
"Aku bukan Vampire, Manusia."
Gyslen yang menyadari dia diselamatkan oleh sosok misterius ini menghela nafas, hampir saja dia kehilangan nyawa.
"Terima kasih, telah menolongku. Guhk. Guhk." Gyslen berkata dengan terbatuk.
Sosok itu tidak mempedulikan Gyslen yang berterima kasih padanya. Melainkan menatap tajam pada Zell yang berada dihadapan nya.
"Aku adalah Ras yang lebih tinggi dari itu, jangan samakan aku dengan Vampire."
Mata merah sosok itu menyala di balik tudungnya yang gelap.
Nada bicara yang dia keluarkan jelas menandakan bahwa dia tidak senang disamakan dengan Vampire.
"Apa? mengoceh untuk menggertak, Vampire?" Zell tidak mempercayai sosok itu sedikitpun.
"Manusia, kau boleh menghinaku, tapi tidak dengan Rasku." Sosok itu berkata lebih dingin dari sebelumnya.
"Ugh..." Sesaat Zell bisa merasakan tubuhnya gemetar ketakutan karena nafsu membunuh dari sosok itu.
"Sialan! beraninya Vampire sepertimu membuat Zell ini gemetar!" Zell mengepalkan tinju, dan menggertakan Gigi nya.
Sosok itu tidak menghiraukan Zell yang berkata dengan marah. Sosok itu malah memunggungi Zell dan berbalik ke arah Gyslen.
"Manusia, kau bukan musuh maupun temanku. Tapi, aku tidak diperintah untuk membunuh selain target. Jadi, sembuhlah...."
Dari lengan sosok itu, keluar sebuah aura merah darah. Aura itu kemudian membungkus seluruh tubuh Gyslen dan menyembuhkan luka nya.
"Sekali lagi, Terima kasih. Aku akan membayar hutangku." Gyslen berterima kasih pada sosok itu, meski dia sedikit penasaran sihir macam apa yang sosok itu gunakan. Tapi, dia lebih memilih untuk diam tak bertanya lebih jauh.
"Kau! Kurang ajar sekali!" Zell berteriak.
"Ada apa manusia? apa kau tidak suka? jika begitu ayo bertarung." Sosok itu berbalik pada Zell.
"Aku akan membantu-"
"Tidak perlu, kau hanya akan jadi beban manusia." Sosok itu menahan Gyslen yang mencoba membantunya.
"Apa?! kau menolak untuk aku bantu?!" Gyslen berkata, Eskpresi wajahnya seakan dia tersinggung oleh sosok itu.
"Diam Manusia, lihatlah." Sosok itu menunjuk pada para orang - orang berjubah hitam yang mengelilingi mereka.
"Jika kau bertarung bersamaku, aku tidak bisa menjamin akan keselamatanmu manusia. Sebaiknya kau fokus untuk melindungi dirimu sendiri saja" Sosok itu berkata lagi.
"Hei, Sudah cukup basa - basi nya! maju sini, akan kubunuh kau!" Zell marah, merasa dirinya diabaikan lagi.
"Baiklah Manusia, jika itu keinginanmu."
Sosok itu dan Zell saling berhadapan, Zell dengan kedua pisau ditangannya. Sedangkan Sosok itu membuat sebuah Cakar merah yang terbentuk diatas lengannya. Cakar itu terbentuk langsung dihadapan Zell, melihat ini ekspresi Zell kini menjadi Rumit.
"Apa - apaan? kau membuat senjata itu langsung? Vampire seharusnya tidak memiliki hal seperti itu." Zell berkata kebingungan.
"Mungkinkah?!...... Tidak, itu mustahil. Kau pasti memiliki semacam trik untuk itu." Zell berkata seakan dia tidak ingin memikirkan hal ini lebih lanjut.
"Trik? Jangan banyak bicara manusia."
"Apa?!"
Keduanya mengeluarkan Nafsu membunuh yang besar, membuat udara menjadi berat dan sesak. Jika ada orang biasa yang ditargetkan oleh Nafsu membunuh ini, mereka pasti tidak akan bisa bergerak.
Sosok itu dan Zell meluncur pada saat yang bersamaan. Hanya dengan kedipan mata, keduanya sudah bertemu.
Cakar dan Pisau saling berbenturan, mengeluarkan sebuah suara keras yang khas.
Clank!
Clank!
Clank!
Kilatan Cahaya akibat serangan mereka muncul terus menerus dengan cepat.
Ditambah, setiap kali Senjata mereka bertemu, akan menghasilkan percikan api yang bersinar terang.
Membuat medan pertempuran penuh cahaya dan warna.
"Cepat! bagaimana mungkin?! aku benci mengakui nya tapi mereka lebih kuat dariku!" Gyslen mengomentari pertarungan kedua sosok itu.
Setelah beberapa kali bertukar pukulan, Sosok itu dan Zell saling melompat mundur menjaga jarak. Kemudian, Sosok itu bercahaya merah gelap diikuti oleh cakar yang ada di tangannya bertambah panjang dan besar. Aura merah juga merembes keluar dari cakar itu.
Tidak hanya sosok itu, Zell juga mengeluarkan Cahaya hijau dari tubuhnya. Kemudian pisaunya diselimuti oleh kabut hijau yang terlihat seperti Racun.
"Manusia, Aku belum serius." Sosok itu berkata dengan tenang.
"Ha? aku juga sama!" Zell berteriak.
Zell berlari kembali dan meluncur menuju sosok itu. Kali ini, gerakannya dua kali lebih cepat dari sebelumnya.
Sosok itu tidak bergeming sama sekali, dia hanya diam berdiri ditempat.
Swoshhh
Badummm!.
Serangan Zell menabrak sosok itu, menyebabkan sebuah ledakan gelombang yang besar.
"Uhhh! Apa - apaan!" Gyslen berusaha menahan Gelombang yang dihasilkan oleh Serangan Zell.
Ledakan yang besar, seseorang akan berpikir bahwa orang yang menerima serangan seperti ini tidak akan selamat.
Namun, kenyataan berkata lain, sosok itu masih berdiri disana. Menangkis serangan dua pisau Zell dengan cakarnya.
Ekspresi wajah Zell terlihat sangat terkejut, merasa tidak percaya. Serangan nya ditangkis dengan mudah oleh sosok dihadapan nya.
"Mustahil!" Zell berteriak, kemudian melompat mundur.
"Bagaimana bisa kau menghentikan seranganku!?"
"Seranganmu begitu lemah, Manusia."
"Akan kuperlihatkan serangan yang sesungguhnya."
Sosok itu melesat dengan kecepatan luar biasa, bahkan beberapa kali lebih cepat dari Zell. Tidak ada waktu bereaksi, tidak ada kesempatan menghindar. Dengan mulus dan tanpa hambatan, Zell ditendang di bagian perutnya.
"Guhookk..!" Zell memuntahkan darah.
__ADS_1
Tubuh Zell membentuk sebuah lengkungan yang dalam.
Zell terpental dengan kecepatan sangat tinggi, tubuhnya menabrak bangunan yang jauh dibelakang nya.
"Bagaimana, Manusia? jika kau menyerah aku akan sedikit mengampunimu." Sosok itu berbicara, sambil menghampiri Zell yang terluka.
"Guhh... J-jang-an har-ap, tunggu saja sebentar lagi dia... Guhukk.. datang. Hahaha.. Guhuk."
"Dia...? kalau begitu datanglah, maka aku akan menghabisi-?!"
Perkataan sosok itu terhenti, beberapa serangan Sihir menyerang nya.
Dengan lihai sosok itu menghindari semua dengan melakukan beberapa manuver yang menakjubkan.
"Aku lupa keberadaan kalian, manusia." Sosok itu berkata pada orang - orang berjubah hitam yang melindungi Zell.
"Kalian hanya Manusia yang lebih lemah dari dia, apa yang bisa kalian lakukan?" Sosok itu menyiapkan Cakarnya.
Prok. Prok. Prok.
"Wahh.. Luar biasa, hanya Vampire bisa bertindak sesombong ini, menyebalkan sekali."
Sebuah suara laki - laki muncul entah darimana. Diikuti oleh sosoknya yang muncul, seorang laki - laki yang mengenakan topeng berjalan keluar dari kegelapan. Beberapa orang berjubah hitam mengikuti dibelakang nya.
Zell yang terluka setelah mendengar suara ini mendadak memasang Ekspresi gembira.
"Ohh... Senior! akhirnya kau datang." Zell memaksakan tubuhnya untuk bergerak.
"Kau memang lemah Zell, tapi memalukan sekali bisa kalah dari seorang Vampire biasa seperti ini."
"Ah... Senior, itu karena..."
"Cukup sudah Manusia, kau telah menyebutku Vampire beberapa kali. Itu sudah cukup alasan bagimu untuk mati."
"Ohh? Benarkah, aku bukan seorang ksatria keadilan loh. Jika keadaan mendesak, kami semua akan menghajarmu. Tapi itu tidak mungkin terjadi bukan?"
"Aku sudah muak dengan kalian Manusia. Maju sini, akan kuhabisi kalian semua."
Sosok itu mengeluarkan aura yang lebih hebat dari sebelumnya. Sangat jelas bahwa dia sekarang benar - benar marah.
*
*
*
*
*
*
"Ya ampun, ternyata mereka sudah pergi."
Ren muncul dari tumpukan mayat para pria yang telah dijadikan umpan seperti dirinya.
Mereka semua terbunuh bersamaan dengan para priest dan prajurit.
Beruntung, mereka sama sekali tidak menyadari Ren yang berpura - pura mati.
"Menjijikan sekali, tubuhku penuh dengan darah."
Hanya mayat dan darah dimana - mana, para penduduk pun tidak ada disini.
Woshhhh...
Ren menggunakan sihir air untuk membersihkan seluruh tubuhnya.
Air yang terbentuk di sekitar Ren memutari dan membilas seluruh tubuh Ren.
Setelah Cukup lama, Air itu berhenti membilas lalu menghilang.
"Mmh.. Bagus sekali, aku merasa lebih bersih sekarang. Sihir air memang berguna disaat seperti ini." Ren mengangguk puas.
"Hm??? Perasaanku tidak enak, apakah Rin-Yu baik - baik saja?" Ren bergumam cemas.
Merasa ada yang tidak beres, Ren segera mengganti pakaian nya. Lalu dengan segera Ren berlari untuk menuju tempat dimana Rin-Yu berada...
Deg!
"Ada apa dengan perasaan tidak enak ini?"
Ren semakin merasa khawatir, Ren menambahkan kecepatan nya beberapa kali. Lokasi dimana Rin-Yu berada adalah Pasar utama Kota Rondelia.
Dengan kecepatan Ren saat ini, harusnya bisa sampai kurang lebih satu menit.
Saat Ren sedang bergerak dengan cepat, Ren melihat beberapa sosok yang terlihat mencurigakan.
'Hm? Musuh ya.' Ren berkata dalam hati.
Beberapa orang berjubah hitam memasuki pandangan Ren. Tempat ini merupakan tempat dimana umpan lainnya berada.
Mayat - Mayat para Priest dan Prajurit juga terlihat disini. Ren sepertinya sedikit terlambat.
'12 orang ya...' Ren mengamati musuhnya dengan seksama.
Ren menyodorkan lengannya ke arah samping sambil berlari.
Pintu inventory berbentuk lubang muncul disana. Ren dengan cepat mengeluarkan sebuah pedang dari dalam sana.
Sebuah pedang sederhana yang mengkilap, pedang yang telah Ren siapkan untuk menyamar sebagai orang lain.
Diantara bangunan - bangunan kota dan jalan. Ren bergerak dengan sangat cepat, sosoknya hanya terlihat seperti sebuah bayangan.
Sratts
Sratts
Sratts
Sratts
Kilatan Cahaya berbentuk Zig - Zag terbentuk diantara para orang berjubah hitam. Hanya satu kedipan mata, semua orang tewas seketika.
Sosok Ren yang telah melancarkan tebasan terlihat mengibaskan pedang nya. Ren berdiri dengan santai, dan memperhatikan pada para musuh yang tumbang.
__ADS_1
"Multi Slash, Efeknya berbeda sekali dengan Game." Ren memperhatikan pedang nya.
"Ya ampun, sebuah retakan? pedang ini tak mampu menahan teknik ini?" Ren merasa heran.
Ren kembali melesat untuk menuju ke tempat Rin-Yu berada. Dan diperjalanannya
setiap kali Ren menemui musuh, mereka akan tumbang seketika oleh tebasan Ren yang sangat cepat.
*
*
*
*
*
*
Ren akhirnya sampai di pasar utama Kota Rondelia. Dengan segera Ren memperhatikan sekitarnya untuk mencari keberadaan Rin-Yu berada.
Tapi, tak ada siapapun disini, mayat pun tak ada.
'Um.. Para musuh itu membuatku sampai kesini lebih lama.'
'???'
Ren samar - sama mendengar sebuah suara pertempuran tak jauh darinya.
Bau darah yang menyengat pun memasuki penciuman nya, Ren dengan cepat menuju ke arah dimana asal suara dan bau berada.
Beberapa saat kemudian....
Ren tiba di sebuah tempat di pasar utama, tak jauh dari pandangan nya, Beberapa puluh orang berjubah hitam terlihat mengelilingi air mancur. Di pusat kerumunan para orang berjubah hitam itu, ada sosok laki - laki bertopeng sedang bertarung dengan sosok berjubah tak dikenal.
Ren tidak mempedulikan semua hal itu, kini tujuan utamanya adalah melihat keadaan Rin-Yu.
'Dimana kau, Rin-Yu?'
Ren melihat kesana kemari, namun Ren tak bisa mendekat lebih jauh. Jika keberadaan Ren telah diketahui, akan berbahaya bagi Rin-Yu sebelum Ren temukan.
'Itu...?'
Sebuah tubuh yang tergeletak memasuki pandangan Ren. Keberadaannya tak jauh dari air mancur yang ada ditengah kerumunan. Tubuh, pakaian dan Rambut orang itu terlihat tidak asing di mata Ren.
'Tidak.....'
Ren berjalan dengan perlahan, menuju ke arah tubuh itu.
'Ini.... Bohong kan?'
Ren semakin mendekat ke arah kerumunan orang berjubah hitam.
'Rin-Yu.... Itu bukan kau kan?'
Clankk...
Suara Ren melemah, pedang yang Ren pegang jatuh. Kini Ren berjalan dengan lemas dan terhuyung.
Suara pedang yang jatuh membuat para orang berjubah hitam sadar kedatangan Ren.
"Siapa kau?!"
"Apa yang kau mau?!"
"Dia musuh! Bunuh saja!"
Beberapa orang berjubah hitam mendekati Ren, mereka menyerang Ren pada saat yang bersamaan.
Tapi, sebuah pelindung transparan berwarna merah darah mengelilingi tubuh Ren. Membuat serangan para orang berjubah hitam tak mempan sedikit pun.
Lagi dan lagi, mereka semua terus mencoba untuk membunuh Ren. Tapi, semua itu ditahan oleh pelindung yang mengelilingi tubuh Ren.
"Rin-Yu.....''
Ren telah sampai pada tubuh yang tergeletak ditanah. Sosok itu benar - benar Rin-Yu, dia terluka parah pada bagian perut dan dada.
"Rin-Yu, bangunlah!"
Ren mendekati Rin-Yu yang tergeletak, meski dia terluka parah. Nafas nya masih tetap ada, menandakan bahwa dia masih hidup.
"Rin-Yu! bertahanlah! aku akan memberikanmu sihir penyembu-" Ren berusaha untuk menyadarkan Rin-Yu.
"R-Ren? Sud...ah Tid...ak apa... Aku... tidak... usah... Cough.. Cough... Disemb..uhkan, ini permin-taanku..." Rin-Yu tersadar, dia memegang tangan Ren dengan lemah.
"Apa yang kau katakan?!" Ren berteriak.
"Maksud..ku, biarkan... ak-u ber-ist-irahat.. dengan... ten-ang. Cough... Cough.."
"Tidak.... Rin-Yu, kau adalah teman pertamaku. Bagaimana bisa....."
Ren memasang Ekspresi yang tak pernah dia tunjukan selama dipindahkan ke dunia ini. Ren menangis, air menetes keluar dari matanya. Meski Ren bisa menyembuhkan Rin-Yu, entah mengapa Ren merasa hal itu tidak mungkin dilakukan.
"Ti-Tidak ap-a... R-Ren, aku....ingin... kau.." Rin-Yu berkata dengan lemah, wajahnya tetap tenang dan tersenyum. Tak ada penyesalan dalam senyuman itu.
"....."
"Ya, aku pasti menepati janjiku. Kali ini, aku pasti." Ren berbicara dengan kesedihan yang mendalam.
Suara Rin-Yu tidak terdengar lagi, Nafas nya telah berhenti sepenuhnya. Rin-Yu telah meninggal di hadapan Ren sendiri.
Sosok pertama yang membuat Ren tertawa dengan tulus. Sosok yang bisa disebut teman pertama bagi Ren. Kini, sosok itu telah mati, di depan mata Ren sendiri. Kejadian ini, membuat sebuah luka dihatinya kembali terbuka.
"Maaf, tolong tunggu disini sebentar." Ren berkata pada mayat Rin-Yu.
Meletakan mayat Rin-Yu kembali diatas tanah sebaik mungkin.
Sosok Ren berdiri, wajahnya sangat suram. Mata nya merah menyala, Aura merah gelap keluar dengan luar biasa dari tubuhnya.
"Grgg.... Makhluk Hina......." Ren menggertakan gigi dan mengepalkan tinjunya.
Bangunan bergetar dengan keras. Tanah bergoncang dengan hebat. Udara menjadi sesak dan berat. Dari atas langit, turun hujan berwarna merah secara tiba - tiba, diikuti oleh petir yang menyambar dengan hebatnya.
Hujan darah, itulah kata yang cocok untuk pemandangan ini.
__ADS_1
"Kalian... Tidak akan.... Kumaafkan!"
Untuk pertama kalinya di dunia ini, Ren berteriak dengan marah.