Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 109 : Kembali bekerja


__ADS_3

Satu hari telah terlewati semenjak Ren meninggalkan Kota Aulzania dan Istana [Bloody Palace of the Monarch] miliknya. Satu hari yang lalu, Ren terbang dengan kecepatan tinggi dan menyusul Kanza yang berada di Kota Perbatasan Ordenz, membicarakan segala sesuatu tentang rencana sekaligus membasmi para perampok yang ada di sekitar sana dan membangkitkan Leusgira. Semua dilakukan oleh Ren dalam waktu satu hari tanpa beristirahat sedikitpun.


Hari ini, Ren mempertemukan Leusgira dengan Kanza pada pagi hari, mengatakan dengan jelas peran Leusgira dalam rencana. Setelah menyelesaikan semua itu, akhirnya Ren dapat beristirahat sampai sore hari, dimana pada malam harinya merupakan jadwal yang ditetapkan oleh Ren untuk melanjutkan kembali perjalanan.


Namun hal-hal tidak akan selalu berjalan sesuai dengan rencana, itu merupakan sebuah fakta yang sering kali terjadi. Ren yang seharusnya bisa beristirahat sampai sore hari malah tidak bisa melakukannya.


Selalu ada sesuatu yang teringat olehnya ketika dia mencoba beristirahat. Pikirannya selalu dihantui oleh berbagai macam hal sehingga memejamkan mata pun tak bisa. Sungguh disayangkan karena pada akhirnya Ren harus berangkat di malam hari tanpa beristirahat sama sekali.


Kelelahan secara mental yang menumpuk dalam pikirannya membuat Ren terlihat lesu dan lebih pendiam daripada biasanya. Belum lagi, Ren dihadapkan dengan kenyataan bahwa dia harus terbang semalaman menuju Kerajaan Suci Sancteral.


Secara fisik mungkin Ren sudah bisa dianggap sebagai monster, tapi secara mental dan kepribadian, dia masihlah seorang manusia biasa. Pengalaman dalam Kekosongan pun sepertinya tidak menambah kekuatan mentalnya.


'Sepertinya aku terlalu memaksakan diri 'kan?'


Ren mengulang-ulang pertanyaan yang sama pada dirinya sendiri, berusaha meyakinkan kalau semua yang dia lakukan ini memiliki hasil yang baik nantinya. Langkah kaki Ren dalam berjalan juga terlihat berat, seakan-akan dirinya enggan untuk bergerak.


Nirlayn dan Arystina menuntun Avrogan yang menyamar sebagai kuda biasa di belakang. Mereka bertiga bahkan menyadari keanehan dari sikap Ren hari ini. Tidak hanya pendiam dan lebih lesu, Aura seorang penguasa dari Ren bahkan berkurang.


"Ren-sama, anda pasti menanggung beban berat seorang diri lagi kan?" Gumam Nirlayn.


"Apa yang terjadi? Tidak mungkin Yang Mulia sakit 'kan?" Gumam Arystina.


"Ini aneh ... Tidak biasanya Tuan seperti ini, apa jangan-jangan ... Tuan terkena D-Diare?" Avrogan berbicara dalam bahasa kuda.


Langkah Ren yang lesu akhirnya tiba di gerbang keluar Kota Perbatasan Ordenz. Beberapa prajurit yang menjaga gerbang segera menghampiri Ren dan menghalanginya keluar dari kota.


"Malam-malam begini mau keluar kota? Kau terlihat mencurigakan." Prajurit itu berbicara pada Ren tapi pandangan matanya diam diantara Nirlayn dan Arystina. Hanya melihat sekilas saja sudah bisa diketahui bahwa itu adalah pandangan mata yang buruk.


Ren meraih saku pakaian miliknya, mengeluarkan sebuah kantong yang berisi koin emas dan melemparkannya tepat ke arah dua mata prajurit yang menatap ke arah Nirlayn dan Arystina. Hal ini membuat prajurit itu berteriak kecil, dan meraih kantong yang dilemparkan padanya, lalu menatap Ren dengan tajam.


"K-Kurang ajar! Beran- ..." Prajurit itu langsung tertegun.


Mata yang menatap tajam, dibalas dengan tatapan yang lebih tajam dari kedua mata merah menyala. Seketika seluruh tubuh prajurit itu membeku dan bergetar, hanya dengan sebuah tatapan sudah membuktikan kekuatan dari orang dihadapannya.


"Buka gerbang, atau ..."


Dengan sengaja Ren menghentikan perkataannya seraya menampilkan senyum mengerikan. Membuat prajurit itu langsung mengangguk ketakutan dan berlari untuk membuka gerbang kota.


"Hah ... Cepatlah, kita harus segera pergi." Ucap Ren pada para bawahannya.


Gerbang terbuka dan Ren melewatinya begitu saja, tanpa memperhatikan prajurit tadi yang menggigil ketakutan ketika Ren berjalan.


Hembusan angin dingin dari alam bebas menerpa seluruh tubuh Ren dan para bawahannya. Mengiringi mereka yang terus berjalan menjauhi pandangan orang-orang. Ketika mereka berempat mencapai tempat yang dirasa aman dan jauh dari pandangan orang-orang, mereka pun diam dan berkumpul disana.


Ren meraih udara kosong dan memasuki Inventory, mengambil kertas yang digulung dengan baik dan dalam kondisi yang baik pula. Kertas ini adalah peta Benua Zachen pemberian dari Raja Esdagius, dalam hal kedetailan dan kualitas, peta ini berkali-kali lebih baik dari peta usang yang didapatkan Ren dari pelelangan byurlin.


"Nirlayn, kemarilah dan ambil peta ini."


Ren berniat memerintahkan Nirlayn sebagai penunjuk jalan, itulah mengapa dia mengindikasikan Nirlayn untuk mengambil peta yang sedang dia genggam. Sebagai seorang penguasa, Ren merasa tidak keberatan untuk sesekali mengandalkan para bawahannya.


"Dengan senang hati." Ucap Nirlayn sambil tersenyum.


Senyuman Nirlayn terlihat penuh kebahagiaan ketika menerima peta yang diberikan oleh Ren. Rasa bahagia Nirlayn berasal dari beban dan tugas yang akan diberikan oleh Ren padanya.

__ADS_1


"Ini aneh, mengapa dirimu malah terlihat senang?" Ren mengerutkan alisnya, "tidak lupakan saja, mulai sekarang aku menyerahkan tugas sebagai pemandu jalan padamu."


"Saya akan melakukannya dengan sebaik mungkin."


"Aku mengandalkanmu." Ren menciptakan sepasang sayap untuk terbang. Menunggu dalam diam sampai Nirlayn, Arystina dan Avrogan terbang ke udara, kemudian dia mengikutinya.


____________________________________________


* * *


* * * ____________________________________________


Malam hari yang gelap telah digantikan oleh pagi hari yang cerah. Melakukan perjalanan semalaman dengan kecepatan tinggi ternyata membuahkan hasil yang dapat diterima. Sebuah hasil dimana Ren dan yang lain kini telah tiba di wilayah Kerajaan Suci Sancteral.


Memasuki wilayah musuh memiliki arti memasuki wilayah yang lebih berbahaya. Maka dari itu, Ren memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan dengn cara terbang lebih jauh lagi.


"Disana ada jalan, kita turun!" Perintah Ren.


Ren menghilangkan sayapnya langsung ketika di udara, membuat dirinya terjatuh dengan kecepatan tinggi dan mendarat tepat di sebuah jalan kecil. Tempat dimana Ren mendarat sedikit mengalami kehancuran, akibat dari benturan antara kaki dan tanah.


Tidak lama setelah Ren, Avrogan pun mendarat bersama dengan Arystina dan Nirlayn. Mereka berdua kemudian turun dari Avrogan dan mendekati Ren dengan segera.


"Ren-sama?"


"Yang Mulia?"


Ren berbalik pada mereka berdua, "Ini adalah wilayah musuh, kita harus lebih berhati-hati." Ren memberi peringatan pada keduanya.


Setelah mengkonfirmasi Nirlayn dan Arystina yang mengangguk setuju, Ren mengindikasikan pada Avrogan untuk mendekat. Bermaksud unuk membicarakan suatu hal yang membutuhkan Avrogan untuk menyetujuinya.


"Langsung pada intinya saja, apa kau tidak masalah harus menarik kereta kuda?"


Ren berniat untuk menggunakan Kereta kuda mulai dari tempat ini yang digunakan sebagai bentuk penyamaran. Namun kereta kuda sudah pasti membutuhkan kuda untuk menariknya. Selain daripada Avrogan, tidak ada kuda lain yang bisa Ren temukan disini.


Avrogan sendiri adalah [Beast Servant] Legendaris yang memiliki harga diri tinggi. Akan tetapi, dia tidak akan mempermasalahkan apapun jika itu berkaitan dengan perintah dari Tuannya. Justru sebagai bawahan, dia merasa terhormat ketika dibebankan sebuah tugas yang hanya bisa dikerjakan olehnya sendiri.


"Tidak masalah Tuan!" Balas Avrogan dengan semangat tinggi.


"Ya, kau memang layak disebut sebagai Kuda bawahanku!" Ren memuji Avrogan.


Ren kemudian menoleh pada Arystina dan bertanya "Arystina apa kemampuanmu masih bisa digunakan disini?"


"Selama itu adalah Hutan, maka saya seharusnya bisa Yang Mulia."


"Baguslah, gunakan kemampuanmu untuk mengawasi daerah sekitar. Jika ada sesuatu yang mencurigakan, katakan saja pada Nirlayn."


"Nirlayn, bantulah Arystina dalam mengawasi daerah ini. Sementara Avrogan, aku mempercayakanmu untuk melindungi mereka berdua."


"Saya mengerti, dan akan berusaha sebaik mungkin."


"Baiklah Ren-sama."


"Serahkan padaku Tuan! Hahahaha!"

__ADS_1


Ren melihat mereka bertiga yang selalu terlihat bahagia ketika dibebankan sesuatu dengan seksama. Mungkin ini adalah sikap yang dimiliki oleh bawahan setia? Ren tidak mengetahuinya, tapi dia bersyukur jika mereka merasa tidak terbebani.


"Aku akan membuat sesuatu, kalian jangan pergi kemana-mana."


Ren merentangkan lengan ke arah depan, mengendalikan mana yang dia miliki agar berkumpul dalam cincin yang terlingkar di jarinya. Kemudian dari cincin itu, muncul benang-benag mana yang bergerak ke udara kosong dihadapannya, membuat sebuah pintu bercahaya yang tampak indah dan luar biasa.


Ini adalah kali kedua Nirlayn melihat pintu dari Dimensi khusus yang dimiliki oleh Ren, sedangkan untuk Avrogan dan Arystina, mereka baru melihatnya saat ini. Kali kedua ataupun bukan, itu tidak menutup kekaguman yang mereka bertiga rasakan. Sudah berkali-kali Ren membuat keajaiban, tapi berapa kalipun dia melakukannya, mereka tidak bisa tidak kagum karenanya.


Setelah proses membuat pintu inventory selesai dengan cara yang dramatis, Ren membuka pintu itu dan masuk ke dalamnya. Bersamaan dengan ditutupnya pintu, pintu itu menghilang dari pandangan semua orang.


"Eh? Kemana Yang Mulia?" Arystina tersadar dari kekagumannya dan bertanya.


"Jangan khawatir Arystina ..." Ucap Nirlayn.


"Nona, sepertinya anda tahu kemana Tuan pergi?" Tanya Avrogan.


"Kau mengetahuinya Nirlayn?" Tanya Arystina seraya berbalik pada Nirlayn.


"Yah ..." Nirlayn menolehkan wajah yang dipenuhi oleh senyum bermakna pada keduanya, "kalian harus bertanya sendiri pada Ren-sama nanti."


"Eh ... Nirlayn!" Arystina menghampiri Nirlayn dengan langkah kaki yang cepat seraya mengeluarkan ekspresi wajah kesal dan tidak terima.


"Apa? Ehh!" Nirlayn yang menoleh pada Arystina terkejut, tidak menyangka bahwa Arystina akan merajuk sedemikian rupa sampai menangkap dan memeluk dirinya dengan erat.


Avrogan hanya diam, menyaksikan tingkah laku kedua perempuan itu yang lebih terlihat seperti pertengkaran antar anak kecil.


"Yah, Tuan masih menyimpan banyak rahasia bukan?" Avrogan bergumam seorang diri.


____________________________________________


* * *


* * * ____________________________________________


Ren mengambil semua bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat sebuah Kereta kuda. Meski bukan seorang ahli dalam membuat Kereta Kuda, tapi Ren cukup percaya diri bisa membuatnya.


Hal ini dikarenakan sifat Ren yang suka akan hal-hal baru terutama sesuatu yang belum pernah dia lakukan. Dengan didampingi oleh pengetahuan, kecerdasan serta sifatnya yang seperti itu, Ren akan dengan mudah menemukan solusi untuk setiap permasalahan yang dia hadapi.


"Mari mulai bekerja." Ucap Ren seorang diri.


Ren mengeluarkan Api Biru yang membara [Ancient Blue Flames] untuk meleburkan logam-logam yang akan dijadikan sebagai bahan dasar dari Kereta Kuda. Sebagai seorang Anryzel Dirvaren yang tidak kekurangan harta sama sekali, Ren memutuskan membuat Kereta Kuda yang mewah dan indah serta sangat mencolok.


Kereta kuda ini akan dibuat dengan logam Emas dan Platinum, serta dihiasi oleh beberapa Crystal Mana yang dianggap langka di Dunia. Dengan kondisi kereta kuda yang seperti ini, Ren sudah dapat membayangkan betapa menarik perhatiannya ini nanti.


Logam demi logam dileburkan, kemudian disaat yang sama mereka dibentuk sebagai bagian-bagian dari kereta kuda. Setelah bagian-bagian berhasil dibentuk dengan sempurna, mereka disatukan menjadi kereta kuda seutuhnya.


Kemudian, Ren membuat perhiasan-perhiasan yang dibutuhkan untuk memperindah, mempermewah, dan mempercantik serta mempermahal kereta kuda miliknya.


Ren menanam sebuah Kristal Mana yang dibentuk seperti kerucut dibagian pusat keempat roda yang terpasang pada kereta kuda. Ren juga memasang beberapa Kristal Mana di tempat-tempat lain agar terlihat semakin mencolok.


"Ugh ... Bagus, ini terlalu mencolok."


Sesuatu yang dibenci oleh Ren adalah kemencolokkan, tapi sesuatu yang bertolak belakang dengan dirinya akan sangat berguna dalam hal penyamaran. Maka dari itu, selama proses pembuatan kereta kuda ini, Ren selalu menahan rasa ingin melemparkan kereta kuda setiap saat, sampai akhirnya kereta kuda itu berhasil diselesaikan.

__ADS_1


Sesaat sebelum Ren membawa kereta kuda itu keluar, dia bergumam dengan penuh kesedihan, "Bukankah aku bekerja lagi tanpa istirahat?"


__ADS_2