirinya benar-benar tidak tahu. Kanza mengetahui dengan baik sikap Ren, dan sikapnya ini membuktikan kalau dia sedang tidak bercanda.
"Mau bagaimana lagi kalau begitu ..." Ucap Kanza pasrah seraya menurunkan bahu.
Itu tidak dapat dihindari, Ren benar-benar tidak tahu siapa Ernens ini, dan lagipula dia tidak memiliki hobi untuk membicarakan orang lain yang tidak dikenal. Kedatangannya kesini pun bukan hanya untuk membicarakan sesuatu yang tidak penting.
"Jangan diteruskan, aku kesini bukan untuk membicarakan seseorang yang tidak jelas." Ren berbalik, "Kanza ..."
Ren sengaja memberi jeda dalam perkataannya agar Kanza dapat mengubah pemahamannya menjadi lebih serius lagi. Jika Ren berkata demikian, maka seharusnya Kanza juga menyadari seberapa penting tujuan Ren saat ini.
"... Kau membantu Kerajaan Efidoxia hanya karena bosan 'kan?" Sambung Ren.
Kanza menanggapi pertanyaan Ren ini dengan senyuman lebar dan mengacungkan Ibu Jarinya, "Itu benar!"
__ADS_1
"Karena itu, apa kau tidak masalah dengan membiarkan Kerajaan Efidoxia hancur?"
"Hahh, Hancur? Apa maksudnya ini?" Kanza meminta penjelasan.
"Baiklah ..."
Erfila Lercuela Ni Efidoxia adalah seorang Putri yang penurut dan juga memiliki rasa keadilan yang tinggi. Dia juga seseorang yang begitu menyayangi Raja Efidoxia dan akan selalu menuruti apapun keputusan ayahnya.
Dengan pengkhianatan dan pembunuhan terhadap ayahnya, Erfila sudah pasti akan berjuang sampai titik darah penghabisan untuk menegakkan keadilan. Dalam hal ini, pertempuran antara para pengkhianat dan Erfila sudah dapat dipastikan akan terjadi.
Dapat diperkirakan pertempuran itu akan memakan banyak korban dari pihak Erfila maupun pihak pengkhianat. Besar kemungkinan juga Erfila akan menjadi salah satu diantara korban itu, dan lambat laun, Kerajaan Efidoxia akan kehilangan orang-orang berpengaruh yang dapat mempertahankan Kerajaan itu sendiri.
Andai kondisi yang akan terjadi seperti ini, maka Ren bisa dengan mudah merebut Kerajaan Efidoxia sebelum Kerajaan atau Kekaisaran lain menyadarinya.
Namun akan berbeda jika pihak pengkhianat memiliki bantuan yang kuat di belakangnya, sudah pasti yang akan mengalami kekalahan adalah pihak Erfila. Jika pihak Erfila kalah sementara pihak pengkhianat masih tetap ada, pihak pengkhianat itu akan menjadi penghalang besar dalam rencana singkat yang disusun oleh Ren.
Sehingga untuk meminimalisir waktu tapi tanpa mengurangi sedikitpun keberhasilan dalam rencana, Ren akan melenyapkan kedua belah pihak sekaligus tanpa menunggu mereka bertempur satu sama lain.
Penjelasan Ren yang cukup panjang ini dapat disimpulkan oleh Kanza sebagai suatu Ide berbahaya dan cukup kejam. Namun di Dunia yang penuh dengan ketidak masuk akalan ini, Kanza percaya sesuatu semacam ini masih dapat dianggap biasa.
"Namun Tuan Dirvaren, sejak kapan anda begitu tertarik untuk menjadi Raja Efidoxia?"
"Hm? Hahaha, sepertinya kau salah paham ..."
Ren memang akan merebut Kerajaan Efidoxia, tapi bukan dia sendiri yang akan menjadi Raja, melainkan orang lain yang dapat dia kendalikan. Ren hanya akan memberi perintah dari balik bayangan, seperti halnya nanti ketika Ren akan membangun suatu Negara, maka Kerajaan Efidoxia sudah tersedia sebagai dukungan.
"Aku hanya akan menguasai Kerajaan Efidoxia dari balik bayang-bayang, sementara orang yang akan menjadi Raja itu sendiri ... Mungkin seseorang dari bawahanku mau melakukannya."
Rencana skala besar Ren yang melibatkan Kerajaan Efidoxia ini membuat Kanza tersenyum dengan penuh ketertarikan. Lalu Kanza juga menyadari, masalah yang akan dihadapi oleh Ren tidak hanya melibatkan Kerajaan Efidoxia, melainkan akan terus merambat sampai ke Kekaisaran Lodysna.
"Ini sungguh menarik Tuan Dirvaren, tapi sebelum itu Izinkan aku berpikir dulu ..."
Ren mengangguk setuju, dan ikut diam berpikir untuk merencanakan langkah selanjutnya.
Meski Ren dengan mudah mengatakan akan merencanakan semua ini dalam waktu yang singkat, tapi kenyataan tidak semudah yang dibayangkan. Mungkin mudah untuk melenyapkan dua pihak yang berpengaruh di Kerajaan Efidoxia dan merebutnya, tetapi proses perebutan, pengakuan, dan penobatan takhta Raja tidak mungkin berlangsung dalam waktu satu hari.
Disaat yang sama, Ren masih harus memastikan keamanan Rakuza, Rusava dan Raytsa di Kerajaan Suci Sancteral. Dua rencana ini memang saling bertabrakan, dan satupun tidak dapat Ren abaikan.
Menilai dari situasi yang ada, dan memikirkan kemungkinan yang akan terjadi, satu-satunya cara agar Ren dapat melakukan dua rencana disaat yang bersamaan adalah ...
"Aku sudah memikirkannya Tuan Dirvaren."
"Oh, bagaimana?"
"Aku tidak peduli dengan Kerajaan Efidoxia, dan aku dapat membantu jika anda menginginkannya. Namun ..." Kanza terlihat ingin mengatakan sesuatu.
Ren menyipitkan mata, karena ini pertama kalinya dia melihat Kanza yang ragu-ragu dalam mengatakan sesuatu. Jika bukan hal yang mengganggu rencana Ren, tidak mungkin dia bertingkah seperti ini. Walau demikian, Ren akan menerima apapun yang dikatakan Kanza, selama tidak menghancurkan rencana.
'Sedikit gangguan bukan masalah untukku.' Benak Ren berbicara.
__ADS_1
"Namun?"
Suasana diliputi ketegangan, sampai akhirnya Kanza menjawab, "Aku ingin anda membiarkan Erfila hidup."
"Dia? Baiklah, tapi apa alasanmu?"
"Sebenarnya, aku pernah pergi ke Kerajaan Efidoxia untuk mencari Informasi. Oleh karena itu, aku sangat tahu kepribadian Raja Efidoxia yang serakah dan penuh ambisi. Dia sangat kejam karena mau mengorbankan putrinya yaitu Erfila asalkan keinginannya terpenuhi."
"Hoo ... Lalu, apa hubungannya dengan Erfila yang ingin kau selamatkan?"
"Erfila adalah Gadis yang baik hati, meski dia tahu Raja Efidoxia hanya memanfaatkan, tapi dia masih sangat menyayanginya. Belum lagi, dia bercerita mengenai pengkhianatan ini padaku tanpa sedikitpun menjelekkan Raja Efidoxia."
"Pffftt ..." Ren menahan tawa atas jawaban yang diberikan Kanza.
Sontak, perilaku Ren ini membuat Kanza memerah karena marah, "Apanya yang lucu?!" teriaknya.
"Hahaha ... Kanza, apa kau jatuh cinta pada gadis itu?" Ren berkata dengan senyum penuh makna.
"Jangan sembarangan! Aku hanya sedikit merasa kasihan padanya. Perempuan yang baik hati seperti itu sudah langka di Dunia."
Ren berhenti tertawa dan memandang langit dengan serius, "Jika seperti itu keinginanmu, maka aku memiliki suatu ide yang bagus."
Kanza pun terbawa suasana serius yang dikeluarkan oleh Ren, dia kembali tenang dan memasang ekspresi penasaran, "Ide bagus apa itu, Tuan Dirvaren?"
"Aku akan memberimu panggung untuk menjadi seorang Pahlawan, di mata Erfila."
____________________________________________
* * *
* * * ____________________________________________
Avrogan, Arystina dan Nirlayn berada di luar Kota Perbatasan Ordenz, mereka bertiga sedang menunggu Ren yang menemui Kanza di dalam Kota. Mereka menunggu dalam diam seraya mempertanyakan, apa yang sebenarnya akan dilakukan oleh Ren.
Meski penjelasan demi penjelasan telah Ren lontarkan, tapi sepertinya mereka tidak mampu memahami itu semua dengan mudah. Rencana yang diberitahukan oleh Ren bisa dikatakan rumit, dan setiap saat dapat berubah, dampak dari perubahan itu membuat mereka tidak dapat mengikuti situasi dan perkembangan yang terjadi.
"Melakukan dua hal besar secara bersamaan, aku tidak dapat memahami lagi bagaimana rencana Ren-sama selanjutnya ..." Keluh Nirlayn pada Avrogan dan Arystina.
"Hohoho, Nona Nirlayn, anda salah besar." Sangkal Avrogan.
"Maksudmu?" Nirlayn memiringkan Kepalanya.
"Tuan tidak hanya melakukan dua rencana besar secara bersamaan. Kenyataannya, dia melakukan lebih dari dua rencana besar bersama-sama, tapi karena kita tidak mampu berpikir bahkan untuk dua rencana, Tuan tidak memberitahu rencana lainnya."
"Ah~ Kau benar! Ren-sama memang luar biasa." Puji Nirlayn dengan mata yang berbinar.
Avrogan dan Nirlayn membicarakan tentang betapa luar biasanya Ren ketika menyusun sebuah Rencana. Sedangkan untuk Arystina, dia hanya menatap kosong pada mereka berdua seraya bergumam beberapa kali.
"Aku tidak mengerti."
__ADS_1
"Aku tidak mengerti."