Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 119 ~ Kekacauan Kerajaan Suci Sancteral


__ADS_3

Kota Soliedavosa dilanda oleh kepanikan dan kekacauan. Hancurnya sebagian wilayah dari kota, terbunuhnya Enshu, dan diserangnya Great Bishop merupakan kabar yang sangat buruk untuk mereka semua.


Berbondong-bondong mereka berdoa pada Dewa Augsnel untuk meminta perlindungan sekaligus keselamatan. Tapi tidak sedikit pula dari mereka yang lebih memilih untuk kabur demi menyelamatkan diri.


"Ehh ... aku tidak mengerti lagi dengan kebodohan mereka semua."


Ren yang merupakan dalang dari segala dalang yang membuat Kota Soliedavosa seperti ini memberi komentar. Hal ini tidak dapat dipungkiri bahwa sikapnya masuk akal, karena Dewa Augsnel yang mati-matian mereka sembah adalah orang yang pertama kali kalah.


"Maafkan saya, Ren-sama."


Mereka semua sedang meninggalkan Kota Soliedavosa untuk menuju tempat selanjutnya. Jadi, Nirlayn yang tiba-tiba meminta maaf itu cukup aneh saat terdengar di telinga.


"Apa maksudmu?" tanya Ren heran.


Mereka bisa berbicara seperti ini karena Ren, Nirlayn, dan Arystina berada di dalam kereta kuda. Tentu saja Nirlayn dan Arystina duduk berselebahan sedangkan Ren duduk sendiri di hadapan mereka berdua.


"A-ah itu, soal kejadian tadi ... semua itu salah saya hingga terlibat pertikaian dengan pria itu. Arystina, ataupun Avrogan, mereka hanya mengikuti apa yang saya sarankan untuk menunggu Anda sebelum keluar dari kota."


Menanggapi ini, Ren mengangguk sambil memejamkan mata. Perkataan Nirlayn menjelaskan tindakan mereka yang tidak memilih jalur udara untuk keluar dari kota.


Semua itu ternyata disebabkan oleh Nirlayn yang tidak ingin meninggalkan Ren. Tapi, bukankah ini sama dengan menyebut bahwa Ren merupakan alasan dari semua itu?


"Aku kira itu tidak masalah. Lagipula hidup dan mati pria itu tidak menimbulkan dampak negatif apapun. Yah, bisa dibilang ini merupakan pelatihan mandiri untukmu dan Arystina dalam melindungi diri sendiri, benar 'kan?"


Selalu membantu mereka dalam semua kondisi berbahaya tentu akan menimbulkan dampak negatif tersendiri. Dalam kasus Nirlayn dan Arystina, mereka tidak akan mengalami dampak negatif ketergantungan.


Namun mereka masih bisa terkena sedikit dampaknya, yaitu kemampuan yang tidak meningkat. Baik itu dari segi kekuatan, pemikiran, maupun kerja sama.


Keputusan Ren untuk tidak bertindak secara langsung dan hanya mengamati itu terbukti sangat tepat. Hasilnya, dalam diri Nirlayn dan Arystina mulai muncul rasa kerja sama untuk menghadapi musuh yang kuat.


Meskipun kerja sama mereka berdua masih terbilang jauh dari kata sempurna tapi itu tidak dapat dihindari. Seiring berjalan-nya waktu, kesempurnaan itu akan tercapai dengan sendirinya.


"B-begitu, baiklah jika Ren-sama tidak menganggapnya masalah. Tapi sekali lagi, saya minta maaf karena telah melanggar keinginan Anda untuk tidak mengotori tangan ini dengan darah."


Apakah yang dimaksud oleh Nirlayn adalah perkataan Ren ketika dia baru saja bangkit dari kematian? Jika benar, maka Nirlayn telah sedikit salah paham.


"Salah, aku tidak melarangmu merenggut nyawa orang lain. Jika itu memang diperlukan maka lakukanlah. Hal yang tidak aku sukai adalah ketika kemarahan menelan dirimu dan menjadikanmu makhluk tak berperasaan."


Kejam, sadis, dan tidak berperasaan, hal itulah yang tidak diinginkan oleh Ren. Beda lagi jika itu hanya membunuh, di dunia ini hal semacam itu sudah menjadi hal yang lumrah untuk bertahan hidup.


Malah akan aneh jika Ren melarang Nirlayn untuk membunuh orang lain ketika dirinya dalam keadaan bahaya. Daripada menunggu musuh membunuhmu, maka lebih baik kau yang membunuh musuh terlebih dahulu, bukankah begitu?


"Saya kurang mengerti, maukkah Anda memberikan sedikit penjelasan lagi?"


Ren menyilangkan lengan dan menyilangkan kaki, kemudian memejamkan mata dan menghirup napas dalam-dalam. Perlahan dia membuka mata seolah-olah telah berpikir dengan keras untuk mencari jawaban.


Namun dengan tidak pedulinya, Ren berkata singkat, "Tidak, itu cukup merepotkan."


Balasan Ren yang menyakitkan itu membuat Nirlayn sedikit berkaca-kaca. Seorang Arystina yang sudah terbiasa menyimak obrolan pun bahkan menyadarinya.


"Saya pikir Anda terlalu kejam pada Nirlayn, Yang Mulia. Lihatlah, Nirlayn sebentar lagi akan menangis." Arystina mencoba menenangkan Nirlayn dengan menepuk kepalanya beberapa kali.

__ADS_1


"Arystina," ucap Nirlayn seraya memutar kepalanya untuk menghadap Arystina.


"Ya, ada apa, Nirlayn?" balas Arystina lembut.


"Aku bukan anak kecil," keluh Nirlayn.


"Ah, iyakah? Tapi di mataku kamu masih anak kecil, Nirlayn. Berapa umurmu saat ini?"


"Ah itu ... jika menghitung dengan kehidupanku yang pertama, maka kurang lebih aku berumur lima ratus tahun."


Bahkan kehidupan Nirlayn yang kedua ini belum mencapai satu tahun. Mungkin satu bulan lebih beberapa hari?


"Benar 'kan? Dibandingkan denganku yang sudah hidup selama ribuan tahun, umurmu itu masih terbilang kecil."


Sebagai Roh tertua yang merupakan pemimpin Roh lain di Shade of Spirits, umur Arystina yang sudah ribuan tahun itu adalah hal yang wajar.


Daripada itu, seharusnya mereka berdua lebih memikirkan seseorang yang baru berumur 23 tahun disini. Tidakkah mereka sadar, bahwa orang yang mereka anggap tuan itu tidak lebih dari seorang bayi?


"Ini menyedihkan tapi seharusnya aku yang menjadi seorang bayi di mata mereka berdua," batin Ren meringis.


Dua orang wanita itu tidak menyadarinya, Nirlayn hanya mengangguk dan pasrah karena tidak bisa melawan Arystina yang lebih tua. Sedangkan Arystina hanya tersenyum lembut melihat Nirlayn yang pasrah.


Keduanya lantas memalingkan muka untuk melihat sosok tuan mereka. Perasaan buruk yang dirasakan oleh Ren pun terbukti nyata setelah mereka berdua bertanya secara bersama-sama.


"Mungkin ini tidak sopan, Ren-sama. Tapi saya penasaran, berapa umur Anda sebenarnya?"


"Itu benar, Yang Mulia, seharusnya Anda sudah hidup lebih lama dari saya bukan? Mengingat Anda merupakan pemimpin dari para Continents Holder?"


Ren memutar otak dengan kecepatan tertinggi untuk menemukan solusi dari pertanyaan mereka berdua. Jujur bukan pilihan yang baik, berbohong pun sama, lalu bagaimana dia bisa lolos dari masalah ini?


"Maka jangan salahkan aku untuk mengambil jalan ini," batin Ren tersenyum sinis.


Lengan yang menyilang sudah tidak ada, digantikan oleh lengan kiri yang menopang dagu pada jendela kereta kuda. Di saat seperti ini, pilihan yang terbaik untuk keluar dari masalah adalah ....


"Aku telah melupakannya. Menghitung waktu yang kuhabiskan dalam kesendirian itu tidak berguna," ucap Ren dengan gaya penguasa.


Ya, ini adalah solusi pertama, teknik menghindari pertanyaan bermasalah, menjawab secara ambigu.


"Hei, aku juga penasaran. Bagaimana dengan kalian berdua? Apa yang kalian lakukan selama kalian hidup? Tidak mungkin kalian mengalami kehidupan sendiri karena kalian mengingat dengan baik berapa lama kalian hidup bukan?"


Sebagai penguat, hal yang dibutuhkan dalam solusi untuk menghindari pertanyaan bermasalah adalah, mengalihkan pembicaraan atau membalikkan pertanyaan.


Hal itu terbukti cukup efektif berdasarkan ekspresi dari Nirlayn dan Arystina yang sedikit berubah. Dari yang awalnya penasaran berubah menjadi kasihan. Tunggu, kasihan?


"R-Ren-sama ... saya tidak menyangka, Anda telah hidup selama itu dalam kesendirian?"


"B-benarkan itu, Yang Mulia? Maafkan saya karena telah mengungkit hal yang tidak seharusnya."


Baik Nirlayn dan Arystina menunduk untuk meminta maaf dengan penuh penyesalan. Mereka benar-benar tidak menyangka, bahwa Ren selalu hidup dalam kesendirian.


"Ya ampun, kalian mengatakannya seolah aku telah hidup selama ratusan ribu tahun seorang diri. Itu sangat menyedihkan, serius."

__ADS_1


Akan tetapi, perhatian mereka yang berhasil teralihkan itu merupakan kesuksesan. Begitu seriusnya masalah pertanyaan itu sehingga Ren lupa bahwa pembicaraan mereka telah melenceng sedemikian rupa.


"Kalian mungkin sedikit salah paham, tapi aku memilih hidup sendiri karena itu merupakan takdir yang kupilih."


Belum sempat Ren melanjutkan kata-kata bijaknya, kereta kuda itu berhenti tanpa alasan yang jelas. Persepsi mana tidak menangkap hal aneh apapun, jadi mengapa Avrogan menghentikan laju kereta kuda ini?


"Tunggu, aku akan memeriksa Avrogan."


Ren keluar dari kereta kuda, dan langsung bertemu dengan mata Avrogan yang menoleh ke arahnya.


"Apakah ada suatu masalah?" tanya Ren heran.


Tidak ada sedikitpun masalah pada Avrogan, begitu juga dengan sekitar mereka dalam radius beberapa kilometer. Itulah mengapa Ren merasa heran dengan semua ini.


"Tidak ada masalah apapun, Tuan. Hanya saja saya ingin bertanya, kemana tujuan kita selanjutnya?"


"Ah." Ren melupakannya.


Dia tidak membicarakan apapun pada Avrogan selain meninggalkan Kota Soliedavosa. Pembicaraan dengan Nirlayn dan Arystina pun memakan waktu lama sampai ia melupakannya.


"Karena sudah terlanjur seperti ini, kurasa wilayah pusat dimana Temple of Light berada."


Ren memikirkannya dalam-dalam. Augsnel mengatakan 'kami' telah mencari dirinya sejak lama. Hal itu menjadi bukti yang kuat bahwasannya Great Bishop wilayah lain pun ikut terlibat.


Mengapa Ren begitu yakin dan tidak memikirkan kemungkinan bahwa itu adalah tipuan atau jebakan?


Semuanya sederhana, karena pada saat mengatakan itu, Augsnel merasa sangat percaya diri dapat menghabisi Ren tanpa kesulitan. Sehingga kepercayaan dirinya itu berubah menjadi kecerobohan, ini adalah hal yang biasa terjadi.


"Berjalanlah dulu, aku akan menjadi kusir kembali dan menunjukan jalannya nanti."


Kereta kuda kembali bergerak, dan Ren ikut berjalan mengiringi di sisinya sambil memikirkan situasi dengan serius.


"Tuan, apakah Great Bishop yang Anda lawan memiliki hubungan dengan wanita yang memanggil cacing hitam itu?"


"Humm, entahlah ... aku sendiri tidak yakin. Namun melihat dari situasi dan perkataan Great Bishop itu, kemungkinan-nya sangat tinggi."


"Tidakkah wanita itu mengatakan sesuatu yang lebih? Seperti bagaimana rupa orang-orang yang mengutus dirinya?"


"Tidak juga, dia mengatakan kalau dirinya tidak diperbolehkan mengetahui identitas mereka."


"Lalu, bagaimana dengan jumlah pastinya?"


"Maksudmu, orang yang mengutus dia? Aku ragu, sepertinya dia tidak berkata apapun soal itu."


"Kalau begitu, wanita itu memang sangat tidak berguna."


"Aneh sekali, tidak biasanya aku setuju denganmu, Avrogan."


"Hahaha, apakah Anda bercanda? Ini bukan biasa atau tidak biasa, wanita itu memang tidak berguna, Tuan."


"Yah, mungkin kau benar." Ren menatap pada kejauhan, dan kembali bergumam, "Mungkin membiarkan dia hidup lebih lama pun tidak berarti."

__ADS_1


Kereta kuda itu terus berjalan bersamaan dengan kalimat Ren yang terbawa oleh angin.


__ADS_2