Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 104 : Penyimpangan Tujuan


__ADS_3

"Hiii~"


Halaman Kantor Pusat Guild Petualang diliputi oleh Kegaduhan dari berbagai macam kalangan orang yang berkumpul disana. Semua ini dikarenakan sosok Kuda Bersayap Avrogan mendarat disana dengan Wanita Cantik yang menunggangginya.


Tidak cukup sampai disana, sosok Ren yang mendarat dengan Kedua Sayap juga memberikan dampak kehebohan tersendiri. Ada yang berpendapat bahwa Ren adalah Malaikat, dan ada juga yang berpendapat bahwa Ren adalah Iblis. Namun semua itu tidak dapat dipastikan, mengingat Sayap Ren tidak seperti para Malaikat dan Wujud Ren tidak seperti para Iblis.


Kegaduhan ini membuat para Petualang dan Staf Guild Petualang berhamburan keluar untuk melihatnya. Beberapa orang ada yang terkagum dengan apa yang mereka lihat, tapi tidak sedikit juga orang yang ketakutan ketika melihat sosok Avrogan. Lalu seolah telah disediakan, ketakutan mereka terobati ketika melihat Nirlayn dan Arystina.


Selain dari Ketiga sosok itu, ada satu orang lagi yang berpartisipasi dalam membuat Kegaduhan ini. Begitu para Staf Guild melihat sosoknya, mereka langsung menyadari bahwa lelaki itu adalah R.Styx dan langsung menghampirinya.


"Tuan R.Styx, kami tidak tahu anda akan kesini, maafkan penyambutan yang tidak mengenakan ini." Ucap salah satu Staf Guild yang merupakan seorang Wanita.


"Jika berkenan, Hal penting apa yang bahkan membuat Tuan R.Styx datang sendiri ke tempat ini?" Tanya salah satu Staf Guild yang juga seorang Wanita.


Sebelum menanggapinya, Ren melirik ke segala arah untuk mencari keberadaan Kanza ataupun Arnicko. Namun sayangnya, Ren tidak mendapati keberadaan mereka bahkan dengan Persepsi Mana.


"Dimana Kanza? Aku memiliki urusan dengannya."


Staf Guild itu saling menatap satu sama lain dengan wajah yang kebingungan seolah menampakan ketidak tahuan mereka.


"Maafkan kami Tuan R.Styx, tapi Tuan Kanza tidak akan memberitahu kemana dirinya pergi pada Staf Guild seperti kami."


"Ya, benar ... Jika ada seseorang yang tahu dimana Tuan Kanza berada, mungkin hanya Ketua Guild seorang yang mengetahuinya."


Mereka menjawab secara bergiliran, Ren juga tidak merasakan kebohongan dalam perkataan mereka berdua. Lagipula, tidak alasan bagi mereka untuk menyembunyikan keberadaan Kanza bukan? Lantas, harapan Ren satu-satunya adalah bertanya pada Arnicko.


"Oh, lalu dimana Arnicko?"


"Uh, Ketua itu ... tidak akan datang ke Guild di pagi hari seperti ini." Balas Staf Wanita itu dengan Ekspresi lelah.


"Ketua memang sedikit pemalas, tapi kami tidak berani mengingatka- ..." Staf Wanita yang satu lagi berkata, namun perkataannya ini dihentikan oleh suara keras dan lantang dari seseorang yang sedang mereka bicarakan.


"Siapa yang kalian sebut pemalas?!" Teriak Arnicko penuh amarah.


Seketika, semua orang yang berhubungan dengan Guild Petualang dibuat diam oleh teriakan penuh amarah dari Arnicko. Mereka hanya bisa menunduk ketika Arnicko berjalan melewati mereka semua dengan wajah yang menyeramkan. Terutama Dua Staf wanita yang membicarakannya, tidak dipungkiri lagi bahwa mereka sedang membeku saat ini.


Sementara Ren, dia sama sekali tidak peduli dan berbalik santai pada Arnicko seraya tersenyum penuh makna, "Kebetulan sekali ... Aku baru saja akan mencarimu, Arnicko."


Dihadapan Ren yang sama sekali tidak berhubungan dengan pembicaraan buruk para Bawahannya, Arnicko langsung merubah Ekspresi. Dari kemarahan, berubah menjadi penuh Keramahan.

__ADS_1


"Maafkan perilaku mereka yang sedikit kurang sopan Tuan R.Styx ..." Arnicko berkata sambil menggerakan Lengannya untuk mengindikasikan Dua Staf Wanita itu pergi.


Mereka berdua pun menunduk, lalu dengan tergesa-gesa pergi untuk melarikan diri dari kemarahan Arnicko.


"... Oh ya, kedatangan anda kemari untuk mencari keberadaan Kanza 'kan?" Arnicko melanjutkan perkataannya.


"Ya, baguslah kalau kau mengerti. Dimana dia sekarang? Aku memiliki beberapa urusan dengannya."


Ren berharap Arnicko akan menjawab dengan anggukan atau jawaban langsung yang mengatakan Keberadaan yang pasti dimana Kanza berada. Akan tetapi, Arnicko membalas dengan Gelengan Kepala yang tidak terduga.


"Sayang sekali ... Saya tidak tahu, dia hanya menitipkan sebuah Pesan singkat pada anda sebelum pergi."


"Hm?" Ren mengerutkan dahi.


Kanza menitipkan sebuah Pesan Singkat memberi sebuah Tanda bahwa dirinya telah mengetahui Ren yang akan datang. Namun, pertanyaan besar disini adalah, mengapa dia menitipkan sebuah Pesan singkat tanpa memberitahukannya secara langsung? Bukankah ini sama dengan membuang-buang waktu?


Tidak ada waktu untuk memikirkan sesuatu yang tidak berguna, Ren harus segera mengetahui apa pesan yang dititipkan oleh Kanza.


"Apa yang dia katakan?"


"Dia berkata, 'Aku akan menggantikan Tuan Dirvaren sebagai Pahlawan!' atau sesuatu seperti itu."


Apa yang Ren dengar adalah Pesan Singkat yang sedikit konyol. Ren hanya dapat memikirkan satu tempat ketika itu menyangkut Pahlawan. Namun tidak disangka, Kanza menerima sesuatu yang merepotkan itu dengan senang Hati.


"Hm, baiklah. Aku tidak memiliki alasan untuk lebih lama disini, kau mendapatkan Rasa terima kasih dariku."


Setelah Ren berkata, Nirlayn dan Arystina kembali menunggangi Avrogan, sementara Ren sendiri mulai menumbuhkan Sepasang Sayap. Pemandangan dari Dua orang Wanita yang menunggang Kuda Bersayap serta seseorang yang menumbuhkan Sepasang Sayap di punggungnya ini mengundang Decak Kagum dari orang-orang yang berkerumun.


Arnicko hanya bisa menghela napas, "Hah ... Anda sepertinya sedang terburu-buru, kalau begitu saya berharap dapat berbincang dengan anda di lain waktu."


Tanpa membalas Arnicko, Avrogan dan Ren mulai mengepakkan sayap mereka dan perlahan naik ke Udara. Sosok-sosok yang membuat Kegaduhan itupun pergi dengan cara bergerak cepat di Udara. Kepergian mereka membuat orang-orang yang berkerumun meninggalkan tempat itu seraya memperbincangkan apa yang baru saja mereka saksikan.


Perbincangan mereka berkaitan dengan, Kuda Bersayap yang hanya ada dalam Legenda, Manusia yang dapat menumbuhkan sayap, dan Dua Gadis Cantik bagaikan Bidadari. Topik ini mungkin akan menjadi Topik yang terhangat diseluruh Kota Aulzania atau mungkin Kerajaan Aulzania.


____________________________________________


* * *


* * * ____________________________________________

__ADS_1


Saat Terbang, Persepsi Mana Ren diaktifkan dan diperluas dalam Jangkauan Radius beberapa Kilometer. Hal-hal akan jadi merepotkan jika Ren yang terbang menjadi pusat perhatian semua orang. Maka dari itu, Persepsi Mana dibutuhkan untuk mendeteksi keberadaan orang-orang itu bahkan sebelum mereka melihat Ren.


Dengan Ren yang terbang memimpin di depan sedangkan Avrogan yang ditunggangi oleh Arystina dan Nirlayn dibelakang, tidak mungkin mereka tidak akan membuat kehebohan saat dilihat. Pasalnya, dengan tingkat Kekuatan yang begitu Rendah di Kerajaan Aulzania, seseorang yang dapat terbang itu bagaikan Legenda.


"Ren-sama, saya tidak mengerti lagi. Mengapa anda memilih Jalan ini yang dasarnya lebih jauh dan memutar?" Nirlayn kembali bertanya.


Rasa Penasaran Nirlayn ternyata cukup luar biasa, padahal sudah jelas Ren menempuh jalan ini untuk menyusul dan menemui Kanza, tapi Demi Jawaban yang memuaskan, dia masih tetap saja bertanya.


Namun perkataan Nirlayn adalah suatu hal yang masuk akal, karena selain Jalan yang ditempuh oleh mereka saat ini, ada satu Jalan lagi yang aman dan tidak akan mudah ditemukan. Jalan itu adalah Hutan Loudeas sendiri, menurut Peta Benua Zachen, Hutan Loudeas menghubungkan Lima Wilayah Kekuasaan yang berbeda.


Meliputi bagian Utara sampai Timur Laut adalah Kerajaan Suci Sancteral. Meliputi bagian Utara sampai bagian Barat adalah Kekaisaran Lodysna. Meliputi bagian Barat sampai Barat Daya adalah Kerajaan Anverzil. Sedangkan untuk bagian Selatan adalah Kerajaan Aulzania dan bagian Timur adalah Kerajaan Efidoxia. Semua itu didasarkan pada Arah Mata Angin dari Bumi yang menjadikan Hutan Loudeas sebagai Pusatnya.


Jadi dapat disimpulkan, Hutan Loudeas yang menghubungkan Lima Wilayah Kekuasaan itu dapat dijadikan Jalan Pintas. Namun karena banyaknya Monster yang mendiami Hutan, orang-orang pun memilih Jalan yang memutar.


"Kita akan menyusul Kanza, aku merasakan ada sesuatu yang aneh disini. Sangat disayangkan jika Assassin berbakat seperti dirinya kehilangan Nyawa karena membantu orang lain tanpa alasan." Jelas Ren pada Nirlayn.


Aneh ... Semua Bawahannya itu memandang diri Ren dengan cara yang aneh dan tidak percaya. Ren adalah orang yang memiliki kepribadian tak menentu, tapi belum pernah mereka mendengar Ren mengkhawatirkan orang lain selain bawahannya sekaligus menyebut orang itu berbakat. Selain daripada itu, Ren juga sedikit mengesampingkan tujuannya untuk pergi ke Kerajaan Suci Sancteral.


"Lalu, apa Rencana anda setelah bertemu dengannya Ren-sama?"


Ren sedikit melirik kepada Nirlayn dengan Mata Merahnya, tapi dengan segera berbalik kembali tanpa memberikan Jawaban. Setelah itu, Ren langsung berpikir untuk memperkirakan apa sebenarnya yang diinginkan oleh Putri Kerajaan Efidoxia.


Beberapa saat berpikir, akhirnya Ren membuka Mulut, "Nirlayn, kau ingat Dua orang yang berasal dari Kerajaan Efidoxia kemarin?"


"Um." Nirlayn mengangguk.


"Kau ingat saat Perempuan itu mengatakan soal Pernikahan dan Anak tunggal?"


Nirlayn seketika berpikir dengan cara yang lucu, tapi setelah dia mengingatnya, dia langsung menjawab, "Oh! Saya ingat."


"Bagus, aku menyimpulkan sesuatu berdasarkan dari, Jarak yang ditempuh, mencari seseorang yang kuat, Anak tunggal, Pernikahan dan Ekspresinya yang sedang sedih."


"..."


Nirlayn terdiam dengan wajah bertanya-tanya, sedangkan Avrogan dan Arystina yang tidak bertanya pun kini menjadi penasaran. Pernyataan Ren yang begitu ambigu dan sulit dimengerti tidak mampu mereka pahami.


"Jarak yang ditempuh membuktikan seberapa besar masalah itu. Mencari seseorang yang kuat menandakan bahwa mereka memiliki musuh yang kuat pula. Anak tunggal menjadi sebuah alasan dari tidak adanya Putra Mahkota, dan Pernikahan Politik adalah solusinya. Lalu dari Ekspresinya, dia telah kehilangan seseorang yang dia cintai, dalam Hal ini, kemungkinan besar adalah Sang Raja itu sendiri yang telah dibunuh oleh para Pengkhianat." Ren menjelaskan dengan percaya diri.


Meski kurang mengerti, tapi mereka semua tercengang pada pemikiran Ren yang dapat menyimpulkan suatu hal berdasarkan beberapa kalimat dan petunjuk begitu saja. Namun walau demikian, mengapa Ren mau terlibat dalam suatu hal yang merepotkan seperti ini?

__ADS_1


Disaat Nirlayn mencoba serius untuk memikirkannya, Ren mengeluarkan suara kembali untuk menegaskan dan memperjelas alasan dari semua hal yang telah dia katakan.


"Tidak ada alasan bagi Kanza untuk membantu mereka. Biarkan Kerajaan Efidoxia hancur dan kita bisa merebut Kerajaan itu tanpa halangan yang berarti."


__ADS_2