Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 44 : Kemunculan kembali Musuh.


__ADS_3

Kedua orang itu menatap dengan tidak percaya, hati mereka di selimuti oleh ketakutan yang berasal dari Intimidasi orang di hadapan mereka. Seharusnya, bahkan jika pisau mereka ditahan, mereka masih bisa melepaskan pegangan pada pisau itu dan menyerang menggunakan sesuatu yang lain.


Namun, tubuh mereka berhenti bergerak, seolah - olah tubuh mereka memang diperintahkan untuk berhenti. Tidak ada yang dapat mereka lakukan, selain merasakan keputusasaan dari tatapan mengerikan yang dikeluarkan oleh seorang yang mengerikan.


Bagaikan sebuah Hewan yang telah mencengkeram erat mangsa nya, itulah yang di Rasakan oleh kedua orang itu. Hati mereka berdegup kencang, bukan karena merasakan cinta, melainkan karena ketakutan. Tubuh mereka mengeluarkan keringat, bukan karena hawa panas, melainkan disebabkan oleh intimidasi orang yang mengerikan itu.


Aura merah gelap yang pekat dikeluarkan oleh orang yang mencengkeram pisau mereka. Aura itu terlihat bagaikan seorang malaikat kematian di mata kedua orang itu, tidak ada kesempatan untuk lari, tidak ada kesempatan untuk berlindung dan meminta pertolongan.


Bahkan menjerit pun mereka tidak bisa, hanya untuk melakukan gerakan kecil, tubuh mereka seakan di tekan oleh kekuatan yang luar biasa. Mereka hanya bisa, merasakan keputusasaan ini lebih lama, satu detik bagaikan satu jam, itulah kiasan yang cocok akan apa yang mereka Rasakan saat ini.


Siksaan ini semakin terasa saat orang yang mereka incar malah tersenyum dengan mengerikan. Seolah - olah dia menikmati, setiap inci dari rasa ketakutan dan keputusasaan yang mereka rasakan.


Sebuah Gerakan terlihat, bibir dari orang yang mengeluarkan Aura merah gelap yang pekat sedikit bergerak. Gerakan bibir orang itu mengeluarkan sebuah suara... Suara yang terasa seperti lantunan kematian bagi mereka berdua.


"Blood Prison Cube."


Tubuh mereka berdua tidak merasakan sakit, namun hati mereka tetap menjerit. Perasaan ketakutan semakin membesar, setelah sebuah Kotak merah muncul dan mengurung mereka. Kotak ini, seperti sebuah kurungan yang amat mengerikan dari pandangan kedua orang itu.


"Sepertinya kalian memiliki sesuatu untuk diceritakan, bagaimana jika kalian menjawab semua pertanyaanku?"


Orang itu bertanya, pada kedua orang yang berada dalam kubus merah. Hati kedua orang itu sebenarnya menyadari, jika mereka tidak menjawab, hanya ada keputusasaan yang menanti mereka. Namun, bibir mereka tidak dapat digerakan, meski mereka berusaha sebaik mungkin untuk menggerakan nya.


"Hm...? Kalian tidak mau berbicar-..."


Orang itu tiba - tiba menghentikan perkataannya, dia melirik ke kiri dan ke kanan. Terlihat sedang memperhatikan sesuatu di sekitarnya.


"Ya ampun, ternyata salahku."


Setelah berbicara, semua Aura pekat yang di keluarkan orang itu sepenuhnya menghilang. Menyebabkan pusaran bagaikan sebuah aliran air yang tersedot ke dalam lubang.


Pada saat itulah, hati kedua orang itu merasakan sedikit keringanan. Ketakutan dan Keputusasaan yang begitu luar biasa kini berkurang secara bertahap. Akhirnya, napas mereka kembali Normal, setelah merasakan kesesakan yang begitu luar biasa, bahkan sampai membuat napas mereka berhenti.


"Apakah kalian dapat berbicara sekarang?"


Orang itu tidak memberikan sedikitpun waktu bagi mereka untuk menghela napas. Kedua orang itu mau tak mau harus segera menjawab dirinya, mereka tidak mau merasakan keputusasaan dan ketakutan itu kembali.


"A-Ahk.. Ha.. Ha... Ma-Maafkan, saya..."


Orang yang berada di dalam kubus sebelah kanan lah yang lebih dulu berbicara. Dia adalah seorang yang disebut penguntit oleh orang yang mengerikan itu.


"G-Gah.. Guhok.. Guhok.. Am-Ampuni, aku, ha-hanya, terpaksa.... melakukan ini."


Lalu, orang yang berada di kubus sebelah kiri berbicara. Kedua nya berbicara dengan kata yang terputus - putus, mereka masih merasakan dampak dari terror ketakutan dan keputusasaan yang baru saja mereka alami.


"Tergantung dari jawaban kalian, apakah aku akan mengampuni kalian atau tidak..."


"Nirlayn, aku meminta bantuanmu untuk mengawasi seandainya ada seseorang yang kesini."


"Saya mengerti, Ren-sama."


Orang itu memerintahkan wanita cantik di samping nya, wanita itu menunduk menanggapi perintah dari orang itu, lalu dia beranjak pergi menjauh dari sana.


"Kalian bisa tenang bercerita sekarang, nah... Perkenalkan lah diri kalian terlebih dahulu."


Kedua orang itu terlihat sedikit kebingungan, orang yang ada di hadapan mereka memerintahkan untuk memperkenalkan diri. Dalam pikiran kedua orang itu, keheranan memenuhi setiap inci kepala mereka. Namun, tidak ada satupun dari mereka yang berniat untuk menolak, hanya dengan tatapan orang dihadapannya, sudah membuat mereka menelan ludah.


"Guhk... Aku, Nama-ku ad-adalah... Rakuza." Orang yang berada di sebelah kiri menjawab.


"Haa... Ha... Se-sedangkan, Aku, Nam-aku adalah Kanza Longracia, m-meski Namaku seperti... ini, aku seorang laki - laki." Kemudian orang yang berada di sebelah kanan menjawab dengan terengah - engah.


"Rakuza? Kanza..? Baiklah, sekarang aku ingin melihat wajah kalian, lepaskan penutup wajah itu."


Atas perintah orang itu, mereka melepaskan penutup wajahnya masing - masing. Meski tubuh mereka masih gemetar, tapi mereka berusaha sebaik mungkin untuk melepasnya.


Penutup wajah mereka akhirnya terbuka, menampakan seluruh wajah yang mereka miliki.


Rakuza, mengejutkannya adalah seorang Demi-Human serigala, meski biasanya mereka mempunyai tubuh kekar dan berotot. Tapi, Rakuza memiliki tubuh yang biasa saja, sama halnya dengan Manusia biasa. Kedua mata nya menampakan sorot mata yang tajam, ciri khas dari Demi-human serigala. Sedangkan untuk Rambutnya berwarna perak gelap, dua buah telinga serigala menempel diatas kepala nya. Wajah Rakuza dapat digambarkan dengan beberapa kata, yaitu.... Sedikit Tampan dan Sangar.


Sedangkan untuk Kanza, dia adalah seorang pria dari Ras Elf, Rambutnya berwarna emas mengkilap, dengan potongan gaya yang keren dan terbilang modern. Bukan hanya itu, dia memiliki sebuah pupil mata berwarna biru yang cerah, menambah kesan ketampanan yang dia miliki.


"Demi-Human dan Elf? aku tak menyangka hal ini...." Orang itu memegang dagu setelah melihat kedua orang itu membuka penutup wajah mereka.

__ADS_1


"Aku sedikit mencurigai kalian..." Orang itu berkata dengan tajam, membuat kedua orang yang ada di hadapannya kembali merasakan takut.


"Biar kukatakan sebuah Istilah, COTHENIC."


Kedua orang itu mengeluarkan Ekspresi keterkejutan di wajah mereka, Mata mereka terbelalak, karena mendengar sebuah istilah yang bahkan hampir mereka lupakan.


"Hahaha! Aku sudah menduga hal ini, Reaksi kalian membuktikan bahwa kalian memang benar - benar seorang pemain."


"J-Jadi... K-Kau, m-merupakan seorang pemain... Juga?" Rakuza bertanya, nada nya sedikit tidak sopan, cocok dengan wajahnya itu.


"Se-Seorang pemain...? Jadi, k-kalian juga... Pemain.?" Kanza bolak - balik menatap pria yang ada di samping dan di hadapannya.


"Siapa yang tahu..? Apakah aku pemain atau bukan itu tidaklah penting..."


"Ja-Jadi... Pantas saja, t-ternyata kau seorang p-pemain professional, yang memilih Ras Vampire." Rakuza menyimpulkan sesuatu, namun itu mengundang sebuah tatapan tajam yang berasal dari pria dihadapannya.


"Vampire..? Darimana, kepercayaan dirimu berasal? Apakah kau ingin kepalamu itu hancur berkeping - keping.?"


Pria itu berkata dengan tenang, meski begitu Rakuza menyadari bahwa dia sama sekali tidak bercanda sedikitpun. Dengan panik, Rakuza buru - buru menjelaskan maksud dia yang sebenarnya...


"Guhkk.. Bu-Bukan begitu! A-Aku hanya menyimpulkan, karena Aura yang dikeluarkan olehmu... Begitu m-membuat putus asa! bagaimana sebuah Aura terasa seperti siksaan jika itu bukan Sihir Kabut Ilusi milik para Vampire.!"


"Apakah aku harus mempercayai perkataanmu itu...?" Nada pria itu masih dingin dan menusuk.


"A-Aku mo-mohon, maafkan aku! Percayalah.!" Rakuza menunduk dalam pada Pria di hadapannya.


"Tch.. Terkadang aku merasa kesal, mengapa Ras Vampire yang menyedihkan itu ada.." Pria itu menggerutu sendiri..


"Hei.. Biar kuberitahu kalian satu hal, aku bukanlah seorang Vampire yang menyedihkan. Aku adalah seorang pemain, yang berasal dari Ras Blood Devil...."


Deg!


Hati Rakuza dan Kanza seakan tersambar oleh sebuah petir. Mereka menyadari suatu hal dari perkataan pria dihadapan mereka.


Hanya satu... Hanya satu orang di seluruh COTHENIC yang telah mencapai tingkat yang luar biasa menggunakan Ras Blood Devil.


*Seseorang yang begitu misterius, dia melakukan semua hal seorang diri. Seseorang yang begitu kuat, sampai disebut - sebut sebagai Legenda Hidup COTHENIC, dia adalah seorang yang telah mencapai puncak COTHENIC, dia bernama......


R.Styx*.


Rakuza dan Kanza jatuh tersungkur dalam kubus merah itu. Mata mereka menatap ke bawah dengan putus asa, keringat dingin mengucur di seluruh wajah mereka. Bagaimana mungkin, mereka telah menyinggung seseorang yang tidak seharusnya mereka singgung.


Tetapi, di balik penyesalan yang begitu mendalam di hati mereka, muncul sebuah harapan. Sebuah Harapan, agar mereka dapat menghadapi masalah yang kini mereka alami....


"R.S-Styx...??" Rakuza mengatakan hal ini secara perlahan pada Pria itu.


"A-Anda adalah, R.Styx yang melegenda..?" Begitu pula dengan Kanza, dia mengatakannya dengan perlahan. Tidak ada sedikitpun keberanian untuk mengeraskan suara.


"Hentikan itu, aku merasa ingin muntah disebut sebuah legenda di hadapanku sendiri. Dan lagi, Namaku saat ini adalah Anryzel Dirvaren..." Pria itu menutup mulutnya sambil mengibaskan lengan.


"K-Kalau begitu..... Kami sangat memohon maaf!" Rakuza dan Kanza mengatakannya secara bersamaan. Mereka bersujud pada Pria yang bernama Anryzel Dirvaren, yang tidak lain adalah Ren sendiri.


"Lupakan semua itu, jawab pertanyaanku. Tidak peduli kalian pemain ataupun bukan, jika kalian adalah musuhku, aku akan menghancurkan kalian." Sebuah Ancaman dari Ren dilontarkan pada Rakuza dan Kanza.


"Pertanyaanku yang pertama, apa tujuan kalian menyerang Nirlayn?"


"A-Aku, hanya membenci seorang Vampire, karena itu aku bermaksud menyerang wanita itu..." Kanza menjelaskan.


"Untuk aku.... Aku diperintahkan oleh seseorang untuk membasmi seorang Vampire wanita, kebetulan Wanita yang anda sebut Nirlayn sesuai ciri - ciri nya..." Rakuza menjelaskan dengan wajah suram.


"Vampire lagi? Biar kujelaskan, Nirlayn adalah seorang Blood Devil sama sepertiku.."


"J-Jadi dia juga seorang pemai-" Kanza terkejut.


"Bukan, dia berasal dari Dunia ini... Dan kau Rakuza, aku ingin kau bercerita."


"Kanza, aku akan bertanya padamu nanti..."


"Ya, tidak masalah.."


"Nah, Rakuza, apakah ini yang kau maksud dengan terpaksa itu...?"

__ADS_1


"B-Benar sekali, aku melakukan semua ini... Karena terpaksa." Rakuza menjawab seakan tak berdaya.


"Siapa yang menyuruhmu melakukan semua ini...?" Kali ini, Ren bertanya dengan serius.


"Mohon dengarkan ceritaku, ini juga berhubungan dengan harapanku pada anda."


"Baiklah, Katakan.."


"Baik, tiga tahun lalu aku dipindahkan ke dunia ini. Pada awalnya, aku hidup dengan bebas, berburu, berpesta, dan berpetualang. Semua itu aku lakukan bersama teman - temanku. Namun, dua tahun lalu, ketika kami melakukan perburuan di sebuah hutan.... Tiba - Tiba orang - orang berjubah hitam mengepung kami...."


"Berjubah hitam...? Hm.."


"Benar, saat itu mereka mengatakan sebuah pilihan 'Jadilah bagian dari kami atau mati dengan tersiksa.' Kami tentu saja melawan mereka, namun.... kekuatan mereka begitu besar, teman - temanku dengan mudah dibunuh oleh mereka.. Tidak ada hal lain, kecuali keputusasaan yang menimpa kami saat itu. Ketika jumlah kami hanya tersisa dua orang yaitu aku dan teman wanitaku.. Kami akhirnya menyerah, tidak ada pilihan lain selain mengikuti mereka."


"Itu berarti... Kau mengetahui informasi mengenai orang - orang berjubah hitam ini...?"


"Tentu saja, tapi aku hanya seorang bawahan, aku sama sekali tidak mendapatkan informasi penting seperti, siapa ketua kelompok, atau Rencana jahat yang akan mereka lakukan. Mereka sangat berhati - hati..."


"Lalu... Apa Nama kelompok mereka, dan kenapa mereka mengincar Nirlayn.?"


"Nama kelompok ini adalah.... Night Corpse, alasan mereka mengincar Wanita yang bersama anda, aku tidak tahu. Hanya saja, aku menebak bahwa kelompok mereka lebih besar dari apa yang aku baya-!? Arghhh!!."


Rakuza tiba - tiba merasakan sebuah kesakitan yang luar biasa di dadanya. Dia terjatuh dan berguling - guling di dalam kubus itu. Wajahnya mengerang kesakitan sambil memegang dada nya yang terasa kesakitan.


"O-Oi! Kau kenapa...?!" Kanza terlihat panik melihat keadaan Rakuza yang ada di samping nya.


Sementara itu, Ren pun terkejut akan hal ini, dia menyadari, ada sebuah aktifitas mana orang lain yang berada di dada Rakuza. Mana itu terlihat seperi sebuah Rantai yang mengekang jantung Rakuza dalam pandangan mata Ren, ini adalah sebuah Sihir Kutukan.


"Tch, Sihir Kutukan... [Blood Prison Cube : Cancel]."


Trank!


Kubus merah pecah berkeping - keping, membuat Rakuza terbebas dari Kurungannya. Namun, itu justru membuat dirinya berguling - guling dengan bebas, dia terlihat semakin kesakitan.


"Seolah aku akan membiarkannya..."


Dengan cepat, Ren menghampiri Rakuza dan menahan nya agar tidak bergerak. Ren menyiapkan tangan kanan nya, kemudian dia menggerakan tangan nya diatas Dada Rakuza, seolah dia akan mencengkeram sesuatu.


"Ini akan sedikit sakit, tahanlah..." Ren berbicara pada Rakuza yang sedang mengerang kesakitan.


"Kalian.... Jangan, sekali - kali, menggangguku.!"


Sebuah Aura merah darah keluar dari Tangan Ren, kemudian Ren menusukan tangannya pada Dada Rakuza. Pemandangan ini mungkin terlihat sedikit kejam, namun Ren tidak memiliki pilihan lain untuk melepas kutukan ini.


Ren dengan cepat menarik kembali tangannya, sebuah Kabut Ungu yang menyeramkan di genggam oleh tangan Ren. Kabut itu menggeliat - liat, seakan dia memiliki kesadaran sendiri.


"Ini... Minumlah."


Sebuah Botol Potion Ren munculkan entah darimana, kemudian dengan tangan yang lemah Rakuza menerima dan meminum Botol Potion itu. Kesakitan yang dia Rasakan kini telah menghilang, berkat potion itu pula, luka dari tusukan tangan Ren telah sepenuhnya sembuh.


Ren beranjak menjauhi Rakuza, dengan tangan masih mencengkeram Kabut Ungu itu, dia mengangkatnya ke arah langit. Lalu, dengan perlahan, Ren menguatkan cengkeramannya. Dengan Aura merah darah yang dia miliki, kabut itu hancur seketika, menjadi sebuah butiran - butiran ungu yang menghilang ke udara.


"He...Hahaha..."


Tiba - Tiba Ren tertawa, membuat Rakuza dan Kanza memiringkan kepala mereka. Namun, kata - kata Ren selanjutnya membuat mereka merinding....


"Siapapun kalian.. Jika kalian menantangku, akan kuhancurkan kalian." Sebuah kata - kata dingin yang diarahkan pada udara kosong. Meski begitu, Rakuza dan Kanza masih merasakan terror dalam kata - kata itu.


*


*


*


*


*


*


Dalam sebuah kamar yang diterangi oleh Cahaya lilin, seorang wanita bertubuh kecil terlihat. Yang mengerikan dari wanita ini adalah, dia sedang menggunakan beberapa sihir yang menakutkan, pada tubuh - tubuh manusia yang tak sadarkan diri di hadapannya.

__ADS_1


"Apa..? Sihirku hilang? Tidak mungkin, aku yakin dia telah mati, maka dari itu sihirku hilang..."


Wanita itu dengan percaya diri mengatakan hal itu. Dia tidak mengetahui, sebuah bencana sedang mengincar dirinya...


__ADS_2