
Kota Aulzania, Mansion Sarlyn.
Mansion yang cukup besar, meski tak sebesar milik Duke Tayslen. Mansion ini tetap lebih bagus daripada Rumah orang - orang kaya serta bangsawan lain di Kerajaan ini.
Di halaman mansion, Kereta Kuda yang membawa Sarlyn, Nirlayn dan Lin-Ya berhenti. Tidak lama, satu per satu dari mereka keluar dari kereta.
Beberapa Prajurit yang menjaga Gerbang menyambut kedatangan Sarlyn kembali.
"Selamat Datang, Nona Sarlyn." Mereka berkata dengan serempak.
"Um... Bawakan beberapa barangku dan barang mereka berdua yang ada dalam Kereta."
"Baik!"
Para Prajurit bergegas mengambil barang - barang yang dimiliki oleh Sarlyn.
Mereka juga membawa satu barang yang dimiliki oleh Lin-Ya. Segera, para prajurit itu membawa barang - barang ini terlebih dahulu ke dalam Mansion.
"Ayo masuk." Sarlyn mengajak Nirlayn dan Lin-Ya untuk memasuki Mansion nya.
Nirlayn dan Lin-Ya mengangguk, mereka lalu mengikuti Sarlyn yang berjalan untuk memasuki Mansion.
Pintu Mansion terbuka menampakan bagian dalam dari Mansion. Disana terlihat beberapa Pelayan telah menunggu untuk menyambut kedatangan Sarlyn.
"Selamat datang, Nona." Para pelayan membungkuk bersamaan.
"Ya, Kalian tidak harus selalu menyambutku secara berlebihan seperti ini." Sarlyn terlihat bermasalah.
"Itu tugas kami Nona Sarlyn!" Para pelayan berkata dengan bersemangat.
"Hah... Kalian memang keras kepala." Sarlyn menggelengkan kepalanya.
"Baiklah, antarkan mereka ke kamar tamu. Aku akan melakukan beberapa hal terlebih dahulu." Sarlyn memerintahkan para pelayan agar mengantar Nirlayn dan Lin-Ya.
Setelah mengatakan itu, Sarlyn beranjak pergi. Meninggalkan Nirlayn dan Lin-Ya bersama para Pelayan.
"Mari saya antar.." Seorang pelayan menghampiri dan berbicara dengan Nirlayn dan Lin-Ya.
Pelayan itu membimbing Nirlayn bersama Lin-Ya menuju Kamar Tamu. Setelah beberapa waktu melewati Koridor. Pelayan itu berhenti di depan sebuah pintu.
"Disini, kamar tamu untuk Nona - Nona." Pelayan itu membukakan pintu dan menunjukan seisi Ruangan.
Pemandangan Kamar yang Luas memasuki mata Nirlayn dan Lin-Ya. Kamar yang dipenuhi oleh barang - barang mewah seperti Jam antik, Dekorasi bunga, Lukisan dan Dekorasi lainnya.
Di kamar ini juga terdapat Kursi mewah serta Ranjang besar yang tak kalah mewahnya.
"Jika kalian membutuhkan sesuatu, panggil saja saya."
Pelayan itu meninggalkan kamar dan menutup pintu. Menyisakan hanya Nirlayn dan Lin-Ya diruangan itu.
Ruangan itu kini hening, tidak ada satupun dari mereka yang bicara.
"Ehm...!" Nirlayn terbatuk pelan.
"Namamu Lin-Ya kan?" Nirlayn akhirnya membuka pembicaraan.
"Eh?! B-Benar.!" Lin-Ya terkejut oleh pertanyaan Nirlayn yang tiba - tiba.
"Tidak perlu segugup itu.... Mari duduk terlebih dahulu." Nirlayn mengibaskan lengannya, menandakan agar Lin-Ya tidak usah bertindak gugup dihadapannya.
__ADS_1
"Ah.. Iya."
"Mhm... kau tahu, sebenarnya kau cukup beruntung."
"Berunt-ung..? Apa maksudmu Nona Nirlayn?" Lin-Ya terlihat kebingungan.
"Nona..? Tidak usah memanggilku seperti itu. Panggil aku Nirlayn, itu adalah Nama yang diberikan langsung Ren-sama padaku."
"Um.. Kalau begitu Nirlayn, apa yang kamu maksud dengan beruntung?"
"Maksudku, Ren-sama telah menjamin keselamatanmu. Itu berarti, Ren-sama telah mengakui kelayakanmu. Maka dari itu, aku sebagai bawahan pertama Ren-sama mengucapkan selamat datang padamu!" Nirlayn berbicara dengan semangat.
"Anu...? Aku tidak berniat untuk menjadi seorang bawahan. Lagipula, bukankah Ren hanya seorang manusia biasa? mengapa kamu menjadi bawahan orang yang lebih lemah darimu?"
Lin-Ya mengatakan perasaannya dengan jujur. Tapi, disinilah letak masalahnya, perkataan Lin-Ya membuat perasaan Nirlayn menjadi tersinggung.
"Apa...? apakah kau meremehkan Ren-sama seperti.. para Manusia kurang ajar itu?" Nirlayn berbicara dengan Dingin.
Lin-Ya menyadari kesalahan dalam perkataannya. Dengan terburu - buru Lin-Ya menggelengkan kepala, bermaksud untuk menyangkal tuduhan Nirlayn.
"Tidak - Tidak..! aku tidak bermaksud sedikitpun meremehkan Ren! aku hanya mengatakan apa yang aku lihat, aku tidak tahu sedikitpun tentang kekuatan ataupun keistimewaan dari seorang Ren..!"
Lin-Ya buru - buru menjelaskan maksud yang sebenarnya dari perkataan yang dia lontarkan.
Penjelasan Lin-Ya terbukti berguna, wajah Nirlayn terlihat sedikit melunak.
"Perkataanmu itu bukan sebuah kebohongan kan?"
"Te-Tentu saja."
Lin-Ya berbicara dengan bibir gemetar, perasaannya takut akan kemarahan Nirlayn. Dihadapan Nirlayn yang Kuat, Mana mungkin dirinya tidak takut, hanya dengan sedikit kekuatan Nirlayn saja sudah mungkin membunuh Lin-Ya.
Nirlayn menjelaskan dengan wajah penuh kebahagiaan. Lin-Ya mau tak mau merasa keheranan akan ekspresi yang ditunjukan oleh Nirlayn. Namun, Lin-Ya tetap mendengarkan perkataan Nirlayn dengan seksama.
"Apakah Ren sehebat itu...?"
Lin-Ya merasa tidak percaya bahwa Ren sehebat seperti yang dibicarakan Nirlayn.
Tapi, Lin-Ya mempercayai satu hal, bahwa Ren adalah orang yang baik.
"Tentu saja..! Dan kau ingin tahu mengapa aku menjadi bawahan Ren-sama kan?"
"Um..!" Lin-Ya mengangguk penuh minat.
"Jika kau bisa bersumpah untuk tidak membocorkan hal ini pada siapapun kecuali diberi Izin Ren-sama. Maka aku akan memberitahumu..."
"He...? Sebegitu Rahasia nya..? Baiklah, aku bersumpah tidak akan membocorkannya pada siapapun." Lin-Ya merajuk.
"Bagus sekali, aku terima sumpah mu itu, dan jika kau melanggarnya...... Maka aku akan menyingkirkanmu paham?" Nirlayn mengintimidasi Lin-Ya dengan perkataannya.
"Glekk.. Aku mengerti."
"Pertama - tama... Ren-sama dan aku bukan berasal dari Ras Manusia. Kami berasal dari Ras yang terhormat dan Mulia, yaitu Blood Devil."
"Blo-od Devil...?" Lin-Ya terlihat memiringkan kepalanya.
"Ya, Nama lain dari Ras kami adalah Ras Reinkarnasi. Kau tahu mengapa kami disebut begitu...? karena setiap kami mati, kami dapat bereinkarnasi kembali apabila semua syarat telah terpenuhi.."
"Blood Devil? Ras Reinkarnasi?" Lin-Ya terlihat makin kebingungan.
__ADS_1
"Dalam Ras Blood Devil, setiap individu memiliki tingkatan tertentu. Dimulai dari Individu biasa, Bangsawan, Raja, Ancestor dan yang terakhir adalah True Ancestor."
"Saat aku masih hidup dulu, aku berada pada tingkatan Raja. sedangkan untuk Ren-sama.... aku yakin, dirinya berada pada tingkatan True Ancest-!"
"Tunggu - Tunggu, Berhenti! Nirlayn. aku masih belum mengerti satu hal!"
Lin-Ya memotong perkataan Nirlayn yang sedang bersemangat menjelaskan asal - usul Ras nya.
"Apa...? aku sedang menjelaskan tau."
Nirlayn terlihat kesal karena penjelasan yang dia berikan dipotong oleh seorang Lin-Ya.
"Apa itu Blood Devil? Aku baru pertama kali ini mendengarnya..."
"Eh....?! Apakah kau tidak diberikan pelajaran tentang Nama - Nama Ras yang ada di dunia ini?"
Nirlayn terlihat tidak terima atas perkataan Lin-Ya.
"Aku bersumpah, aku memang benar - benar tidak tahu sebuah Ras yang bernama Blood Devil. Aku tidak pernah mendengarnya dimanapun."
Mendengar perkataan Lin-Ya, Nirlayn terkulai lemas di kursi nya. Seluruh tubuhnya seakan telah kehabisan Energi
"Mus-Mustahil...? Apakah Ras kami sudah terlupakan..?"
"Katakan padaku, Nama dari setiap Ras yang ada di dunia ini Lin-Ya."
"Dimulai dari Manusia kemudian Elf, Dwarf, Peri, Iblis, Malaikat, Demi-Human, Roh dan Naga. Sejauh yang kutahu hanya ada 9 Ras ini di dunia..."
Lin-Ya terlihat berkata dengan jujur. Nirlayn pun tidak merasakan adanya kebohongan dalam perkataan Lin-Ya.
"Apa.....? Ini tidak mungkin..." Nirlayn bergumam tak percaya.
"Lalu.... Bagaimana dengan Vampire?" Nirlayn bertanya kembali.
"Eh? Vampire itu iblis kan....?"
"Rupanya begitu...." Nirlayn berkata dengan perlahan.
Brakk!
Nirlayn memukul meja yang ada dihadapannya. Menghasilkan sebuah Retakan pada Meja itu. Lin-Ya yang melihat perubahan Ekspresi dan Tindakan Nirlayn menjadi Terkejut sekaligus takut.
"Ni-Nirlayn... Apakah, aku salah mengatakan sesuatu.. lagi?"
"Tidak... Kau tidak mengatakan suatu hal yang salah. Malahan, aku berterima kasih padamu Lin-Ya. Aku akhirnya mengerti bahwa Mereka telah mengkhianati kami...."
Mata Nirlayn terlihat merah menyala, sosoknya kini terlihat sepenuhnya marah.
Lin-Ya membeku, wajahnya pucat ketika menatap Mata Merah milik Nirlayn.
"Ni-Nirlayn... Ten-anglah.."
Nirlayn tidak mendengarkan sedikitpun perkataan Lin-Ya. Dirinya beranjak pergi dari kursi mendekat ke arah jendela.
Nirlayn lalu berdiam, menatap langit yang cerah di luar jendela.
"Aku harus segera melaporkan hal ini pada Ren-sama..."
Gumaman Nirlayn sedikit terdengar oleh Lin-Ya. Dalam hati Lin-Ya, perasaan bersalah muncul. Lin-Ya sepertinya memicu sebuah Konflik yang akan datang dimasa mendatang..
__ADS_1