
Sosok misterius dan pria bertopeng saling menyerang satu sama lain.
Pria bertopeng tidak menggunakan senjata apapun, melainkan hanya lengan dan kaki nya. Tapi, Pria bertopeng itu mampu mengimbangi sosok misterius yang menggunakan cakar sebagai senjata.
Dam!
Dam!
Pria bertopeng dua kali menendang sosok misterius, tapi serangan nya berhasil di halau oleh cakar sosok itu.
Meski begitu, sosok misterius masih terdorong mundur beberapa langkah.
"Manusia, aku mengakui bahwa dirimu kuat. Maka dari itu...... Rasakan teknik pamungkas ku." Sosok itu berbicara.
Sosok misterius itu menghilang dengan sekejap. Lalu sosok itu bergerak dengan kecepatan tinggi mengelilingi pria bertopeng.
"Apa ini? sebuah permai-?!" Pria bertopeng terkejut.
Di bagian lengan atas pria itu, terdapat sebuah luka cakar besar secara tiba - tiba.
Tidak sampai disitu, sosok misterius bergerak lebih cepat lagi. Menciptakan sebuah kubah angin berkecapatan tinggi, daging manusia biasa akan langsung terpotong jika terkena oleh angin ini.
"Tch.... Body Elemental!"
Pria bertopeng diselimuti oleh api yang membara di seluruh tubuhnya. Menjadi seperti sebuah Zirah yang menutup tubuh Pria bertopeng.
Srettss
Dam!
Kali ini, serangan sosok misterius berhasil ditangkis oleh pria bertopeng.
Menggunakan lengan nya sebagai tameng, pria bertopeng menangkis serangan dengan cepat.
"Menyebalkan! Meteor Fist!"
Pria bertopeng menangkis satu serangan, kemudian melakukan serangan tinju berkecapatan tinggi. Diselimuti oleh api yang membara serta kecepatan dan kekuatan yang hebat.
Tinju itu mengenai sosok misterius, menyebabkan kubah angin berhenti.
Sosok misterius terpental mundur cukup jauh, menabrak dan merusak sebuah bangunan.
"Jangan sombong dulu, Vampire." Pria bertopeng menampakan senyum kemenangan di wajahnya. Topeng yang dia kenakan telah lepas dan terbakar oleh api yang ada di tubuhnya.
"Guhk... Manusia, Aku belum kalah."
Sosok misterius bangkit diantara bangunan yang Rusak. Sosok misterius bergerak dan seketika berdiri dihadapan pria bertopeng kembali. Separuh penutup wajah yang sosok misterius itu kenakan telah Rusak, menampakan sebuah wajah yang mengejutkan.
"Hoo? Ternyata kau seorang Vampire wanita ya?"
"Manusia bodoh, dari suaraku bukankah itu sudah jelas bahwa aku wan-"
Durururu!
Perkataan sosok misterius itu terpotong, oleh sebuah getaran hebat yang terjadi di sekitarnya. Bangunan bergetar, Tanah bergoncang. Hujan turun secara tiba - tiba bersamaan dengan petir yang menyambar dengan hebatnya.
"Guhkk... Apa - apaan ini?!"
Pria bertopeng merasakan nafas nya menjadi sesak. Udara menjadi lebih berat, membuat pria bertopeng jatuh berlutut.
"Gahh.... Aura mengerikan macam apa ini!"
Zell ikut berkomentar, dia pun jatuh berlutut.
"Hiii.... Nafasku!!" Gyslen merasakan hal yang sama.
Semua orang yang hadir di tempat ini berlutut. Merasakan sesak dan berat nya udara.
Sementara itu, sosok misterius hanya diam, tubuhnya terlihat gemetar. Dia hanya satu - satu nya orang yang tak terpengaruh oleh sesak dan berat nya udara.
"I-Inikan...... Blood Rain?" Sosok misterius itu menggumamkan sebuah kata. Diikuti oleh tubuh nya yang gemetar.
"Kalian!....Tidak akan...Kumaafkan!"
Zell, Gyslen, pria bertopeng dan sosok misterius menyadari teriakan amarah ini.
Mereka langsung mengalihkan pandangan pada asal suara teriakan ini.
Disana, mereka melihat, sosok pria berambut coklat dan memiliki wajah yang jelek berjalan. Ekspresi yang dia tampakan anehnya tenang, namun mereka semua tahu, bahwa dia sedang sangat marah.
"Kalian Makhluk hina, tidak akan pernah kumaafkan."
Sebuah aura membunuh yang luar biasa dikeluarkan oleh pria berambut coklat itu.
Seketika perasaan takut dan putus asa menerror hati seluruh orang yang ada di tempat itu.
"Hiii.... Mengerikan! Monster!"
Gyslen merangkak mundur, wajah nya dipenuhi oleh ketakutan. Air mata menetes dengan deras, cairan hidung keluar dengan cara menjijikan.
Sosok pria berambut coklat itu semakin dekat dengan Gyslen. Dia menatap dengan tajam pada Gyslen, Amarah dan kebencian terlihat jelas dimatanya.
"Menjauh! Menjauh! Monste-!"
"Diam!"
Duarrr!
Sosok pria berjubah hitam dalam sekejap telah membanting kepala Gyslen ke tanah.
"Tidak ada yang menyuruhmu berbicara, makhluk hina!"
Pria itu mengangkat kepala Gyslen yang terkubur di tanah. Kemudian membantingkan nya kembali.
Duar!
Bruk!
Duar!
Bruk!
Pria itu terus mengulangi hal ini, wajah Gyslen telah hancur sepenuhnya.
Tapi, Gyslen belum mati, dia masih bernafas dan tetap hidup.
"Apa?? aku tidak menyuruhmu mati."
Pria itu melepaskan sebuah Cahaya pada tubuh Gyslen, seketika semua luka Gyslen sembuh dengan sempurna.
Gyslen mendapatkan kembali kesadarannya, lalu menatap penuh ketakutan pada Pria berambut Coklat yang memegang rambutnya.
"Hiii!.... Ampuni aku! Ampuni aku!" Gyslen berteriak, mencoba melepaskan cengkeraman pada Rambutnya.
"Wanita hina sepertimu tidak pantas diampuni."
Pria itu melepas Gyslen dan berdiri seakan dia telah mengampuni nyawa Gyslen.
Dengan tergesa - gesa Gyslen mencoba untuk lari. Udara yang berat dan sesak membuat Gyslen sulit untuk berdiri.
Pada akhirnya, Gyslen bisa berdiri dan hendak berlari. Namun...
__ADS_1
"Blood Prison Cube."
Gyslen yang akan lari tiba - tiba dibungkus oleh sebuah kubus merah transparan.
"Apa ini?! Lepaskan! Lepaskan! aku mohon!!!" Gyslen berteriak putus asa.
"Aku akan memberimu mimpi buruk yang lebih dari pada kematian."
Pria itu berbicara, kemudian menyodorkan lengan nya pada kubus merah.
"Dengan Otoritasku, Blood Ruler. Setiap 10 Detik, aku perintahkan kalian darah yang ada di tubuh wanita hina ini, untuk menjadi tajam dan merobek bagian tubuhnya. Kemudian, setiap 10 detik berikutnya, sembuhkan kembali. Lakukan hal ini selamanya."
"Hii?! Apa yang kau maks-?!"
Duar!
Separuh wajah Gyslen meledak, darah terlihat meruncing dari separuh wajah yang meledak itu.
"Aaaaaa!!! Kyaaa!!! Argg!!!"
Beberapa detik kemudian, sebuah cahaya merah dan hangat menyembuhkan luka di wajah Gyslen. Membuat kesadaran Gyslen pulih kembali.
"Eh? apa? aku sembuh? Terima kasih!" Gyslen bersujud pada Pria berambut coklat, merasa dirinya diampuni.
"Terima kasih! Terima kasih! aku sangat berterima kas-?!"
Duar!!
Separuh wajah yang lain meledak, Gyslen lagi - lagi menjerit kesakitan.
"Luar biasa bukan? Siksaan ini, akan lebih lebih lama kau rasakan! hahahah....."
Pria berambut coklat itu berbalik melihat Sosok misterius, pria bertopeng serta Zell.
"Sekarang....... Giliran kalian."
*
*
*
*
*
"Ugh!! Senior, kita sebaiknya lari dan melaporkan hal ini!" Zell ketakutan setelah sosok itu menatap mereka.
"Diam! Zell, apakah kau pikir dia akan melepas kita begitu saja?" Pria bertopeng berwajah pucat.
Sosok Pria berambut coklat semakin berjalan mendekati mereka.
Semakin pria itu mendekat, udara menjadi lebih sesak dan berat.
"Kalian tidak berpikir untuk melarikan diri bukan?" Pria itu berkata.
"Sombong sekali kau, kau pikir aku akan menyerah begitu saja?!" Pria bertopeng marah.
"Hah?"
Pria berambut Coklat menghentikan langkah nya. Wajah nya memperlihatkan keheranan.
"Apa maksudmu? aku tidak mengharapkan kalian menyerah. Justru......" Pria berambut coklat tersenyum lebar.
"Aku ingin kalian melawan!" Pria berambut Coklat tiba - tiba menghilang.
"Guhook!?" Pria bertopeng terpental, oleh sebuah pukulan di perutnya.
"Senior!" Zell berteriak.
Pria berambut Coklat melesat kembali menuju Pria bertopeng.
Dengan kedipan mata, dia sudah tiba dihadapan Pria bertopeng dan mengangkat tubuhnya.
"Terbanglah!"
Pria bertopeng dilemparkan ke langit dengan sangat kuat. Tubuhnya dengan kecepatan tinggi menembus udara.
Prok Prok Prok.
Pria itu bertepuk tangan dan memasang ekspresi kagum diwajahnya.
"Luar biasa, aku baru tau seorang manusia bisa terbang. Kemudian.... [Blood Art : Sword]"
Pria berambut Coklat menciptakan sebuah pedang di tangannya.
Pria berambut Coklat melakukan ancang - ancang. Kemudian, sosok nya melesat ke langit dengan kecepatan tinggi.
"Lightning Slash!"
Pria berambut coklat mengeluarkan cahaya kuning keemasan. Dari pedang nya, muncul kilatan listrik.
Dengan kecepatan yang amat tinggi, sosok nya menebas Pria bertopeng yang melayang di udara. Membentuk sebuah garis terang di langit malam yang gelap.
"Grahh!!!" Pria bertopeng menjerit.
Jedduarrr!!
Setelah tebasan dari pria berambut Coklat, pria bertopeng terkena sambaran petir yang turun selama hujan darah.
"Aaaagrrrghh!....."
"Hey? kau belum menyerah kan?"
Pria berambut Coklat tiba - tiba muncul dan menyapa pria bertopeng.
"Guhookkk!"
Pria berambut Coklat menendang Pria bertopeng dengan kuat.
Sosok seorang manusia yang jatuh dari langit dengan kecepatan tinggi terlihat.
Ketika tiba dan menyentuh tanah, menciptakan sebuah lubang besar di tanah.
Mengikuti pria bertopeng, sosok pria itu turun dari langit dengan perlahan dan menatap pria bertopeng.
"Ya ampun, hanya ditendang dari langit kau sudah mati?" Pria berambut Coklat terlihat bosan.
"Ya sudahlah, Masih ada dua dari kalian bukan?" Pria berambut Coklat menatap Zell dan Sosok misterius.
"Haaiiihhh?! Senior, sudah mati?! Tidak, tolong aku!" Zell berteriak ketakutan.
Sementara Zell ketakutan, sosok misterius itu masih diam tak bergerak.
"Hawa keberadaan ini.... Tapi?" Sosok misterius bergumam sendiri, meskipun dia merasa ketakutan tapi dia masih terlihat tenang.
"Pertama kau Zell."
"Blood Prison Cube."
Sebuah Kubus merah transparan muncul membungkus Zell di dalamnya.
__ADS_1
"Tidak! Tidak! Tidak!! Jangan!" Zell menjerit.
"Hm? Aku hanya akan memanaskan darahmu, mengapa kau begitu ketakutan? 100 Celcius." Pria berambut Coklat berkata dengan tenang.
"?! Aarrrhhhh Panas! Panas! Grah?!!!" Zell menjerit, kulitnya melepuh dan daging nya meleleh. Zell berguling - guling di dalam kubus merah itu, namun beberapa saat kemudian. Luka nya kembali tersembuhkan sedia kala, lalu meleleh kembali.
Setelah memastikan hal ini, Pria berambut Coklat mengalihkan pandangan nya pada Sosok misterius.
Dia mengamati Sosok yang hanya diam tak berkata dan tidak melakukan apapun itu.
"Kau, Vampire yang menerror kota ini bukan? aku ingin menanyakan suatu hal padamu...."
"?!?! Tidak, Tunggu!" Sosok misterius mencoba untuk mengatakan sesuatu tapi...
"Aarhhh?!?!"
Pria berambut Coklat sudah mencengkeram leher nya. Tatapan pria itu begitu tajam, seakan mencoba memangsa buruan nya.
"Katakan padaku, apa kau yang membunuh Rin-Yu?!"
"Aarrghhh......"
"Apa? apa cengkeramanku terlalu kuat untukmu?"
Pria itu sedikit melonggarkan cengkeramannya.
"M-Maafkan s-saya...." Sosok itu meminta maaf, anehnya suara yang dia keluarkan terdengar sedih dan menangis.
"Huh?? Suaramu, kau seorang wanita..?"
"R-Ren-sama, Maaf-kan S-Saya...." Sosok itu berkata dengan lemah.
"?!?!? Siapa kau...?!" Pria berambut Coklat terkejut.
Pria itu kemudian melepas penutup wajah sosok misterius yang ada dalam cengkeraman nya.
Begitu penutup wajah itu terbuka, sosok seorang wanita cantik berambut hitam dan bermata merah terlihat disana.
"Ehh?Ni-Nirlayn? Bagaimana bisa....."
Pria berambut Coklat itu melepaskan cengkeraman nya dan mundur beberapa langkah.
"Guhuk. Guhuk. Ren-sama, Jadi itu benar - benar anda?" Sosok misterius memegang lehernya, wajahnya meneteskan air mata.
"Nirlayn, Aku tidak bermaksud......" Ren terlihat panik dan merasa bersalah.
"Ren-sama, Tidak - Tidak, ini bukan salah anda!." Nirlayn menggelengkan kepala dengan terburu - buru.
"Aku, Aku hampir saja, membunuh seseorang bawahanku sendiri dengan kedua tangan ini...." Ren menatap Tangan nya.
Sementara itu, tanah berhenti bergetar, udara berhenti menjadi sesak dan kembali normal. Hujan darah pun mulai terhenti.
Sebuah suara banyak orang mulai terdengar dari kejauhan. Tak lama segerombolan pasukan yang dipimpin oleh pria paruh baya yang memakai pakaian mewah datang.
"Putriku?!" Pria paruh baya berlari menuju Gyslen yang terkurung dalam kubus.
"Apa yang kau lakukan pada putriku brengsek?!" Pria paruh baya itu menatap marah pada Ren dan Nirlayn
Ren dan Nirlayn terkejut oleh suara yang tiba - tiba ini.
"Ren-sama, apa yang harus saya lakukan?" Nirlayn bertanya, lalu menyiapkan cakarnya untuk bertarung.
"Tidak, Nirlayn. Mari kita pergi untuk saat ini. Masalah akan semakin besar jika kita melawan mereka." Ren berbicara, menahan Nirlayn yang akan menyerang.
"Um.... Sesuai keinginan anda, Ren-sama."
Sosok Ren dan Nirlayn kemudian menghilang, meninggalkan Gyslen dan Zell yang terkurung dalam kubus transparan.
Pria paruh baya yang mengetahui bahwa putrinya mengalami mimpi buruk yang lebih dari kematian, mengutuk Ren dan Nirlayn yang telah melakukan hal ini.
"Terkutuk kau! akan ku bunuh kalian brengsek! beraninya kalian bertindak seperti ini pada putriku!! sialan!!"
Pria paruh baya itu berteriak pada udara kosong.
*
*
*
*
*
*
*
Sebuah Menara jam, di pelabuhan Kota Rondelia.
Di atas menara itu, dua orang siluet terlihat berdiri disana. Satu orang wanita dan satu orang pria. Sang Pria berdiri di depan sedangkan wanita sedang berlutut di belakang nya.
Kedua sosok itu tidak lain adalah Ren dan Nirlayn.
"Ren-Sama, saya memohon maaf. Karena ketidakmampuan saya dalam menjalani misi. Insiden seperti ini bisa terjadi, saya sungguh minta maaf." Nirlayn berkata dengan lemah.
"Aku tak menyangka bahwa sosok Vampire yang menerror Kota ini adalah dirimu. Kau tentu memiliki alasan yang bagus untuk membunuh orang - orang kan Nirlayn?" Ren bertanya dengan nada tajam.
"Maaf! Saya memang membunuh seorang tangan kanan Duke Kota ini. Tapi, saya tidak membunuh orang lain selain dia. Jika Ren-sama ingin saya mati, maka saya akan melakukannya.!" Nirlayn menunduk semakin dalam.
"Hah? Jadi maksudmu, kau bukan orang yang membunuh orang pada malam hari di seluruh kota?" Ren bertanya heran.
"Benar sekali Ren-sama, Saya membunuh Tangan kanan duke karena dia merupakan orang yang berhubungan dengan dua orang yang anda bunuh di hutan waktu itu." Nirlayn menjelaskan.
"Mhm.. Jadi begitu, aku mengerti." Ren mengangguk penuh pengertian.
"Tapi, informasi apa yang kau dapat?" Ren bertanya kembali.
"Saya hanya mendapatkan sebuah Informasi, bahwa mereka berasal dari Organisasi yang sama, yaitu Night Corpse.
Pria yang bernama Zell dan Pria yang anda bunuh tadi juga kemungkinan besar berasal dari Organisasi yang sama. Mereka berencana untuk menguasai Kota Rondelia ini, dengan mengkambing hitamkan Saya yang telah membunuh Tangan Kanan duke. Mereka menyarankan Rencana untuk menangkap saya, padahal Rencana asli mereka adalah untuk membuat Pasukan Kota Rondelia terpisah - pisah dan menghabisi mereka sekaligus." Nirlayn menjelaskan
"Ya ampun, Night Corpse lagi? organisasi macam apa ini sebenarnya..... Sudahlah, aku lelah sekarang." Ren menggelengkan kepala pasrah.
"Nirlayn, aku mempunyai perintah baru padamu." Ren memasang wajah serius.
"Eh? Baik! apa itu Ren-sama??" Nirlayn memasang wajah bingung.
"Duduklah, Nirlayn!"
"Duduk....? seperti ini....?" Nirlayn kebingungan.
"Tidak - Tidak, kau salah. Duduklah seperti ini." Ren mencontohkan sebuah cara duduk yang disebut Seiza dalam bahasa jepang.
"Begini Ren-sama?" Nirlayn mengikuti nya.
"Benar sekali, kali ini....."
"Biarkan aku tidur di pangkuan pahamu. Aku benar - benar lelah... Maafkan aku Nirlayn." Ren berbicara, ekspresi wajahnya terlihat sangat kelelahan.
"Ehh??? Baik, silahkan Ren-sama..."
__ADS_1
Angin malam berhembus, di atas menara jam Kota Rondelia.
Ren tertidur dalam pangkuan Nirlayn yang terlihat kebingungan....