
Ruang aneh dan asing itu dipenuhi oleh kilatan cahaya, sebuah efek yang dihasilkan dari serangan yang bertumbukan antara orang-orang yang berseteru di dalamnya.
Dilihat dari sudut manapun, Ren yang seorang diri melawan beberapa dari mereka semakin disudutkan. Kesulitan itu ditambah oleh ruang aneh ini yang merupakan dimensi yang dibuat oleh Draisma, sang archangel agung dari ras malaikat.
Ren kewalahan ketika harus membiasakan diri dengan hukum alam yang berubah-ubah di dimensi tersebut.
Terkadang saat Ren ingin menghindar atau menyerang, gravitasi dalam dimensi seolah-olah diatur untuk menyusahkannya. Terkadang pula, Ren diserang oleh semacam sihir untuk mengacaukan pikirannya.
Semua hal itu membuat perasaan tidak pasti dalam diri Ren dan menimbulkan sebuah pertanyaan apakah semua ini kenyataan atau ilusi?
Namun Ren sangat beruntung memiliki Pedang Nuxuria, dimana Pedang Nuxuria akan selalu menyadarkannya ketika dia hampir ditelan oleh kekuatan Draisma.
Siklus itu terus berlanjut sampai di suatu titik, Udensa dan Vezisa melancarkan serangan beruntun silih berganti ke arah Ren. Mereka akan bergantian menyerang tanpa menyisakan jeda sedikitpun untuk Ren menghela napas.
Konsentrasi Ren seketika buyar karena harus diserang terus-menerus. Lama-kelamaan, Ren memutuskan untuk tidak peduli dan membiarkan tubuhnya yang bertindak.
Disaat yang sama, Ren memejamkan mata dengan tujuan merenungkan dan memikirkan atas apa yang terjadi.
"Tidak, tidak, tidak."
"Aku masih belum menyelesaikan sesuatu yang dipercayakan padaku.
"Bukankah semua ini terlalu memalukan? Setelah kekalahanku oleh seekor cacing hitam karena kecerobohanku sendiri?"
Ren menertawai dirinya sendiri sambil tidak mempedulikan serangan bertubi-tubi yang datang ke arahnya. Dia hanya percaya bahwa tubuhnya akan bertindak secara alami untuk menahan serangan mereka berdua.
"Itu benar ... masih ada banyak hal yang bisa aku lakukan di dunia ini, tidak akan kubiarkan semua itu dihentikan oleh mereka," gumam Ren seraya membuka mata.
Sesaat setelah bergumam, kedua mata Ren kembali menyala seolah api yang padam kembali dihidupkan. Aura dahsyat menyelimuti tubuhnya hingga membuat Udensa dan Vezisa berhenti menyerang secara sementara.
Draisma yang melihat perubahan yang drastis itu secara spontan memerintahkan Udensa dan Vezisa untuk mundur.
"Kalian berdua, mundur!"
Keduanya tidak meragukan perintah Draisma, mereka berdua langsung bergerak mundur karena merasakan bahaya. Namun, tubuh keduanya seketika berhenti tanpa alasan.
"Tunggu, kemana kalian akan pergi?"
Ba-dum!
Jantung mereka berdetak keras, tubuh mereka seolah membatu dan tidak bisa dikendalikan. Baik Udensa maupun Vezisa tidak mampu memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.
"Itu tidak sopan untuk membelakangi musuh."
Sesuatu yang sulit dipercaya telah mereka berdua rasakan, tubuh yang serasa mustahil digerakan sekarang malah memutar dengan lancar seolah menanggapi keinginan Ren.
"Bagus, kalian sangat penurut. Sekarang diam dan terimalah takdir yang akan datang pada kalian berdua yaitu, kematian."
Ren mengusap bilah pedang dari Nuxuria seraya mengucapkan terima kasih dalam bentuk gumaman terhadap pedangnya. Kemudian, Ren menebaskan pedang itu dari kejauhan ke arah Udensa dan Vezisa.
Viltic sang makhluk hitam yang awalnya berniat untuk menonton tanpa mencampuri pertempuran mereka terpaksa bertindak. Viltic memberitahu Draisma jika dia tidak menolong Udensa dan Vezisa maka keduanya akan mati.
"Mereka harus ditolong, Tuan Draisma."
Draisma pun bergerak sesaat setelah berdecak kesal. Draisma berhenti tepat dihadapan Vezisa dan Udensa seraya mengeluarkan barrier pertahanan dihadapan semuanya.
Efek pertahanan dari barrier Draisma diperkuat karena tempat ini merupakan dimensi yang dibuatnya. Meski tidak dapat diatur sesuka hati, setidaknya dimensi ini memberi lebih keuntungan bagi keberadaan Draisma.
Barrier pertahanan Draisma ternyata berhasil menghalau serangan Ren hingga nyawa Udensa dan Vezisa terselamatkan. Akan tetapi, tindakan Draisma yang ikut campur itu malah mengundang sesuatu yang tidak pernah ia duga dalam hidupnya.
"Kau ingin mati?"
Ba-dum!
Jantung Draisma berdetak kencang, ini adalah sebuah perasaan serupa yang dialami oleh Udensa dan Vezisa sebelumnya.
"Jika kau sebegitunya ingin mati, maka aku akan mengabulkannya. Diam dan rasakanlah sesuatu yang tidak pernah terpikirkan akan terjadi padamu sebelumnya."
Draisma merasakan tubuhnya tidak merespon dan tetap diam. Bahkan mulutnya tidak mampu digerakan. Satu-satunya yang masih mampu dia kendalikan adalah pikiran dan mata untuk melihat.
Harga diri seorang Archangel membuat Draisma berusaha untuk memberontak sekuat tenaga. Draisma bahkan memaksa untuk bergerak walaupun satu gerakan yang dia paksakan berhasil membuat dirinya sendiri terluka.
__ADS_1
"A, Argh..!!!!"
Draisma berusaha keras untuk melawan, akan tetapi semua perlawanan itu hanya menghasilkan sesuatu yang tidak memiliki arti yang berharga. Usahanya menggerakan satu jari membuat satu lengan hancur seolah tercabik-cabik.
Ren yang melihat itu hanya tersenyum tanpa belas kasihan. Diapun berpikir bahwa ini adalah saat yang tepat untuk mengeksekusi dan menyelesaikan semua ini.
"<>"
Sebuah skill yang hampir serupa tapi daya hancurnya berada cukup jauh di bawah skill yang digunakan oleh Ren ketika mengalahkan Dragon God.
Ren sendiri tidak mengerti, mengapa hampir semua skill yang ada dalam Job Divine Swordsman memiliki hubungan dan nama dengan dimensi dan kenyataan.
"Yah, itu tidak penting ..."
Shing!
Tebasan Horizontal yang sangat-sangat biasa dan tidak menarik itu menghasilkan bilah yang tidak kalah biasanya. Bilah itu berukuran raksasa dan menggetarkan seluruh ruang yang ada di sekitarnya.
Draisma seorang Archangel dengan harga diri tinggi dan kesombongan yang luar biasa akan kekuatannya merasa semua ini mimpi dan tidak mungkin kenyataan.
'Seseorang yang agung seperti aku dikalahkan?'
Satu pertanyaan itu melayang dan berputar-putar di kepalanya.
Bilah itupun langsung meledak ketika mengenai Draisma, Udensa, dan Vezisa. Gelombang ledakan yang dihasilkan olehnya menghancurkan dimensi yang dibuat olehnya.
Perlahan dunia sekitar pun kembali seperti semula. Pandangan Ren dengan sendirinya melihat kelompok Nirlayn dan yang lain sedang berekspesi khawatir seolah mencari sosoknya.
Dengan sedikit kekuatan yang tersisa, Ren tersenyum ke arah mereka dan meminta agar mereka melakukan sesuatu.
"Tolong, bisakah kalian menjagaku untuk sementara?"
Pandangannya buram, dan kesadarannya pun memudar. Ren tidak mampu menahan tubuhnya yang lemah dan terjatuh dari ketinggian di udara.
"Tidak, Ren-sama terjatuh!!"
"Cepat, tangkap dia!"
Arystina dan Nirlayn berteriak panik dan berkata pada Indacrus agar segera menyelamatkan tubuh Ren yang terjun bebas di udara.
"Apa yang terjadi pada Yang Mulia?" tanya Arystina cemas.
"Aku tidak tahu, Ren-sama mungkin mengalami sesuatu yang berat, sedangkan kita ..."
Keduanya pun diam merenung sambil berpikir sekali lagi mereka berdua tidak berguna.
Momen perenungan bagi Nirlayn dan Arystina tidak berlangsung lama saat semuanya dihentikan oleh suara tepuk tangan keras yang tidak jauh dari mereka.
"Menakjubkan, dia adalah orang yang menakjubkan dan sangat menarik. Sayang sekali, aku tidak memiliki otoritas untuk mengurusinya sendiri."
Makhluk hitam bernama Viltic itu mengapung di udara sambil membawa tiga orang yang tak sadarkan diri melayang di sekitarnya.
"Sebagai bentuk hadiah karena telah menghiburku, akan aku berikan sesuatu untuk kalian semua."
Tak!!
Satu jentikan dari Viltic membuat seluruh Kota Zarisma selain Temple of Light meledak hebat. Ledakan itu sangat dahsyat hingga tidak mungkin para penduduk dapat bertahan setelah terkena olehnya.
"Itu adalah sedikit hiburan untukku, dan ini hiburan untuk kalian."
Viltic memanggil sebuah portal hitam yang cukup besar di udara. Dia kemudian masuk ke dalam portal itu bersama Draisma, Udensa dan Vezisa, setelah itu dua sosok meluncur dengan cepat mengikutinya masuk ke dalam portal.
Avrogan, Indacrus, Nirlayn dan Arystina yang menyaksikan semua itu terdiam tanpa mengeluarkan sepatah kata. Di satu sisi mereka waspada terhadap Viltic, tapi di sisi lain mereka kebingungan harus berbuat apa.
Namun seolah menjadi penanda untuk mereka semua, makhluk-makhluk hitam bermunculan dari dalam portal. Rupa dan bentuk mereka sama dengan dua makhluk yang dikalahkan oleh Ren ketika invasi para monster di Kota Aulzania.
"Hii~ ... kurasa kita harus melawan mereka?" ucap Avrogan seraya mendenguskan asap listrik dari hidungnya.
"Kau benar, mari kita lindungi Tuan agar dirinya bisa beristirahat," sahut Indacrus.
Avrogan tidak berkata apa-apa lagi dan langsung berubah ke mode kuda bersayap berzirah miliknya. Kemudian dengan hentakan kaki untuk memperkeren diri, Avrogan pun meluncur dan menerjang ke arah makhluk hitam yang berdatangan.
__ADS_1
"Sebaiknya Nona turun dan menjaga Tuan, serahkan makhluk hitam itu padaku dan Avrogan."
Arystina dan Nirlayn mengangguk, setidaknya mereka masih melindungi tuannya yang sedang tidak sadarkan diri. Hal itu merupakan nilai kebergunaan mereka berdua untuk saat ini.
Indacrus mendarat dihadapan bangunan Temple of Light. Setelah Arystina dan Nirlayn membawa Ren turun, diapun kembali terbang dengan cepat ke udara untuk membantu Avrogan.
"Yang Mulia tidak apa-apa 'kan?" tanya Arystina lagi dengan cemas.
Nirlayn memeriksa detak jantung dan denyut nadi, semuanya terasa sangat normal sehingga dia cukup yakin untuk menjawab bahwa Ren hanya tidak sadarkan diri karena kelelahan.
"Tidak apa-apa, Ren-sama adalah orang yang kuat, dia akan tersadar beberapa saat setelah beristirahat."
Saat keduanya menunggu seraya menyaksikan pertempuran di atas langit, ada satu sosok yang dikenal menghampiri dari kejauhan.
Sosok yang muncul adalah Raytsa yang datang dari Kota Zarisma yang hancur lebur. Raytsa menyadari keberadaan Nirlayn dan Ren lalu segera menghampiri mereka.
"Ada apa dengan Yang Mulia?!" tanya Raytsa cukup panik.
"Ren-sama tak sadarkan diri setelah bertempur melawan empat orang musuh sekaligus," balas Nirlayn dengan lesu.
Raytsa terdiam sambil menatap Nirlayn.
"Lalu, apakah tidak ada yang membantu?" tanya Raytsa dengan tatapan yang sedikit tajam.
Sekali lagi, Nirlayn menggelengkan kepala dengan sangat lesu.
"Itu tidak mungkin, kami bahkan tidak bisa memasuki tempat pertempuran yang dibuat oleh musuh."
Mendengar alasan yang masuk akal, ekspresi tajam Raytsa pun melunak. Raytsa juga merenungi tindakannya yang tiba-tiba bertanya dengan tatapan tajam tanpa alasan yang jelas.
"Baiklah, itu memang tidak bisa dihindari."
Raytsa dengan segera memeriksa kondisi Ren, dan seperti yang dialami Nirlayn sebelumnya diapun tidak menemukan adanya suatu masalah yang berarti.
Disaat Raytsa menghela napas lega, dua sosok lain yang tak asing kembali muncul. Mereka adalah Rusava yang membawa sebuah buku di genggamannya serta Rakuza yang membawa seorang wanita di tangannya.
Melihat semuanya telah berkumpul, Rakuza dan Rusava bergegas menghampiri mereka dan menanyakan hal yang sama.
"Yang Mulia?! Apa yang terjadi?" tanya Rusava keheranan.
Namun kali ini, giliran Raytsa yang menjelaskan situasi yang telah dia dengar dari Nirlayn sebelumnya. Raytsa menjelaskan satu demi satu secara perlahan hingga Rusava dan Rakuza dapat mengerti sepenuhnya.
Setelah mendengar penjelasan Raytsa, Rakuza membaringkan Kina teman wanitanya diatas lantai secara perlahan. Nirlayn melihat itu, secara spontan diapun bertanya penasaran.
"Itu adalah teman wanitamu?"
Nirlayn bertanya pada Rakuza secara tiba-tiba. Hal itupun membuat Rakuza sedikit terkejut, tapi akhirnya dia menjawab dengan anggukan.
"Benar, beruntung sekali tidak terjadi apa-apa padanya."
"Hm, itu bagus, Ren-sama pasti akan senang mendengarnya."
Di sisi lain, Rusava dan Raytsa sudah bersiap untuk membantu Avrogan dan Indacrus melawan kawanan makhluk hitam yang terus bermunculan.
"Sepertinya mereka hanya pion yang bisa dibuang kapan saja," guman Nirlayn.
Arystina dan Rakuza tertarik atas gumaman Nirlayn yang cukup membingungkan.
"Apa maksudnya itu, Nirlayn?"
"Setelah melihat kekuatan yang dimiliki oleh Ren-sama, tidak mungkin mereka mengirim sesuatu yang lemah seperti itu kecuali untuk dua alasan. Pertama, mereka tidak memiliki pasukan lain atau yang kedua ..."
"Mereka tidak membutuhkannya kah?" sahut Rakuza.
Semuanya pun terdiam, mereka menyadari seberapa berbahaya dan mengancamnya musuh mereka kali ini.
_________
*Catatan Author :
• Jika ada sesuatu yang tidak sinkron dengan ch sebelumnya tolong sampaikan nanti akan saya Revisi karena saya sudah lupa.
__ADS_1
• Maaf jika cerita ini tidak jelas kemana arah tujuannya, meski begitu saya akan berusaha.
•Saya ketiduran, sesaat setelah bangun lihat kalender udah ganti tahun. Aneh* ....