Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 108 : Keberadaan para Pemain?


__ADS_3

Lodysna Empires


Kekaisaran yang dulunya memiliki wilayah kecil dan tidak terlalu berkuasa ini telah berubah setelah Sang Kaisar mendapatkan bantuan yang besar tiga tahun yang lalu. Mulai saat itu, Kekaisaran Lodysna langsung melakukan aneksasi terhadap Kerajaan yang ada disekitarnya.


Sudah tiga tahun semenjak Kekaisaran Lodysna melakukan aneksasi. Dalam kurun waktu yang cukup singkat itu, Kekaisaran Lodysna telah menaklukan satu Kerajaan disekitarnya dan langsung menganeksasi Kerajaan lain untuk mendapatkan wilayah yang lebih besar lagi.


Ketika Kekaisaran Lodysna berhasil melahap satu Kerajaan, mereka menjadi Kekaisaran dengan wilayah kekuasaan terbesar ketiga di Benua. Namun karena saat ini mereka sedang melakukan aneksasi terhadap Kerajaan lainnya, dan berhasil merebut sebagian daripada wilayah itu, mereka pun berhasil menjadi Kekaisaran dengan wilayah kekuasaan terbesar kedua di Benua Zachen.


Semua yang mereka dapatkan ini tidak mungkin jika tidak dengan kekuatan yang luar biasa. Bangkitnya kekuatan yang Abnormal dari Kekaisaran Lodysna ini mengundang rasa penasaran dan curiga semua orang. Berbondong-bondong setiap Kerajaan ataupun Kekaisaran mengirimkan mata-mata untuk mencari rahasia dibalik semua ini.


Akan tetapi, mereka tidak pernah mendapatkan informasi apapun mengenai kekuatan Kekaisaran Lodysna yang Abnormal. Bahkan Rakyat yang menghuni wilayahnya tidak diperkenankan untuk mengetahui seluk-beluk Kekaisaran.


[Thor : Apa yang mereka tidak ketahui dapat dengan mudah diketahui ...]


Erlucran Navrrelian Di Lodysna, Kaisar muda dari Kekaisaran Lodysna yang menaiki takhta tujuh tahun yang lalu. Dia adalah Kaisar yang bodoh dan tidak memiliki bakat apa-apa dalam mengurusi pemerintahan, hanya memberi asal perintah dan bermain-main adalah apa yang selalu dia lakukan.


Karena ketidak bergunaan dia yang luar biasa ini, Kekaisaran Lodysna hampir mengalami keruntuhan tiga tahun yang lalu karena kemiskinan dan pemberontakan yang terjadi dimana-mana. Namun siapa sangka, keruntuhan mereka ini digagalkan oleh kedatangan Entitas dari dunia lain.


Disaat-saat darurat, mungkin hanya satu hari sebelum Kekaisaran benar-benar akan runtuh, Erlucran yang luar biasa bodoh mengambil keputusan yang cukup memberi sebuah harapan. Membuat seluruh orang bertanya-tanya, mukjizat macam apa yang diberikan pada Erlucran pada saat itu.


Erlucran mengorbankan seluruh Harta yang dia miliki untuk memerintahkan para penyihir melakukan sebuah Sihir Pemanggilan, [Summoning Miracles]. Sihir ini menggunakan semacam formasi yang ditinggalkan secara turun-temurun dari Zaman dulu [Artefak] dan bukanlah sesuatu kemampuan yang bisa dilakukan oleh seorang Individu.


Dikatakan [Summoning Miracles] adalah Sihir pemanggil keajaiban dan harus dibarengi dengan harapan besar ketika melakukannya. Apapun yang akan muncul dari sana, dapat mengabulkan harapan dari para pemanggil dan memecahkan masalah yang mereka alami.


Singkat cerita, [Summoning Miracles] pun berhasil memanggil Entitas dari dunia lain. Merupakan kebetulan luar biasa, mereka yang terpanggil adalah pemain dari Game COTHENIC yang berasal dari Bumi. Mereka yang terpanggil pun bukanlah pemain biasa, melainkan beberapa pemain teratas darinya.


Hawa keberadaan yang kuat dan istimewa terpancar dari para pemain. Oleh karena itu, para pemain ini seketika dianggap sebagai utusan Dewa yang akan menyelamatkan Kekaisaran Lodysna. Mereka diterima dengan baik dan sangat dihormati oleh seluruh orang-orang berpengaruh di Kekaisaran.


Namun setelah melakukan Sihir Pemanggilan [Summoning Miracles] pun, penyakit yang diderita oleh Erlucran ternyata masih belum disembuhkan. Kepribadian Erlucran yang bodoh dan selalu bersenang-senang itu, menarik muncul kelicikan dan keserakahan diantara para pemain akan kekuasaan.


Meski Kekaisaran Lodysna bangkit dan meningkat dengan sedemikian rupa dalam hal segala bidang, tapi sebenarnya Kaisar Erlucran tidak melakukan apa-apa. Dalam kurun waktu tiga tahun ini, dia hanya bersenang-senang dan bermain sedangkan Kekaisaran dikendalikan oleh para pemain.


Oleh karena itu pula, Erlucran menyandang Gelar Kaisar hanya sebatas nama, kuasa dia atas Kekaisaran kini tidak lebih dari sekadar Boneka yang dikendalikan. Semua itu berkat kebodohan dan kebodohan serta kebodohan yang dia miliki.


Mereka para pemain yang disebut utusan Dewa, kini lebih terlihat seperti seorang Penguasa dari Kekaisaran Lodysna. Bahkan Kaisar Erlucran sendiri, tidak berani melawan ataupun menentang keputusan mereka. Empat pemain teratas yang menjadi Penguasa Kekaisaran Lodysna, mereka menyebut diri sendiri sebagai [The Four Sovereigns].


____________________________________________


* * *


* * * ____________________________________________


Bertepatan dengan waktu ketika seorang lelaki membantai para perampok di tempat yang jauh, [The Four Sovereigns] mengadakan Konferensi bersama dengan orang-orang berpengaruh dari Kekaisaran Lodysna. Konferensi yang melibatkan banyak orang ini digelar di sebuah Ruang khusus Konferensi milik Kekaisaran Lodysna.

__ADS_1


Ruang Konferensi ini lebih tampak seperti sebuah Ruang takhta yang ditambahkan dengan meja Konferensi di bawah singgasana. Pada salah satu sisi, empat singgasana ditempatkan dengan kasta yang lebih tinggi, sedangkan meja Konferensi diletakan dibawahnya. Membuat orang yang duduk diatas empat singgasana dapat dengan bebas memandangi orang yang duduk di meja Konferensi.


Empat singgasana itu, diisi oleh [The Four Sovereigns] yang merupakan para pemain teratas dari Game COTHENIC.


"Sudah larut malam seperti ini, masih saja mengadakan Konferensi." Keluh salah seorang dari [The Four Sovereigns].


Seorang perempuan yang menduduki peringkat ke-5 diseluruh COTHENIC dan juga merupakan satu-satunya perempuan yang memasuki jajaran pemain terkuat, memiliki Nama asli Nellany Zynvan, dan Nama game sebagai Nezy, seorang Ketua dari Guild Nightmare Rose. Nezy duduk pada kursi paling kiri dari keempat kursi lainnya.


"Kau tidak dapat menghindarinya Nezy, jika tidak ingin mengikuti Konferensi, mengapa tidak pergi ke alam liar saja dan bersantai setiap hari disana?"


Disebelah kanan Nezy, terdapat seorang pria yang menduduki peringkat ke-4 dari seluruh COTHENIC. Dia adalah Gen Ryuusha, atau biasa dipanggil dengan sebutan Gen-Z ketika berada dalam Game dan merupakan Ketua dari Guild Sky Dragon.


"Dasar perempuan pemalas, bagaimana kau bisa disukai oleh para pria jika sifatmu seperti ini? Terlebih lagi, kau mengincari R.Styx itu 'kan? Pffftt ... Jangan mim-"


"Diam! Jangan sebut nama itu dihadapanku."


Orang yang menduduki kursi paling kanan adalah pria yang mencibir pada Nezy, memiliki peringkat ke-3 di seluruh COTHENIC dan Carmeus sebagai nama dalam Gamenya. Sedangkan untuk orang yang menghentikan perkataannya ... Devaran Sancaloff, seseorang yang menduduki peringkat ke-2 dalam Game COTHENIC.


Devaran sebagai pemimpin dari [The Four Sovereigns] menyebut dirinya sendiri sebagai [The Supreme Sovereigns]. Devaran juga selalu bertingkah layaknya seorang Raja, tanpa segan memerintahkan ketiga orang lainnya seperti seorang pelayan.


Perilaku dan tindakan Devaran yang semena-mena tentu membuat mereka bertiga muak dan membenci dirinya. Namun di Dunia ini, Devaran sama sekali bukan tandingan mereka bertiga. Kenyataan ini, membuat mereka hanya bisa menggigit jari dan menuruti semua perintah Devaran.


"O-Oke ..." Ucap Casmeus lirih.


Casmeus mungkin tampak seperti seseorang yang penurut jika dilihat dari luar, tapi sesungguhnya tidak seperti itu. Dia selalu mengutuk Devaran setiap kali Devaran memerintah seperti seorang Raja.


Satu per satu dari mereka berdiri, kemudian menyampaikan Informasi ...


"Hari ini saya menerima sebuah Surat dari mereka yang berisi sebuah ancaman, 'Jika Kekaisaran ini terus melakukan aneksasi secara semena-mena, maka mereka akan bertindak' katanya."


Mendengar ini, senyum mengerikan muncul di wajah Devaran, "Jangan pedulikan mereka, aku akan lihat seberapa kuat Kekaisaran Exousilia itu. Lalu, yang lainnya!"


"Dua orang yang dikirim menuju Kerajaan Efidoxia sudah melakukan tugasnya dengan baik. Hanya membutuhkan hitungan hari sebelum wilayah Kerajaan itu jatuh ke tangan kita."


"Lalu, penyelidikan mengenai Hutan Kabut Loudeas sama sekali belum mendapatkan kemajuan."


"Beberapa waktu yang lalu, Kerajaan Aulzania memiliki seseorang yang mereka sebut dengan Pahlawan. Seorang Pahlawan yang berhasil menghentikan kekacauan berturut-turut di Kerajaan itu."


Kemudian, informasi terus disampaikan, tapi kebanyakan dari informasi itu tidak berguna dan hanya menyangkut Kekaisaran Lodysna.


Devaran dan tiga orang lainnya, hanya tertarik pada seseorang yang menyebut dirinya sebagai Pahlawan.


'Apakah itu kau? Heh, kali ini aku akan mengalahkanmu!' Devaran berbicara dengan yakin dalam hatinya.

__ADS_1


____________________________________________


* * *


* * * ____________________________________________


"Hormatku, padamu Tuan."


Sosok itu menunduk dengan kesungguhan pada Ren yang berdiri dihadapannya. Sikapnya ini, tidak seperti Rusava dan Raytsa maupun Nirlayn ketika mereka pertama kali dihidupkan kembali. Dia tidak memanggil Ren dengan penuh kesopanan seperti Nirlayn, dan dia tidak pula meremehkan seperti Rusava dan Raytsa.


"Kau memiliki Nama?"


Dia menengadah untuk menatap Ren dengan kedua Mata merah, sebuah ciri khas dari Ras Blood Devil. Meski Rambutnya panjang terurai dan berwarna Putih seperti kulitnya, tapi tidak bisa disangkal jika dia seorang pria.


"Leusgira ..." Ucapnya seraya menunduk kembali.


Ren memperhatikan Leusgira dengan seksama. Sekilas, Leusgira hanya terlihat seperti seorang yang biasa-biasa saja, dengan tingkat kekuatan yang hanya setara dengan Derrian, tapi dihadapan Ren, semua yang dia sembunyikan sama sekali tidak berguna. Kekuatan, Aura dan Mana yang dia tekan dan sembunyikan dapat diketahui dengan mudah.


Jika dibandingkan secara sementara, Aura dan Mana Leusgira tidak lebih buruk daripada milik Kanza. Namun dalam hal kekuatan, semua masih belum dapat dipastikan.


"Leusgira, sebagai seorang Blood Devil yang telah dibangkitkan, aku ingin kau menerima segala perintah yang diberikan olehku."


Ini adalah perkataan Ren dalam meminta seseorang untuk menjadi bawahan, tapi dengan cara yang lebih halus dan menghormati. Lalu, bagaimana jika Leusgira menolak permintaannya? Maka Ren akan menggunakan cara yang sedikit kasar.


"Saya mengerti ... Bagaimana saya harus memanggil anda, Tuan?" Ucap Leusgira seraya menengadah kembali.


'Menerima dengan mudah?' Benak Ren keheranan.


Namun karena ini adalah kesempatan yang bagus untuk mengetahui bagaimana pandangan Leusgira, maka Ren tidak akan melewatkan kesempatan ini begitu saja.


"Aku adalah Anryzel Dirvaren ... Aku memberikanmu kebebasan dalam memanggilku."


Leusgira memandangi Ren dengan pandangan yang aneh, "Apa yang anda maksud?"


"Tidak mengerti? Kau bisa memanggilku dengan sebutan Tuan, Yang Mulia atau apapun itu selama masih dalam batas kesopanan."


"Saya mengerti, maka saya tidak akan sungkan untuk memanggil anda, Tuan."


"Hm?" Ren mengernyitkan alisnya, "Sepertinya kau tidak menilaiku setinggi itu, tapi tidak apa-apa. Selama kau bisa mengerjakan satu tugas dariku, maka aku akan membebaskanmu."


"Tugas macam apa itu Tuan?"


"Aku ingin kau mengambil Nyawa beberapa orang. Detail dari tugas ini akan kuberikan nanti, sekarang ..."

__ADS_1


Ren berbalik pada arah Kerajaan Suci Sancteral, dan menumbuhkan sepasang sayap dari punggungnya.


"Mari ikuti aku ..."


__ADS_2