Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Ch. 132 ~ Mengejutkan


__ADS_3

Malam telah berlalu menjadi pagi, Ren yang merasa sudah cukup beristirahat terbangun dari tidurnya. Saat membuka mata, Ren tidak menyadari keberadaan orang-orang disana karena tatapannya terpaku pada pada langit-langit ruang takhta.


Namun ketika kesadaran pikiran mulai dipulihkan, barulah Ren sadar keberadaan mereka yang sedang tertidur dalam posisinya masing-masing. Tidak ada satupun yang tidak hadir, mereka semua ada di ruang takhta, tertidur dengan pulas.


Sesaat pikiran Ren terdiam karena suasana ini sangat tidak terduga, tetapi dengan segera dia mulai berpikir kembali dan membuat sebuah pertanyaan dalam hati.


"Apa yang mereka lakukan disini?"


Rusava dan Raytsa sedang berlutut dengan mata tertutup, itu artinya mereka berdua sedang tertidur sambil berlutut tanpa bergerak sedikitpun.


Bergerak ke arah kiri, Ren melihat Kina yang tertidur di atas paha Rakuza yang sedang menyandar pada dinding sambil tertidur pula.


Ren lalu menggerakan mata ke arah kanan dimana disana terdapat Arystina dan Nirlayn yang sedang tertidur sambil saling menyandar satu sama lain.


Terakhir perhatian Ren ditarik pada sosok Avrogan dan Indacrus yang tertidur tepat di depan pintu seraya saling berhadapan seolah mereka adalah patung penjaga.


Melihat mereka yang tertidur lelap membuat Ren merasa tidak tega, kemudian dirinya mengendalikan mana supaya suasana terasa cocok dengan mengatur suhu udara agar mereka bisa tidur dengan suasana yang lebih nyaman daripada sekarang.


Setelah itu tidak ada yang bisa dilakukan kecuali menunggu mereka semua terbangun dan mendengarkan keinginan mereka satu per satu.


"Ah, setelah ini aku ingin membuka ruang harta untuk melihat apa yang ada di dalamnya."


Ren menunggu dan terus menunggu sampai hari tidak terasa kembali memasuki sore. Dia mendapati sebuah fakta bahwa sihir yang diberikan berdampak terlalu besar hingga membuat mereka tertidur dengan sangat lelap.


Meskipun dengan berat hati, Ren tidak memiliki pilihan lain selain membatalkan sihirnya yang merubah suasana seperti keadaan semula.


Waktu yang terbuang memaksa pula Ren untuk menjentikkan jari lalu memperhalus frekuensi suara dan mengirimkan frekuensi yang dihaluskan itu dengan maksud untuk membangunkan mereka semua.


Mereka membuka mata secara bergiliran, dan akhirnya terdiam karena merasa heran dengan cahaya matahari yang berwarna kuning pertanda bahwa hari sudah memasuki sore.


Ren sendiri sudah cukup penasaran apa yang ingin mereka katakan sehingga tanpa membuang waktu lebih lama, diapun bertanya, "Apa keputusan kalian?"


Mereka mengalihkan pandangan pada sosok Ren yang berada di atas singgasana. Sadar bahwa mereka berada di posisi yang kurang pantas, mereka pun mulai berbaris rapi dan berlutut di samping Rusava dan Raytsa.


Ketika semua telah berada dalam posisi siap, Ren mengarahkan jari telunjuk untuk menunjuk Rakuza yang berada di barisan paling kiri.


"Apa keputusanmu, Rakuza?"


Rakuza mengangkat kepala, dan mengutarakan keputusannya secara jujur. "Tuan, saya tetap akan mengikuti Anda sesuai dengan janji saya sebelumnya." (Rakuza)


Ren mengangguk kepada Rakuza, karena seperti yang diketahui bahwa Rakuza memang memiliki janji kepadanya. Rakuza juga berasal dari bumi sehingga dia tidak mungkin mempermasalahkan kebenaran itu.


Setelah mengutarakan keputusan, Rakuza melirik pada Kina yang tentu disadari oleh Kina itu sendiri. Rakuza seolah mengisyratkan agar Kina segera mengatakan sesuatu, dan Ren menyadari hal itu.


"Eh? S-saya juga akan mengikuti Anda, ehm ... Tuan? Yang Mulia?" (Kina)


Ren termenung dan berpikir kalau sebenarnya dia tidak memiliki alasan untuk mengangkat Kina sebagai bawahan, akan tetapi karena itu adalah keputusan yang Kina buat sendiri maka dia tidak akan menolaknya.


Sekali lagi Ren mengangguk, dan sedikit memberi saran dengan berkata, "Jangan terlalu gugup, kau boleh memanggilku dengan sebutan apapun asalkan itu tidak menghinaku."


Pandangan Ren kini beralih pada Rusava yang mulai berbicara dengan kepala menunduk dan menatap pada lantai.


"Kemarin saya sempat merasa sedikit kecewa, Yang Mulia. Namun kekecewaan itu seketika hilang ketika saya mengingat bahwa Anda adalah orang yang membangkitkan kami berdua." (Rusava)


"Ya, memang benar Anda dulunya adalah seorang manusia. Namun saat ini, Anda adalah seorang Blood Devil yang telah memberikan kami kesempatan lagi. Jika Anda percaya pada takdir, maka saya yakin bahwa takdir Anda tidak sesederhana itu hingga bisa dikatakan sebagai kebetulan." (Raytsa)


Atas ucapan mereka berdua, ekspresi Ren yang serius sedikit mengendur dan kembali menjadi biasa. Helaan napas panjang dapat terdengar sebagai bukti bahwa dia merasa lega untuk sementara.


Akan tetapi, ada satu hal yang perlu dilakukan oleh Ren demi menghindari bencana di masa depan, yaitu memastikan keputusan mereka sekali lagi.


"Rusava, Raytsa ...."


Ren menyebut mereka berdua lalu melanjutkan kembali perkataannya.


"Apakah kalian berbicara seperti ini adalah karena adanya kontrak terikat antara aku dan kalian? Jika memang demikian, kalian sebaiknya berkata jujur dan aku akan melepaskan kontrak tersebut."


Rusava dan Raytsa menatap dengan haru kepada Ren, kemudian mereka berdua menggelengkan kepala dengan bersungguh-sungguh.


"Tidak, tidak, tidak, ini memang keputusan kami berdua, Yang Mulia," ucap Rusava dengan tegas.


"Jangan menganggap remeh kesetiaan saya, Yang Mulia. Saya hanya mengikuti orang yang pantas diikuti." (Raytsa)


"Yah, baiklah."


Bagaimanapun, Ren cukup terkejut ketika mereka berdua memaafkan kebohongannya dengan cukup mudah. Hal itu cukup aneh karena kebohongan Ren terbilang cukup parah dan sulit untuk dimaafkan. Namun karena ini adalah hasil yang memuaskan, Ren akan menerimanya dengan senang hati.


Ren kemudian bergegas untuk mengalihkan perhatiannya pada bawahan yang tersisa. Hal ini dia lakukan agar kelegaan dan kesenangan yang kini dirasakan tidak bocor kemana-mana.


Dan tibalah saat dimana Ren harus bertanya pada satu orang terakhir yang dia khawatirkan akan sangat kecewa.


"Berbicaralah dengan jujur, Arystina."


Arystina mengangkat kepala, tanpa diduga dirinya tersenyum tenang seolah merasa bahagia oleh sesuatu.


"Bagaimanapun kebenarannya, Anda akan tetap menjadi "Yang Mulia" di hati saya." (Arystina)


Mendengar itu, semua orang termasuk Ren sendiri menatap terkejut pada Arystina. Apakah ada yang menyangka kata-kata seperti itu keluar dari mulut Arystina? Tidak ada.


"Ehm, tidak baik untuk terlalu terang-terangan, Arystina." Nirlayn berbisik dan menatap pada Arystina menggunakan sudut matanya.


Situasi mulai mengarah pada suasana yang aneh dan tidak mengenakan. Untuk itu, Ren memutuskan dengan segera melanjutkan topik awal dimana ia akan bertanya pada tiga orang yang tersisa.


"Nirlayn?"


Orang yang telah mengetahui semua ini lebih dulu, dan orang yang pertama menjadi bawahan Ren, dialah Nirlayn. Sulit untuk mengatakan bahwa Nirlayn akan membuat keputusan yang berada di luar ekspektasi.


"Tidak diragukan lagi, Ren-sama. Saya akan bertindak seperti biasa, dan berusaha berguna untuk Anda."


Tanggapan Ren cukup biasa dengan ekpresi dingin dan tenang miliknya. Mungkin ini terlihat seperti membeda-bedakan dalam hal perlakuan tetapi sebenarnya tidak demikian.

__ADS_1


Ren sudah menduga dengan kemungkinan sebesar 90% bahwa Nirlayn akan tetap mengikutinya. Banyak alasan yang mendukung kemungkinan ini tapi akan terlalu panjang jika dijelaskan.


Matahari mulai berubah warna kembali, dari yang awalnya kuning pertanda sore menjadi kuning kemerahan pertanda hari akan memasuki malam. Hal itu merupakan alasan kuat agar Ren tidak membuang-buang waktu lagi.


"Bagaimana dengan kalian, Avrogan? Indacrus?"


"Ah, selama Anda kuat dan bukan seseorang yang buruk, kami berdua akan tetap mengikuti Anda karena berkhianat akan membuat kami mati, benar 'kan Indacrus?"(Avrogan)


"Bicaramu seolah kau tidak ingin melayani Tuan lebih lama lagi. Tapi yah, itu benar kita berdua akan tetap melayani Anda, Tuan."


Mendengar perkataan mereka satu per satu membuat hati Ren dipenuhi oleh kegembiraan dan ketenangan yang telah dia harapkan. Dengan ini, Ren tidak harus kehilangan para bawahan yang sangat berharga seperti mereka semua.


Tanpa sadar, Ren menyandarkan kepala pada singgasana lalu menutup sebagian kepala dengan telapak tangan miliknya. Lalu, Ren mulai tertawa bebas seolah semua beban di angkat dari pundaknya.


"Hahaha, terima kasih."


Apakah Ren pernah berterima kasih? Dia sendiri tidak begitu ingat. Satu hal pasti bahwa rasa terima kasih ini murni muncul dari dalam lubuk hatinya yang terdalam tanpa sedikitpun terkandung kebohongan.


"Apa kalian menginginkan sesuatu?"


Ren berjanji dalam hati, selama dia mampu, dan mereka meminta sesuatu yang tidak merugikan, maka apapun itu akan diberikan olehnya.


Namun tampaknya perkataan Ren tidak tersampaikan dengan baik. Hal itu dibuktikan oleh sikap mereka yang terlihat sedikit bingung dan diam tak bersuara, kecuali untuk satu orang yang langsung paham dengan perkataannya.


"Jika boleh Yang Mulia, saya ingin melakukan penelitian sihir dengan lebih serius. Saya akan terus-menerus mengembangkan sihir ciptaan Anda dengan harapan suatu saat nanti dapat mencapai harapan terbesar saya."


Raytsa telah mengembangkan Sihir Pesan milik Ren dengan sangat baik. Dia meneliti dan membuat efek baru dimana Sihir Pesan mampu menyimpan perintah suara agar kemudian dapat disampaikan pada penerimanya.


Dengan efek yang baru ini, mengirimkan sebuah pesan dan perintah akan menjadi lebih mudah dipahami oleh sang penerima.


Tidak ada kerugian, malah terkandung banyak keuntungan. Siapa yang akan menolak permintaan yang menguntungkan kedua belah pihak semacam ini?


"Di bagian belakang istana, ada sebuah ruangan yang masih kosong dan tidak terpakai. Seluruh dinding dan lantainya dibuat dari bahan berkualitas yang tidak akan hancur oleh serangan sihir tingkat tinggi. Kau boleh memakainya untuk melakukan penelitian."


Satu ruangan tidak terpakai akan membuat berbagai macam terobosan baru yang menguntungkan. Ren benar-benar tidak akan merasa menyesal dengan keputusannya.


"Dimengerti, saya sungguh sangat berterima kasih, Yang Mulia."


Raytsa merasa sangat bahagia, tetapi kebahagiaan itu tidak ditampakan agar tidak merusak suasana yang ada di sekitarnya. Berbeda dengan orang lain yang tidak sadar akan kebahagiaan Raytsa, Rusava telah mengetahuinya dan tersenyum kepada Raytsa.


"Lalu, siapa lagi?"


Kali ini ada Rakuza yang mengangkat tangan untuk mengatakan keinginan. "Tuan, saya meminta izin untuk membangun sebuah hunian di luar istana ini untuk Kina tinggal di dalamnya. Saya juga berharap agar Anda tidak memerintahkan Kina melaksanakan misi berbahaya di masa depan, dan biarkan saya yang menanggung hal itu."


Permintaan Rakuza menarik Ren agar tersenyum tipis ke arahnya. Bagaimanapun, Ren sudah menganggap Rakuza sebagai seseorang yang berada di bawah asuhannya sehingga pada saat Rakuza bahagia, dirinya sendiri ikut bahagia.


"Kalau begitu, mengapa kalian berdua tidak menikah saja?"


"A-ap ...?!"


Kina seketika pingsan dengan muka yang memerah, sedangkan Rakuza terdiam dengan muka yang lebih merah lagi. Rakuza tidak berbicara karena malu, dan Ren menganggap bahwa itu merupakan persetujuan.


Ren cukup senang telah menggoda mereka berdua. Hampir saja dia tertawa lepas ketika melihat Kina pingsan dan Rakuza mengeluarkan ekspresi unik semacam itu.


Namun sekali lagi, Ren tidak perlu membuang waktu lebih lama lagi. Sekali lagi, Ren berkata untuk menegaskan agar mereka semua mengeluarkan permintaan kepadanya.


"Siapa lagi? Katakanlah, tidak perlu menahan diri."


Rusava dengan mata tertunduk dan tangan yang terangkat secara perlahan mulai berkata, "Saya, Yang Mulia."


"Apa keinginanmu? Aku akan memenuhinya selama aku mampu."


"Berlatih ... saya ingin berlatih dengan Anda."


Berlatih?


Tidak hanya Ren, orang lain pun menganggap permintaan Rusava terlalu sepele dan aneh. Namun sebaliknya, Rusava menganggap bahwa permintaan ini sangat berharga.


"Sederhana sekali, tapi aku akan memenuhinya. Sesekali aku memang perlu melatih diri, dan beruntung mulai saat ini aku memilikimu untuk dijadikan lawan tanding."


Ren yang mengatakannya dengan senyum menakutkan membuat semua orang kecuali Rusava merinding ketakutan. Bagaimana tidak, mereka sudah mampu membayangkan betapa mengerikannya latih tanding yang dibicarakan oleh Ren.


"Tidak perlu menahan diri dalam permintaanmu. Bagaimana dengan satu hari sekali jika luang?"


Rusava sumringah lantas menyetujuinya. "Sepakat, Yang Mulia."


"Ada apa dengan dua orang yang terlihat sangat ingin bertarung ini?" Itulah yang semua orang pikirkan tanpa terkecuali.


Mengetahui bahwa kesepakatan telah tercapai, dan matahari mulai terbenam, Ren bermaksud untuk menyudahi semua ini dengan mendengarkan keempat permintaan sekaligus.


"Nirlayn, Arystina, Avrogan, dan Indacrus, katakan keinginan kalian secara bergantian."


Nirlayn sedikit bergerak ke depan dengan tujuan agar Ren lebih mudah memahami apa yang saat ini dia inginkan. Setelah melakukan perenungan sesaat, Nirlayn kemudian membuat Blood Sword miliknya yang meniru pedang pemberian Ren dulu.


"Ren-sama, saya sungguh menyesal. Menyesal karena tidak bisa melindungi Anda di barisan paling depan. Kenyataannya, saya selalu dan hanya bisa melihat Anda dari belakang tanpa melakukan sesuatu."


Nirlayn mengusap bilah Blood Sword dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. Perasaan sedih yang dia rasakan merupakan dampak dari hal yang dia inginkan.


Ren melihat itu dengan heran sekaligus bingung, mengapa Nirlayn bersedih? Bukankah dia tidak pernah sekalipun protes terhadap Nirlayn karena hanya melihat dari belakang?


"Ada apa Nirlayn, apakah kau terganggu oleh sesuatu?"


"Ya, saya merasa terganggu dan berusaha untuk menghilangkan penyebabnya, Ren-sama."


"Penyebab? Siapa yang membuatmu merasa terganggu? Biarkan aku yang mengatas- ..."


"Bukan seperti itu, Ren-sama. Saya hanya berpikir bahwa ... daripada melindungi Anda dari depan yang tak mampu dilakukan, lebih baik saya mendukung Anda dari belakang yang terasa lebih dapat dilakukan."


Otak Ren sedikit dibuat berputar oleh perkataan Nirlayn yang kurang jelas bagi dirinya. Namun itu semua diungkapkan dengan terang-terangan oleh Nirlayn di hadapan semua orang.

__ADS_1


Nirlayn secara perlahan membuat retak Blood Sword yang dia genggam, lalu setelahnya menciptakan sebuah senjata yang berspesialisasi dari jarak jauh, yaitu Busur.


"Saya terganggu dengan ketidak bergunaan, maka dari itu mulai sekarang saya akan benar-benar merubah gaya bertarung dengan menggunakan senjata ini, Ren-sama."


Nirlayn mengangkat busur sederhana yang dia buat dengan membawa tatapan penuh tekad dan keyakinan. Walaupun sebenarnya dia tahu, berganti senjata memiliki arti bahwa dia harus memulai semuanya dari awal.


"Nirlayn, kau yakin dengan itu?" tanya Ren berusaha meyakinkan.


"Saya telah memikirkan ini sejak lama, dan inilah keputusan yang saya buat."


"Hem ..."Ren menghirup napas dalam-dalam. "Baiklah, tetapi itu bukan sebuah permintaan yang aku inginkan. Katakan permintaanmu, dan ini tidak bisa ditolak."


"Uh." Nirlayn tertegun sesaat karena tidak menyangka dirinya masih akan diminta untuk mengutarakan keinginan lagi. "Kalau begitu, dengan terpaksa saya ingin diperlihatkan sebuah busur yang berkualitas agar nantinya dapat saya tiru, Ren-sama."


"Kau tidak perlu menunggu nanti," ucap Ren dalam benaknya.


Selama Ren mampu memenuhinya saat itu juga, maka akan dia lakukan tanpa menunggu lama. Itulah janji yang baru saja dia buat dalam hati.


Ren membuka portal inventory, dimana dia berusaha mencari-cari semua busur yang berkualitas dan memiliki kecocokan dengan Nirlayn yang seorang wanita.


Selang beberapa menit, Ren akhirnya menemukan satu Busur yang cocok dengan semua hal yang ada dalam diri Nirlayn. Busur ini memiliki julukan yang tidak dianjurkan Ras Dragon mendengarnya.


Jika dalam game, maka tampilan informasi secara singkat mengenai Busur yang diberikan oleh Ren akan menjadi seperti ini.


_________________________________


Name : Twin Dragon Bows


Rank : A > S


Title : Dragon's Natural Enemy


Type : Recurve Bow


__________________________________


Hal yang unik adalah keberadaan secarik kertas yang digulungkan dan menempel pada busur yang diberikan. Nirlayn sedikit bingung dengan keberadaan kertas ini dan berusaha menanyakan apa isinya, tetapi dengan santai Ren mengatakan.


"Simpan dan baca itu nanti." Ren menggerakan mata untuk kemudian mengarah pada Avrogan dan Indacrus. "Apa yang kalian berdua inginkan?"


"Dengan segala hormat, Tuan. Saya ingin memohon kepada Anda, agar memberikan berkah darah seperti Avrogan." (Indacrus)


"[Blood Servant], izinkan saya untuk segera membangun pasukan ini, Tuan." (Avrogan)


Sesaat setelah mendengar permintaan keduanya, Ren berdiri tiba-tiba yang membuat heran semuanya. Ren lantas mengambil secarik kertas putih dari inventory lalu menuliskan sesuatu menggunakan mana di atasnya.


"Kalian semua melihatnya?"


Mereka mengangguk.


"Mulai sekarang kita akan menggunakan kertas bertuliskan nama dan sampel darahku sebagai surat izin untuk melakukan suatu hal di antara kita semua."


Surat izin pertama yang dipegang oleh Ren tentu berisi tentang perizininan kepada Avrogan untuk merekrut [Beast Servant] dan membuat pasukan [Blood Servant]. Disitu pula tertulis syarat-syarat agar surat izin ini berlaku dan tidak disalah-gunakan.


Meskipun ada sebagian yang mengerti dan ada sebagian yang tidak, Ren dengan tekun menjelaskan serinci dan semudah mungkin untuk dipahami. Penjelasan terus berlanjut sampai ketika mereka semua ditanya apakah sudah benar-benar paham, dan dikonfirmasi bahwa mereka sudah mengangguk paham.


Namun begitu Ren ingin memberikan surat itu kepada Avrogan, seketika dirinya terdiam sambil sedikit kebingungan.


"Bagaimana aku harus memberikan surat ini padamu?" tanya Ren sambil berpikir tepat dihadapan Avrogan.


"Saya bisa membawanya di mulut, Tuan." Avrogan dengan semangat membuka mulut yang berisi air liur yang menjijikannya.


"Jangan bodoh, mana mungkin surat penting semacam ini terkena air liur itu?" Ren kemudian berpikir dan berpikir untuk menemukan solusi yang baik.


Sampai ketika, Ren mengingat bahwa hampir semua masalah bisa diselesaikan menggunakan mana. Oleh karena itu, Ren berinisiatif melatih Avrogan untuk menggunakan mananya dengan baik.


"Raytsa, kemarilah."


Raytsa menghampiri tanpa membuat Ren menunggu. Surat izin pembentukan [Blood Servant] pun diserahkan kepada Raytsa.


"Sepertinya kita harus membuat semacam kantong untuk ditempelkan di tubuhmu, Avrogan. Lalu, kau harus belajar mengendalikan mana agar bisa menggapai surat yang nantinya akan diletakkan dalam kantong tersebut. Sampai ketika itu tiba, aku dengan berat hati menyatakan bahwa kau belum bisa membentuk [Blood Servant] itu, dan suratnya sendiri akan di pegang oleh Raytsa."


Penjelasan panjang lebar Ren sukses membuat Avrogan melotot dengan kecewa, dan sanggup membuatnya berteriak dalam hati. "Mengapa dunia tidak adil padaku!!!!"


Tidak peduli dengan penderitaan Avrogan karena tidak ada yang bisa dilakukan, maka Ren beralih menghampiri sosok Indacrus. Berdiri di hadapannya, Ren lantas menggigit ibu jari lalu meneteskan darah yang keluar tepat di atas kepala Indacrus.


Indacrus mengalami perubahan yang sama dengan Avrogan, tetapi dia tidak melihat suatu kejadian aneh dalam pikirannya.


Ren merasa semua permintaan telah diterima, karena itu dirinya berjalan membelakangi mereka semua untuk menuju pintu ruang takhta. Namun ketika dia ingin mengucapkan sesuatu, tiba-tiba sosok Arystina muncul dalam benaknya.


"Eh, dia belum meminta sesuatu 'kan?"


Dengan perasaan berdosa, Ren dengan segera kembali untuk menemui dan mendengar keinginan Arystina. Akan tetapi, semua telah terlambat karena Arystina sendiri sedang duduk menghadap dinding di pojok ruangan seraya mengatakan.


"Aku dilupakan, aku dilupakan ...."


Ren segera menghampirinya dan meminta maaf untuk kemudian bertanya apa yang Arystina inginkan. Seperti yang diketahui, Arystina sangat mudah memaafkan dan tanpa merasa tersinggung sedikitpun mengutarakan permintaannya.


"Saya ingin ..."


Itu lebih terdengar seperti bisikan daripada perkataan. Semua orang lantas merasa penasaran dengan permintaan Arystina, tetapi karena Arystina sendiri yang meminta agar Ren merahasiakannya, maka Ren menutup mulut dengan rapat-rapat.


Ren berjalan dengan perlahan meninggalkan mereka. Sambil melambaikan tangan, Ren berbicara dengan lantang, "Temui aku di ruanganku kalau kalian membutuhkan sesuatu. Oh benar, hal itu juga berlaku setelah dua jam berlalu."


_____________________


• Saya membutuhkan kehadiran kalian disini. Untuk membangkitkan kekuatan tersembunyi yang ada dalam diri sehingga saya mampu melakukan update yang lebih banyak lagi. Terima kasih. :v


• Sebentar, sepertinya judul ch. ini tidak sesuai dengan isi?

__ADS_1


__ADS_2