
Armilein dibawa ke area hutan yang telah hancur dan membusuk. Tempat di mana hewan, tumbuhan, dan tanah, telah layu, lalu membusuk, dan kemudian mati. Sebuah pemandangan mengerikan yang mampu membuat Armilein terdiam dengan mulut terbuka.
"S-sangat mengerikan," lirih Armilein.
Orang biasa sudah pasti tidak akan mampu mendengarnya seberapa keras pun mereka mencoba untuk mendengarkan, namun suara yang sangat kecil itu masih mampu terdengar oleh Ren yang memiliki pendengaran tajam.
"Memang sangat mengerikan. Tapi mengapa kau begitu terkejut saat melihatnya? Kerusakan seperti ini biasa dilakukan oleh seseorang yang dapat menggunakan sihir tingkat divine."
Kerusakan hutan ini memang sangat mengerikan karena membuat tanah terkontaminasi yang akan menyulitkan pemulihannya di masa depan. Namun sebenarnya, jika dibandingkan seberapa dahsyat dampak kerusakan antara [Poisonous Meteor] dengan [Poison Field] maka hasilnya kemungkinan seri.
Hal itu disebabkan karena meteor yang menghantam permukaan tanah dapat membuat ledakan super dahsyat yang menghancurkan apapun di sekitarnya, dan [Poison Field] akan terus menyebar ke segala arah dan membusukkan apapun yang terkena olehnya.
Sulit untuk dikatakan mana yang lebih kuat dari kedua sihir itu karena masing-masing memiliki keunggulan dan kekurangan tersendiri. Meteor dengan kerusakan luar biasa, atau racun yang meluluhlantahkan kehidupan, keduanya merupakan sihir tingkat divine kelas penghancur.
"Mengapa diam, di mana sikap banyak bicaramu sebelumnya?" tanya Ren sekali lagi.
Armilein tanpa diduga menunduk malu oleh sikapnya sendiri. Reaksi terkejutnya yang besar tidak lain disebabkan oleh pertama kalinya dia melihat secara langsung dampak dari sihir tingkat divine yang dibicarakan oleh orang-orang.
Kekaisaran Agung Exousillia memang memiliki cukup banyak orang yang dapat menggunakan sihir tingkat divine, tapi eksistensi mereka jarang dibutuhkan karena tidak adanya pertempuran.
Armilein sendiri merupakan anak pertama dari dua keluarga bangsawan tertinggi di kekaisaran, yaitu Keluarga Bangsawan Nhi Ruvilla. Sebagai anak pertama dari keluarga terhormat, Armilein hidup dalam lingkungan mewah dan berpendidikan.
Meskipun Armilein mendapatkan pelajaran sihir dan pertempuran, tapi sekalipun dirinya belum pernah melihat apa itu pertempuran yang sesungguhnya. Bahkan kekejaman dunia luar tidak pernah dia rasakan karena perlindungan Keluarga Nhi Ruvilla yang hampir sempurna.
Akan tetapi, perlakuan khusus itulah yang menyebabkan Armilein merasa di atas angin dan mengetahui semuanya. Dia tidak pernah mengira bahwa sihir tingkat divine yang ada dalam buku, atau dibicarakan oleh orang-orang memang sangat mengerikan.
"T-tidak ada, aku hanya sedikit terkejut."
Armilein yang merasa dirinya istimewa kini bertekuk lutut merasa lemas. Keluarga Nhi Ruvilla yang selalu menjaganya dari kejahatan kini tidak ada, membuktikan bahwa seberapa kuatnya pun keluarga itu tetapi semua masih memiliki batas dalam kekuasaan.
__ADS_1
Kini Armilein seorang diri bersama seseorang yang telah dia provokasi. Walaupun orang itu membunuhnya dan Keluarga Nhi Ruvilla membalas dendam, maka setelah itu apa? Dia tidak akan hidup atau merasakan kehidupan yang sama lagi.
"T-Tuan Dirvaren."
Ren merespon panggilan Armilein dengan tatapan dingin yang tajam dan dipenuhi nafsu membunuh yang kuat. Membuat Armilein seketika bergetar hebat dan roboh di tempat dengan seluruh tubuh berkeringat dingin.
"Aku tidak pernah membiarkanmu memanggilku seperti itu. Gunakan rasa hormatmu yang paling tinggi!" perintah Ren tanpa ampun.
Armilein semakin merasa takut, apalagi sejak dilahirkan dirinya tidak pernah mendapatkan kata-kata bernada tinggi dan menekan. Jangankan orang lain, ayah dan ibunya tidak pernah memarahi Armilein.
"A-Aku mengerti ... Y-Yang ... Mulia."
Ungkapan itu keluar dari mulut Armilein dengan diliputi oleh perasaan yang sangat berat hati. Tidak heran saat memikirkan betapa Armilein menggunakan gelar "Yang Mulia" ini hanya kepada orang-orang terhormat. Memanggilnya demikian sama dengan Armilein menganggap Ren setara dengan sang kaisar atau Raja Esdagius.
Namun Ren yang memaksa Armilein malah tersenyum puas. Hatinya tak gentar meskipun berada di hadapan seorang gadis cantik yang sedang tidak berdaya.
"Bagus. Aku akan bertanya, berapa banyak orang di kekaisaran yang mampu menggunakan sihir tingkat divine?"
Akan tetapi, Armilein menganggapnya sebagai bentuk interogasi. Dia mengira Ren memerintahkannya untuk berkhianat kepada kekaisaran dengan maksud untuk menghancurkan kekaisaran dari dalam. Untuk itu, Armilein mendapatkan kembali tekadnya, dan dengan tubuh gemetar dia berusaha untuk berani.
"T-tidak, aku tidak akan pernah mengatakannya. Kau mungkin bisa membuatku menyerah kepadamu, tapi tidak mungkin bagiku untuk berkhianat!"
Ren terdiam.
Secara mengejutkan perempuan yang telah menyerah itu mendapatkan kembali keberanian setelah Ren menyinggung kekaisarannya. Apakah ini menandakan bahwa kesetiaan Armilein begitu besar melebihi harga dirinya sendiri?
Lupakan mengenai kepribadiannya yang bermasalah, kesetiaan terhadap sesuatu adalah sikap yang patut untuk dihargai. Penilaian buruk Ren mengenai Armilein kini mulai berkurang ke tahap yang lebih aman.
"Aku paham, maka aku hanya perlu membuktikan sesuatu."
__ADS_1
Ren mulai bergerak menuju satu tempat di Hutan Loudeas yang terdapat sebuah gunung yang cukup besar. Ketinggian gunung ini diperkirakan mencapai empat ribu meter dengan luas yang sulit diperkirakan.
Gunung ini adalah gunung pertama di mana Ren menebaskan Pedang Nuxuria untuk membunuh naga peliharaan Nidgor dan Reynalue di masa lalu. Garis besar yang berupa bekas sayatan masih sedikit terlihat dan memiliki bentuk horizontal seolah menggambarkan motif garis di gunung itu.
Namun sekarang bekas sayatan itu sudah tertutupi oleh pohon dan tanaman lain yang tumbuh dengan cepat. Mungkin peristiwa tumbuhnya tanaman dalam kurun waktu sebentar itu mustahil terjadi di Bumi, tapi di dunia lain ada energi berupa Mana yang membantu pertumbuhan tanaman beberapa kali lipat lebih cepat.
Setelah merasakan sedikit nostalgia, Ren meraih Inventory lalu mengambil pedang sihir biasa yang tentu tidak memiliki kemampuan istimewa yang berlebihan.
"Hei, apa kau melihat pedang biasa ini?"
Armilein menengadah dari menunduknya untuk melihat sebilah pedang yang berada di tangan Ren yang tergenggam. Bagaimanapun itu adalah pedang yang baik, ditempa dengan bagus dan memiliki kualitas yang berada di atas rata-rata.
"A-aku melihatnya ...."
"Karena kau tidak percaya perkataanku sebelumnya maka lihatlah ini dengan baik-baik. Jangan katakan alasan apapun lagi setelah kau melihatnya."
Ren menambahkan kekuatan yang besar ke dalam pedang itu. Meski pedang bergetar tak karuan karena energi yang tersimpan tidak mampu dia tampung sepenuhnya tetapi fakta tersebut tidak menghentikan dia yang terus menambah energi lagi dan lagi.
Dengan ancang-ancang yang kuat di udara, Ren menebaskan sepenuh hati pedangnya dengan gunung sebagai target. Seperti yang pernah dia lakukan dulu menggunakan Pedang Nuxuria, semacam garis cahaya muncul berbentuk bulan sabit yang melesat cepat menuju gunung.
Garis cahaya ini merupakan energi yang dilepaskan dari pedang dengan kekuatan penghancur yang sama saat ketika Ren menebaskan Pedang Nuxuria dengan biasa. Perbedaan kualitas pedang sangat jelas, yaitu Pedang Nuxuria hanya membutuhkan tebasan biasa untuk meninggalkan bekas seperti itu sementara pedang biasa membutuhkan energi tambahan yang besar untuk melakukannya.
Garis cahaya mengenai gunung lalu meledak dahsyat menghasilkan bekas sayatan raksasa yang seakan memotong gunung dalam garis berbentuk horizontal.
Armilein terperangah ketika melihatnya. Tidak ada alasan untuk menolak, semua itu terjadi dengan nyata dan tidak mungkin berbentuk ilusi semata. Orang ini ... tidak, pria ini benar-benar memiliki kekuatan luar biasa yang tidak dapat mereka bayangkan.
"K-Kau ... ter ... nyata, sekuat ini ...?"
Catatan Author :
__ADS_1
Ini pendek