Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 43 : Dua orang penguntit


__ADS_3

"Bagaimana, Raja Esdagius?"


Ren mengakhiri segala pernyataan nya tentang pemberian senjata. Wajahnya mengindikasikan agar Raja Esdagius segera menjawab penawaran yang Ren katakan.


"T-Tuan Dirvaren, kami memang sangat bersyukur jika memang anda akan memberikan se-sesuatu yang seluar biasa itu. Namun, apa keuntungan semua ini bagi anda?" Tubuhnya masih gemetar karena keterkejutan atas pernyataan Ren yang sebelumnya.


Pertanyaan Raja Esdagius membuat Ren memegang dagunya, dia menoleh ke arah lain dan terlihat sedang memikirkan sesuatu. Mata nya memejam sesaat, sebelum akhirnya terbuka kembali.


Ren menghirup napas, dan memulai perkataannya..


"Pertama, aku menginginkan hak atas sebagian Core dari Invasi para Monster nanti."


"Kedua, aku meminta Izin untuk mengeksplorasi Hutan Loudeas."


"Ketiga, aku membutuhkan sebuah dukungan yang berskala sebuah Kerajaan."


"Keempat, semua ini aku lakukan demi Rencanaku kedepannya."


"Dan terakhir.... Ketika saatnya tiba, aku ingin Kerajaan Aulzania bekerja sama dengan Wilayah Kekuasaanku sendiri...!" Mata merah Ren kembali menyala saat menyatakan hal ini.


Sesaat Raja dan orang - orang merasakan sebuah Aura yang begitu mengerikan saat Ren menyatakan keinginan terakhirnya. Udara menjadi sesak begitu tiba - tiba, tubuh mereka menjadi berat seakan ditekan oleh sesuatu yang besar.


Tak!


Ren menjentikan jari nya, bermaksud untuk menyadarkan orang - orang dari ketakutan.


"Ya ampun, aku sedikit... terbawa suasana." Ren tersenyum tulus pada mereka.


Raja langsung sadar kembali oleh Jentikan jari Ren yang mencapai telinga nya.


"A-Ah, ya.. Tidak masalah, Tuan Dirvaren..." Raja tersenyum canggung.


"Soal Tawaran anda ini....Bisakah beri kami waktu untuk mendiskusikan nya?"


"Mendiskusikan..? Aku mengerti." Ren mengangguk.


Dia beranjak dari kursi nya, kemudian berjalan mendekati Pintu keluar Ruangan ini. Raja Esdagius dan orang - orang nya saling memandangi satu sama lain. Kemudian, Raja Esdagius tersentak, menyadari suatu hal...


"Tunggu! Tuan Dirvaren... Anda tidak per-"


Brakk.


Perkataan Raja Esdagius tidak sempat menghentikan Ren yang beranjak keluar Ruangan. Menyadari kesalahan kata yang dia lontarkan, Raja Esdagius menghela napas..


"Haah... Ini terlihat seperti aku yang mengusir Tuan Dirvaren."


"Kalau begitu, aku juga mohon undur diri terlebih dahulu..."


Nirlayn tiba - tiba beranjak dari Kursinya, dia melakukan hal yang sama dengan Ren. Raja mau tak mau tersentak kembali....


"Tu-Tungg-"


Brakk!


Pintu mengeluarkan sebuah bunyi ketika itu ditutup oleh Nirlayn. Suasana Ruangan menjadi hening, semua orang merasakan Perasaan tidak enak di hati mereka.


"Ya, mau bagaimana lagi... Mari kita berdiskusi." Raja Esdagius membuka pembicaraan dalam suasana yang hening itu.


*


*


*


*


*


*


"Ren-sama, apakah anda yakin memberi sebanyak itu pada mereka? bukannya saya meragukan anda, tapi bukankah itu terlalu...."


Nirlayn bertanya pada Ren yang sedang bersandar pada dinding Lorong. Terlihat sebuah kegelisahan di antara wajahnya. Semua kegelisahan ini disebabkan oleh keputusan Ren untuk membantu Kerajaan Aulzania.


"Hm..?"


Ren menoleh pada Nirlayn yang berbicara padanya, diikuti oleh sebuah senyuman yang terlukis di wajah Ren. Sebuah senyuman tulus, namun menyimpan sebuah kemisteriusan di dalamnya.


"Nirlayn, tidak perlu sekhawatir itu, sejak kapan kepribadianmu menjadi seperti ini?"


"E-Eh?!! Ahh... Mu-Mungkin sejak kejadian tadi.. Ren-sama."


Bagaikan sebuah Mawar merah yang merekah, wajah Nirlayn mengeluarkan warna merah padam. Dia teringat akan sebuah Kejadian yang membuat dia merasakan malu.


Sayang nya, Ren tidak memperhatikan hal ini, pandangan mata Ren sedang melihat ke arah lain. Dan Andai pun Ren melihat ini, dia tidak akan menyadari apa yang Nirlayn Rasakan.


"Hm.. Kejadian tadi.?"

__ADS_1


Ren memalingkan pandangan nya kembali pada Nirlayn, dengan Ekspresi tak bersalah dia mengatakan hal itu.


"Ti-Tidak ada, Ren-sama..." Nirlayn memalingkan mukanya.


"Kenapa kau memalingkan muka.?" Ren bertanya keheranan.


"Ah.. Lupakan pertanyaanku, Nirlayn, apakah ada cara lain yang lebih mudah untuk dapat mengganti Blood Art milikmu?"


"Um..? Tidak ada cara lain, Ren-sama. Saya harus mencocokan mana saya terlebih dahulu.." Nirlayn berbalik, namun Ekspresi nya telah kembali seperti biasa.


"Begitu, sayang sekali, Lalu."


"Aku penasaran, mengapa aku dapat meniru semua benda...?"


Sebenarnya, Ren tidak menanyakan hal ini pada siapapun. Lebih tepat jika dikatakan bahwa dia bertanya pada diri sendiri. Tetapi, Nirlayn mendengar perkataan Ren yang satu ini, dan menyangka bahwa Ren bertanya pada nya.


"Saya tidak tahu Ren-sama, mungkin karena anda bukan berasal dari sini?"


"Hm..? Apa maksudm-"


Perkataan Ren terhenti oleh sebuah suara berderak yang berasal dari pintu yang tak jauh darinya. Dari balik pintu, seorang Raja Esdagius muncul..


"Ah... Tuan Dirvaren, ternyata anda masih disini, kami telah selesai berdiskusi."


Perhatian Ren dan Nirlayn teralihkan pada Raja Esdagius, Ren menghela napas, sebelum akhirnya menghentikan sandaran nya pada dinding.


"Begitu, baiklah.. ayo dengarkan keputusan kalian."


Ren kembali memasuki Ruangan Konferensi, bersama dengan Raja Esdagius dan Nirlayn. Kemudian, mereka duduk di kursi nya masing - masing.


"Ehmm...!"


"Tuan Dirvaren, berdasarkan hasil diskusi kami bersama kami....... akan menerima tawaran dari anda."


Perkataan dari Raja Esdagius diikuti oleh anggukan semua orang yang berasal dari pihak Kerajaan. Sepertinya, mereka benar - benar telah mencapai sebuah kesepakatan bersama.


Jawaban dari Raja Esdagius mengundang senyuman di wajah Ren. Dengan perasaan hati yang baik, Ren mengatakan...


"Bagus, akan kupastikan kalian tidak menyesali keputusan ini."


Ren mengulurkan tangan kanan nya pada Raja Esdagius. Tindakan ini membuat orang - orang disana memiringkan kepala mereka karena bingung. Sikap mereka ini tentu membuat Ren mengingat sesuatu, bahwa ini bukan Dunia dimana dia sebelumnya tinggal.


"Ahh.. Aku lupa, jika aku melakukan ini, kau harus menjabatnya sebagai tanda penghormatan kepadaku."


Ren menjelaskan apa yang dia lakukan, Ren juga mempraktikan jabatan tangan menggunakan kedua lengan nya. Raja Esdagius akhirnya mengerti dan mengangguk.


Raja Esdagius mengulurkan tangannya, kemudian mereka pun akhirnya berjabat tangan satu sama lain. Suatu kebetulan, bahwa suasana ini sedikit mengingatkan Ren pada pekerjaan nya dahulu.


"Aku, Anryzel Dirvaren.. Mulai saat ini akan bekerja sama dengan Kerajaan Aulzania, perjanjian ini akan terbentuk mulai saat ini."


"Ya, Terima kasih atas bantuan yang akan anda berikan, Tuan Dirvaren."


"Sekarang, sebagai jaminan agar tidak ada pengkhianatan... Kita ikat perjanjian ini dengan Kontrak Darah." Ren menyatakan sesuatu yang dimengerti.


"Blood Ruler : Blood Covenant."


Lingkaran Sihir kecil, berwarna merah darah tercipta di atas meja. Lingkaran sihir Memiliki berbagai simbol - simbol rumit di dalamnya, berputar dan terus berputar dengan indah.


Sontak, semua orang terkejut atas apa yang dilakukan oleh Ren.


"Tu-Tuan Dirvaren! Apa ini..?!"


Raja Esdagius dengan cepat menjauhi Lingkaran Sihir itu, bersama dengan Ratu, Pangeran, Margen, dan Sarlyn. Mereka mengira bahwa Ren akan berbuat yang tidak - tidak.


Sebaliknya, sikap mereka tidak membuat Ren merasa aneh sedikitpun. Hal yang sudah cukup biasa bagi nya mendapatkan sebuah Reaksi seperti ini.


"Jangan ketakutan seperti itu, contoh lah Tuan Putri Sylna yang mengamati Kondisi dengan tenang." Ren melirik pada Putri Sylan yang masih duduk dengan tenang.


"Ini hanya sebuah Sihir Perjanjian Darah, berfungsi sebagai perantara untuk mengurangi sedikit Resiko pengkhianatan di kedua belah pihak."


Penjelasan Ren sedikit membuat Raja Esdagius tenang, dirinya kembali duduk di Kursi dengan wajah yang terlihat malu.


"Ma-Maafkan saya Tuan Dirvaren, saya telah berpikir anda akan berbuat jahat atau semacamnya." Raja menunduk.


"Begitu juga... dengan saya." Ratu meminta maaf dengan tulus.


"Aku juga, maafkan aku Tuan Dirvaren." Pangeran pun meminta maaf sambil terlihat malu.


"Anu.. Begi-"


"Tidak masalah, aku mengerti ketakutan kalian..." Ren berbicara, tidak membiarkan Sarlyn sedikitpun mengeluarkan permintaan maaf nya.


Sementara Margen, sepertinya dia tidak berniat meminta maaf secara langsung tentang hal ini. Ren pun berpikir untuk tidak mempermasalahkan nya, dia melanjutkan sebuah penjelasan agar Raja Esdagius dapat mengerti Sihir apa yang dia gunakan.


"Agar dapat menggunakan Sihir ini, Darah dari kedua belah pihak harus diteteskan ke dalam Lingkaran Sihir. Kemudian, perjanjian akan terbentuk, siapapun dari kedua belah pihak yang berkhianat. Darahnya akan meledak dan membunuh dirinya sendiri."


"J-Jadi seperti itu... Saya melupakan bahwa Tuan Dirvaren adalah orang yang sangat berhati - hati." Raja mengangguk, menandakan bahwa dia mengerti atas apa yang dijelaskan oleh Ren.

__ADS_1


"Tentu saja, sebuah perjanjian tidak bisa di ikat hanya dengan omongan."


"Baiklah, taruh jari telunjukmu di atas Lingkaran Sihir seperti ini..." Ren menaruh Jari telunjuk nya di atas Lingkaran Sihir.


Raja Esdagius mengangguk, dan mengikuti apa yang di instruksikan oleh Ren, dia menaruh Jari telunjuk nya di atas Lingkaran Sihir.


Kemudian, setelah kedua nya melakukan hal itu, Lingkaran Sihir Kecil bersinar merah. Kabut berwarna merah gelap perlahan muncul dari Lingkaran sihir, membentuk sebuah benang yang Runcing. Benang kabut itu bergerak mendekati kedua jari yang berada di atasnya.


Dengan perlahan, benang kabut menusuk Jari Ren dan Raja Esdagius, menyebabkan dua buah tetesan darah terjatuh pada Lingkaran Sihir. Setelah tetesan itu mengenai Lingkaran Sihir, itu meledak menjadi sebuah Cahaya merah yang menghalangi pandangan.


Cahaya merah kemudian meredup, sedikit demi sedikit. Kemudian Cahaya itu menghilang sepenuhnya, bersamaan dengan Lingkaran Sihir yang menghilang dari atas meja.


"Perjanjian telah dibuat, dengan ini... aku harap tidak ada pengkhianatan sedikitpun."


Kata - Kata Ren diiringi oleh Nada yang tajam, seolah dia dengan sengaja menekankan hal ini pada Raja Esdagius.


"Y-Ya Benar sekali, saya tidak akan pernah berkhianat jika menggunakan sesuatu yang seperti ini." Raja mengangguk dalam - dalam, menandakan bahwa dia telah sepenuhnya mengerti.


"Aku harap seperti itu..."


*


*


*


*


Konferensi berjalan dengan lancar, setidaknya itulah yang Ren pikirkan. Setelah berbicara dengan topik biasa, Ren berpamitan pada Raja Esdagius untuk meninggalkan Istana.


Kemudian, untuk Pedang yang Ren berikan pada saat Konferensi, itu dengan sengaja Ren tinggalkan sebagai bukti bahwa perkataannya tidak memiliki kebohongan sedikitpun.


'Yah... Walaupun, Raja Esdagius memiliki [Eye Of Truth], sebuah bukti memang masih tetap diperlukan.'


Ren membayangkan wajah senang dari Derrian saat Ren menitipkan Pedang itu padanya. Bahkan Raja Esdagius pun terlihat senang saat itu, hanya membayangkan hal ini saja membuat Ren menggelengkan kepala nya.


Bukan hanya kualitas kekuatan seseorang diukur begitu Rendah. Namun, Item Equipment pun sama Rendahnya disini, bahkan Ren tidak pernah menemukan seseorang yang berasal dari Kerajaan Aulzania ini mengenakan Equipment tingkat atas.


'Apakah hanya Kerajaan ini? Atau memang Kerajaan lain sama?' Ren bertanya pada diri sendiri.


Ren menghilangkan segala pikiran yang ada dalam kepala nya. Ada sesuatu yang harus dia urus terlebih dahulu, itu adalah.... seorang penguntit yang dari pertama kali Ren menuju Istana dia terus membuntuti Ren dan Nirlayn.


Memang saat ini, Ren sedang berjalan dengan santai di Kota Aulzania, ditemani oleh seorang perempuan di samping nya yang tidak lain adalah Nirlayn. Seperti biasa, Ren dan Nirlayn masih menarik perhatian banyak orang.


"Nirlayn, mari kita ambil Jalan sepi di depan sana..."


Ren menunjuk pada sebuah Jalan gelap dan sepi, tidak ada seorang pun yang terlihat melewati Jalan itu.


"Baiklah, Ren-sama... saya hanya akan mengikuti anda, tidak perlu memberitahu saya terlebih dahulu."


"Hm..?"


Meski perkataan Nirlayn sulit untuk dimengerti, Ren berusaha untuk tidak memikirkannya lebih jauh. Saat ini, Jalan itu sudah di depan mata, Ren dengan santai berbelok pada Jalan sepi. Nirlayn, tanpa mengatakan sepatah kata pun, mengikuti Ren memasuki Jalanan yang sepi tersebut.


Dalam Jalan yang gelap dan sepi, Ren berjalan bersama dengan Nirlayn yang mengikuti dia dari belakang. Lalu, Ren dengan tiba - tiba menghentikan langkah nya, dia berbalik pada Nirlayn dengan wajah tersenyum. Tindakan nya yang tiba - tiba ini membuat Nirlayn sedikit kebingungan.


"Nirlayn, bukankah kau bertanya, mengapa aku memberikan semua itu pada Kerajaan Aulzania ini.?"


"Eh..? Itu memang benar Ren-sama..."


"Aku akan menjawabmu, tetapi setelah aku mengambil mereka terlebih dahulu....!" Ren menunjuk pada sebuah kegelapan yang ada dalam sela - sela bangunan.


"Mereka? siapa yang anda maksu-?!"


Perkataan Nirlayn terpotong, karena keterkejutan oleh Ren yang tiba - tiba berada di hadapannya. Jarak antara tubuh mereka hanya seujung jari, kedua tangan Ren terlihat seperti memeluk kepala Nirlayn.


Namun, kenyataan nya, Ren menahan dua bilah pisau yang mencoba untuk menyerang Nirlayn. Dua bilah pisau itu di pegang oleh Dua orang yang berbeda, salah satu dari mereka adalah Assasin yang Ren temui kemarin. Sementara, satu orang nya lagi, adalah penguntit yang telah lama mengikuti mereka. Ren mengetahui identitas kedua nya karena mana yang mereka keluarkan, untuk penampilan, Ren sama sekali tidak mengenal mereka.


"Woii... A-Apa - Apaan ini...?!"


"Siapa kau...!?"


Kedua orang itu mengalami keterkejutan, meski wajah mereka di tutupi oleh penutup wajah. Tapi, dari Gerakan serta suara yang mereka keluarkan, sangat menandakan dengan jelas hal itu.


Kedua orang itu sepertinya tidak mengenal satu sama lain. Berdasarkan dari sikap yang mereka tunjukan, harus nya seperti itu.


"Nirlayn, maukah kau bergerak keluar terlebih dahulu?" Ren tersenyum pada Nirlayn yang tepat berada di dalam jangkauan pelukan nya.


"A-Ah! Baik..!" Nirlayn segera bergerak untuk keluar dari posisi nya itu.


Setelah Nirlayn keluar, saat ini hanya menyisakan Ren yang sedang memegang pisau yang kedua orang itu miliki. Pemandangan ini seharusnya mustahil jika dilakukan oleh orang biasa, apalagi, kedua orang itu berusaha menarik pisau mereka kembali, namun tidak bisa.


"Hahaha... Permainan apa lagi ini? maukah kalian menceritakan nya padaku?" Nada bicara Ren penuh dengan intimidasi.


Ren tersenyum mengerikan pada kedua orang itu, dengan mata merah nya yang menyala, membuat hati mereka menciut seketika.


Saat ini, mereka merasakan, bahwa orang yang seharusnya mereka buru, ternyata malah balik memburu mereka. Tidak ada kata lain yang cocok untuk menggambarkan kondisi hati mereka selain..... Ketakutan.

__ADS_1


__ADS_2