
Satu jam telah berlalu semenjak Anryzel memerintahkan para ksatria untuk melakukan penguatan fisik ekstrim sehingga mereka semua pun tumbang. Setelah diberikan sihir penyembuhan dan pemulihan berskala besar oleh Nivania, kondisi para ksatria kini kembali pada titik terbaik sebelum mereka memulai latihan.
"Semuanya berbaris!" perintah Anryzel dengan lantang.
Seratus dua puluh lima ksatria berbaris dengan rapi sesuai dengan posisi mereka berbaris sebelumnya. Gerakan mereka sangat lihai dan terlatih, seolah mereka sudah terbiasa dengan perintah itu padahal mereka baru melakukannya hari ini.
Tidak ada yang mengeluh lagi setelah menerima perintah, baik ksatria laki-laki maupun ksatria perempuan. Kini mereka telah percaya terhadap perkataan Anryzel yang mengatakan keselamatan mereka akan terjamin selama pelatihan berlangsung.
Di balik itu, para ksatria juga kagum akan kehebatan sihir penyembuhan milik Nivania yang bisa memulihkan seratus dua puluh lima orang sekaligus.
Meskipun dalam hati, dan tidak menunjukkan ekspresi, tetapi dalam hati mereka bertanya-tanya siapa sebenarnya perempuan yang bernama Nivania ini? Bagaimana bisa seseorang yang memiliki kemampuan hebat sepertinya tidak pernah diketahui keberadannya.
"Sekarang setelah kalian melakukan pemanasan, maka kalian akan berlatih untuk bertempur secara langsung!" seru Anryzel kepada para ksatria.
Tatapan yang mengintimidasi, suara yang begitu tegas, dan ekspresi yang serius memberi indikasi awal kepada para ksatria, bahwa latihan tempur yang dimaksud benar-benar akan dilakukan saat itu juga.
Akan tetapi, ada satu hal yang mengganjal di hati para ksatria, yaitu persoalan bagaimana latihan tempur itu diadakan. Persiapan yang matang harus dilakukan sebelum merencanakan pelatihan pertempuran, mereka harus membagi kelompok, menyusun strategi, dan memakai perlengkapan yang cocok agar latihan berjalan dengan mulus.
Kemudian sekarang, tidak ada satupun dari mereka yang melakukan persiapan. Bahkan pembagian kelompok yang biasa dilakukan sebelum latihan sama sekali tidak dilakukan. Apa sebenarnya yang dipikirkan oleh Anryzel? Mereka penasaran dan ingin tahu.
"Mungkin ada dari kalian yang ingin menanyakan satu hal. Aku mengizinkannya hanya untuk satu orang!"
Seseorang dengan cepat mengangkat tangan. Dia adalah seorang laki-laki muda yang bernama Esge Sithofulen, ksatria yang bertemu dengan Anryzel ketika insiden penculikan Vinri terjadi.
"Pertanyaanmu?"
Esge dengan lantang dan tegas bertanya, "Apa tidak masalah bagi kami untuk tidak melakukan persiapan apa-apa terlebih dahulu, Jenderal?"
Anryzel menyeringai seakan-akan telah menebak bahwa pertanyaan inilah yang akan ditanyakan oleh mereka para ksatria. "Sebuah pertempuran yang baik memang dilakukan dengan persiapan, tetapi tidak akan selalu ada waktu untuk melakukan persiapan sebelum terjadi pertempuran."
Anryzel melanjutkan perkataannya dengan tegas, "Seorang ksatria harus selalu siap dalam keadaan apapun! Memakai perlengkapan atau tidak, memakai senjata atau tidak, ksatria harus tetap siap sedia! Apa kalian mengerti?!"
"Baik! Kami mengerti, Jenderal!" sahut mereka serentak.
Anryzel lalu melepas pakaian luar yang dibuat khusus untuknya oleh kerajaan. Dia juga melepas beberapa barang yang tidak bisa diikut sertakan dalam pertempuran.
"Aku memberi kalian waktu tiga menit untuk mengambil senjata."
Para ksatria saling memandang sesaat, lalu mereka berlari menuju gudang persenjataan dan mengambil senjata yang biasa dilakukan dalam pelatihan tempur. Sangat jelas bahwa senjata yang mereka ambil adalah benda tumpul yang tidak memiliki ketajaman yang sesuai.
Melihat mereka membawa senjata yang tidak diharapkan membuat Anryzel mengeluarkan perintahnya sekali lagi. Perintah yang lebih jelas, dan mudah dimengerti agar mereka tidak membuang-buang waktu.
"Salah! Ambillah senjata yang benar-benar tajam."
Para ksatria semakin kebingungan dan bertanya-tanya, mengapa mereka harus menggunakan senjata terbaik hanya untuk melakukan pelatihan? Namun karena tidak ada izin untuk bertanya, mereka hanya patuh pada perintah dan melakukan semuanya tanpa mengeluh ataupun protes.
Semua ksatria berkumpul kembali setelah mengambil senjata andalan mereka masing-masing. Biasanya senjata asli yang tajam tidak diperkenankan untuk dibawa ke dalam tempat pelatihan, tetapi karena Anryzel memberikan perintah semacam itu, maka mungkin terdapat pengecualian.
Anryzel kemudian menunjuk satu per satu orang untuk membagi mereka ke dalam lima kelompok. Setiap kelompok terdiri dari dua puluh lima orang, dan kemampuan masing-masing individu telah dipilih berdasarkan pengamatan Anryzel untuk melengkapi satu sama lain.
"Waktu kita hanya tersisa dua jam. Aku akan memberikan setiap kelompok latihan tempur selama dua puluh menit."
Anryzel memberi indikasi pada kelompok pertama agar mengikutinya ke tempat yang lebih kosong dan luas. Dua puluh lima ksatria mengikuti Anyrzel dari belakang dengan rasa penasaran yang begitu tinggi.
Setelah tiba di tempat yang diinginkan, Anryzel berbalik menghadap kelompok itu dengan ekspresi yang serius. Matanya menyala, aura merah mulai membara, dan Anryzel mengeluarkan ***** membunuh kepada dua puluh lima ksatria yang terdapat pada kelompok pertama.
"Sekarang, serang aku dengan segenap kemampuan kalian. Strategi macam apapun akan diterima, bahkan jika kalian menyerang dengan niat membunuhku."
Anryzel memerintahkan mereka untuk menyerang secara bersama-sama. Sebuah latihan tempur yang dilakukan oleh satu orang melawan dua puluh lima orang memang terdengar cukup gila. Namun dari sudut pandang Anryzel, pengaturan jumlah seperti inilah yang paling cocok dan efektif.
Meski unggul dalam jumlah, kelompok pertama tampak sedikit ragu-ragu untuk menyerang. Keragu-raguan itu bukan disebabkan oleh musuh yang berjumlah satu sehingga mereka merasa tidak adil, melainkan mereka khawatir tentang keselamatan nyawa diri mereka sendiri.
__ADS_1
"Maaf, Jenderal! Tapi apakah Anda bisa menjanjikan kami satu hal?" tanya Derrian yang berpikir bahwa ini adalah masalah yang terpenting.
Kebetulan kelompok pertama itu diisi oleh peringkat teratas ksatria sehingga Derrian pun termasuk dalam kelompoknya.
"Apa itu?"
Derrian dengan muka yang pucat berucap, "Tolong jangan terlalu serius menghadapi kami."
Orang-orang yang tersisa dalam kelompok juga mengangguk dengan cepat. Mereka tidak ingin kehilangan nyawa karena sebuah latihan tempur semata, jika sudah seperti ini dan permintaan mereka ditolak, maka niscaya semuanya akan memohon dengan bersujud agar permintaan itu tetap diterima.
"Baiklah, tapi dengan syarat ... serang aku sekarang juga!!" teriak Anryzel dengan penuh emosi karena waktu yang terbuang sia-sia.
Derrian bersama kelompoknya bergetar, mereka menggenggam erat senjata masing-masing lalu teriakan perang pun bergema. Mereka bersama-sama menyerang dengan formasi yang digunakan untuk mengepung suatu individu agar tidak melarikan diri, tetapi di saat yang sama dapat membatasi gerakan individu itu.
"Courage Enhancer!"
Seorang yang memiliki kemampuan sihir element cahaya memberikan dukungan kepada penyerang garis depan. Sihir dukungan itu semakin bervariasi karena ada lima orang ksatria yang bisa menggunakan sihir pendukung di kelompok tersebut.
"Double Strength!"
"Perception Enhancement!"
"Sky Instinct!"
"Eyes of the World!"
"Debuff Reduction!"
"Fatal Strike Resistance!"
"Magic Attack Resistance!"
Sementara sebagian pendukung memberi sihir dukungan kepada penyerang garis depan, sebagian lagi menggunakan kemampuan mereka untuk membuat penghalang yang melindungi garis belakang.
Kemudian Derrian bersama dengan tujuh orang ksatria lain yang menggunakan pedang mengepung Anryzel dari segala sisi, membentuk sebuah lingkaran yang hampir sempurna, lalu menggabungkan teknik berpedang mereka.
"Eight Sword Formation : Imaginary Line."
Formasi delapan ksatria itu membentuk sebuah ruang yang dibatasi oleh penghalang yang disebut sebagai garis hayalan. Seorang target yang tidak diizinkan berada dalam ruang ini akan mengalami segala pengurangan status secara drastis.
Konsep teknik ini seperti sebuah pengekang yang membatasi target agar tidak bisa melakukan semua hal dengan bebas.
Setelah memastikan semuanya selesai, Derrian memberi isyarat pada kelompok ksatria pengguna tombak untuk masuk ke dalam penghalang. Mereka dikategorikan sebagai teman sehingga tidak akan terpengaruh oleh penekanan sama sekali. Malah sebaliknya, mereka akan mendapatkan beberapa keuntungan di dalam penghalang seperti buff kekuatan dan lain-lain.
Sepuluh orang pengguna tombak langsung melompat ke dalam penghalang, lalu menerjang satu per satu kepada Anryzel secara bersamaan. Sepuluh tombak yang berkilau dan tajam sedang mengarah kepadanya, lantas mengapa Anryzel masih diam tanpa melakukan pergerakan? Itu karena kepercayaan dirinya begitu tinggi.
"Sepertinya ... formasi ini tidak cocok untukku."
Jika saat ini merupakan pertempuran yang sesungguhnya, maka tidak akan ada kesempatan bagi Derrian dan kelompoknya untuk memasang penghalang. Bahkan jika mereka dapat memasang penghalang ini dengan beberapa keberuntungan, Anryzel masih dapat menghancurkannya dengan mudah.
Sayang sekali bahwa sebelum pelatihan ini berlangsung, Anryzel telah berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak menggunakan kekuatan apapun selain kekuatan fisik. Sehingga menghancurkan penghalang dengan kekuatan fisik semata hampir mustahil untuk dilakukan.
"Nah."
Anryzel menghindari semua tombak dengan melompat ke atas. Beberapa tombak tampak mengikutinya, tetapi Anryzel masih bisa menghindarinya dengan melakukan manuver hebat di udara.
"Hei! Tidak mungkin 'kan?! Jenderal bisa bergerak bebas di udara!" teriak seorang ksatria tombak.
Ksatria tombak lain mengabaikan perkataan orang itu, mereka lebih memilih fokus untuk menyerang Anryzel tanpa membiarkannya menemukan kesempatan untuk menyerang balik.
Tidak ada yang menyadari bahwa sebenarnya Anryzel tidak bisa bergerak bebas di udara tanpa sihir. Sementara saat ini, Anryzel yang bergerak bebas hanya terlihat dalam pandangan sekilas dan pada kenyataannya dia selalu memanfaatkan serangan tombak yang diarahkan oleh musuh sebagai pijakan.
__ADS_1
Itulah mengapa, beberapa ksatria tombak selalu merasa beban yang ditimbulkan ketika menyerang lebih berat daripada biasanya. Mereka tidak berpikir itu perbuatan Anryzel, melainkan berpikir beban itu berasal dari sesuatu yang lain.
"Tombak adalah senjata yang panjang dan kuat. Jangan sembarangan mengayunkannya, itu bisa membuatmu kehilangan kekuatan dalam setiap serangan."
Anryzel memijak satu serangan tombak untuk melakukan lompatan yang lebih jauh. Dia kemudian mendarat beberapa meter dari segerombolan ksatria tombak yang menyerangnya ke tempat yang lebih aman untuk memberi sedikit saran.
"Cobalah untuk lebih memperhatikan setiap serangan. Jangan sampai ada serangan yang sia-sia sehingga membuang tenaga kalian. Pertama, prediksi gerakan musuh, dan rasakan tingkat keyakinan kalian tentang seberapa besar serangan itu akan berhasil kepada musuh. Setelah keyakinan kalian cukup, maka kalian bisa melakukannya dengan memperhatikan setiap kemungkinan!"
Anryzel memberi intruksi agar mereka menyerang lagi. Mereka langsung menyerang, dan tampaknya, setelah diberi saran mereka langsung memikirkan dan mencoba untuk melakukannya. Terbukti dari setiap serangan yang dilancarkan mereka kali ini benar-benar memprediksi gerakan yang mungkin dilakukan oleh Anryzel.
"Bagus, lanjutkan."
Intruksinya adalah melanjutkan serangan, tetapi para ksatria tanpa diduga malah melangkah mundur dalam jarak yang telah diperhitungkan. Anryzel pada awalnya merasa sedikit bingung dengan tindakan mereka, tetapi beberapa saat kemudian hal mengejutkan terjadi.
"Mengalihkan perhatian?!"
Anryzel segera menyadari bahwa tepat dibawah kakinya sebuah lingkaran sihir besar tercipta. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh Anryzel secara teliti selama beberapa detik, sihir ini adalah tipe pemusnah satu target yang bertujuan untuk menghilangkan musuh sampai tidak menyisakan apapun.
Persepsi Mana telah disempitkan hingga radius dua puluh meter, tetapi Anryzel tidak menyangka bahwa hal inilah yang membuatnya tidak menyadari bahwa sihir berskala besar telah diaktifkan.
<>
Sihir yang dikategorikan dari tingkat tinggi hingga tingkat divine tergantung dari siapa yang menggunakannya. Melihat dari ukuran lingkaran sihir dan mana yang terakumulasi di dalamnya, sudah jelas bahwa beberapa ksatria bekerja sama untuk melancarkan sihir ini.
Sihir yang mereka lancarkan sedikit lebih hebat dari sihir tingkat tinggi, tetapi tidak sebegitu hebat hingga mencapai tingkat divine. Namun tetap saja, dengan keadaan Anryzel saat ini yang membatasi diri dalam menggunakan mana, sihir, ataupun skill, dirinya tidak bisa berbuat banyak.
Lingkaran sihir semakin membesar, kemudian itu menciptakan beberapa duplikat lingkaran sihir yang bertumpuk sehingga memperkuat efek yang ditimbulkan.
Tidak lama setelah itu, hawa panas merambat ke sekitar, api muncul dari langit seolah-olah itu datang dari dimensi yang berbeda. Api membentuk sebuah pilar yang mengerikan dengan tingkat kepanasan yang begitu tinggi.
Sosok Anryzel ditelan oleh api itu hingga tidak terlihat. Beberapa ksatria tombak yang melihatnya sempat merasa khawatir karena mereka pikir bahwa Anryzel terkena serangan langsung tanpa mempersiapkan diri terlebih dahulu.
Jika Anryzel tanpa sengaja benar-benar terhapus, bagaimana nasib mereka? Perasaan itu terus ada sampai akhirnya sihir pemusnah tingkat tinggi itu berhenti dan kehabisan energinya.
"Bagaimana?!" teriak seorang Derrian yang menyadari bahwa Anryzel tidak menggunakan apapun untuk menahan serangan itu.
Lalu seorang ksatria tombak yang berasal dari depan menunjuk ke arah di mana Anryzel berada sebelumnya seraya menjawab, "Itu! Lihatlah!"
Mereka memfokuskan mata untuk melihat menembus asap yang mengepul. Dari balik asap itu, sosok Anryzel masih berdiri dengan tegap. Kemudian ketika asap benar-benar menghilang, mereka dapat melihat dengan jelas bahwa Anryzel berada dalam kondisi yang sehat.
Hanya terdapat beberapa luka bakar kecil di tubuh Anryzel. Sementara itu, pakaian yang dikenakan oleh Anryzel benar-benar hangus dan musnah, menyisakan beberapa serpihan kecil yang menghalangi bagian terpenting dari seorang laki-laki.
"He ... hahahaha. Lemah sekali, bahkan dengan resistensi sihir alamiku yang tidak begitu tinggi, kalian hanya bisa menghanguskan sebuah pakaian?" ejek Anryzel dengan seringai yang memenuhi wajah.
GLEKK
Para ksatria menelan ludah mereka karena merasa bahwa Anryzel ini benar-benar seorang yang tidak normal. Bahkan beberapa dari mereka menelan ludah karena merasa aneh melihat Anryzel tertawa, dan mengeluarkan intimidasi yang kuat sambil tidak mengenakan pakaian apapun kecuali serpihan kain tersebut.
"Eh, yah ... meski begitu, kalian lulus untuk latihan kali ini. Terutama lulus dalam hal membuatku telanjang."
Merasa bahwa pelatihan tempur untuk kelompok pertama telah cukup, Anryzel lalu menghilangkan batasan dalam dirinya. Dia memanggil beberapa pakaian baru di inventory lalu menggunakannya dengan kecepatan tertinggi sehingga pergerakan itu mustahil untuk dilihat siapapun yang ada di sana.
Setelah memakai kembali pakaian yang layak, Anryzel menggunakan kemampuannya untuk membatalkan penghalang yang dibuat oleh kelompok Derrian dengan mudah. Lalu dia menyerang mereka semua dengan tekanan yang begitu kuat sehingga hanya orang-orang yang kuat dalam pikiran, mental, dan jiwa yang mampu menahannya.
"Nah, kelompok pertama berakhir. Kalian bisa beristirahat, jangan lupa untuk menyaksikan pelatihan tempur kelompok berikutnya untuk mendapatkan beberapa pengalaman," ucap Anryzel sembari menghilangkan tekanan.
Derrian dan seluruh ksatria kelompok pertama terengah-engah. Wajah mereka pucat, keringat mengucur dengan deras, dan kekuatan tubuh mereka seolah-olah menghilang hingga mempertahankan tubuh untuk berdiri pun terasa sangat sulit.
Pada saat itu, seluruh anggota kelompok pertama menggumamkan hal yang sama, yaitu tentang kenyataan mengenai kemampuan Anryzel yang sesungguhnya.
"Jadi ... ini 'kah kekuatan Jenderal yang sesungguhnya? Sungguh berada di luar batas manusia!" rintih mereka dalam hati sambil merasa putus asa.
__ADS_1