
Augsnel tidak akan menerima kekalahan yang memalukan begitu saja. Harga diri sebagai seorang 'Malaikat' dapat mengabaikan semua ketakutan, termasuk intimidasi luar biasa dari Tombak Ganzalan.
Hanya butuh beberapa waktu sebelum Augsnel benar-benar pulih dan ketakutan itu akan segera tertutupi kembali oleh kesombongan dan balas dendam. Hal ini sudah bisa dipastikan berdasarkan kepribadian rata-rata para malaikat yang sombong dan memiliki harga diri tinggi.
Keputusan Ren untuk menyelipkan kalimat provokasi sekaligus undangan itu sangat tepat. Tidak mungkin Augsnel yang telah mengklaim dirinya mengincar Blood Devil akan diam begitu saja setelah dikalahkan.
"Sejauh ini tindakanku berjalan lancar. Hanya saja ada beberapa gangguan eksternal yang sedikit merepotkan."
Maksudnya adalah, ketika Ren sedang beradu mulut dengan Augsnel (Great Bishop) tiba-tiba ada gangguan berupa seseorang yang mengambil pusaka mereka. Gangguan ini memang tidak memberikan dampak yang signifikan tapi entah mengapa Ren merasa kesal karenanya.
"Lagipula, apa yang dilakukan oleh Nirlayn dan Arystina sampai memasuki keadaan berbahaya?"
Ini adalah alasan utama mengapa Ren mengakhiri pertempuran melawan Augsnel. Ketika itu persepsi mana menangkap sinyal berbahaya dari Arystina dan Nirlayn. Dengan mengetahui fakta ini, Ren berharap bukan mereka orang yang mencuri pusaka itu.
Di antara bangunan-bangunan yang berada di Kota Soliedavosa, Ren berlari dan melompat, bergerak dengan cepat untuk mencapai keberadaan mereka berdua. Sebelum itu, dia tidak lupa untuk melepaskan penyamaran dan zirah emas yang sebelumnya dikenakan.
Jika Ren masih menggunakan zirah emas itu sudah dapat dibayangkan bagaimana dia menarik perhatian orang-orang bukan?
"Keberadaan ini ... mereka dikepung oleh pasukan Enshu dan lainnya?"
Keberadaan mereka dapat dirasakan berada di sebuah tempat sebelum gerbang keluar Kota Soliedavosa. Ren tidak mengerti, mengapa mereka berdua harus memilih jalan yang merepotkan? Bukankah ada jalur langit yang lebih efisien untuk digunakan?
"Apa gunanya keberadaan Avrogan kalau begitu?" gerutu Ren.
Ren meningkatkan kecepatannya, hingga tibalah ia pada atap sebuah bangunan dan berhenti disana, dekat tempat dimana Nirlayn dan Arystina dikepung oleh pasukan Enshu.
Sepertinya pertarungan telah berlangsung, terbukti dari beberapa titik yang menandakan adanya sebuah bentrokan. Namun karena tidak ada kerusakan besar, pertarungan ini pasti sebatas menyerang dan bertahan, tidak lebih dari itu.
Ren tidak akan mengambil tindakan untuk sementara waktu, hanya mengamati dan memperhatikan situasi. Hawa keberadaan dan Mana sudah ia tekan hingga batas terkecil, demi menghindari kemungkinan buruk.
"Pendosa tidak tahu malu! Kami sudah memberi keringanan dengan membiarkan kalian bersiap untuk menerima hukuman. Tapi, apa yang kalian balaskan? Mencuri pusaka kami yang berharga?! Jangan harap untuk bisa keluar dari tempat ini hidup-hidup!"
Enshu menghardik sambil mengacungkan pedang emas bergerigi miliknya. Secara sepihak mengatakan omong kosong bahwa pengikut Ren lah yang mencuri pusaka mereka.
"Omong kosong apa yang kau bicarakan manusia?! Pusaka?! Kami berani bersumpah tidak mencurinya!"
Nirlayn dengan berani menyangkal tuduhan sepihak Enshu tanpa memikirkan keadaan sekitarnya. Ya, banyak dari penduduk Kota Soliedavosa yang menyaksikan hal ini, dan tentu saja mereka berpihak terhadap Enshu dan lainnya.
"Kau pikir aku buta?! Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, kalian melindungi orang yang mencuri pusaka kami!"
Sementara penduduk kota ini mulai melayangkan cacian dan hinaan untuk memusnahkan pendosa, Nirlayn justru dengan gagah berani menghunuskan pedangnya. Mengacungkan Blood Swoord itu pada Enshu dengan cara yang sama.
"Aku belum sehina itu untuk dituduh oleh kalian para manusia. Hanya karena pencuri itu melewati kami kau sudah mengasumsikan kalau dia sekutu kami?!" Nirlayn mendengus kesal.
Di belakangnya, Arystina menatap dengan khawatir. Dia tidak bisa melakukan apa-apa karena pengalaman-nya di dunia luar itu sangatlah minim.
Dalam keadaan seperti ini, Ren bisa melihat Nirlayn yang bersikap tidak biasa. Apakah ini keberanian yang terlahir dari kehidupan-nya yang dulu? Ren sedikit penasaran, Nirlayn juga pernah mengaku tingkatan dia dalam kasta Blood Devil adalah Raja.
Fokus Ren kembali teralihkan pada mereka saat Enshu menggerakan pedang emas bergeriginya. Ren berpikir Enshu akan menyerang tapi sepertinya bukan begitu.
"Cukup sudah pendosa! Serahkan nyawa kalian sekarang juga kalau tidak kalian akan merasakan akibatnya!"
__ADS_1
Menanggapi Enshu, Nirlayn menatapnya dengan tatapan yang sangat merendahkan seolah Enshu adalah keberadaan yang paling menjijikan di dunia.
"Apa maksudmu, manusia? Hidup dan mati ini telah diserahkan pada tuanku, begitu juga dengan mereka, siapa kau berani meminta hidup kami semua?"
Enshu mengernyitkan alis lantas bertanya dengan heran, "Tuanmu? Siapa orang yang menjadi tuan bagi kalian para pendosa? Seharusnya dia bertanggung jawab atas kelakuan kalian!"
"Ah!" Nirlayn teringat bahwa seharusnya dia tidak mengatakan apapun soal tuan karena dalam sandiwara dan penyamaran ini mereka berdua adalah tuannya.
"Tidak ada! Aku tidak memiliki kewajiban untuk menjawabmu, manusia! Kau terlalu banyak omong kosong untuk seorang lelaki yang mengatakan tentang dosa dan dosa!"
Nirlayn bersikap seolah dia tidak mengatakan apapun sebelumnya. Namun jika harus dikatakan, itu sudah sangat terlambat. Ren bahkan harus tersenyum kecut saat Nirlayn begitu ceroboh dalam berbicara.
"Biarlah, penyamaran ini juga sudah tidak ada gunanya," batin Ren pasrah.
Kesabaran Enshu mencapai batasnya, dia menggeram sambil kembali mengacungkan pedangnya.
"Sudah kukatakan hentikan ocehanmu pendosa! Akui kejahatanmu maka Dewa Augsnel akan sedikit meringankan hukumanmu!"
Di bawah aura dan tekanan Enshu yang cukup hebat, Nirlayn masih bisa menyeringai sinis dengan tatapan meremehkan.
"Aku tidak akan pernah mengakui dosa yang tidak pernah aku lakukan."
Dahi Enshu memunculkan urat-urat penanda bahwa dia sedang murka.
"D-dasar wanita rendahan tidak tahu diri! Kalau begitu jangan salahkan aku untuk menghukum kalian disini saat ini juga!"
Enshu mengibaskan pedangnya ke belakang, dia melakukan ancang-ancang kemudian menerjang dengan kecepatan tinggi untuk menyerang.
Nirlayn menggemertakan gigi, meski dia bersikap berani tapi tidak bisa dipungkiri bahwa kekuatan Enshu berada di atasnya. Segera dia bergerak mundur untuk melindungi Arystina, memposisikan sebuah kuda-kuda pertahanan dengan menggunakan pedang.
"A-aku akan membantu!" ucap Arystina.
Arystina menggunakan sihir alam dan memanggil tanaman rambat yang muncul di sepanjang jalur antara mereka berdua dengan Enshu. Tanaman rambat itu mungkin sedikit melambatkan kecepatan Enshu, tapi itu semua belum cukup untuk menghentikannya.
Pedang emas bergerigi Enshu dengan mudah menebas mereka semua. Memotong dan menghancurkan tanaman rambat seolah itu bukan apa-apa.
Melihat kenyataan ini membuat Arystina bersedih karena sadar betapa lemahnya dia saat ini. Selain dari mengendalikan, memanggil, dan meminjam penglihatan tanaman dia tidak bisa melakukan apa-apa lagi tanpa bantuan <>.
"M-maafkan aku, Nirlayn," sesal Arystina seraya menggigit bibirnya.
Kesedihan dan penyesalan itu tersampaikan dengan baik, sebagai gantinya Nirlayn memberikan respon yang memberikan semangat pada Arystina.
"Tidak apa, Arystina. Kekuatanmu itu luar biasa, hanya saja masalah ini tidak cocok dengan kekuatanmu. Mulai dari sini, biarkan aku yang melawannya!"
Setelah sesaat tersenyum, Nirlayn membawa Arystina untuk mendekati sosok Avrogan dan menaruhnya di belakang Avrogan.
"Aku akan menangani pria sialan itu. Mungkin aku membutuhkan beberapa bantuan, jadi aku harap kamu mau membantuku, Arystina."
Enshu datang dengan pedang yang terangkat ke atas. Dengan sigap, Nirlayn menghalau pedang emas bergerigi itu dengan Blood Swod miliknya. Menghasilkan suara dentangan yang keras ketika dua senjata itu beradu.
Tidak ingin melibatkan Arystina dalam serangan jarak dekat lebih jauh, Nirlayn berpindah tempat dengan cepat. Fokus Enshu yang sudah terlanjur mengunci Nirlayn sebagai target membuat dirinya mengikuti pergerakan Nirlayn.
__ADS_1
Sekali lagi, Enshu menerjang dengan kekuatan yang lebih besar. Tanah retak dan berderak ketika sosok Enshu melayang diatasnya. Meninggalkan sebuah jejak petir berwarna kuning di atas tanah.
"Rasakanlah kepedihan dari hukuman dewa!!"
Energi petir terkonsentrasi pada bilah pedang bergerigi milik Enshu. Menyambarkan beberapa gelombang petir sebelum akhirnya dia tebaskan.
Satu detik sebelum serangan itu tiba, Nirlayn membentuk Blood Sword yang kedua. Dua pedang berwarna merah itu secepat mungkin disilangkan untuk menangkis serangan.
Zrattss! Shing! Dammm!!!
Ledakan luar biasa terjadi, menghasilkan gelombang kuat yang menghempaskan apapun yang bisa dihempaskan.
Pedang emas bergerigi milik Enshu sedikit terpental dan membuatnya kehilangan keseimbangan. Sementara Enshu melompat mundur, Nirlayn terlihat ambruk dengan tubuh yang ditopang oleh pedang.
Kedua orang yang bertarung itu belum menyadari bahwasannya pertarungan mereka menghancurkan apapun di sekitarnya, termasuk bangunan penduduk.
"Hah, hah ... aku tidak akan kalah oleh manusia lemah sepertimu." Mata Nirlayn masih dalam tekad yang bulat.
Tubuhnya memang terluka, dia tidak akan bisa menahan serangan yang lebih lemah dari serangan barusan sekalipun. Namun entah mengapa, dia menolak untuk menyerah.
"Keras kepala! Akuilah kekalahanmu, pendosa!" Enshu mengangkat kembali pedangnya.
Disisi lain, muncul kilatan mata dalam pandangan Nirlayn. Dia menemukan sedikit celah walaupun itu memiliki kemungkinan kecil untuk berhasil.
"Arystina!" teriak Nirlayn meminta bantuan.
Beberapa tanaman rambat seketika muncul dan mengekang Enshu bersama dengan pedangnya. Enshu sangat terkejut, dan beberapa kali mencoba untuk melepaskan kekangan.
"Tanaman sialan, lepaskan aku!"
Enshu memberontak, mencoba sekuat mungkin untuk melepaskan kekangan dari tanaman rambat itu. Namun usaha itu tidak lebih dari sia-sia, sihir dari roh tertua tidak mungkin selemah itu untuk bisa dilepaskan oleh kekuatan fisik seorang manusia.
Tanpa pedang emas bergerigi, Enshu tidak akan mampu untuk menghancurkannya.
"Fyuh ... kau lengah manusia." Nirlayn berusaha bangkit dengan topangan sebuah pedang.
Nirlayn mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan yang tidak lain adalah potion penyembuh. Tidak tanggung, ini merupakan potion penyembuh tingkat tinggi yang bisa menyaingi sihir penyembuhan tingkat tinggi.
"Ini adalah kemenanganku ..."
Setelah menenggak habis cairan potion, seluruh luka yang diterima oleh Nirlayn sembuh. Begitu pula dengan stamina yang telah dia kerahkan, benar-benar menyembuhkan dengan sempurna!
"Hei, manusia. Kau tidak keberatan bukan untuk menunggu hingga seseorang tiba? Setelah orang itu datang maka takdirmu akan diputuskan."
Nirlayn mengambil pedang emas bergerigi dari tangan Enshu yang terkekang. Dia tidak berniat untuk mengambil keputusan seorang diri, menunggu kedatangan tuannya merupakan pilihan yang tepat.
Namun ....
"Lakukan saja, tidak perlu menunggu keputusanku," ucap seseorang.
________________
__ADS_1
Saya mengerti ....