
"Arrghhh ... towhong amhvuni ... ahuu!!"
Jeritan kesakitan terdengar samar di telinga. Rintihan yang dipenuhi oleh keputusasaan itu berasal dari Lorei yang terkena oleh racunnya sendiri. Normalnya, Lorei akan langsung mati begitu racun itu meledak di perutnya yang akan membusukkan semua organ dalam, sampai ke tubuh bagian luar.
Namun kondisi itu terlalu mempermudah kematian Lorei. Untuk seorang yang telah menghancurkan kehidupan hutan, dan keberlangsungan alam, serta mengancam nyawa makhluk hidup tak bersalah, kematian yang singkat lebih seperti ampunan baginya.
Ren lantas memberikan sebuah solusi agar sang penjahat tidak diberikan ampunan yang mudah. Kondisi yang diberikan kepada Lorei cukup sederhana, yaitu mengalami rasa sakit akibat pembusukkan secara perlahan, dengan tujuan akhir yang pasti berupa kematian.
Nah, memang tidak bisa disangkal bahwa apa yang dia lakukan adalah bentuk penyiksaan. Sebuah penyiksaan yang tidak berbeda dari ketika ia menggunakan Blood Ruler untuk mengontrol darah di tubuh lawan. Lalu, mengapa dia harus repot-repot menggunakan racun untuk menyiksa Lorei?
Sederhana, ada batasan yang bisa dilakukan oleh Blood Ruler dalam mengontrol kehendak orang lain. Semakin kuat musuh maka akan semakin sulit untuk dikendalikan. Kekuatan itu tidak hanya di ukur dari seberapa besar kekuatan penghancur, melainkan dalam bentuk kekuatan apapun termasuk kekuatan mental dan keinginan.
Jadi, andaikan ada seseorang yang berpikir Ren bisa dengan mudah menang melawan musuh menggunakan Blood Ruler maka itu pemikiran yang salah. Tidak ada hal apapun yang terlampau mudah di dunia yang keras ini, semua rintangan yang dilewati oleh Ren dengan cukup mudah itu karena ada usaha yang keras dibaliknya.
"Aish ... sayang sekali," keluh Ren sambil menggaruk-garuk kepala.
Keluhan ini disebabkan oleh Lorei yang semakin mendekati kematian. Sihir penyembuh yang disertai penangkal racun milik Ren memang memperlambat efek membusuk yang ditimbulkan, akan tetapi sepertinya Lorei sendiri yang berusaha keras untuk mati.
"Sudahlah, karena emosi aku bahkan lupa untuk menggali informasi darinya."
Ren menciptakan sayap kemudian terbang ke udara, meninggalkan Lorei yang kini sudah tinggal nama. Sesaat dia memperhatikan hutan yang membusuk, wilayah yang terdampak racun sangat luas dan itu sedikit membuatnya frustasi.
"Shhh, benar-benar perusak alam. Jika sudah seperti ini maka yang bisa aku harapkan adalah Arystina, semoga dia mampu memperbaikinya."
Sambil membawa harapan itu, Ren melesat terbang ke Kota Aulzania.
Ketika kota sudah memasuki pandangan, dia melihat situasi kota yang dilanda oleh kegemparan, banyak orang berlarian dan bahkan prajurit sudah mengevakuasi sebagian penduduk ke tempat yang aman. Sementara di gerbang utama, tampak beberapa ksatria sudah berbaris rapi seolah pertempuran yang hebat akan segera terjadi.
Ren hanya bisa memakluminya karena pertempuran yang terjadi itu cukup dahsyat. Mungkin penampakan puluhan meteor yang membelah langit dapat terlihat dari Kota Aulzania? Atau sihir tanah miliknya membuat getaran hebat hingga dapat dirasakan oleh mereka? Siapa yang tahu?
Dan hal yang harus dia lakukan adalah-
"Jangan panik semuanya!"
Saat semua orang dalam kepanikan yang luar biasa, suara pernyataan menggema di atas langit. Mereka yang berada di luar ruangan menengadah, dan menyaksikan satu sosok yang sedang melayang di udara.
"Sekali lagi aku katakan. Jangan takut! Semua ancaman sudah dihapuskan!"
Mereka yang berlari panik kini berhenti untuk menatap pada sosok yang mengapung di atas langit. Sebagian orang yang sedang bersembunyi keluar dari persembunyian mereka, penasaran darimana asalnya sumber suara.
Begitu mereka melihat dengan jelas sosok itu, mereka sadar bahwa sosok itu adalah Pahlawan Aulzania.
"B-Benarkah tidak akan ada yang terjadi, wahai Tuan Pahlawan?" teriak salah seorang wanita yang berada di jalan.
"Benar! Semua sudah ditangani dengan baik," balas sang pahlawan.
Mereka yang mendengar pernyataan itu menghela napas lega. Pasalnya, beberapa meteor yang berjatuhan itu sangat mengerikan di mata mereka. Ketika itu, bahkan ada yang bertanya-tanya apakah dunia akan segera berakhir?
"Syukurlah, kita selamat. Terima kasih Pahlawan Aulzania!"
"Terima kasih, Pahlawan!"
"Pahlawan Aulzania, aku mencintaimu!!"
Melihat penduduk yang mulai tenang, pahlawan dibalik topeng itu mengangguk lalu pergi menuju istana dengan disertai oleh sorak-sorai orang yang memberikan pujian.
Tanpa disadari seorang yang tidak berniat menjadi pahlawan malah semakin dikenal sebagai pahlawan padahal tidak ada hal baik apapun yang dia lakukan. Sebaliknya, segala kegemparan ini sebenarnya disebabkan oleh perbuatan sang pahlawan itu sendiri.
Jika seorang pahlawan yang sesungguhnya melihat ini, mereka akan menangis iri setelah melihat betapa mudahnya Ren mendapatkan reputasi.
...___________________...
Kedatangan Ren disambut oleh beberapa orang. Mereka yang menyambut terdiri dari Raja Esdagius, utusan Armilein, Derrian, Nivania, dan beberapa orang lain yang tidak dikenal.
Ada semacam perbedaan reaksi ketika mereka melihat kedatangan Ren kembali. Seperti halnya Raja Esdagius, dia menampakan ekspresi rumit yang memadukan antara senyum dan kekhawatiran.
"Tuan Dirvaren, apa yang sebenarnya terjadi?!" tanya Raja Esdagius panik.
__ADS_1
Menilai dari perilaku Raja Esdagius, kegemparan yang disebabkan oleh pertempuran sepertinya sudah mencapai istana. Sedangkan penyambutan ini dilakukan mungkin karena mereka mendengar pernyataan Ren di atas kota.
"Jadi, mana yang kau tanyakan? Meteor yang jatuh, atau getaran hebat yang terjadi?"
Ren menanggapinya dengan santai yang mengundang ekspresi heran dari semua orang. Mereka bertanya-tanya, bukankah perilaku santai pun harus ada batasnya?
"K-Keduanya, sebenarnya apa yang terjadi?"
Jawaban yang paling masuk akal adalah karena "Pertempuran" antara Lorei dan dirinya. Akan tetapi, penjelasan yang singkat itu tidak akan diterima dengan baik sehingga mereka pasti akan meminta penjelasan lagi dan lagi.
"Aku mengerti, aku mengerti, bagaimana kalau kita masuk terlebih dahulu? Kita bicarakan semuanya di dalam."
Raja Esdagius lantas berpikir.
Keberadaan utusan yang tersisa harus dipertimbangkan. Tidak bijak memang bagi seorang raja untuk membiarkan para tamu kepanasan di luar ruangan karena rasa penasaran semata
"Baiklah, mari kembali ke ruang pertemuan. Beberapa ksatria tetaplah berpatroli seperti biasa, kita harus tetap waspada terhadap beberapa pihak yang mungkin menggunakan kesempatan ini untuk menyerang."
Ksatria yang berkumpul di sekitar mereka membubarkan diri untuk melaksanakan perintah langsung dari Raja Esdagius. Sekarang yang tersisa dari para ksatria hanyalah Derrian beserta dua ksatria lain yang berada di bawah bimbingannya.
Raja Esdagius lalu memimpin mereka untuk memasuki istana dan pergi ke ruang pertemuan. Sesampainya mereka di ruang pertemuan, semua orang kembali ke posisi masing-masing dengan tempat Lorei diisi oleh Ren dan Nivania.
Ekspresi tegang terpancar dari Raja Esdagius saat menyadari bahwa keberadaan Lorei tidak kembali lagi. Adapun Armilein sang utusan, dia melihat dengan mata yang menelaah diri Ren secara terus menerus. Bahkan Nivania yang berdiri di samping Ren tampak cukup terganggu.
"Tuan Dirvaren, apakah orang itu sudah ... mati?"
Mengikuti pertanyaan Raja Esdagius yang dilontarkan secara hati-hati, Armilein memberikan kalimat tambahan yang menerangkan beberapa konsekuensi apabila utusan itu memang telah dibunuh.
"Yang terhormat ... Tuan Dirvaren, benar? Perlu Anda ketahui meskipun Kekaisaran Lodysna sudah menyatakan Kerajaan Aulzania sebagai musuh, tetapi aturan melarang pembunuhan sepihak. Segala perselisihan antara satu wilayah dengan wilayah lain bisa diselesaikan dengan peperangan yang resmi."
Sontak Ren terkekeh mendengarnya.
"Keh, hahaha! Begitu naifnya pemikiran itu!"
Aturan? Armilein menyuruh Ren menaati aturan sementara Lorei sendiri telah melanggar aturan itu beberapa kali? Sungguh tidak masuk akal. Jika Lorei yang sedikit kuat bisa melanggar aturan, mengapa dia tidak bisa?
"Jaga mulutmu! Ini adalah aturan yang telah ditetapkan oleh seluruh kerajaan dan kekaisaran di benua ini. Atas dasar apa seorang pria tidak berpendidikan sepertimu mengkritisi aturan agung yang telah dibuat oleh raja dan kaisar terdahulu?!"
Suasana mulai menegang di sekitar mereka yang merasa takut untuk memprovokasi kekaisaran terbesar di benua ini. Di antara semua orang, Raja Esdagius yang paling merasa terbebani karena dia memikirkan keselamatan seluruh penduduknya.
"Hei, kamu memiliki alasan yang bagus untuk memprovokasinya 'kan?" bisik Nivania.
Ren melirik pada Nivania sambil tersenyum ceria. Lupakan alasan yang bagus, dia tidak memiliki niat untuk memprovokasi Armilein, hanya saja orang itu sendiri yang terlalu berlebihan.
"Tentu saja, aku melakukan ini karena berpikir dia bodoh."
Itu adalah balasan yang tidak dapat diterima. Sudah memprovokasi seorang utusan, terlebih alasannya itu menghina sang utusan? Nivania terdiam seketika.
"Mohon tenang, Nona Armilein. Tuan Dirvaren pasti memiliki alasan yang bagus dibaliknya," ucap Raja Esdagius menyela.
Nivania langsung tersenyum pahit. Alasan yang bagus? Bagaimana jika mereka mendengar bahwa Ren menganggap utusan itu bodoh, makanya dia mengatakan aturan itu naif?
"Tidak, tidak, Yang Mulia Raja Esdagius. Pria ini tidak mungkin memiliki alasan yang bagus. Pada awalnya saya berpikir sosok macam apa yang akan muncul, ternyata hanya seorang pria tidak tahu malu yang serta merta mengatakan aturan leluhur kita itu naif!"
Ren menguap bosan saat mendengar Armilein berbicara. Dia merasa bahwa bertarung dengan Lorei lebih baik daripada membicarakan sesuatu di ruang pertemuan yang sempit ini.
"Naif tetaplah naif. Katakan padaku, jika aturan dilanggar, siapa yang akan memberi hukuman?"
Armilein menjawab setengah hati, "Tentu saja oleh orang yang bertanggung jawab untuk memberi hukuman!"
"Lalu, bagaimana jika orang yang bertanggung jawab itu tidak mampu memberikan hukuman?"
"Tch, membuat pertanyaan berputar-putar. Apa yang kau maksud?"
"Haih, sulit berbicara dengan orang sepertimu. Maksudnya, aku telah melanggar aturan, dan siapa yang akan menghukumku?"
"Tentu saja kami!"
__ADS_1
"Siapa yang kau maksud dengan kami?"
"Semuanya, semua orang yang mematuhi aturan!"
"Namun, bagaimana jika kalian tidak mampu menghukumku?"
"Maka dewa yang akan melakukannya!"
"Hahahahahaha! Sudah kukatakan bukan? Kau terlalu naif. Bagaimanapun, aturan ini dibuat oleh kalian, bukan para dewa. Dewa tidak memiliki alasan untuk menghukumku, kau tahu?"
Armilein menggemertakan giginya karena kesal. Bagaimanapun, apa yang dikatakan Ren sangat masuk akal karena bukan dewa yang membuat aturan itu.
"Memang ... memangnya kenapa jika dewa tidak memiliki alasan untuk menghukummu? Kami saja sudah lebih daripada cukup!"
Ren tersenyum penuh kemenangan. Dia merasa lebih baik membuat utusan itu kesal daripada berbicara dalam bahasa formal dan memberikan penjelasan yang membuatnya terlihat seperti orang munafik.
"Nona utusan tidak perlu marah, aku hanya bercanda. Silahkan jika kalian ingin memberikan aku hukuman, tapi jika hukuman itu berdampak besar pada kehidupanku maka dengan senang hati aku akan menolak, walaupun harus melarikan diri ke ujung dunia."
Ada apa dengan situasi yang berubah drastis ini? Semua orang terheran-heran. Bukankah kata-kata yang diucapkan oleh Ren terlihat sangat serius, lalu mengapa dia sekarang berkata bahwa itu hanya lelucon?
"Memang seperti inilah Tuan Dirvaren. Selalu angkuh dan sombong tetapi kadang menjadi seorang yang baik hati," ucap Derrian dalam hati.
Raja Esdagius yang menyaksikan perubahan ekspresi dalam diri Armilein segera mengambil tindakan sebagai penengah. Jika dia tidak mengambil langkah sekarang maka dikhawatirkan Armilein akan sepenuhnya marah.
"Nona Armilein, aku harap tiga pertanyaan itu segera dikemukakan. Demi kerajaanku, dan untuk kehormatanku, bisakah Nona Armilein melupakan apa yang diucapkan oleh Tuan Dirvaren barusan?"
Armilein mendecak kesal, kemudian dengan profesional dia menenangkan diri dan kembali ke ekspresi semula yang tenang dan berwibawa.
"Saya mengerti, maaf telah memperlihatkan sesuatu yang memalukan bagi Yang Mulia Raja."
Ren menggelengkan kepala pasrah. Setelah itu dia menggunakan Blood Art untuk menciptakan dua kursi yang dikhususkan untuk dirinya dan Nivania. Beberapa orang sempat waspada oleh fenomena yang mengejutkan itu, tapi dengan sigap Raja Esdagius menenangkan mereka.
"Nivania, duduklah."
"Tidak mungkin, perbuatanmu ini jelas tidak sopan."
"Jangan pedulikan itu, aku yang akan mewakilimu untuk menerima hukumannya," balas Ren dengan santai sambil melihat Armilein yang menahan ekspresi tenang miliknya.
"B-Baiklah, Yang Mulia. Saya akan menanyakan tiga hal, Yang Mulia, atau lelaki di sana boleh menjawabnya tergantung keputusan Yang Mulia."
Bahu Armilein bergetar, beberapa urat di dahinya menegang walaupun dia bersikap tenang.
"Terima kasih, Nona Armilein. Silahkan memulai dari pertanyaan yang pertama."
"Perintah Yang Mulia Kaisar. Apakah Kerajaan Aulzania memang memiliki kaitan dengan hancurnya Kerajaan Suci Sancteral?"
Raja Esdagius menggerakan mata dan menatap kepada Ren dengan penuh harapan. Armilein menganggap pertanyaan ini akan dijawab oleh Ren sehingga dia mengalihkan perhatiannya kepada Ren.
"Tidak. Kerajaan Aulzania tidak memiliki hubungan apapun dengan kehancuran Kerajaan Suci Sancteral. Aku yang menjadi penyebab hancurnya kerajaan itu atas dasar keinginanku sendiri, dan tidak memiliki kaitan apapun atau dengan siapapun yang berasal dari Kerajaan Aulzania ini."
Armilein memperhatikan segala sesuatu, mulai dari ekspresi, nada suara, dan gelombang mana yang dipancarkan oleh Ren dan mendapat kesimpulan bahwa orang itu berkata jujur.
"Perintah Yang Mulia Kaisar. Mengapa kau menghancurkan Kerajaan Suci Sancteral dan membuat orang-orang menderita?"
Ren menutup mata dan membalas dengan percaya diri, "Aku tidak berniat menghancurkan kerajaan itu sepenuhnya. Hanya saja, pemimpin kerajaan itu mencari masalah dengan menculik temannya bawahanku sehingga pertempuran tidak dapat dielakkan. Entah kalian percaya atau tidak, tapi yang menghancurkan Kota Zarimas dan membunuh orang tak bersalah itu musuhku."
Sekali lagi Armilein memeriksa apakah Ren berbohong atau tidak. Akan tetapi hasil yang didapatkan masih sama, yaitu Ren mengatakan semuanya dengan jujur dan tidak ada tanda kebohongan sama sekali.
"Perintah Yang Mulia Kaisar. Kekaisaran Agung Exousillia ingin berunding dengan Kerajaan Aulzania perihal akses menuju Hutan Loudeas. Karena Kerajaan Efidoxia masih dilanda kekacauan, dan tidak memungkinkan bagi kami untuk meminta akses dari tempat lain, maka kami memilih Kerajaan Aulzania. Apakah Yang Mulia Raja menyetujuinya?"
Ren sedikit tersentak oleh pertanyaan yang satu ini. Baru beberapa waktu yang lalu dia mendapatkan informasi mengenai Kekaisaran Lodysna yang mengekspedisi Hutan Loudeas, namun sekarang kekaisaran yang lain ingin melakukan hal yang sama?
"Apakah ini ada hubungannya dengan kekuatan yang dibicarakan oleh Devaran? Tapi, seharusnya aku menyadari keberadaan kekuatan itu terlebih dahulu bukan?" pikir Ren dalam hati.
Raja Esdagius berpikir dalam-dalam.
Armilein lalu melanjutkan perkataannya, "Yang Mulia tidak perlu memberikan balasan saat ini untuk pertanyaan yang ketiga. Bagaimanapun, dibutuhkan kesepatakan yang pasti antara kedua pihak sehingga Yang Mulia Kaisar memutuskan untuk mengundang Anda menemuinya."
__ADS_1