Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 93 : Kemunculan Sang Ular Legendaris


__ADS_3

Kota Aulzania


Hari telah menampakan tanda - tanda akan menjadi Malam. Sinar Mentari yang Berwarna Jingga merupakan Tanda dari Matahari yang akan Terbenam. Semua itu, sangat Indah ketika dilihat oleh Kedua Mata secara langsung. Dari Atas sebuah Menara yang ada di Kota Aulzania, Ren menyaksikannya seorang diri.


Pertemuan dengan Raja Esdagius telah diselesaikan tanpa halangan yang berarti. Hanya tersisa beberapa Pekerjaan Kecil yang telah Ren serahkan pada Nirlayn untuk diurusi. Dalam Waktu yang luang seperti ini, Ren memilih untuk diam dan merenung seraya menyaksikan Keindahan Alam yang tak pernah membuatnya Bosan.


Namun, Takdir sepertinya tidak mengizinkan Ren untuk menikmati Waktu Luangnya dengan Tenang. Hal ini dikarenakan, Ren merasa ada beberapa Lusin orang yang sedang mengawasinya dari Kejauhan. Berdasarkan dari Persepsi Mana yang Ren rasakan, setiap Individu dari mereka memang lemah. Hanya setara dengan Anggota Ksatria Aulzania.


Meski tidak memberikan Ancaman yang berarti, namun mereka tetap mengganggu Ketenangan. Ren tidak dapat membiarkan mereka begitu saja.


"Oh Takdir, sepertinya kau membenciku bukan? Mengapa kau membuatku dicintai oleh Masalah seperti ini."


Ren menatap pada Keindahan Matahari yang Terbenam sekali lagi. Setelah itu, dia mulai memikirkan Rencana untuk menghadapi mereka semua. Masalah yang diberikan oleh mereka ini, akan diubah oleh Ren menjadi sebuah Kesenangan. Ya, bisa dikatakan, Ren memikirkan sebuah cara yang menyenangkan untuk menghadapi mereka dengan Tujuan mendapatkan Kepuasan Hati.


"Sembilan orang di Timur, Empat Belas di Bagian Barat dan Lima Belas di Bagian selatan. Mereka menyembunyikan diri dengan baik, orang - orang sepertinya tidak menyadari Keberadaan mereka."


Sebuah Senyum mengerikan sekilas terlihat di Wajah Ren. Namun, senyum itu segera dia singkirkan agar pihak musuh tidak mengetahui apa yang dia Rencanakan.


"Menarik, sepertinya kalian memiliki Hubungan dengan Wanita Kecil itu."


Setelah mengatakan sepatah Kalimat, Ren langsung melompat dari Menara dengan cara yang indah dan dramatis. Melihat Ren yang melompat, mereka yang mengawasi Ren mulai melakukan sebuah Pergerakan. Pergerakan yang telah diperkirakan oleh Ren sebelumnya.


Dengan menggunakan Sihir Angin, Ren memperlambat Gesekan di Udara dan membuat Kecepatan dirinya terjatuh semakin melambat. Sampai ketika dia mendarat di Tanah, itu bahkan tidak menimbulkan suara sama sekali.


"Mari kita lihat, apakah kalian ini bodoh atau pintar."


Ren mulai bergerak menuju Jalanan yang sepi. Dengan cara yang disengaja, Ren berjalan santai seolah - olah tidak menyadari mereka semua yang mulai mengikuti dirinya.


'Sepertinya musuh sudah mulai menaruh Kewaspadaan kepadaku.Tapi, menilai dari Waktu ketika aku membunuh Pria Botak dan Wanita kecil, ini tidak aneh sama sekali. Bahkan aku mengharapkan mereka akan tiba lebih cepat.'


Ren dengan sengaja menyusuri Jalanan yang sepi dan Gelap untuk memancing mereka semua Keluar. Namun sepertinya, mereka cukup cerdik, bahkan sampai saat ini mereka tidak menunjukan tanda - tanda akan menyerang.


'Hehe, kita lihat seberapa lama kalian dapat bersabar.'


Kali ini, Ren mengubah Arah menuju Gerbang Keluar dari Kota Aulzania. Jika mereka masih bersembunyi dan tidak menyerang meski Ren telah keluar dari Kota, maka tidak ada pilihan lain bagi Ren selain menyerang mereka terlebih dahulu.


"Oh, bukankah itu Tuan Dirvaren?"


Sebuah Bayangan muncul tiba - tiba dihadapan Ren. Bayangan yang berubah menjadi seseorang yang tidak lain adalah Kanza, seorang Assassin Terbaik dari Guild Petualang.


Kemunculan Kanza ini sedikit mengacaukan Rencana yang disusun oleh Ren. Namun, Ren juga tidak dapat memberitahu Kanza agar tidak menyapa dirinya.


"Apa yang membuatmu kemari?" Tanya Ren dengan cara biasa.


"Aku hanya Penasaran, mengapa para semut dibiarkan mengerumuni sebuah Harta." Balas Kanza dengan cara yang biasa.


Menilai dari Sikap Kanza saat ini, Ren dapat menyimpulkan bahwa Kanza telah mengetahui Rencananya. Beruntung dia dapat mengerti dan tidak mengatakan sesuatu yang dapat mengganggu Rencana secara langsung. Lagipula, seorang [Shadow Executor] Tidak mungkin tidak dapat merasakan para Tikus yang bersembunyi seperti itu.


"Haha, sangat baik. Ah Ya, bisakah kau menyampaikan Pesanku pada Raja?"


Mereka yang mengawasi Ren meningkatkan Kewaspadaan karena Kedatangan Kanza. Terbukti dari mereka yang tidak bergerak dan semakin meningkatkan kemampuan Bersembunyi mereka. Itu karena Kanza yang tidak menyembunyikan Kemampuan sama sekali.


Jadi, Ren memerintahkan Kanza untuk pergi dengan dalih untuk menyampaikan Pesan pada Sang Raja. Seharusnya, Kanza dapat mengerti bahwa Ren tidak memerlukan Pembawa Pesan untuk Sang Raja. Ren berharap bahwa Kanza benar - benar dapat mengerti Hal ini.


"Hooo ... Baik! Akan saya laksanakan!" Jawab Kanza Penuh semangat.


"Bagus, katakan pada Sang Raja aku akan mengambil Harta Terbesarku yang dikubur di Hutan sana. Ingat, jangan mengatakan Hal ini pada siapapun kecuali Sang Raja." Ren berbisik.


Namun dengan suatu cara, Ren dengan sengaja mengalirkan Suara ini pada mereka yang sedang bersembunyi. Cara ini akan membuat mereka mendengar Perkataan Ren tanpa mencurigai Ren sedikitpun. Hal itu dikarenakan, diantara mereka pasti ada seseorang yang mampu menajamkan Pendengaran. Ren hanya mengalirkan Suara lewat Angin, namun dengan cara agar mereka mengira bahwa kemampuan mereka dalam mendengarlah yang hebat.


Setelah mendengar Bisikan Ren, Kanza dengan cepat menyelam ke dalam Bayangan. Namun disaat itu, Ren mendengar suara samar - samar dari seorang Kanza yang mengatakan, "Tuan Dirvaren Berhutang Padaku kali ini."


'Kau yang menggangguku dan kau yang memintaku Berhutang Padamu?' Gerutu Ren dalam Hati.


Tidak ada yang dapat dilakukan tentang Hal itu. Saat ini, Ren harus kembali bergerak agar mereka masuk ke dalam Permainan yang telah dia buat. Ya, Ren berharap semoga saja mereka Bodoh dan Terjatuh dalam Perangkap dengan Mudah.

__ADS_1


Beberapa Waktu kemudian, Ren akhirnya tiba di Gerbang Keluar. Beberapa Penjaga yang ada disana menahan dirinya terlebih dahulu. Namun menilai dari Sikap dan Perilaku mereka, sepertinya mereka tidak mengetahui siapa sebenarnya Ren.


"Anda ingin Keluar? Dapatkah kami mengetahui alasannya?"


"Aku adalah seorang Ksatria, aku membutuhkan sebuah Tanaman Obat untuk mengobati seseorang. Mungkin di Hutan sana, ada beberapa Tanaman Obat yang bisa aku dapatkan."


Penjaga itu mengernyitkan Alisnya, dia terlihat mencurigai sosok Ren yang sama sekali tidak terlihat seperti seorang Ksatria.


"Apa kau memiliki Bukti?"


Sepertinya, Ren tidak dapat diizinkan dengan Mudah jika tidak mengeluarkan Barang yang diberikan oleh Raja Esdagius padanya. Ren mengambil Barang itu dari Saku Pakaian yang sebenarnya Ren ambil dari Inventory.


Setelah itu, Ren menunjukan sebuah Lencana yang diberikan oleh Raja Esdagius. Lencana ini terbuat dari Emas Murni dan hanya dimiliki oleh Keluarga Kerajaan. Lencana yang membuktikan bahwa orang yang memegangnya memiliki Otoritas yang sama dengan Keluarga Kerajaan.


"I-Ini ... Mustahil! Anda Keluarga Kerajaan?!"


Penjaga itu langsung terkejut setengah Mati. Sikap yang dia tunjukan langsung berubah Total. Dari yang awalnya menentang dan mencurigai Ren, kini berubah menjadi penuh Kesopanan.


"M-Maafkan saya yang tidak mengetahui orang yang sepenting anda." Ucap Penjaga itu.


Kemudian Penjaga itu berbalik pada beberapa orang Penjaga lain yang ada dibelakangnya, "Kalian! Cepat buka Gerbang!"


Gerbang Terbuka dan Penjaga itu mengalihkan kempali Perhatian pada Ren. Sebuah Senyum yang dipaksakan terlihat disana, lalu dengan sikap yang penuh hormat dia berbicara, "S-Silahkan, anda bisa lewat kapan saja."


Tanpa banyak berbicara lagi, Ren langsung berjalan keluar dari Gerbang. Pemandangan dari sebuah Hutan Loudeas kembali memasuki Penglihatannya.


'Mari kita bermain, para Tikus Kecil.'


Lalu, Ren melesat ke arah Hutan dengan Kecepatan yang tinggi.


____________________________________________


* * *


* * * ____________________________________________


Pada salah satu Wilayah Hutan Loudeas yang lebat dan sepi, Ren berdiri diam dan memandangi sebidang Tanah dihadapannya.


Tanah yang terlihat biasa saja ini telah ditanami sebuah Rahasia oleh Ren tanpa sepengetahuan orang - orang yang mengawasinya.


Dengan membuka Pintu Inventory di dalam Tanah, Ren telah mengeluarkan sebuah Pedang Tingkat Tinggi yang Indah dan memiliki Aura yang Luar Biasa. Ren melakukan hal ini untuk membuktikan pada mereka bahwa Bisikan Ren pada Kanza sebelumnya adalah Kebenaran.


"Oh, Hartaku! Beruntung tidak ada yang menyadari Keberadaanmu. Tanpa kau aku tidak dapat mengalahkan musuh - musuhku. Sekarang, kembalilah padaku, [Earth Magic : Separation]."


Lingkaran Sihir kecil Tercipta diatas Tanah, lalu dengan Sendirinya, Tanah itu terbelah dan menunjukan apa yang ada di dalamnya. Disana, sebuah Pedang yang Berwarna Merah Bersinar dengan Hebat. Hutan Loudeas yang Gelap Gulita bahkan menjadi Terang oleh Cahaya yang dikeluarkannya.


"Oh Pedang Terkuat di Duniaku, aku merindukan- ...?!"


Bam! Bam! Bam!


Tiga Ledakan Beruntun terjadi ditempat Ren berdiam diri. Membuat Ren terpental karena Ledakan yang Dahsyat itu. Asap Mengepul ke Langit, dan beberapa orang yang berjubah Hitam bermunculan.


"Sungguh Bodoh Pahlawan yang satu ini."


"Aku tidak menyangka dirinya bahkan tidak menyadari kita."


"Cepat, laporkan ini pada Nona agar dia segera kesini."


Asap yang mengepul perlahan - lahan menghilang. Menampakan seseorang yang terkulai lemas diatas tanah seraya menggenggam Pedang dengan Erat. Seluruh Bagian Tubuhnya mengeluarkan Darah, dan dia terlihat sangat menyedihkan.


"Guhkk! S-Siapa kalian?!" Teriak Ren dengan cara yang menyedihkan.


Tiga Puluh Delapan orang yang sebelumnya mengikuti Ren segera mengepung Ren dari Berbagai arah. Wajah mereka memang tidak terlihat, namun Ren dapat merasakan dengan Jelas Tatapan mengejek yang dilontarkan oleh mereka.


"K-Kurang ... Ajar! Guhk! Beraninya kalian menyerangku dengan cara ... Guhk! Licik seperti ini!" Teriak Ren kembali dengan cara yang putus asa.

__ADS_1


Namun bukannya menjawab, mereka malah merentangkan Lengan secara bersamaan dan meneriakan sebuah Kalimat, "[Abbys Technique : Repression]!"


Lingkaran Sihir dalam Ukuran yang besar tercipta di Bawah Ren yang sedang dalam Posisi menyedihkan. Lingkaran Sihir ini memiliki Warna Ungu Gelap dan terdapat Simbol - Simbol di dalamnya, lalu ada beberapa Lubang Kosong disisinya.


Dari Lubang Kosong itu, muncul sebuah Rantai yang menyeramkan. Rantai - Rantai itu dengan cepat mengikat Ren dan membuatnya tidak dapat bergerak.


"A-Apa ini ... Kalian!" Ren berteriak seolah tak percaya.


Keputusasaan dan Ketakutan sangat terlihat Jelas di Wajah Ren. Disaat Ren sangat menyedihkan dan seakan dapat menangis kapan saja. Seseorang mendekat dengan cepat dari Kejauhan.


"Hahahaha! Blood Devil apanya! para Chief itu terlalu berlebihan dalam Menilaimu!"


Damm!


Seseorang Jatuh ke Tanah dengan Kecepatan yang luar biasa. Tidak dapat disangka, seseorang itu adalah Wanita Cantik yang memiliki Tanduk serta mengenakan Gaun Berwarna Hitam.


"B-Bagaimana kau bisa ... Tahu?" Balas Ren dengan menyedihkan.


"Huh? Kau bahkan tidak menyadari betapa mencoloknya dirimu?" Tatap Wanita itu dengan Penuh Ejekan.


Seorang dari Kelompok Berjubah Hitam mengambil Pedang yang ada di dekat Ren. Pedang itu kemudian dia bawa dan diserahkan pada Wanita Cantik Bertanduk.


"Hahaha! Sepertinya kau mengalahkan Reynalue dan Nidgor karena Pedang Indah ini kan?"


Ren hanya diam dan tidak dapat menyangkal Perkataan Wanita itu. Tubuhnya bergetar, Wajahnya Pucat dan Keringat mengalir Deras di seluruh Tubuhnya.


"Meski kau adalah Musuhku, tapi aku berterima kasih padamu." Ucap Wanita dengan Senyum yang Menyeramkan.


"Karenamu ... Karenamu aku mendapatkan Harta Berharga! Hahaha, Dan Karenamu juga aku dapat menyingkirkan Reynalue dan Nidgor secara bersamaan!" Wanita itu berteriak kegirangan seperti seseorang yang Gila.


"A-Apa m-maksudmu ...?"


"Singkatnya, aku menjadi lebih kuat karenamu, hahahah!"


Orang - Orang Berjubah Hitam pun ikut tertawa mengikuti Wanita Bertanduk. Sepertinya, orang - orang berjubah Hitam itu adalah Bawahan langsung dari Wanita Bertanduk itu, menilai dari Situasi yang terjadi sampai saat ini.


"Kau akan Mati di Tanganku, dan Darahmu akan menjadi Persembahan bagi Peliharaanku." Wanita itu menghirup Napas dan kembali melanjutkan Perkataannya, "Sebagai Rasa Terima Kasihku, kan kubiarkan kau menyaksikan Peliharaanku yang lucu."


Setelah Wanita itu Berkata, para orang - orang Berjubah segera menyingkir dari Tempat itu. Hanya saja, Lingkaran Sihir yang mengekang Ren tetap ada dan Ren masih terikat.


"Kemarilah Peliharaanku! [Summoning Magic : Milžiniška gyvatė]!"


Sebuah Lingkaran Sihir yang misterius muncul di Belakang Wanita Bertanduk. Lingkaran Sihir itu disebut Misterius karena hanya ada Kekosongan yang dapat dilihat dari sana. Tidak lama ... Suatu Keberadaan muncul dari dalam Lingkaran Sihir. Sebuah Keberadaan yang mengeluarkan Aura Kuat yang tidak kalah dari Avrogan, Sang Kuda Bersayap.


"Sssttttt!"


Itu adalah Seekor Ular.


Meski tidak sebesar dan sepanjang [Lightning Blade Snake]. Namun jika diukur dari Kekuatan, maka Ular ini sangat jauh lebih kuat. Seluruh Tubuhnya dibaluti oleh Warna Hitam Mengkilap, sebuah Sirip - Sirip Tajam menonjol pada Bagian Punggungnya.


Ular ini memiliki Tiga Mata dan Dua Taring yang dapat terlihat dari Luar. Begitu menyeramkannya sampai - sampai membuat Ren tidak dapat bergerak maupun berkata - kata lagi. Sebuah Aura Hitam merembes Keluar dari Tubuhnya, menandakan bahwa Ular ini bukanlah [Beast Servant] Biasa.


Ular ini adalah Ular Legendaris yang disebut - sebut sebagai Ular Dunia [Milžiniška gyvatė].


Bahkan diantara [Beast Servant] Tingkat Legendaris, dia termasuk dalam salah satu yang terkuat. Tidak dapat dipungkiri bahwa satu Ular ini dapat mengalahkan Kerajaan Aulzania.


"Ini adalah Ular Peliharaanku, bagaimana? Apa kau merasakan Keputusasaan dan Ketakutan yang begitu Hebat?"


Ren hanya diam dan menunduk, dia sama sekali tidak bergerak. Bahkan dia tidak bergetar ketakutan seperti sebelumnya. Wanita Bertanduk itu Heran dan mengangkat Alisnya.


"Apa dia sudah Mati hanya karena melihat Ular ini?"


Tap Tap Tap


Wanita Bertanduk itu berjalan mendekati Ren untuk memastikan Keadaannya. Namun dipertengahan Jarak, Wanita itu terdiam.

__ADS_1


Terdiam oleh Tatapan dari Mata Merah yang mengerikan...


__ADS_2