Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 41 : Awal Konferensi


__ADS_3

Jalan utama yang terhubung dengan Istana Kerajaan Aulzania saat ini sedang digemparkan.Semua kegemparan ini disebabkan oleh sepasang lelaki dan perempuan yang sedang berjalan berdampingan.Orang - orang berkerumun di sepanjang jalan, menyaksikan sepasang lelaki dan perempuan ini. Ada alasan mengapa orang - orang ini berkerumun, alasan itu karena Sang Lelaki memiliki ketampanan yang luar biasa. Dan seorang wanita nya memiliki kecantikan yang mempesona.


Kedua orang ini adalah Ren dan Nirlayn yang sedang berjalan menuju Istana. Bahkan, ketika mereka berjalan orang - orang akan membuka jalan bagi mereka berdua dengan sendirinya.


Ren sama sekali tidak menginginkan perhatian yang berlebihan ini. Tetapi, itu tidak dapat dia hindari, apalagi kali ini dia ditemani oleh Nirlayn yang tidak kalah cantik nya.


"Nirlayn, apakah kau merasa terganggu dengan tatapan orang - orang itu?" Sambil berjalan, Ren bertanya pada Nirlayn yang mengikuti nya.


"Sama sekali tidak Ren-sama." Nirlayn menjawab Ren dengan tegas.


"Itu... Bagus."


'Ternyata aku sendiri yang merasa terganggu...' Ren menghela Napas, mengetahui ternyata hanya dia yang merasa terganggu.


"Ah ya Nirlayn, Aku akan menanyakan sesuatu." Ren berhenti berjalan sebentar untuk berbalik pada Nirlayn, kemudian melanjutkannya lagi.


"Tentu saja Ren-sama, apa yang ingin anda ketahui..?" Nirlayn menjawab dengan tersenyum.


"Soal, apakah kau bisa menggunakan Blood Art untuk membentuk suatu hal yang lain?" Ren menggerak - gerakan tangan nya, seolah dia sedang membuat sesuatu.


"Hm.. Saya tidak bisa Ren-sama, setiap benda memiliki karakteristik mana yang berbeda. Karena untuk saat ini saya hanya bisa mencocokan nya dengan sebuah cakar, maka saya hanya bisa meniru hal itu." Nirlayn menjelaskan pada Ren.


"Aku mengerti... Dengan kata lain, kau harus mencocokan mana mu dengan benda yang akan ditiru terlebih dahulu?" Ren berhenti berjalan kembali, lalu memegang dagu nya.


"Ya, anda benar Ren-sama." Nirlayn mengangguk.


"Kalau begitu, aku akan memberi sedikit saran padamu, lebih baik kau mengganti cakar dengan sesuatu yang lain."


"Eh? Memang nya kenapa Ren-sama?" Nirlayn memasang Ekspresi tanda tanya diwajahnya.


"Gaya bertarung itu sama sekali tidak cocok untukmu. Lagipula, Cakar itu senjata andalan milik para Vampire."


Perkataan Ren bagaikan sebuah petir yang menyambar Hati Nirlayn. Dia baru menyadari, bahwa Ras Vampire memang menggunakan Cakar mereka untuk menyerang.


"Eh! Ren-sama, anda benar! lalu apakah anda tidak menyukai diri saya yang seperti itu?! saya akan segera merubahnya!" Nirlayn berteriak panik. Tentu suara nya semakin menarik perhatian orang - orang yang menyaksikan mereka.


Teriakan itu membuat Ren berhenti berjalan dan berbalik pada Nirlayn.


"Sstt.. Kau tidak perlu sepanik itu, aku hanya menyarankan, Bukan berarti aku membenci dirimu yang menggunakan Cakar seperti itu." Ren mendekatkan jari telunjuk pada bibirnya, mengisyaratkan agar Nirlayn tidak terlalu keras dalam berbicara.


"Ma-Maafkan saya....Ren-sama." Nirlayn berbicara pelan.


"Ya, selama kau mengerti." Ren mengangguk dan berjalan kembali....


*


*


*


*


*


Gerbang Masuk Istana Kerajaan Aulzania.


Lusinan Prajurit berbaris menjaga Gerbang ini, mereka bertujuan untuk menyambut tamu yang sangat penting. Sang Raja memerintahkan secara langsung pada mereka agar mempelakukan tamu ini dengan sebaik mungkin. Oleh sebab itulah, mereka berjaga dengan berbaris sebaik - baiknya.


"Hei, Siapa yang dimaksud tamu penting oleh Yang Mulia.?" Salah satu Prajurit yang berjaga bertanya pada Prajurit lain disamping nya.


"Aku tidak tahu, padahal baru kemarin Yang Mulia diserang kan?" Prajurit lainnya menggelengkan kepala.


"Ya, Yang Mulia merupaka orang yang heba-" Kata - Kata seorang Prajurit terpotong oleh perkataan Prajurit lainnya.


"Hei, lihat itu, dua orang yang berjalan kesini?" Salah satu Prajurit menunjuk pada Jalan yang ada di depan nya.


"Oh, kau benar, dua orang itu.... apakah mereka adalah yang dimaksud oleh Yang Mulia?"


"Seharusnya orang penting itu memakai Kereta Kuda kan...? Tapi, hanya untuk berjaga - jaga mari kita tanya mereka dengan sopan."


"Ya, kau benar." Semua Prajurit mengangguk.

__ADS_1


Hanya membutuhkan waktu sedikit sebelum Kedua orang yang Prajurit maksud tiba di hadapan mereka. Namun, saat dua orang itu benar - benar tiba, para Prajurit tertegun. Salah satu dari kedua orang itu adalah seorang pria yang mempunyai wajah sangat tampan. Bukan hanya itu, Sang Pria juga mengeluarkan Aura seorang penguasa yang bijaksana. Ditambah, seseorang yang mendampingi dirinya adalah seseorang yang telah mereka kenal, dia adalah tamu Sang Raja yang berasal dari insiden kemarin.


'Nona Nirlayn...?' Mereka semua mengatakan hal yang sama di hati nya.


Salah satu Prajurit menyadarkan diri sendiri dari lamunan nya. Dia mendekati kedua orang itu untuk menyambut mereka.


"Halo, Tuan, boleh saya tau siapa anda? lalu, apa urusan anda kemari?"


Prajurit itu bertanya dan tersenyum ramah, dia juga berkata dengan sopan. Meski pria itu bersama Nirlayn yang telah mereka kenali sebagai tamu Sang Raja, tapi belum tentu dia adalah tamu penting yang dimaksud oleh Sang Raja.


"....."


Sang Pria terlihat sedikit mengamati situasi yang ada di Gerbang masuk Istana. Dia melihat kesana dan kemari, setelah melakukan itu, baru dia memperhatikan Prajurit yang berbicara pada dirinya.


"Aku adalah Anryzel Dirvaren, seseorang yang ingin bertemu dengan Raja." Pria itu mengatakannya dengan tenang.


"Ah! Jadi anda benar - benar tamu yang dimaksud oleh Yang Mulia!" Prajurit itu tersenyum lebar.


"Selamat datang di Istana Kerajaan Aulzania!" Para Prajurit memberi penghormatan secara bersama - sama.


"Hm...?" Ren mengernyitkan alisnya.


"Mari, Saya antarkan Tuan dan Nona untuk masuk ke dalam Istana."


"Baiklah, ayo kita pergi Nirlayn..." Ren mengikuti Prajurit yang menyambutnya, bersama dengan Nirlayn untuk memasuki Gerbang Istana.


"Ya, Ren-sama..." Nirlayn menjawab samar - samar, suaranya begitu pelan, sehingga hanya Ren seorang yang dapat mendengar perkataan dia.


Durururururuu!


Gerbang menuju Istana dibuka, menampakan segala sesuatu yang berada di dalam Gerbang itu. Pemandangan pertama yang memasuki pandangan Ren adalah sebuah Taman hijau yang indah dan luas, dengan beberapa pekerja yang sedang melakukan perawatan pada Taman. Sebuah Istana yang megah dan sangat besar pun terlihat, di setiap sudut Istana itu ada 6 menara yang memiliki warna berbeda.


"Ini, cukup indah..." Ren berbicara pelan.


Kemudian mereka berjalan melewati Taman Istana dengan seorang Prajurit yang menjadi pemandu mereka. Ren telah memaklumi Sang Raja yang tidak menyambut dirinya secara langsung di Gerbang masuk. Bagaimana tidak, Konferensi ini merupakan sesuatu yang Ren katakan menjadi sesuatu yang Rahasia. Hanya orang - orang terpenting Kerajaan yang diperbolehkan mengetahui hal ini.


Setelah berjalan cukup lama melewati taman, Ren bisa melihat Istana itu semakin dekat. Sebelum tiba di depan Istana, ada sebuah Air Mancur yang besar, menghubungkan Jalan yang dia lewati dan Jalan lainnya.


"Ren-sama..." Nirlayn memanggil Ren dan menunjuk pada Istana yang tidak jauh dari mereka.


Ren menggelengkan kepala pada beberapa orang yang menunggu di depan Istana. Tepatnya pada Sang Raja sendiri yang sedang berdiri disana.


Pada akhirnya, Ren telah melewati Air Mancur tersebut. Saat ini, dia sedang menatap pada beberapa orang yang sedang berdiri di depan Istana. Beberapa orang itu adalah Sang Raja, Pangeran, Ratu, Derrian, Fraudlin, seorang pria paruh baya, seorang wanita yang memakai penutup wajah, dan terakhir adalah Sarlyn...


"Kalau begitu, saya mohon permisi..." Prajurit itu berpamitan pada semua orang yang berada disitu.


Prajurit itu pergi dengan wajah yang pucat, sepertinya dia merasa tegang karena bertemu dengan orang - orang terpenting di seluruh Kerajaan ini. Setelah kepergian Prajurit, Sang Raja tersenyum pada Ren...


"Tuan Dirvaren! Selamat datang!" Raja menyambut Ren dengan Antusias.


"Selamat datang Tuan Dirvaren.." Ratu menyambut Ren.


"Selamat datang Tuan Dirvaren.!" Pangeran menyambut Ren.


"Tuan Dirvaren, saya mengucapkan Selamat datang." Derrian melakukan hal yang sama.


"Master Dirvaren...!" Fraudlin segera menghampiri Ren dengan wajah tersenyum.


"Selamat datang, Master!"


"Ya, Terima kasih atas penyambutan yang begitu terhormat ini, Raja Esdagius." Ren mengangguk tersenyum.


"Baiklah, mari kita segera memulai urusan kita, bukankah begitu, Raja Esdagius?" Ren memberi sebuah usulan, meski wajahnya dipenuhi senyuman namun itu begitu misterius.


"Ya, anda benar. Mari kita masuk dan mulai kepentingan ini.." Raja mengangguk setuju pada usulan yang diberikan Ren.


Semua orang kemudian memasuki Istana Kerajaan Aulzania....


*


*

__ADS_1


*


*


*


Ren mengikuti Sang Raja untuk memasuki Istana. Kemudian dia melewati sosok Sarlyn yang sedang menatapnya dengan cemas.


"Um... Anu, T-Tuan Dirvar-en?" Sarlyn menyapa Ren yang berjalan melewati nya.


Perkataan Sarlyn hanya membuat Ren meliriknya sedikit. Tetapi, dengan tidak peduli Ren mengabaikan Sarlyn dan berjalan kembali. Sikap Ren membuat Sarlyn terlihat putus asa, setelah mendengar penjelasan Sang Raja tentang kebenaran semua ini, membuat Sarlyn mau tak mau diliputi Rasa penyesalan yang besar.


"Tu-Tuan Dirvaren! Mohon Maafkan aku!" Sarlyn mengejar Ren yang sedang berjalan, dia memegang sedikit Pakaian bagian belakang yang Ren kenakan. Membuat Ren berhenti berjalan...


"Apa..? Kau berani berbicara padaku? Seorang penyihir kelas Rendah sepertimu tidak berhak memohon padaku..." Ren menatap tajam pada Sarlyn yang berada di belakang nya. Mata Ren menyala merah, membuat waktu seakan menjadi berhenti bergerak.


"Ahhh...?" Sarlyn berjalan mundur.


Bruukkk.


Dia kemudian terjatuh di lantai, mata nya dipenuhi oleh ketakutan.


"Tu-Tuan Dirvaren, Tenanglah, lebih baik kita segera ke tempat dimana kita akan berbicara..." Raja menenangkan Ren dengan wajah pucat.


"Kau benar, maafkan aku..." Ren mengangguk dan kembali mengikuti Sang Raja.


Semua orang melakukan hal yang sama, meninggalkan Sarlyn yang duduk terkulai lemas di lantai. Sarlyn ditinggalkan dalam keadaan yang menangis terisak - isak..


*


*


*


*


Ruang Konferensi.


Sebuah meja bundar berukuran besar terdapat di pusat Ruangan. Bersama dengan kursi - kursi mewah yang berjajar mengelilingi Meja bundar itu. Seharusnya semua kursi berjumlah lima belas, namun karena yang hadir hanya ada sepuluh orang, beberapa kursi disingkirkan agar terlihat lebih nyaman.


Mereka duduk berhadapan, Raja dan orang - orang yang berasal dari pihak Kerajaan Aulzania menghadap pada Ren dan Nirlayn. Sebagian tempat dengan sengaja dikosongkan, agar Ren dapat disaksikan oleh para orang dari pihak Kerajaan.


Ada dua orang dari pihak Kerajaan yang tidak Ren ketahui. Satu adalah wanita misterius yang memakai penutup wajah, lalu satu lagi adalah pria paruh baya yang terlihat bijaksana.


"Ehm...! Baiklah, semua yang hadir disini.!" Raja membuka pembicaraan.


"Pertama, biar aku perkenalkan kepada kalian, seorang yang mengusulkan Konferensi ini, dia adalah Tuan Anryzel Dirvaren....." Raja memperkenalkan Ren pada orang - orang nya, mungkin hanya kedua orang yang tak dikenal itu, yang belum mengetahui sosok Ren.


"Terima kasih Raja Esdagius, karena telah memperkenalkan diriku. Aku ingin sedikit bertanya, siapa kedua orang yang belum ku ketahui ini..?" Ren menanyakan identitas kedua orang yang tidak dia kenali.


"Hm.. Aku melupakannya.... Rialna tidak apa - apa kan? Etharez?" Raja berbalik pada Ratu dan Pangeran, seolah meminta Izin atas sesuatu.


"Rajaku, aku mempercayai segala keputusanmu." Ratu menutup mata nya, dia telah melimpahkan keputusan kepada Sang Raja.


"Begitu juga denganku Yang Mulia, keputusan ada ditangan anda." Pangeran berbicara Formal pada Ayahnya, mungkin karena ada banyak orang lain disini.


"Ya, Baiklah. Tuan Dirvaren, pertama lelaki paruh baya ini adalah seorang tangan kananku, Margen. Lalu, Perempuan yang memakai penutup wajah ini adalah.... Putriku."


"Putrimu...?" Ren terlihat memikirkan sesuatu.


'Ya ampun, aku lupa hal ini... dia juga pernah menyebutkan soal Putri Rembulan kan?'


Ren mengingat perkataan Gyslen pada malam itu. Gyslen menanyakan siapa yang lebih cantik antara dirinya dan Putri Rembulan.


"Benar Tuan Dirvaren, dia adalah Putriku yang bernama Sylna Asnien Ri Aulzania. Sebuah hal yang wajar jika diri anda tidak mengetahui dirinya." Raja memperkenalkan Putrinya itu.


"Hm.. Hal yang wajar?" Ren mengernyitkan alisnya.


"Ya karen--" Raja akan berbicara namun terpotong oleh Perkataan Ren.


"Tidak, jangan menjawabnya saat ini... Kita prioritaskan urusan penting terlebih dahulu."

__ADS_1


"Um. Tuan Dirvaren benar..."


Konferensi pun segera dimulai....


__ADS_2