Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 30 : Ksatria Aulzania dan Kesepakatan


__ADS_3

Ren dan Nirlayn saat ini sedang menuju Rumah dimana Kakak Rin-Yu berada.


Diperjalanan, Ren kesulitan untuk bergerak dengan bebas. Para Prajurit dari Duke Tayslen berpatroli diseluruh Kota untuk mencari keberadaan Ren.


Karena suatu alasan, Ren tidak bisa membuat masalah yang lebih besar kali ini.


Pemakaman Rin-Yu yang harus segera dilakukan juga merupakan salah satu alasan itu.


'Aku penasaran, mengapa Nirlayn terus tersenyum?'


Ren bergumam dalam hatinya, sejak Ren dan Nirlayn meninggalkan Inventory.


Perubahan sikap Nirlayn jelas terlihat, seperti suasana hatinya sedang sangat baik.


Bahkan selama perjalanan, Nirlayn terus tersenyum dengan menawan. Membuat beberapa orang yang melihatnya terpesona.


Terkadang Ren merasakan tatapan iri yang menusuk dari para pria yang terpesona oleh Nirlayn. Ren memang masih menyamar, hanya saja Rambut Ren berubah menjadi putih. Wajah Ren masih terlihat jelek, sebagaimana gelandangan pada umumnya. Mungkin ini alasan mengapa para pria menatap Ren dengan tatapan menusuk.


"Sstt... Nirlayn, bisakah kau hentikan senyumanmu itu?" Ren berbisik sambil terus berjalan.


"Tidak bisa, Ren-sama. Senyum ini diluar kendali saya."


Mendengar jawaban Nirlayn, membuat Ren memasang Ekspresi Rumit.


"Apakah begitu? Jika begitu, lakukan sesukamu saja." Ren memutuskan untuk tak mempedulikan hal ini lagi.


'Hee... Ren-sama memang baik hati.' Nirlayn bergumam pelan.


"Ada apa Nirlayn? aku kenapa?"


"Tidak ada apa - apa Ren-sama. Sebaiknya kita bergegas, para prajurit itu sebentar lagi akan tiba."


"Umu..Kalau begitu, ayo bergegas."


*


*


*


*


*


Ren akhirnya tiba di pemukiman tempat kakak Rin-yu berada.


Ren menghampiri sebuah Rumah sederhana, keadaannya sedikit memprihatinkan. Rumah ini terletak tidak jauh dari sebuah Toko pandai besi kecil.


'Jika aku tidak salah, Rin-yu mengatakan bahwa rumah yang tak jauh dari pandai besi dan memiliki lahan kebun kecil di depannya adalah rumah nya bukan?'


Tok Tok Tok


Tok Tok Tok


Ren mengetuk pintu rumah tersebut, tapi tidak ada jawaban sama sekali dari dalam.


"Ren-sama, mungkin dia sedang keluar?"


"Bisa jadi, sebaiknya kita tunggu terlebih dahulu disini."


Beberapa saat kemudian, seorang Nenek tua menghampiri Ren dan Nirlayn yang sedang menunggu.


"Anak muda, kalian sedang mencari siapa?" Nenek itu bertanya.


"Kami sedang mencari pemilik rumah ini, apakah nenek tahu kemana perginya?" Ren menjawab dengan menanyakan keberadaan kakak Rin-Yu.


Raut wajah Nenek itu berubah dengan seketika. Rasa kesepian dan kesedihan terlihat disana.


"Apakah Maksudmu Rin-Yu dan Lin-Ya anak muda?"


"Um... Itu benar. Aku sedang mencari Lin-Ya." Ren mengangguk.


"Haa..... Kedua anak itu ditangkap oleh Putri Duke, Nona Gyslen beberapa hari yang lalu. Mereka adalah anak yang baik, tapi mereka menyinggung keluarga bangsawan. Betapa tidak beruntung nya mereka."


Raut wajah Ren berubah seketika.


'Kurang ajar, bahkan dia menangkap kakak Rin-Yu' Ren mengutuk dalam hatinya.


"Ada apa anak muda, wajahmu terlihat sedang terganggu oleh sesuatu?" Nenek itu bertanya dengan khawatir.


"Ah.. Hahaha, Tidak apa - apa Nek. Terima kasih informasi nya. Kalau begitu saya pulang dulu ya Nek." Ren mencoba menutupi ekspresi nya.


"Begitu... Hati - hati anak muda."

__ADS_1


Ren beranjak pergi bersama Nirlayn meninggalkan Nenek itu seorang diri.


"Nirlayn, ikuti aku. Kita akan pergi ke kediaman Duke saat ini juga." Ren berkata dengan tajam.


"Apa yang akan kita lakukan Ren-sama?"


"Kita lihat saja nanti..."


Nirlayn yang mendengar perkataan Ren, memasang ekspresi Rumit diwajahnya.


*


*


*


*


*


*


*


Di Depan Kediaman Duke Tayslen, kini sedang terjadi keributan.


Alasan nya karena Ren dan Nirlayn yang sedang dicari - cari kini menampakan diri dengan sendirinya. Para Prajurit sedang mengepung Ren dan Nirlayn yang memaksa untuk masuk ke kediaman Duke Tayslen.


"Katakan pada Pria tua Tayslen itu, aku menunggu nya disini." Ren berkata dengan sikap yang menantang.


Para Prajurit tidak mendengarkan Ren sedikitpun. Mereka hanya terus mengelilingi Ren agar tidak kabur. Tapi tidak ada seorang pun dari mereka yang berani menyerang terlebih dahulu.


"Minggir....!" Suara pria paruh baya terdengar dari belakang prajurit yang mengelilingi Ren.


"Bocah terkutuk, akhirnya kau menampakan dirimu sendiri hah?!" Duke Tayslen muncul dengan Wajah penuh amarah.


"Jika aku disini lalu apa? kau bisa apa? membunuhku?"


"Jangan sombong dulu kau bocah! kali ini akan menjadi akhir bagimu!"


"Hahaha...Katakan padaku, bagaimana caranya kau mengakhiri diriku?" Ren tertawa sombong.


"Grrrggg..... Akan kupastikan kau tidak akan tertawa lagi setelah melihat ini bocah! Mereka adalah yang akan mengakhiri hidupmu, Para Ksatria Aulzania.!"


Prajurit yang mengelilingi Ren mulai memisahkan diri satu sama lain.


Dari ujung jalan ini, beberapa Ksatria yang memakai Zirah putih keemasan berjalan menuju pada Ren.


Para Prajurit yang memberikan jalan khusus pada para Ksatria ini menunjukan bahwa kedudukan mereka istimewa dikerajaan ini.


Para Ksatria itu berhenti tepat di samping Duke Tayslen.


"Apakah kau sekarang ketakutan, Bocah?!" Duke tayslen tersenyum penuh kemenangan.


"Jadi, ini Ksatria Aulzania yang terkenal itu?" Ren masih berbicara dengan santai.


Nirlayn yang selalu menyimak pada akhirnya memegang baju Ren dan Berbisik.


"Ren-sama, mereka semua. cukup kuat."


"Huh? Kau benar Nirlayn, Tapi kau tidak perlu khawatir..." Ren membalas bisikan Nirlayn.


Melihat sikap Ren yang mengabaikan mereka, para Ksatria itu terlihat marah.


"Oii... Nak, kau ada dihadapan kami, tapi kau masih berani mengabaikan kami?!"


Seorang pria yang terlihat kekar dan membawa kapak dipunggung nya marah dan protes. Mereka adalah Ksatria Aulzania yang disegani, maka dari itu harga diri mereka juga tinggi. Melihat Ren yang mengabaikan keberadaan mereka membuat harga diri mereka seakan direndahkan.


"Duke Tayslen, kau yakin pria lusuh ini adalah orang yang memberi kutukan pada putrimu?"


Seorang Ksatria pria muda yang membawa Tombak di punggung nya bertanya pada Duke.


"Tidak salah lagi! malam itu memang gelap, namun aku tidak akan pernah salah pada orang yang telah melakukan hal kejam pada putriku!"


"Kejam katamu.....? Hahahahah....!" Ren tertawa dengan keras.


"Apa yang kulakukan hanya membalas perbuatan Kecoak itu, apakah salah bagiku untuk menginginkan keadilan?" Ren mengepalkan tangan.


"Keadilan apany-"


"Sstt... Duke tayslen, tolong diam dulu."


Pria yang memimpin para Ksatria Aulzania, mengenakan Zirah yang berbeda diantara yang lain. Simbol Singa Bersayap terlihat di bahu lengan Zirah nya.

__ADS_1


"Ada apa Derrian?!" Duke kesal, perkataannya dipotong oleh orang yang bernama Derrian.


"Mari kita dengar penjelasan dia terlebih dahulu, soal menginginkan keadilan. Hey Nak, apa yang kau maksud menegakan keadilan?" Derrian bertanya.


"Hou? Sepertinya Tuan Ksatria lebih pintar dari kau, Pria Tua." Ren mencibir.


"Ap-?!" Duke ingin berteriak lagi, namun di tahan oleh seorang Derrian.


"Boleh aku tau terlebih dahulu siapa anda, Tuan Ksatria?" Ren bertanya dengan Nada sopan.


"Hm? Aku adalah Derrian, seorang yang mengatur Ksatria Aulzania setelah Raja." Derrian memperkenalkan diri.


"Wahhh.... Sebuah penghormatan bagiku untuk dapat bertemu langsung dengan orang yang memimpin Ksatria Aulzania yang terkenal." Ren membungkuk ala bangsawan.


"??? Sudahlah.... tidak usah bersikap begitu dihadapanku. Cepat jelaskan apa yang kau maksud dengan keadilan?"


"Darimana aku harus menjelaskannya ya???" Ren terlihat sedang mempermainkan para Ksatria.


Sikap Ren yang seenaknya membuat para Ksatria Aulzania lainnya marah.


"Kurang ajar! beraninya kau mempermainkan ketua?!"


"Sepertinya Bocah ini menginginkan kematian! mempermainkan kami sama dengan mempermainkan Raja!"


"Biarkan aku sendiri yang mengambil kepala dia." Seorang Pria yang mengenakan pedang sebagai senjata nya berjalan menuju Ren. Berniat untuk menebas kepala dan membunuh Ren.


"Tunggu...." Derrian menghentikan dirinya.


"Ada apa Ketua? dia sudah mempermainkan kita!" Pria itu kesal.


"Biarkan dia berbicara terlebih dahulu, jika dia berbohong atau mempermainkan kita lebih jauh. Aku sendiri yang akan turun tangan." Derrian berkata dengan penuh kerpercayaan diri.


"Gezz..... Baiklah ketua." Pria itu mengalah dan berjalan mundur kembali.


"Ya ampun, Baiklah aku akan segera memberikan penjelasan. Pertama, bukan aku yang menanamkan sihir kutukan itu pada putri Pria tua ini, melainkan Nirlayn."


Ren menunjuk Nirlayn yang berdiri si samping nya. Tentu perkataan ini membuat Nirlayn terkejut dan kebingungan. Tapi Ren tidak mempedulikan hal ini, Ren hanya melanjutkan penjelasan nya.


"Kedua, aku yang memerintahkan Nirlayn. Meski aku lebih lemah dari Nirlayn, tapi karena suatu hal Nirlayn harus mematuhi segala perintahku."


"Ketiga, aku melakukan hal ini karena wanita itu selalu menindas para orang lemah. Aku juga termasuk salah satu korbannya. Kalian tahu? pada saat malam penangkapan Vampire aku dijadikan umpan oleh dirinya. Nirlayn tidak ada pada saat itu."


"Keempat, Meski beberapa orang lainnya adalah orang yang sudah kehilangan kewarasan, namun aku dan temanku masih memiliki akal sehat. Bahkan temanku terbunuh disana."


"Kelima, Kakak perempuan temanku yang terbunuh. Ditangkap Putri Pria tua ini dan belum pulang sampai sekarang."


"Itu semua yang kumaksud dengan menginginkan keadilan." Ren mengakhiri penjelasan.


Setelah semua penjelasan yang Ren berikan, wajah Duke Tayslen menjadi pucat dan berkeringat.


"T-Tidak mungkin! Putriku adalah seorang Ksatria Aulzania! dia menjunjung tinggi keadilan!" Duke terlihat mencoba menutupi sesuatu.


"Duke Tayslen, apakah yang dikatakan oleh dia merupakan kebenaran?" Derrian berkata dengan tajam.


"Mana mungkin! dia hanya berbual! Putriku adalah orang yang baik!"


"Baiklah, Hei Nak. Siapa Namamu.?" Derrian bertanya pada Ren.


"Namaku? Ren S. Alvian, itulah Nama yang aku miliki." Ren berbicara dengan tersenyum.


"Kalau begitu, Ren, Duke Tayslen dan kau perempuan di sebelah Ren. aku sebagai perwakilan dari Sang Raja. Memerintahkan kalian untuk mendatangi Ibukota, biarkan Sang Raja sendiri yang memutuskan siapa yang bersalah disini." Derrian berkata dengan tegas.


"Ap-Apakah kau bercanda?! sudah jelas putriku menjadi Korban disini! lagipula bukankah dia yang berniat mengambil alih Kota ini?!" Duke Tayslen berkata dengan tidak terima.


Sedangkan untuk Ren...


"Ide Bagus Tuan Derrian. Tapi sebelum itu, aku ingin Pria Tua ini melepaskan kakak temanku terlebih dahulu. Baru aku akan mengikutimu ke Ibukota."


"Dasar tak tahu diuntu-" Seorang Ksatria Aulzania berteriak marah.


"Jangan salah sangka dulu, aku akan menyuruh Nirlayn melepas kutukan itu jika Pria Tua ini melepaskan nya." Ren memotong perkataan Ksatria itu.


"Sudah kukatakan, Putriku tidak melakukan hal semaca-"


"Aku juga bisa menyuruh Nirlayn memperburuk kutukan itu loh...." Ren tersenyum dengan buruk.


"Meski begitu, Ren. Bagaimana jika yang dikatakan oleh Duke Tayslen merupakan kebenaran?" Derrian bertanya pada Ren.


Ren hanya menjawab dengan senyuman diwajahnya. Kemudian mengalihkan tatapannya pada Duke Tayslen. Derrian menyadari sesuatu lalu mengikuti tatapan Ren pada Duke Tayslen.


"Grg... Baiklah! Baiklah! aku akan membawamu ke kediamanku untuk mencari kakak temanmu itu! tapi lepaskan putriku!" Duke Tayslen berteriak, sepertinya dia menyerah.


"Setuju.." Ren tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


Ren dan Nirlayn, bersama dengan Duke dan Para Ksatria Aulzania mencari Kakak Rin-Yu di kediaman Sang Duke.


Pada akhirnya Kakak Rin-Yu ditemukan disebuah Penjara bawah tanah milik Sang Duke, dengan keadaan kurus dan tak terurus.


__ADS_2